Jingga Untuk Aratha

Jingga Untuk Aratha
Bab. 15 - Kamar Ibu


__ADS_3

Aratha berdiri di depan sebuah kamar yang selalu tertutup. Padahal dia berada di rumahnya sendiri. Tetapi, dia berpakaian rapi dengan membawa sebuket bunga mawar merah muda di tangannya. Dia takut untuk mengetuk pintu. Padahal di dalamnya tidak ada seorangpun. Dia mencoba membuka pintu secara perlahan, seolah di dalamnya ada seseorang yang sedang tidur.


Dilihatnya sebuah tempat tidur yang masih sangat rapi dengan sprei halus berwarna biru. Sebuah rak buku cukup besar bersandar di tembok, tak jauh dari sebelah tempat tidur. Aroma bunga lavender mulai tercium meski pintu hanya dibuka sedikit.


Langkahnya terlihat getar. Di sini tidaklah gelap Namun, Aratha terlihat ketakutan saat masuk ke dalamnya. Dengan hati-hati, Aratha menaruh bunganya di atas tempat tidur dan memandanginya sebentar.


”Ku harap Ibu baik-baik saja di sana. Tampaknya surga begitu menyita perhatian Ibu. Tidak apa-apa karena semua itu pantas untuk Ibu.” Aratha terdengar begitu tegang saat mengatakannya meskipun dia berusaha tenang.


Aratha menarik sebuah kursi lalu duduk di sana. Tirai gorden sengaja ditutup karena malam masih menenggelamkan wilayah Tangerang. Sunyi terasa begitu menenangkan. Aratha memandang foto dirinya dan saudaranya yang masih kecil bersama dengan Ibunya sedang bermain ayunan. Foto itu ditempel di tembok oleh Ibunya sendiri. Tidak tahu apa alasannya yang pasti, Aratha langsung berpikir kalau Ibunya sedang melihatnya dari kejauhan sana.


”Ibu, tanpa sadar aku menghadirkan cinta dalam hidupku. Rasanya seperti tamu tak diundang yang datang hanya untuk meminta makan. Tetapi, tamu itu membawa kebahagiaan bersamanya. Saat ini aku sedikit kecewa karena cinta itu sedang berada di ambang pintu. Tepatnya, seseorang yang lain sudah menunggunya di luar sana. Tanganku bergerak sendiri untuk menariknya kembali ke rumahku. Perlahan, hatiku membuat sebuah tali yang mudah rapuh jika di terjang badai. Tetapi dia, mengubah tali itu menjadi sebuah pelangi. Aku senang. Sosoknya selalu mengingatkanku pada Ibu. Akhirnya aku sadar, mengapa saat itu Ibu rela melakukan apa saja untukku.”


”... Tapi, pelangi itu sebentar lagi akan hilang. Tidak ada ikatan apapun lagi setelah ini. Aku perlu hujan dan matahari untuk membuat pelangi. Ah, rasanya bodoh sekali. Orang seperti diriku yang sering terkena badai, tidak mungkin memiliki mataharinya sendiri.”


”Kamu ngapain di sana?!” laki-laki itu membentak, tepat di depan pintu yang masih terbuka. Sosoknya sangat mirip dengan Aratha apalagi caranya saat sedang menatapnya dari luar kamar.


”Aretha, kapan kamu pulang?” Aratha langsung melirik ke arah Aretha, adik kembarnya yang baru saja kembali dari Makassar. Aretha ikut dengan Bibi Anieq karena permintaan Aretha sendiri yang begitu memaksa. Aretha pergi dari rumahnya, sebulan setelah kematian Ibu mereka.

__ADS_1


”Kamu kurang ajar sekali!” Aretha langsung meninju wajah Aratha sampai membuatnya terbanting ke samping tempat tidur dan meninggalkan bekas memerah di pipi kirinya.


”... Dalam keadaan seperti ini, kamu masih berani menemui Ibu?! Asal kamu tahu, Ibu meninggal karena harus menyelamatkanmu! Mengapa saat itu kamu hanya menangis dan tidak melakukan sesuatu untuknya?! Dasar tidak berguna! Menyebalkan!”


Tak perlu dikatakan seperti ini pun, Aratha sudah bisa mengerti. Tanpa sadar saat itu Aratha memang selalu ingin dimanja oleh Ibunya sedangkan Aretha memilih untuk bersama dengan Ayahnya meskipun Ayahnya selalu sibuk. Jika saja saat itu Aratha tidak memaksa Ibunya untuk ikut mengunjungi rumah Bibi dengannya, akankah Ibu tidak akan mendorongnya dan memilih untuk menyelamatkan diri saat kecelakaan terjadi?


”Berisik! Aku juga tahu itu.” Aratha terlihat dingin seperti biasa ketika sedang menatap Aretha.


Aretha merasa ditantang. Seketika raut wajahnya menjadi kesal. Aratha mendorong kursinya agar bisa menatap Aretha dengan jelas di depan wajahnya. ”Kalau sudah selesai, aku mau pergi. Bereskan sendiri kopermu yang berantakan itu.”


Aratha berjalan melewati Aretha begitu saja. Namun, Aretha tak membiarkannya. Aretha menendang punggung cowok itu sampai membuatnya nyaris terjatuh dan terbanting ke depan.


Aratha nyaris tak bisa merasakan apapun. Punggung yang baru saja ditendang oleh Aretha dan wajah yang sebelumnya sudah mendapat siksaan, semua itu meninggalkan bekas biru yang teramat sakit jika di sentuh sedikit saja. Wajahnya terlihat lelah dan dia berusaha untuk tidak mengatakan apapun.


”Ya Ampun, Aretha! Kamu ngapain?” Bibi Anieq yang baru saja datang terlihat sangat cemas. Dia langsung menghampiri Aratha dan pandangannya terpaku pada memar yang ada di wajahnya. ”... Aduh, Aretha. Dia saudara kamu sendiri. Kenapa kamu malah mukulin dia?”


”Bibi ngapain sih peduliin dia?! Lagian gara-gara dia yang penyakitan, Bibi harus ikut-ikutan bayar pengobatannya!” ketus Aretha sangat marah.

__ADS_1


”Tapi, kamu nggak harus lakuin ini ke saudaramu sendiri. Kasihan dia.” Bibi Anieq mencoba memeluk Aratha yang tak bergerak.


”ARETHA!” teriak Ayah yang baru saja tiba di depan pintu. Dia memasang ekspresi sangat marah pada Aretha begitu dia melihat keadaan Aratha saat ini. Dia membanting tas kerjanya dan memelototinya ”... Kamu sudah keterlaluan Aretha! Ayah muak kalau kamu ngelakuin hal ini lagi!”


”Tunggu, Ayah! Bukan salah Aretha. Itu salahku. Jangan marah padanya.” ucap Aratha dengan kesusahan.


”APAAN SIH! NGGAK USAH SOK NGEBELAIN!” teriak Aretha sangat marah padanya. ”... AKU EMANG MAU MUKUL DIA SEBAGAI PELAMPIASAN! KENAPA EMANGNYA?! SEKARANG KALIAN MARAH? PENGIN MEMBUANG KU?!”


”ARETHA! CUKUP!” Ayah langsung menampar wajah Aretha ketika dia tiba di depannya. Suaranya terdengar begitu keras hingga mengejutkan Aratha dan Bibi Anieq.


”Ayah! Stop! Jangan marah sama Aretha! Ini kamar Ibu! Dia pasti sangat sedih melihatnya!” Aratha mencoba berjalan mendekati Ayah dan Aretha namun ditahan oleh Bibi Anieq.


Ayah mematung saat itu juga, menatap Aretha yang sedang memegangi pipinya. Aretha terlihat kesal saat memandang wajah Ayahnya. Dia juga kesal karena Aratha sok menjadi pahlawan untuknya.


”Aku nggak suka sama kalian! Pokoknya benci! Nggak ada satupun yang sayang sama aku! Jadi aku pergi saja!” dengan cepat Aretha langsung mendorong Ayahnya menjauh lalu dia berlari pergi meninggalkan rumahnya.


Aratha ingin mengejarnya. Namun, rasa sakit di tubuhnya semakin bertambah sehingga dia tidak kuat lagi untuk berjalan. Alhasil, Aretha benar-benar pergi meninggalkan rumahnya dan Bibi Anieq langsung bergerak pergi untuk mencarinya.

__ADS_1


Ayah mendengus. Pasrah dengan sifat kekanak-kanakan yang dilakukan Aretha. Dia berjalan menghampiri Aratha lalu mengatakan, ”Kamu beristirahatlah. Maafkan semua orang yang ada di sini.” setelah itu, dia berjalan pergi meninggalkan kamar Ibu yang sudah terlanjur berantakan.


__ADS_2