
Sonya berdiri di depan sebuah pintu kamar. Pada pintu itu, tergantung sebuah papan nama yang terbuat dari kayu. Dan nama yang terukir pada kayu itu adalah seorang cowok bernama Aratha.
Langsung saja Sonya membukanya perlahan agar orang di dalamnya tidak terkejut melihat kedatangannya. Kamar itu tampak rapi dengan sebuah rak buku yang bersandar di tembok dan satu tempat tidur dengan sprei berwarna coklat. Terdapat sebuah bingkai foto keluarga yang berada di atas meja dan terdapat sebuah buket bunga yang diletakkan di atas kasur.
Sonya langsung terpaku, pada seorang cowok yang duduk di kursi menghadap jendela. Cowok itu, sedang melihat pemandangan sore hari yang selalu terlihat setiap kali pulang sekolah.
Dengan cepat, Sonya langsung berlari ke arahnya, tak peduli air mata sudah membasahi wajahnya kala itu. Harum bunga lavender mulai tercium. Sonya berdiri di depan kursi itu untuk memastikan kebenarannya.
”Aratha, ternyata kamu masih hidup? Kamu beneran masih hidup?”
Sonya merasa jantungnya ditusuk pedang dan sudut matanya perih seperti terkena serpihan kaca ketika dia melihat sosok Aratha sedang tersenyum menatapnya. Dia tak sanggup menahan tangisnya yang berlebih. Dia langsung memeluk Aratha begitu erat dan tak ingin melepasnya selama beberapa saat.
”Sonya, aku mau bilang sesuatu ke kamu. Sesuatu yang nggak sempat aku katakan kemarin. Bisa dibilang, itu akan menjadi kata-kata terakhir untukmu.”
Sonya sangat terkejut. Dia langsung melepaskan pelukannya dan menatapnya dengan serius. ”Maksud kamu apa?! Kamu nggak bisa katakan itu sekarang! Kamu masih punya banyak waktu, iya kan? Lagian, kamu udah ada di depanku sekarang.” ucap Sonya penuh harap.
Aratha menggelengkan kepalanya. Tangannya menyentuh wajah Sonya yang basah dan sesekali mengusap air mata yang baru saja jatuh ke pipinya. Senyum lembut itu sangat jarang ditunjukkan olehnya. Bisa jadi bertanda kalau saat ini dia benar-benar serius.
”Waktuku tidak banyak. Jadi, aku hanya akan mengatakan beberapa patah kata padamu.”
__ADS_1
”Jangan katakan. Aku nggak pengin mendengarnya sekarang.”
”Aku mencintaimu, Sonya.”
Sonya menggigit bibirnya sembari mengerutkan keningnya. Kata-kata ini seolah menjadi tanda kalau mereka berdua sudah pasti akan berpisah. Bahkan Sonya tak tahu harus menjawab apa padanya. Dia takut apa yang dikatakan Aretha benar. Dan dia takut tidak bisa bertemu dengan Aratha lagi.
”Aku juga, mencintaimu. Jadi, jangan pergi. Kumohon jangan pergi.” Sonya meremas kerah jaket parka yang dipakai Aratha sekarang.
Aratha bisa melihat puluhan tetes mata yang jatuh ke lantai kamarnya. Dia pun berdiri dari kursinya dan sekarang berada tepat di depannya. Dua tangannya meraih wajah Sonya lalu dia mendekat tanpa melibatkan jarak.
Sonya bisa merasakan kecupan lembut yang jatuh tepat di dahinya. Aratha yang pemarah, tak akan pernah mau melakukannya kecuali saat dia kepepet ingin melakukannya.
Setelah kecupan itu terlepas di dahinya, Aratha mendekat lagi dan langsung memeluknya. Sangat erat seperti seseorang yang akan kehilangan orang yang dicintainya.
Meski begitu, Sonya tetap membuka mata. Dilihatnya saat ini tubuh Aratha yang semakin memudar, berubah menjadi butiran kristal yang terbang ke langit. Dia sudah membuang semua air matanya saat berada dalam perjalanan kemari dan tidak bisa menangis lagi. Sonya memejamkan matanya dan langsung memeluk balik Aratha. Namun, sayangnya hal itu bersamaan dengan menghilangnya Aratha di hadapannya.
Beberapa detik telah usai. Terima kasih sudah memberikanku kesempatan untuk menemuinya meski hanya dalam mimpi.
...~o0o~...
__ADS_1
”Sonya! Sonya!”
Suara Fahruz perlahan mulai terdengar di telinganya. Saat itu pula, Sonya langsung terbangun dari tidurnya. Dia tidak tahu kenapa dia bisa tertidur di sofa rumahnya sendiri dan Fahruz ada di sana untuk menemaninya. Sonya baru sadar kalau yang dialaminya tadi hanyalah mimpi karena dia terlalu memikirkan sosok Aratha. Anehnya, mimpi itu terasa sangat nyata baginya dan terasa membekas dalam hatinya.
”Sonya, kamu tidur sambil menangis. Apa yang kamu lihat?”
Sonya mencoba duduk saat Fahruz bertanya. Waktu masih menandakan pukul dua dini hari. Tatapannya masih terlihat kosong, tak sanggup membayangkan kebohongan yang terasa nyata dalam mimpinya. Tangannya masih memegang sebuah lipatan kertas biru yang bertuliskan 'Untuk Sonya.' dia ingat kertas itu diberikan pada Aretha saat dia baru saja pulang sekolah.
”Aretha, udah cerita semuanya termasuk tentang Aratha. Aku tahu, kesedihan seperti apa yang kamu alami saat ini. Aku bisa mengerti tapi, kamu harus kuat. Kamu pasti bisa melakukannya. Pastinya, Aratha juga nggak pengin melihat kamu menangis seperti ini.”
Sonya menoleh ke arah Fahruz yang duduk di sebelahnya. Tatapannya masih terlihat kosong, tangannya mengepal seolah ingin mengatakan sesuatu padanya.
Saat setetes air matanya jatuh menuruni pipinya, Sonya mulai menangis. Dia menunjukkan ekspresi sedihnya yang tak karuan. Bahkan dia tidak peduli seperti apa wajahnya saat ini. Sesekali dia berteriak, mengusap matanya berkali-kali. Hatinya telah hancur. Kali ini dia harus menelan kepedihan lagi setelah dia ditinggal oleh Ibunya.
Fahruz tak bisa menatap wajah Sonya lebih lama lagi. Semakin lama, dia juga merasakan kesedihan yang dialaminya saat ini. Dengan sendirinya, dia bergerak memeluk Sonya dari jarak yang cukup dekat. Kepedihan yang dialaminya saat ini lebih parah dibandingkan saat dia ditinggal oleh Ibunya saat usianya lima tahun.
Fahruz kecewa karena dia tidak bisa melakukan apapun untuk Sonya sekarang ini. Dia tidak bisa menghiburnya maupun mengatakan sesuatu untuknya. Dia hanya bisa diam, membisu seperti orang yang kebingungan.
Di sisi lain, Aretha sedang melihat mereka berdua dari balik jendela yang sedikit terbuka. Dia sengaja datang malam-malam begini karena khawatir dengan yang Sonya alami saat ini. Sebelumnya dia terlihat sangat lemas dan tak sadarkan diri. Beruntungnya saat Aretha sampai di rumah Sonya, dia melihat Fahruz yang juga baru saja sampai dengan motornya. Dia menitipkan Sonya pada Fahruz karena Fahruz adalah teman akrabnya. Dan orang yang mungkin bisa membuatnya menjadi lebih baik.
__ADS_1
Tak kuat melihatnya dengan hanya dalam hitungan detik, Aretha langsung berbalik, bersandar pada jendelanya. Selain Sonya, Aretha juga mengalami hal yang sama. Dia sudah berusaha untuk tetap menguatkan dirinya dengan cara yang berbeda. Namun, tetap saja. Dia tidak bisa menahannya sendiri. Aratha adalah orang paling baik yang pernah ditemuinya dan orang yang paling disayanginya. Namun, Malaikat maut datang begitu cepat untuk memisahkan mereka berdua dalam sebuah ikatan yang mereka sebut takdir.
”Aratha, ini salahmu! Kenapa kamu nggak bisa bertahan lebih lama lagi?! Lihat! Apa yang sudah kamu lakukan padanya. Kamu hanya menambah kepedihannya saja! Aku sangat membencimu! Sangat benci!”