
”Apa maksud kamu 'pilih aku saja'?” Sonya langsung melepaskan pelukan Aretha yang membuatnya sesak.
Semakin dilihat, ekspresi Aretha semakin sedih. Dia seolah baru saja tenggelam dalam rasa duka yang mendalam. Aretha berusaha menahan air matanya agar tidak membuat Sonya semakin kepikiran. Tangannya gemetar dan dia terus menggigit bibirnya. Seolah, mulutnya menolak untuk mengatakan sesuatu padanya.
”Kamu harus tenang. Sebenarnya, Aratha berada di suatu tempat yang membuatnya merasa jauh lebih baik.”
”Apa maksud kamu?! Cepat jelasin!” bentak Sonya yang sudah tidak sabaran. Dia bahkan sampai menangis karena terus menunggu. Tak bisa dibayangkan kepedihannya sekarang ini. Kata-kata yang diucapkan Aretha, seolah menunjukkan kalau Aratha sudah pergi untuk selama-lamanya.
Aretha membuang nafas kasar sembari memejamkan matanya. Sangat berat baginya untuk mengatakan hal ini. Aratha memberikannya beban yang tak sanggup dihadapinya seorang diri. Namun, sebesar apa pun rahasia itu dipendam, pada akhirnya seseorang akan menggalinya secara diam-diam.
”Aratha lagi ada di mobil. Baiknya, kita ke sana secepatnya sebelum dia bosan menunggu.”
Aretha mencoba terlihat baik-baik saja. Dengan cepat, Aretha langsung menarik Sonya menuju mobil yang terparkir di dekat halte bus. Aretha terus menunduk sementara Sonya larut dalam kecemasannya sendiri. Sosok Aratha sudah membuatnya lupa dengan segalanya.
Aretha membuka pintu mobil hitam yang terparkir dan meminta Sonya untuk segera memasukinya. Saat Sonya sudah berada di dalam dan pintu mobil sudah ditutup, Sonya tak melihat seorang pun berada di kursi belakang maupun di sebelahnya. Tak lama, Aretha akhirnya juga ikut masuk ke dalam mobil. Dia merasa kesulitan untuk berbicara dengan Sonya yang sudah ada di sebelahnya.
”Aretha! Dimana Aratha? Kamu bilang, dia ada di sini. Kamu nggak bohong kan?” Sonya berusaha tersenyum meskipun matanya menolak untuk berhenti meneteskan air mata.
Aretha melirik ke kursi belakang yang menyimpan sebuah selimut biru di atasnya. Dia bergerak ke sana untuk merogoh sesuatu yang tersembunyi di bawah selimut. Tak lama, dia mengeluarkan secarik kertas biru yang dilipat berkali-kali membentuk persegi panjang. Kertas itu kemudian diberikan pada Sonya yang sudah menunggu.
__ADS_1
”Kenapa memberiku kertas? Aratha baik-baik aja kan? Iya kan?” tanya Sonya dengan wajah tak percaya dan penuh harap.
Aretha mulai bercerita.
Dua minggu yang lalu, ketika Aretha diminta oleh Bibi Anieq untuk menjaga Aratha di rumah sakit, mereka berdua memulai pembicaraan singkat di tengah keberisikan gorden yang tertiup angin.
”Aretha, aku punya satu permintaan yang harus dipenuhi. Karena jika tidak dipenuhi, aku tidak akan pernah tenang.” suara lemah Aratha bukanlah sesuatu yang ingin di dengar oleh Aretha saat ini. Dia masih terbaring di atas kasurnya dengan bantuan alat infus.
”Nggak usah ngomong apapun! Diam aja di sana dan istirahatlah!” Aretha menatapnya dengan tidak suka.
”Aku tahu, kamu, Bibi Anieq, dan Ayah sangat percaya dengan kekuatanku. Tetapi, aku merasa tidak yakin bisa hidup sampai besok pagi.”
”Maksud kamu apa?! Kamu pengin buat kami cemas lagi?! Sudah berapa kali kamu ngomong gini?!” kali ini Aretha sangat kesal bahkan sampai membentaknya. Meski begitu, dia tetap menyimpan ketakutan pada kondisi Aratha saat ini.
”Tiap hari kamu selalu ngomong itu! Aku sampai bosan mendengarnya!”
”Ya, kamu benar. Sebaiknya langsung saja ke intinya.” Aratha mulai memejamkan matanya. ”... Di bawah kasurku, ada sebuah surat yang ditujukan untuk seseorang. Aku yakin kamu sudah mengenal orang itu. Aku ingin, kamu memberikan surat itu padanya ketika waktuku sudah tiba. Aku ingin kamu berpura-pura menjadi seorang Aratha. Dia, satu-satunya orang luar yang mau mencintaiku. Aku pun juga mencintainya. Dia juga orang pertama yang menyatakan perasaannya padaku. Aku tidak sempat berterima kasih padanya dan mengucapkan kata-kata terakhir untuknya karena hari itu, keadaanku mendadak buruk.”
”Bicaralah yang jelas! Aku nggak akan mau melakukan apa yang kamu minta sekarang kalau kamu nggak bisa bertahan sampai besok dan seterusnya! Ternyata emang benar! Kamu lahir untuk memberi duka dan bukannya kebahagiaan! Sonya itu milik kamu! Kamu nggak mikir apa aku berani bicara seperti ini di depan dia?!” bentak Aretha.
__ADS_1
Aratha terbatuk beberapa kali kemudian, dia berusaha untuk berkata, ”Kamu pasti bisa melakukannya. Aku selalu percaya padamu. Aku tetap menyayangi Aretha meski sifat kamu jauh berubah dari yang dulu. Terima kasih, aku menyayangi kalian semua.”
Hening.
Setelah itu, Aratha memejamkan matanya. Tak berbicara sama sekali hingga membuat Aretha kepikiran. Saat itu juga, Aretha langsung memanggil seorang dokter. Dan dokter itu memeriksa. Sempat di bawa ke ruang ICU untuk diperiksa. Namun, beberapa jam setelahnya, dokter itu malah meminta maaf. Katanya, dia sudah tidak ada. Kita tidak bisa menyelamatkannya. Tuhan sudah mengambil nyawanya dan tidak akan mengembalikannya karena sudah menjadi takdirnya.
Sonya tak bisa menahan tangisnya saat Aretha selesai menceritakan kisahnya. Wajahnya basah, seluruh tubuhnya gemetar karena kehilangan. Dadanya terasa terbakar dan menyempit sehingga membuatnya sulit bernafas.
”Aretha, kamu bohong kan? Tolong katakan padaku, kalian hanya bersandiwara saja untuk mengerjaiku atau mengujiku kan? Cepat, katakan sesuatu.”
Aretha tak sanggup melihat wajah Sonya yang sedang menangis. Dia berkedip dan meneteskan air matanya sekali. Tangan kanannya meremas stir mobil begitu kuat, berharap bisa menghancurkannya.
Dengan penuh kesulitan, Aretha berusaha untuk berkata, ”Maaf Sonya, kita nggak lagi bersandiwara. Aku menyesal mengatakannya. Sangat menyesal tapi, Aratha,.... dia sudah tidak ada.”
Detik itu juga, Sonya tak lagi menahan tangisnya. Kali ini semuanya pecah. Semuanya hancur. Hilang tanpa jejak dan hanya menyisakan bayangannya saja. Semuanya tampak gelap gulita. Suaranya mendadak bisu karena kesedihan yang tak terbendung.
Sonya berteriak, melampiaskan kesedihannya. Rasa nyeri di dadanya datang kembali dan menyerangnya secara bertubi-tubi. Dia merasa sesak dan jantungnya berdetak begitu kencang. Hati dan pikirannya seolah mengerti. Tidak ada lagi kisah tentang kebersamaan Sonya dengan Aratha. Kisah itu sudah berakhir begitu cepat dan singkat. Tak ada satupun kata yang tertinggal di sana. Hanya ada air mata yang menandakan kesedihan tak berujung.
Di sisi lain, Aretha juga larut dalam kesedihannya. Padahal dia sudah berusaha menjauhkan diri dari Aratha dengan pergi ke Makassar mengikuti bibi Anieq dan bersikap buruk padanya. Namun, jika sudah sayang, memang tidak bisa dibohongi. Akan ada waktunya ketika kasih sayang itu berubah menjadi kesedihan yang sangat membekas seperti ledakan.
__ADS_1
Aretha memeluk tubuh kecil Sonya yang masih menangis. Tangannya sibuk mengelus kepala belakang Sonya dengan lembut berharap Sonya bisa menemukan sedikit ketenangan.
”Sonya. Aratha nggak mau melihat kamu menangis karena kepergiannya. Dia bilang, semua akan baik-baik saja. Hidup kamu nggak akan berbeda meskipun dia sudah tidak ada. Karena itu, tolong jangan menangis lagi. Aku masih ada di sini.”