Jingga Untuk Aratha

Jingga Untuk Aratha
Bab. 06 - Puisi Dan Pertemuan


__ADS_3

...Kamu bukanlah yang aku inginkan. ...


...Tapi, kamu datang dengan penuh senyuman....


...Pandanganku terus dicuri. ...


...Dan hatiku bagai diracuni. ...


...Pertama kalinya aku ingin dekat denganmu....


...Tapi, di dekatmu aku selalu bertindak lugu. ...


...Setiap malam kamu terus memandang bulan....


...Tak peduli saat kamu merasa dingin....


...Kamu datang membawa kebahagiaan....


...Aku takut kamu direbut orang lain. ...


...Dari dalam lubuk hatiku....


...Dengan tulus aku menyatakan perasaanku....


...~ Alrez ~...


Sonya masih memegang surat yang diberikan oleh Alrez siang tadi. Di atas tempat tidurnya, dia tampak nyaman namun, otaknya sibuk memikirkan sesuatu. Ini adalah pertama kalinya Alrez mengirimkannya sebuah puisi untuknya. Dia pikir, Alrez hanyalah anak bandel yang memiliki hobi membolos. Namun, ternyata dia bisa membuat sebuah puisi singkat seperti ini.


”Padahal waktu itu aku sangat takut berhadapan dengannya. Tetapi, apakah aku ini mudah sekali ditaklukkan hanya dengan secarik kertas saja?” pikir Sonya.


Bukan Sonya yang menjangkau Alrez tetapi, Alrez lah yang menjangkaunya.


Bulan April lalu, Di Taman bermain.


”Kamu bisa bermain gitar?” tanya Sonya penuh senyum, menatap Alrez dengan gitarnya sedang duduk di kursi ayunan.


”Apaan sih! Sok kenal.” ketus Alrez dingin sembari mengalihkan perhatiannya.


”Aduh, kamu galak banget. Aku jadi takut.” cibir Sonya yang berpura-pura takut. Dia duduk di kursi ayunan yang ada di sebelah Alrez sembari terus menatapnya.

__ADS_1


”Ngapain sih kamu di sini? Pergi sana! Masih banyak tempat!” Alrez menatapnya dengan sangar, menganggap Sonya sebagai ancaman untuknya.


Dengan santainya, Sonya menjawab, ”Aku nggak akan pergi sebelum kamu mainkan sebuah lagu untukku. Apapun itu yang membuat perasaanmu senang.”


Alrez langsung menjawab, ”Kalau kamu pergi perasanku pasti membaik! Sana pergi! Lagian aku sama sekali nggak kenal kamu!”


”Kayaknya kamu senang banget sendiri. Tapi, jauh dari lubuk hatimu, kamu nggak terima jika dibilang sebagai seorang penyendiri apalagi orang yang menyombongkan diri. Kamu cuma nggak pandai berbicara. Aku sudah melihatnya tadi. Kaku dan dingin kayak kutub es. Aku bersedia menjadi matahari untukmu. Agar kamu mencair menjadi air dan menyatu dengan teman-temanmu di samudera.” ucap Sonya sembari menatap awan.


”Benar. Kayaknya kamu hobi menasehati orang lain.” ucap Alrez tak peduli. ”Kalau kamu nggak mau pergi, ya sudah! Aku saja yang akan pergi!”


Alrez berjalan pergi meninggalkan Sonya dengan membawa gitarnya. Sonya sedikit terkejut. Awalnya dia ragu untuk mengejar Alrez karena saat itu, dia tidak memiliki hubungan apapun dengannya. Namun, karena suatu hal, kakinya bergerak sendiri untuk berlari mendekati Alrez.


”Alrez! Tunggu!”


Sonya berseru dan berhasil menghentikan langkah Alrez yang terkejut mendengar namanya dipanggil. Alrez sangat yakin kalau saat ini dia dan Sonya tidak saling mengenal. Namun, dengan mudahnya Sonya menyebutkan namanya seperti keduanya pernah bertemu meskipun hanya sekali pandang.


”Dari mana kamu tahu—


Alrez berhenti berbicara ketika dia melihat Sonya terjatuh di tanah saat dia akan berbalik dan berdiri di hadapannya. Alrez bingung mengapa dia jatuh seperti itu. Dia langsung berjalan menghampiri Sonya dan melihat keadaannya.


”Heh! Kamu kenapa?”


”Itu pertama kalinya aku bertemu dengan Alrez. Untungnya, saat itu Alrez langsung membawaku ke rumah sakit. Kalau tidak bertemu dengannya, entah apa yang akan terjadi padaku nanti.” Sonya berhenti mengingat masa lalunya sembari memandangi secarik kertas yang masih ada di tangannya.


Sonya merasa tak pantas mencampakkan Alrez setelah dia mengingat kembali kebaikan yang pernah Alrez lakukan untuknya. Mestinya dia tidak perlu terlalu takut pada Alrez hanya karena dia pernah menamparnya sekali. Lagipula, Fahruz sudah memukulnya saat itu sehingga mereka berdua impas.


”Apa aku temui saja dia sekarang? Tapi, hari ini sudah cukup malam dan besok adalah hari libur. Ahh, mungkin besoknya lagi saja.” pikir Sonya sembari menutup matanya. Malam mungkin akan terasa sangat panjang baginya karena tak ada satupun suara yang terjadi.


Besoknya, Sonya pergi ke supermarket untuk membeli bahan makanan yang sudah habis di rumahnya. Kali ini dia harus berhemat besar-besaran karena uang bulanan sudah hampir habis. Ayahnya yang sibuk bekerja selalu mengirimkan uang setiap bulan dan uang itu akan dikirimkan seminggu lagi.


”Hari ini aku nggak bisa pergi kemana-mana. Untuk urusan makan saja aku hanya bisa membeli beberapa mie instan untuk tujuh hari ke depan.” Sonya menghela nafas lelah sembari mengambil sebungkus mie instan dari dalam rak.


”Heh! Kalau kamu terus-terusan makan mie instan nanti ususmu bisa keriting!” ucap seorang cowok yang meletakkan kepalanya di atas pundak Sonya.


Whut?!


Terkejut melihat kehadiran Aratha di sebelahnya, secara refleks Sonya langsung memukul wajah Aratha menggunakan barang mie di tangannya. Mie kering di dalamnya remuk bersama dengan ekspresi senang Aratha yang juga ikut hancur.


”Kamu ini apa-apaan sih! Aku sapa dengan perasaan kamu malah membalasnya tanpa berperasaan!” ketus Aratha sembari memegangi hidungnya yang terasa sedikit sakit.

__ADS_1


”Memangnya aku nyuruh kamu bersandar di pundakku? Seenaknya saja! Bahuku ini bukan tempat sandaran yang gratis!” ketus Sonya, menatapnya jengkel.


”Habisnya kamu nutupin jalan! Bukan kamu doang yang mau beli mie instan!”


”Bisa santai nggak sih?! Nggak usah pakai teriak! Tinggal bilang permisi apa susahnya?! Ngapain harus buat orang terkejut setengah mati?!”


”Ngapain di lebih lebihkan?! Lagian kamu nggak mati beneran! Kamu juga salah di sini karena menghalangi!”


”Sabar bentar emang nggak bisa?!”


”Ya, nggak bisa lah! Keburu lapar kalau aku terus menunggumu di sini!”


”Ya sudah! Kamu mau ulang dari awal?!”


”Ya sudah! Ulang lagi!”


Aratha berjalan mundur beberapa langkah seperti di awal mereka bertemu. Saat dia melihat Sonya sedang memilih mie di sana, Aratha berjalan maju mendekatinya dan berhenti tepat di sebelahnya tanpa mengulang kesalahannya di awal.


”Minggir! Aku juga mau mengambil itu!” ketus Aratha sembari menatapnya jengkel.


Sonya langsung menjawab dengan marah, ”Bisa nggak sih! Itu muka dikondisikan sedikit?! Suaranya juga nggak perlu teriak-teriak!”


”Gimana aku mau bicara baik?! Lagian mood ku sudah kamu hancurkan! Mana bisa aku baik-baik sama kamu?!” ketus Aratha yang juga terpancing emosi.


Sonya tiba-tiba terdiam, menahan ekspresi terkejutnya. Langkahnya bergerak  mundur dan dua tangannya menutup mulutnya sendiri. Dia merasa ada yang aneh dengan Aratha yang sekarang.


Sonya mengacungkan jari telunjuknya yang mengarah tepat pada Aratha. ”Kamu siapa?! Aratha yang aku kenal, orangnya begitu dingin dan nggak pernah marah-marah ke cewek. Dia juga pernah traktir aku makan di kantin! Jangan-jangan kamu orang lain, ya?! Penipu!” ucapnya penuh curiga.


Aratha langsung terdiam heran, menatap datar Sonya seperti papan. ”Kayaknya aku salah hari. Ngapain aku datang ke sini ya?” batinnya.


Sementara itu, di sisi tembok kaca supermarket, Sonya dan Aratha tidak tahu kalau Alrez sedang berdiri memperhatikan mereka berdua bersama dengan Dea.


Alrez terlihat kecewa sekaligus marah. Dia tidak menduga ternyata Sonya lebih akrab bersama dengan orang lain di banding dirinya. Namun, Alrez tetap berpikir semua ini adalah hal yang wajar karena dia pernah menampar wajah Sonya tanpa alasan jelas.


”Baiknya kamu lupain perasaan ke dia. Sonya sudah punya penggantimu.” ucap Dea sambil menepuk pundak Alrez.


Alrez menatap mereka berdua dengan serius. Alrez tak mengerti perasaannya saat ini. Mengapa dia bisa cemburu melihat Sonya begitu akrab dengan Aratha? Apakah dia berhak memiliki perasaan itu? Lagipula Sonya bukan lagi menjadi miliknya. Jadi, dia dan Sonya tidak memiliki hubungan apapun lagi.


”Ah! Lupakan!” ketus Alrez kesal dan langsung berjalan pergi terburu-buru.

__ADS_1


__ADS_2