Jingga Untuk Aratha

Jingga Untuk Aratha
Bab. 07 - Sehari Bersamamu


__ADS_3

"Kamu cuma beli mie? Nggak beli sayuran atau daging?" Aratha tak sengaja berpapasan dengan Sonya saat akan membayar.


"Kamu nggak pernah dengar istilah hemat di akhir bulan? Atau tanggal tua?” tanya balik Sonya sembari menatapnya malas.


Aratha mendengus lalu mengalihkan perhatiannya dengan kesal. Pandangannya tertuju pada beberapa sayuran dan daging segar yang berjejer di atas sebuah meja putih. Dia langsung menarik Sonya ke sana namun, Sonya langsung menghentikan langkahnya dan melepaskan diri.


"Heh! Kamu ini apa-apaan! Kamu pikir aku ini boneka yang bisa dibawa kemana-mana!?"


"Nggak usah banyak ngomong! Ikut saja!" ucap Aratha dengan dingin sampai-sampai membuat Sonya bergetar. Dia kemudian menarik kembali tangan Sonya tanpa ada perlawanan sama sekali.


Sonya mengikuti langkahnya dari belakang. Keduanya berhenti di rak sayuran dan daging yang terlihat segar. Aratha mengambilkan cukup banyak sawi hijau dan daging ayam kemudian menaruhnya ke dalam keranjang Sonya.


"Heh! Uang ku nggak cukup buat bayar semua ini?" Sonya ingin mengembalikan sayuran dan daging itu kembali ke dalam rak. Namun, Aratha tak melepaskan perhatian dinginnya pada Sonya.


"Nggak usah dibalikin! Diam saja di sana!" Aratha melotot ke arah Sonya.


Sonya seketika terdiam dan mengikutinya. Rasanya tegang sekali dan Sonya merasa sangat menyesal karena sudah bertemu dengan Aratha di hari tenangnya ini. Harusnya dia ikut Fahruz saja yang memilih untuk lari mengelilingi blok setelah itu mengajaknya berbelanja bersama. Tidak disangka, pilihannya yang sekarang malah mempertemukannya dengan Aratha sekali lagi. Aratha mungkin kesal dan ingin melampiaskan semua kemarahannya pada Sonya.


”Aduh! Ulat sebesar ini kenapa tidak disingkirkan?! Ini juga! Kenapa sayur-sayuran kuning masih dipajang di sini?! Kamu ingin meracuni orang-orang yang membelinya?! Daging yang disini juga! Kenapa ada bercak biru di sayapnya?” Aratha membentak salah satu pegawai hingga pedagang itu diam seribu bahasa dan mereka mendapatkan perhatian lebih dari semua orang.


Sonya hanya bisa diam dan menjauhkan wajahnya dari perhatian orang-orang.


Satu jam setelahnya, Aratha akhirnya selesai memilihkan bahan makanan yang sehat untuk Sonya dan keduanya telah berhenti di meja kasir. Dari dalam saku, Aratha mengeluarkan dompet dan kartu kreditnya pada penjaga kasir. "Aku yang membayar dua belanjaan ini. Tolong di pisah." ucapnya.


"Enggak usah! Belanjaan ku aku saja yang bayar sendiri.” Sonya berusaha meraih keranjangnya. Tentu tangannya langsung ditahan oleh Aratha yang masih memelototinya.


”Diam! Aku yang akan bayar!”


Merinding.


...~o0o~...


"Alrez! Kamu mau pergi kemana?" Dea terus mengejar Alrez dari belakang. Setelah Alrez melihat Sonya bersama dengan Aratha, dia tampak kesal seolah tak bisa menerimanya begitu saja. Tangannya mengepal dan pandangannya terus menatap ke bawah. Mereka berdua saling mengejar, melewati trotoar jalan yang sedang ramai.


"Alrez! Berhenti sebentar! Kamu dengar nggak sih?!" bentak Dea. Karena Alrez berjalan begitu cepat dan Dea memaksakan dirinya untuk tetap berjalan mengikutinya, Dea terjatuh ketika dia tak sengaja menginjak sebuah celah lubang.

__ADS_1


"Sakit."


Dea nyaris menangis saat melihat kedua telapak tangannya menyentuh trotoar jalan yang kotor dan berdebu. Semua orang menatapnya tanpa melakukan apapun. Lututnya berdarah dan pergelangan kakinya sakit. Lalu, tiba-tiba suasana hatinya berubah saat dia melihat seseorang yang sedang mengulurkan tangannya.


Tangannya begitu besar dan kuat. Melihatnya saja, Dea langsung tahu kalau tangan ini adalah tangan laki-laki.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya cowok yang menolongnya saat ini. Suaranya sangatlah berbeda dari suara Alrez. Karena itu, Dea langsung mengangkat kepalanya dan menatap Fahruz yang juga sedang menatapnya.


Dea sedikit terkejut. Dia mencoba menatap ke depan dan melihat Alrez berdiri di sana dengan wajah tak peduli. Kemudian Alrez langsung berjalan pergi meninggalkannya tanpa mengatakan apapun untuknya bahkan untuk mencemaskannya saja dia tidak sempat.


Sedangkan Fahruz, dia baru saja selesai berlari mengelilingi blok dan sebelumnya dia berlari dari arah belakang. Jadi, dia tidak tahu kalau saat itu, Alrez juga berada di sana.


"Alrez mencampakkan ku? Dia meninggalkanku bersama cowok yang tidak aku kenal?" batin Dea yang bertambah sedih. Tak perlu menunggu waktu lama, Dea langsung menangis begitu dia menyadari hal itu.


Fahruz bertambah panik melihat Dea menangis begitu keras. Semua orang di sana menatapnya dengan marah seolah mereka sedang mengatakan sumpah serapah dalam batinnya. Bukan hal yang bagus jika mereka melihat seorang cowok yang membuat ceweknya menangis.


"Padahal aku nggak mengenalnya dan nggak mengatakan sesuatu yang buruk. Mengapa harus aku yang disalahkan?" batin Fahruz menghela nafasnya.


Fahruz memegang pergelangan tangan Dea dan membantunya berdiri. Fahruz begitu memperhatikannya apalagi saat dia melihat pergelangan kaki kanan Dea tampak bengkak dan dua lututnya yang berdarah.


Dea yang tak mengenalnya langsung menarik tangannya. Dia terlihat kesal karena menganggap Fahruz berpura-pura sok baik padanya apalagi saat dia mengingat Alrez yang sudah mencampakkannya.


"Nggak usah pegang-pegang! Aku nggak butuh!" ketus Dea, mencoba untuk berjalan sendiri. Namun, baru satu langkah dari tempatnya, Dea langsung berpegangan pada tiang rambu jalanan karena kakinya yang terluka.


"Aku kan sudah bilang. Kakimu terluka." Fahruz mencoba membantu Dea. Namun, Dea langsung bertingkah menolaknya dan memberinya tatapan tajam.


"Nggak perlu! Kalau kamu maksa, aku akan berteriak!" ancam Dea. Dia begitu bersikeras untuk berjalan sendiri meski itu akan membuat luka di kakinya semakin parah.


Fahruz berusaha menjelaskan, "Dengan kaki yang seperti itu, kamu yakin bisa jalan sampai rumah? Luka di kaki kamu nanti semakin parah."


"Aku bilang nggak usah! Kamu pergi saja! Aku nggak apa-apa!" ketus Dea berjalan pergi.


...~o0o~...


"Heh! Aku kan cuma ingin belanja. Kenapa mengajakku pergi berjalan-jalan dan makan di kafe?"

__ADS_1


Pemandangan tak biasa terjadi di sini. Sonya tak menyangka Aratha akan menariknya pergi untuk berjalan-jalan di hari Minggu. Padahal, demi menghemat uang akhir bulan, Sonya berniat untuk tidak pergi kemana-mana. Namun, Aratha sudah mengacaukan rencananya dengan berjalan-jalan ke segala tempat.


"Kenapa? Aku kan peduli sama kamu! Bahaya kalau kamu makan mie setiap hari kayak gitu! Emangnya orang tua kamu nggak pernah ingetin kamu soal itu?" ketus Aratha dengan santainya. Dia tidak ingin mengatakan kalau dia melakukan ini karena dia bosan di rumahnya yang sepi.


Sonya seketika terdiam suram. Dia meletakkan garpunya di atas piring, menunduk dan menatap makanannya. Melihatnya terus terdiam seperti ini, membuat Aratha merasa heran sekaligus takut dengan ucapannya tadi.


"Aku salah ngomong, ya?" tanya Aratha.


Sonya langsung mengangkat kepalanya lalu menggeleng beberapa kali. "Nggak salah. Aku cuma nggak tahu bagaimana cara menjawabnya." ucap Sonya.


Aratha langsung merasa tidak enak padanya. Dia menjadi suram dan menyesal mengatakannya. "Kamu nggak usah menjawabnya. Aku juga nggak ingin kamu menjawabnya."


”Hmm.”


Sonya terlihat begitu suram. Makanan manis yang ada di atas meja seketika berubah menjadi pahit. Diam tak bersuara. Aratha tak terbiasa memulai sebuah pembicaraan panjang. Dia yang membuat Sonya teringat masa lalunya dan dia juga yang harus mengatakan sesuatu untuknya.


"Hm, maaf. Ini salahku." ucap Aratha pelan.


Sonya sangat terkejut mendengarnya. Matanya berkedip heran beberapa kali dan menatapnya dengan tak percaya. "Kata-katamu langka sekali. Aku nggak pernah sekalipun mendengarnya keluar dari bibir dan gigimu."


Sonya mendekatkan wajahnya pada wajah Aratha. Terus menatapnya sampai-sampai membuat Aratha berdebar karena malu. Aratha berusaha untuk menjauhkan kursinya namun, Sonya tetap mendekatinya.


"Kamu ngapain sih? Mata kamu mulai minus ya?" ketus Aratha sembari mengalihkan pandangannya.


Cekrek!


Aratha terkejut dan Sonya menahan senyum jailnya. Diam-diam, dua tangan Sonya memegang kamera lalu mengambil gambar Aratha saat dia terlihat malu berhadapan dengannya.


"Aku sudah bilang, kata-katamu langka dan wajahmu yang memerah itu juga langka. Aku perlu sesuatu untuk mengabadikannya." ucap Sonya terlihat puas saat melihat hasil fotonya.


Aratha tersenyum jengkel. Dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Haruskah dia membuat Sonya merasa bad mood seperti tadi atau kemungkinan terburuk, dia harus menghancurkan kameranya?


Aratha mengambil sebuah palu yang ada di bawah jendela kafe. Dia memegang palu itu dengan kedua tangannya lalu menatap Sonya dengan dingin. "Sonya, boleh pinjam kameranya sebentar? Izinkan aku menghancurkannya."


"....."

__ADS_1


__ADS_2