
...Aku ingin menjadikan diriku sebagai kenangan yang paling berarti bagi semua orang. ...
...Atau mungkin, seseorang yang menjengkelkan dan hanya bisa melukai perasaan orang lain....
...Seperti monster....
...Di dunia yang fana ini,...
...Ada suka dan duka....
...Ada benci ada juga cinta....
...Semuanya diciptakan dengan berpasang-pasangan. ...
...Jadi, tidak ada yang sendiri....
...Dan aku harap, pasanganku di masa depan adalah kamu....
...~Aratha~...
Hari ini Sonya tak berhenti tersenyum ketika dia menemukan sebuah bunga mawar yang tersimpan di laci mejanya. Terdapat surat yang diletakkan tepat di bawah bunga dan Sonya langsung tahu kalau bunga ini berasal dari Aratha. Sonya penasaran bagaimana Aratha tahu kalau dia sangat menyukai bunga mawar berwarna merah muda.
Kali pertama, Sonya mendapatkan kiriman yang luar biasa dari seorang Aratha. Dia pikir, Aratha itu terlalu kaku, dingin, tidak peka dan lain sebagainya. Namun disisi lain, Aratha tetaplah Aratha. Dia juga memiliki sikap lembut seperti ini.
”Wah, itu bunga dari Aratha ya? Kayaknya dia nyoba nembak kamu.” Fahruz muncul tiba-tiba di sebelah Sonya seperti makhluk halus.
Rasanya pengin nonjok!
”Bisa nggak sih salam sapa dulu sebelum bicara ke intinya? Ingat 5S! Senyum, salam, sapa, sopan, santun!” ketus Sonya, menatapnya jengkel sembari menunjukkan kepalan tangannya.
”Nggak bisa. Ribet. Berbelit-belit. Bisa-bisa nggak sampai ke intinya. Lagian, aku malas bicara sama kamu. Hobinya bikin orang meleleh.”
”Maksud kamu apaan?”
Belum sempat memberikan jawaban, Fahruz langsung berlalu meninggalkannya sembari berkata, ”Nggak! Nanti kamu kegeeran!”
”Bicara yang benar! Ngapain kamu ngomong gitu kalau pada akhirnya nggak mau ngasih tahu artinya.” gerutu Sonya sembari menghirup aroma bunganya.
Hari ini Aratha ada kelas olahraga. Semuanya berkumpul di lapangan dan membentuk lingkaran. Entah dia tidak menyadarinya atau tak pernah memperhatikan, ternyata Kinan berada di kelas yang sama dengannya. Dia baru dua bulan pindah sekolah. Dan dia belum bisa mengenal nama-nama siswa di kelasnya.
”Hari ini kita akan bermain voli! Semua anak laki-laki kumpul di lapangan!” Kinan berkata cukup tegas. Dia pandai berbicara dan semua guru mengenalnya cukup baik. Tidak heran, dia yang terpilih menjadi ketua kelas tahun ini.
__ADS_1
Aratha tampil dengan memakai jaket parka dan plester hangat di pipi kirinya setelah Aretha memukulnya. Beberapa orang khawatir padanya dan Aratha terus menjawab bahwa dia baik-baik saja. Tadi malam, turun hujan yang cukup lebat, membuat lapangan terasa sedikit licin. Padahal panas matahari mulai menyengat. Tetapi, Aratha tidak juga membuka jaketnya.
Sebuah servis pertama dilakukan oleh tim lawan. Aratha segera bersiap di barisan belakang. Ketika bola melesat, melewati net lapangan, terus meluncur hingga akan mendarat tepat di depan Aratha. Satu gerakan cepat, Aratha langsung melompat ke atas dan melakukan pukulan keras. Bola itu berbalik dan meluncur kembali ke arah lawan.
Aratha sedikit terpleset saat akan mendarat. Sebentar memejamkan mata, dan dia sudah mendengar sorak-sorakan gembira dari timnya yang mendapatkan satu poin. Aratha sedikit bisa bermain voli. Namun, tiba-tiba dia berhenti bermain karena suatu hal.
”Aratha! Kamu hebat banget! Kita menang satu poin!” ucap seorang teman yang langsung memukul pundak Aratha. Sudah menjadi sebuah tradisi, semua cowok di sini selalu memukul pundak temannya sebagai ucapan terima kasih. Namun, Aratha tidak begitu suka cara yang seperti ini meskipun katanya bisa mempererat pertemanan antara laki-laki.
Kinan memperhatikan dari kejauhan. Dan dia menyadari wajah pucat Aratha saat ini. Tak ada seorangpun yang menghiraukannya. Semuanya abai dan menganggap Aratha masih baik-baik saja.
...~o0o~ ...
Jam Istirahat.
”Aratha!!”
Sonya langsung membuka pintu kelas Aratha dan memanggilnya berkali-kali. Dia memandang sekitar dan tidak menemukan jejak keberadaan Aratha di sana. Hanya ada tasnya yang tergeletak di atas meja dan beberapa buku yang menumpuk. Dengan cepat, perhatian Sonya langsung tertuju pada Kinan yang sedang menghapus tulisan di papan tulis.
”Kinan! Kamu lihat Aratha?” Sonya langsung berlari menghampiri Kinan.
Kinan berhenti menghapus angka-angka matematika di papan tulis lalu menatap Sonya di sebelahnya. ”Kayaknya dia istirahat di UKS. Katanya dia mau tidur sebentar.” jawabnya.
”Kayaknya. Baiknya kamu nemenin dia di sana.”
”Oke.”
Sonya langsung berlari pergi ke UKS. Sebelum itu, dia sempat berpapasan dengan Faiz yang sepertinya juga ingin berbicara dengan Kinan. Faiz itu menyukai Kinan sejak pertama bertemu. Namun, Kinan begitu tidak peka sehingga cintanya menjadi cinta yang tak terbalas.
Kasihan. Tapi, menyenangkan untuk dilihat.
Kelas Aratha berada di lantai tiga sedangkan UKS berada di lantai satu. Lagi-lagi, Sonya harus berlari menuruni satu persatu anak tangga. Tentunya dia harus berhati-hati karena bisa saja dia terjatuh dan membuat semua orang khawatir.
Pada tangga di lantai dua, Sonya berpapasan dengan Alrez yang sedang menaiki anak tangga. Begitu Alrez melihatnya, dia langsung menahan pergelangan tangan Sonya hingga membuat langkahnya berhenti.
”Aku perlu ngomong sama kamu, Sonya.”
”Maaf, Alrez. Lain kali aja! Aku buru-buru!”
Sonya langsung berlari pergi meninggalkannya tanpa memberikannya waktu untuk berbicara sedikit. Kesannya mengundang kekecewaan pada Alrez. Dia sudah tahu pasti dan tidak bisa menebak hal selain pertemuan Sonya dengan Aratha. Belakangan ini, mereka berdua memang selalu terlihat dekat dan semua orang juga sedang membicarakannya.
”Dia masih nggak menyerah juga!”
__ADS_1
...~o0o~...
Hari ini Fahruz mendapatkan sebuah kejutan yang tak di sangka. Saat dia akan pergi ke kantin, tiba-tiba Dea menghalangi jalannya. Dea terlihat kesal, marah, tak tahu apa yang membuatnya seperti ini. Hanya saja, dia merasa perlu bertemu dengan Fahruz untuk mengatakan beberapa patah kata padanya.
”Kenapa? Perlu sesuatu?”
Dea tak bergumam, menatap Fahruz dengan ekspresi yang sama. Beberapa detik setelahnya, Dea mengacungkan jari telunjuknya pada Fahruz tanpa dibarengi ucapan. Fahruz bingung dan memilih untuk menunggunya bicara.
Hening.
Lama kelamaan Fahruz kesal karena terus menunggu. Dia mulai berpikir untuk berbalik dan kembali ke kelasnya. Namun, sesuatu membuatnya berpikir dua kali untuk menunggunya selama beberapa detik lagi.
Tetap tidak bicara.
Beberapa detik telah terlewati, Fahruz akhirnya memilih untuk berbalik dan membelakanginya. Namun, mendengar suara Dea, membuat langkahnya terhenti saat itu juga.
”M~ makasih.” ucap Dea penuh canggung.
Fahruz menoleh ke belakang, menatap Dea dengan ekspresi bingung. ”Makasih untuk apa?”
”Soal kemarin. Makasih udah nganterin aku pulang.” Dea terlihat cuek dan langsung mengalihkan perhatiannya.
”Oh? Soal kemarin? Nggak masalah. Lagian, kemarin aku juga mau mampir ke suatu tempat.” Aratha kembali mengalihkan perhatiannya.
Awalnya dia ragu sampai pada akhirnya Dea memberanikan diri untuk melangkah mendekati Fahruz. Dia merogoh kantong roknya untuk mengambil sesuatu dan memberikannya pada Fahruz langsung dari tangannya.
”Apa ini? Kamu memberikanku ini sebagai ucapan terima kasih?”
”Kenapa? Kamu nggak mau?! Suka-suka aku memberi apapun itu sebagai ucapan terima kasih. Kalau kamu nggak mau, kamu tinggal kasih ke cewek yang namanya Sonya!”
”Ya, tapi aku dan Sonya tidak begitu suka permen lollipop. Jadi, harus aku kasih ke mana?”
”Ke mana saja boleh asalkan tidak dibuang!” ketus Dea.
”Oh, gitu ya?”
Fahruz berpikir. Dia meraih tangan Dea lalu meletakkan permen lollipop itu di tangannya. ”Katanya dikasih ke mana saja boleh asalkan jangan dibuang. Jadi, aku kasih ke kamu aja. Kamu nggak bakalan nolak, kan?”
Entah mengapa hal itu membuat Dea merasa terpesona. Permen itu kembali ke tangannya sedangkan Fahruz berjalan semakin menjauh darinya. Dia sangat yakin, awalnya dia sangat tidak menyukai Fahruz. Tetapi, Fahruz lah yang membuatnya suka padanya.
Tidak mungkin! Kenapa aku harus menyukainya?
__ADS_1