Jingga Untuk Aratha

Jingga Untuk Aratha
Bab. 28 - Lab Fisika


__ADS_3

Sudah sebulan berlalu sejak Sonya mendengar kabar kalau Aratha sudah tidak ada. Dia terus menyendiri, jarang berbicara dan wajahnya selalu terlihat suram. Bahkan Aretha yang sudah menetap di Tangerang dan bersekolah di tempat yang sama dengannya, tidak cukup untuk menghiburnya. Sonya selalu tinggal di kelasnya dengan secarik kertas biru yang sama sekali belum dibaca olehnya.


Kinan tak bisa membantunya lebih banyak lagi. Sonya sudah terlanjur terluka dan dia membutuhkan waktu untuk memperbaikinya. Hari-harinya menjadi jauh berbeda dari hari-hari yang sebelumnya. Begitu juga dengan yang dialami orang-orang di sekitarnya.


"Gimana ini? Sonya masih belum kembali." bisik Fahruz yang mengintipnya melalui jendela bersama dengan yang lain.


"Dia butuh waktu sendiri. Tetapi, sebulan adalah waktu yang cukup lama." lanjut Kinan.


"Apa bagusnya cowok itu? Dia nggak jauh berbeda dengan Aretha. Justru Aretha jauh lebih buruk darinya." cibir Faiz.


"Bacot banget sih!" ketus Aretha. "Aku akan coba masuk ke dalam untuk menghiburnya."


Aretha berdiri dan mulai berjalan memasuki kelasnya. Kinan dengan tegas langsung menarik pergelangan tangannya lalu melemparnya ke belakang dan membuat semua orang terkejut. Punggung Aretha langsung menabrak wajah Fahruz dan Faiz di sana. Wajar jika Kinan langsung melempar targetnya sebagai pelampiasan kekesalannya. Karena saat SMP, dia pernah menjadi juara 1 karate se-kabupaten dan menjadi cewek yang paling menakutkan.


"Ngerti nggak sih kalau aku bilang biarkan dia sendiri!" ucap Kinan dengan dingin.


Ketiganya langsung merinding seperti baru saja diserang oleh gelombang es yang membekukan jantung mereka dan menghambat aliran darah. Tatapan Kinan begitu menusuk dan mengintimidasi seolah mengisyaratkan jangan pernah macam-macam dengannya.


Pintu kelas terbuka dan dari dalam sana, Sonya berjalan keluar. Tentu dengan wajah yang masih terlihat suram. Tidak mungkin dia akan langsung ceria pada menit-menit berikutnya. Dia pasti sangat kesulitan untuk menafsirkan isi hatinya dan sulit untuk memperbaiki sikapnya yang sudah terlanjur seperti ini.


"Sonya, kamu mau pergi kemana?" tanya Kinan.


Sonya mengalihkan perhatiannya terlebih saat dia menatap Aretha di belakang Kinan. "Tidak tahu." singkatnya.


"Kapan kamu akan kembali seperti Sonya yang dulu?" lanjut Fahruz.


Kali ini Sonya tak menjawab apapun bahkan menggerakkan kepalanya saja tidak. Rasanya terlalu malas untuk berbicara dengan orang-orang. Hati Aretha semakin memanas, tak bisa melihat wajah suram Sonya yang membuatnya juga ikut putus asa.


Secara sadar, dia langsung berlari menghampiri Sonya, tak peduli siapapun yang berani menghalanginya bahkan Kinan berhasil di tepis olehnya.


Saat ini, keduanya saling bertatapan. Sonya menatapnya dengan rasa tak paham sedang Aretha menatapnya dengan penuh keseriusan.


"Aku nggak tahu, apa yang terjadi pada kalian berdua. Aku nggak tahu seberapa putus asanya kamu. Tapi, bukan kamu aja yang merasa kehilangan sosok Aratha. Aku ini saudaranya, aku juga merasa kehilangan. Jadi, kamu nggak usah seperti ini lagi." ucap Aretha.


Sonya memandangi Aretha selama beberapa saat. Tak lama, dia membentuk sebuah senyuman kecil yang sudah lama tidak terbit di wajahnya. "Terima kasih. Melihatmu, sudah cukup menghiburku sedikit. Aku sangat menghargainya."


Kata-kata singkat yang keluar dari mulut Sonya, menjadi sebuah kata perpisahan sementara. Sonya berjalan pergi meninggalkan semua orang yang mencoba mengkhawatirkannya. Sebenarnya Sonya ingin kembali menjadi Sonya yang dulu. Hanya saja dia lupa cara melakukannya.


Ruang lab fisika menjadi tempat yang paling sepi dan jarang dikunjungi. Sonya sengaja masuk ke ruangan itu untuk menghindari suara berisik yang datang dari luar.


Terdapat sebuah meja panjang dan beberapa baris kursi yang saling berhadapan. Di atas meja, terdapat beberapa buku yang menumpuk dan mikroskop yang tidak dikembalikan ke tempatnya. Sonya memilih duduk pada salah satu kursi yang berada di dekat jendela, membiarkan angin masuk dan melewatinya.


Tangannya masih memegang kertas biru, pemberian terakhir dari Aratha. Dia sengaja menundanya karena menunggu waktu yang tepat. Hatinya belum siap membaca kata-kata yang ditulis oleh Aratha langsung melewati goresan tinta yang hampir pudar.


Sonya menarik nafas dan menahannya selama beberapa saat. Dia mencoba mengumpulkan semua tenaganya yang tersisa untuk membacanya secara perlahan.


Untuk Sonya.

__ADS_1


Terima kasih karena telah mengisi hari-hariku dengan penuh cinta dan kasih sayang.


Terima kasih karena telah mengizinkanku mencicipi seperti apa mencintai dan dicintai oleh orang yang sebelumnya tak ada hubungannya denganku.


Aku tidak tahu kapan kematian ku akan tiba. Jadi, aku sedikit terburu-buru saat menuliskannya untukmu. Bisa saja besok aku tak lagi melihat pagi dan aku tidak bisa mengatakan segaris pun kata perpisahan untukmu.


Sebelum melanjutkannya, aku ingin memperingatkanmu untuk tidak menangis. Kertas ini sudah terlalu tipis dan tua jadi, jangan kamu membasahinya dengan air mata karena itu akan membuat kertasnya sobek.


Aku ingin menuliskan berlembar-lembar kata untukmu sampai menyerupai sebuah buku. Tentu untuk menyiksamu. Tetapi, sebentar lagi tinta ini akan habis. Seperti usiaku yang terus dimakan oleh waktu dan keadaan.


Jika saja aku sempat membeli sebuah alat perekam, aku mungkin akan merekamnya dan kamu tidak perlu repot untuk membacanya. Tetapi, aku tidak ingin kamu mendengar suaraku yang terdengar lemah. Aku membenci tubuh ini karena aku tidak bisa melakukan sesuatu yang menjadi kenangan berharga untukmu.


Sebelumnya maaf, karena sudah membuatmu masuk ke dalam hidupku.


Tidak! Kamu saja yang memaksa masuk ke dalam hidupku dan aku malah membantumu untuk memasuki duniaku yang kelabu.


Seharusnya aku tidak mendekatimu dan mengajakmu makan di kantin. Seharusnya aku memilih untuk mengabaikanmu dan meninggalkanmu agar kamu tidak terluka setelah kepergian ku.


Tetapi, entah mengapa hatiku menolak untuk menyesal.


Aku selalu merasa senang ketika berada di dekatmu.


Aku selalu merasa senang ketika melihatmu tersenyum dan berdebat denganku hanya karena hal sepele.


Rasanya aku ingin tertawa saat mengingatnya lagi. Hal-hal yang tak mungkin terulang dua kali dan sangat menyenangkan bagi seorang Aratha.


Kamu juga berhasil menghancurkan dinding baja yang sudah ku buat dengan susah payah.


Setiap hari kamu mengambil hatiku dengan senyummu yang selalu ditunjukkan pada semua orang.


Aku rindu wajah bahagia dari seorang Sonya.


Aku rindu kata-kata pedas dari seorang Sonya.


Aku ingin melihat itu semua walau dari jarak yang sangat jauh.


Sekali lagi, maaf Sonya. Aku harus pergi. Kamu mungkin tak akan menyangka perpisahan yang terjadi secara tiba-tiba.


Aku pun sama. Tak menduga kematian itu datang padaku selangkah demi selangkah meski aku sudah melarikan diri begitu jauh.


Aku lelah. Sangat lelah. Aku takut kematian itu tiba saat aku memejamkan mata.


Aku bertahan untuk tetap terjaga lalu memikirkanmu setiap detak jam yang terjadi.


Kira-kira apa yang sedang kamu lakukan sekarang?


Apakah kamu makan dengan baik selagi aku tidak memberikan kabar sama sekali?

__ADS_1


Lagi-lagi, kematian itu melangkah dua kali mendekatiku. Aku semakin takut. Rasa sakit yang aku alami semakin bertambah parah tiap detiknya. Untuk itu, aku membuat permintaan terakhir yang hanya bisa di dengar oleh Tuhan.


Permintaanku adalah, aku ingin ada di dalam mimpi Sonya meskipun hanya beberapa detik saja. Ada sesuatu yang ingin aku katakan padanya. Ini serius.


Ah, iya juga. Apa mungkin itu bisa?


Ke mana aku akan pergi setelah ini?


Tentu aku juga tidak mengetahuinya.


Sekali lagi, terima kasih Sonya. Dan maaf jika kepergian ku membuatmu sangat sedih.


Aku mencintaimu, sepenuh hatiku.


Selamanya.


Selamat tinggal Sonya.


Sonya tak bisa menahan air matanya. Dalam sepi, air matanya jatuh begitu saja di lantai. Dia meremas kertas itu setelah selesai membacanya. Dia sudah menduga, kesedihannya ini akan bertambah jika dia tetap membacanya.


Dia berusaha untuk tidak bersuara. Tetapi, dia tidak bisa menahannya untuk waktu yang sangat lama. Pada akhirnya, semua itu meluap keluar dari ujung kepalanya. Sonya sangat berharap keajaiban. Namun, keajaiban itu tak akan terjadi padanya karena takdir sudah berkata.


...~o0o~...


Sonya melangkah keluar lab fisika setelah dia menghapus seluruh kesedihannya. Saat sampai di ambang pintu, dia melihat Aretha sudah menunggunya di sebelah pintu. Aretha terus melipat tangannya seperti terlihat kesal karena sesuatu. Jika diingat-ingat, posisi Aratha juga seperti itu saat dia menunggunya untuk yang terakhir kalinya.


"Sudah selesai, nangisnya?"


Sonya menghapus sisa air matanya lalu mengangguk. Dia tidak begitu penasaran apakah Aretha sudah mendengar seluruh tangisannya atau tidak. Yang pasti setelah membacanya, Sonya bisa merasa sedikit tenang. Hatinya tidak lagi cemas dengan keadaan Aratha saat ini. Dia sudah berada di tempat lain dan berbahagia di sana. Terkadang Sonya merindukan omelannya dan tatapan dinginnya yang selalu ditunjukkan. Apalagi, saat melihatnya takut dalam kegelapan.


Aretha mulai berjalan dan berdiri tepat di depan Sonya. Tinggi Aretha tak berbeda jauh dengan Aratha. Hanya saja yang membedakan mereka adalah sifatnya. Aretha jauh terbuka untuk orang-orang sedangkan Aratha orangnya tertutup. Aratha seperti itu mungkin tidak ingin ada orang lain yang terluka setelah kepergiannya.


"Aku nggak tahu cara bertindak seperti Aratha. Aku juga nggak tahu gimana cara Aratha bahagiain kamu. Aku tahu kamu sedih karena melihat seseorang yang sangat mirip dengan Aratha. Tapi, aku di sini karena permintaan Aratha. Dia ingin aku menetap di sini. Aku nggak bisa ngomong tujuannya untuk apa. Tetapi, bisakah kamu menjadi Sonya yang dulu? Semua orang cemas termasuk diriku yang seharusnya masih menjadi orang lain dalam hidupmu."


Hening.


Kertas biru di tangannya sudah berulang kali diremas olehnya hingga terbentuk garis-garis lipatan yang terlihat asal-asalan. Sonya terdiam untuk sekedar menarik nafas dan menahannya sesaat karena ketegangan ini. Dia merasa otaknya menjelma menjadi kereta api yang mengeluarkan asap di cerobongnya.


"Aku kalah."


"Apa?"


"Aku kalah karena nggak bisa memenangkannya. Aku nggak bisa bertanding dengan waktu. Aku juga nggak bisa menghapus jarak. Semuanya gelap. Nggak ada yang bisa dilihat."


Sonya kembali menangis dan semakin membuat Aretha tak tahan melihatnya. Jika kabur dalam keadaan seperti ini diperbolehkan, sudah sejak tadi Aretha memilih untuk kabur dan tak akan menemuinya selama beberapa saat. Namun, saat ini dia sudah tidak tahan lagi.


Seolah kilat sedang menyambarnya, Sonya dipaksa bersandar pada pundak Aretha yang lebar. Dia baru menyadari Aretha sedang memeluknya karena kasihan. Pelukan ini hampir sama seperti pelukan Aratha dalam mimpinya. Terasa hangat meskipun sifatnya sedikit agak dingin.

__ADS_1


"Bukan kamu yang kalah. Tapi, akulah yang kalah di sini. Aku kalah nggak bisa biarin kamu sendirian di sini. Aku kalah karena Aratha lebih memenangkan dirimu. Aku ingin kamu tahu kalau orang asing seperti diriku sangat mencemaskan mu. Jadilah Sonya yang kami kenal dulu. Ini permohonan dariku. Mungkin kamu membutuhkan waktu. Tetapi, aku akan tetap menunggu."


__ADS_2