Jingga Untuk Aratha

Jingga Untuk Aratha
Bab. 17 - Suara Piano


__ADS_3

Sonya pergi ke UKS dan tidak menemukan keberadaan Aratha di sana. Kasurnya terlihat sangat rapi seperti belum ditempati oleh siapa pun. Tak ada seorang pun di sana bahkan Miss Yuli sedang pergi keluar. Sonya bingung dan mencoba berpikir ke mana Aratha pergi saat ini.


Selama ini dia belum mengenal jelas Aratha. Selain dirinya yang penakut dengan kegelapan, dia juga jarang pergi mengunjungi setiap ruangan yang ada di sekolah. Rasanya tidak mungkin dia pergi ke kantin karena dia bukan sosok cowok yang doyan makan.


Lagi-lagi, dia masih memikirkan hal yang sama. Diingatnya lagi kejadian saat Sonya pertama kali bertemu dengan Aratha adalah di koridor kelas dan di ruang musik. Bukan tidak mungkin Aratha kembali ke ruang musik untuk menenangkan dirinya dari keramaian. Karena ruangan itulah yang sangat jarang ditempati oleh siapapun.


Langkah Sonya bergerak menuju ruang musik yang ada di lantai dua. Sepertinya Aratha melewati tangga yang lain saat Sonya berjalan turun dari lantai tiga. Kakinya pegal, itu sudah biasa. Yang luar biasa adalah ketika dirinya berkali-kali terjatuh dari atas tangga. Dan beruntungnya, Fahruz selalu menyelamatkannya.


Cewek itu sampai di depan ruang musik. Saat dia akan membukanya, suara piano terdengar di telinganya. Sebuah nada yang lembut dan putus asa. Orang yang memainkannya terlihat sangat sedih seperti sedang merindukan seseorang.


Sonya memilih untuk diam di depan pintu, sembari menunggu lagu ini selesai dimainkan. Dia duduk, menekuk lutut tepat di sebelah pintunya. Sesaat dia memejamkan matanya. Lagu ini sering setel oleh Ibunya berkali-kali. Katanya musik ini sangat menenangkan dan membuatnya teringat pada masa remajanya. Karena itu, dia berharap Sonya bisa hidup tenang dan bahagia meskipun dia sudah tidak ada.


”Aku rindu pelukan hangat Ibu. Ayah jarang sekali pulang dan aku sering kesepian.”


Hanya berselang beberapa detik, suara ini berhenti terdengar. Sonya langsung membuka matanya dan berdiri dari posisinya. Saat itu juga, Sonya langsung berjalan masuk ke dalam ruangan untuk memastikan. Hal yang bisa dibilang keberuntungan atau sebuah kebetulan, saat ini Aratha yang berada di dalam ruangan juga sedang membuka pintunya sehingga, saat ini keduanya saling bertatapan dari jarak yang cukup dekat.


”Eee, Aratha. Jadi itu kamu, ya?”


”Kamu dengar semuanya?”


”Nggak. Aku cuma dengar nada terakhirnya saja.”


”Oh,..” hanya itu yang dikatakan Aratha setelahnya dia langsung mengalihkan perhatiannya dengan ekspresi yang terlihat kosong.


”Muka kamu kenapa? Memar kayak gitu sampai di plester. Habis dihajar massa gara-gara terlalu galak?”


”Nggak, bukan apa-apa.”


”....”


Sonya menangkap kesunyian yang terjadi diantara mereka berdua. Namun, dengan cepat Sonya langsung tersenyum menatapnya. Dia menyambar tangan Aratha dan mengajaknya masuk ke dalam ruang musik.


”Heh! Kamu ini apa-apaan?!” ketus Aratha yang langsung menarik tangannya dan menatap kesal Sonya yang mencoba memancingnya.


”Kenapa? Kamu nggak mau nunjukin skill kamu main piano? Aku tahu kamu yang memainkannya tadi.”


”Nggak! Bukan aku yang mainin! Kamu cuma salah dengar!”


”Ayo dong. Nggak usah malu. Kamu harusnya bangga punya kemampuan istimewa. Jarang sekali ada yang bisa bermain piano selancar itu.” Sonya kembali menarik paksa Aratha masuk ke dalam ruang musik. Dilihatnya, Sonya begitu memaksa. Dia bahkan menutup pintunya rapat-rapat agar tidak ada yang mengintip.


”Kamu apaan sih?! Maksa banget!” Aratha terlihat semakin marah. Dia bahkan langsung menepis tangan Sonya agar menjauh darinya.

__ADS_1


”Kamu itu kasar banget! Aku cuma mau ngomong sesuatu ke kamu!”


”Kamu bisa katakan itu kapan saja tetapi, jangan sampai menarik ku ke tempat sepi kayak gini!”


”Oh, ya? Emangnya kamu nggak pernah lakuin itu ke aku? Kamu kira kamu tahu apa yang pengin aku omongin ke kamu?!”


”Emangnya apaan?!”


Ekspresi Sonya yang marah seketika melunak saat berkata, ”Aku cuma mau bilang makasih! Soal bunga yang kamu kirimi pagi ini. Aku cukup senang melihatnya.”


”Kalau soal itu, kamu bisa omongin besok pagi atau lusa kan?! Ngapain ngomong sekarang? Aku nggak ada waktu! Aku sangat sibuk!”


”Kok kamu sewot?! Aku kan ngomongnya baik-baik!”


”Tapi, kamunya maksa! Siapa yang nggak sewot kalau diginiin?!”


Dengan cepat, Sonya langsung mengalihkan perhatiannya dan melunak lagi karena tidak ingin memperpanjang masalah sepele seperti ini. ”Iya, maaf. Aku yang salah. Kamu nggak usah marah-marah lagi.” ketusnya sedikit.


”Kamu ini niat meminta maaf nggak sih? Ngomongnya bisa nggak lemah lembut sedikit? Kamu itu cewek! Nggak seharusnya teriak-teriak!”


”Setiap kali aku ketemu kamu, kok kamu seringnya marah-marah? Aku kan mencoba jadi orang baik di sini!”


”Yaudah! Sini tangan kamu!”


Dengan gerakan secepat kilat, keduanya langsung berjabatan tangan meskipun ekspresi mereka berdua menunjukkan ketidaksenangan. Namun, pertengkaran mereka hanya sebuah bungkusan yang menutupi isi dari sebenarnya seperti kue ketan yang dibungkus daun bambu.


...~o0o~...


Alrez kesal karena Aratha berhasil memenangkan Sonya darinya. Saat dia baru saja sampai di kelasnya sendiri, dia langsung menendang sebuah meja sampai terjungkal ke belakang. Tatapannya terlihat sangat marah dan semua orang takut berhadapan dengannya apalagi hanya untuk melirik ke arahnya.


Biasanya Dea yang datang untuk menenangkannya. Namun, sekarang dia tidak sedang berada di kelasnya. Lebih tepatnya sedang memata-matai gerak-gerik Fahruz di setiap langkahnya.


”Aduh, kayaknya ada yang sedang cemburu.” cibir Faiz yang juga teman sekelas Alrez. Dia berani berdiri di depan meja kursi yang sedang diduduki oleh Alrez dengan wajahnya yang terlihat santai dan membuat semua orang tercengang.


”Berisik! Nggak usah ikut campur!” Alrez melempar buku milik orang lain ke papan tulis.


Bisa ditebak seperti apa bunyi berisiknya ketika papan tulis itu goyah karena lemparan buku dari Alrez. Bak seluruh kelas adalah miliknya, tidak ada seorang pun yang berani berbicara dengannya kalau suasana hatinya sedang buruk seperti ini.


”Heh! Kamu ini bisa membuat orang-orang di kelas menjadi tidak nyaman. Salahkan dirimu jika secara serempak mereka semua menolak untuk sekelas denganmu.” ucap Faiz, melipat tangannya.


”Mulutmu diam! Aku nggak pernah minta nasehat darimu!” Alrez langsung mengalihkan perhatiannya setelah dia mengeluarkan semua kekesalannya.

__ADS_1


”Padahal Sonya sudah memaafkan kamu dan mulai berani berbicara denganmu lagi. Kalau dia sampai melihatmu seperti ini, tidak bisa dibayangkan wajah ketakutannya nanti. Menurutku wajar sih kalau Sonya lebih milih Aratha. Dibalik sifat dinginnya, dia juga orang yang cukup baik. Kayaknya kamu nggak bisa menandinginya.”


BRAKK!!


Alrez memukul meja dengan ekspresi yang sangat marah. Dia sangat tidak tahan ketika ada seseorang yang mencoba menasehatinya. Semua orang mulai menjauh dan beberapa ada yang berlari keluar kelas. Tatapan tajam Alrez seakan tak dihiraukan oleh Faiz yang masih bisa menunjukkan senyum penuh dengan niat licik.


”Lain kali nggak usah sok tahu! Kamu mending pergi dari sini!” ucap Alrez.


Dengan santainya, Faiz langsung menjawab, ”Oke.” lalu dia berjalan maju keluar kelas dan berhenti lagi untuk mengatakan sesuatu yang sempat tertinggal. ”Sonya itu temanku saat SD. jadi, aku sudah tahu segalanya tentangnya. Dan aku yakin, Sonya itu nggak cocok sama kamu. Baiknya kamu nggak usah dekat-dekat dia lagi meskipun awalnya Sonya yang dekatin kamu.” setelah itu Faiz pergi meninggalkannya.


...~o0o~...


”Oh? Jadi, Ibu kamu yang ngajarin kamu main piano?” Sonya duduk berdampingan dengan Aratha di kursi piano. Dia tidak sadar kalau dia sudah berhenti bertengkar dengan Aratha.


”Iya. Ibuku yang mengajariku bermain piano. Dulu, aku sangat benci dengan cinta dan menolak semua orang yang ingin dekat denganku. Secara sadar, aku membangun dinding yang kuat dan terbuat dari baja. Tapi, kamu malah menghancurkannya.”


”Oh? Maaf, aku nggak sadar kalau sudah mengganggu privasi mu. Tapi, dari awal aku emang suka sama kamu.”


”Apa yang kamu suka dari aku? Sifatku nggak ada yang bagus.”


”Kamu tahu? Cinta itu datang tiba-tiba tanpa diminta. Kayak ulangan matematika yang tak pernah diminta dan selalu ditolak. Tapi, entah kenapa aku merasa tidak pantas merasakannya. Jarang ada yang menyukaiku. Ibu pergi untuk selamanya dan Ayah pergi ke kota besar untuk memenuhi kebutuhanku di sini dan aku tinggal sendirian. Ah, iya juga. Kenapa aku jadi bahas yang seperti ini.”


Aratha terdiam, mencoba untuk mengerti keadaan dan perasaan Sonya saat ini. Pasti sedih sekali. Rumah yang seharusnya hangat, berubah menjadi pusat kesepian itu terjadi.


”Sonya, bisakah aku meminta satu permintaan untukmu?”


”Apa itu? Sesuatu yang nggak seru? Kamu minta aku traktir kamu ke kantin?”


”Bukan hal semacam itu.”


”Terus apa?”


”Tetap bersamaku sampai tua nanti.”


”Kamu mintanya selalu aneh-aneh! Nggak bisa lebih logis lagi ya?”


”Ini serius.”


”....”


”Aku ingin Sonya terus berada di sampingku. Sampai tua nanti dan menyambut usia kita yang ke-100.”

__ADS_1


__ADS_2