Jingga Untuk Aratha

Jingga Untuk Aratha
Bab. 29 - Senyum Ceriamu


__ADS_3

Sudah setahun lebih semenjak kepergian Aratha. Perlahan, keadaan Sonya mulai membaik dan dia akhirnya menjadi Sonya yang dulu meski awalnya sangat sulit untuk dilakukan. Daftar temannya juga bertambah dua. Dia adalah Aretha dan Dea. Meskipun Aretha selalu mengingatkannya pada sosok Aratha, dia selalu mencoba untuk melupakan hal buruk yang terjadi saat itu.


"Aduh! Sempit! Minggir bentar!"


"Sepatuku jangan diinjak! Aku baru beli!"


"MINGGIR! DONATKU JANGAN DIAMBIL!" teriak Sonya di tengah-tengah kerumunan orang di kantin.


Hari ini Bibi kantin kembali menjual donat besar dengan harga sangat murah. Donat lembut dengan taburan coklat keju di atasnya adalah makanan yang paling disukai oleh Sonya selain mie. Begitu dia mendengar kabar kalau donat itu sedang dijual, dia langsung berlari ke kantin untuk membelinya.


"Emang apa enaknya makanan itu sampai-sampai rela berdesak-desakan. Kalau aku sih sudah menyerah lebih dulu." gumam Aretha, memperhatikan dari tempat sepi. Dia tak perlu heran dengan sifat Sonya sehari-harinya. Dia hanya perlu waktu beberapa bulan saja untuk mengenal sifat asli Sonya di sekolah.


Ternyata Aratha benar. Sonya adalah orang yang membuatnya merasa hidup. Dia berbeda dari cewek lain. Sifatnya sangat menghibur dan menyenangkan. Tidak heran jika Aratha mampu ditaklukan olehnya dengan mudah.


"SONYAA! DONATNYA JANGAN DIBELI SEMUA!" Fahruz tiba-tiba berteriak dari arah belakang Aretha. Dia langsung berlari memasuki kerumunan dan menghilang seperti tenggelam di tengah ombak.


"Hah? Apaan sih? Ngelawak ya?" batin Aretha, menatap heran mereka berdua yang saling berebut. Dengar-dengar kalau dulu Sonya dirawat oleh Ibunya Fahruz karena Ayah Sonya harus bekerja jauh di kota sedangkan Ibunya sudah tidak ada. Meskipun keduanya sudah kenal sejak kecil, jangan pernah berpikir kalau mereka sangat dekat seperti saudara. Nyatanya tak ada satupun dari keduanya yang mau mengalah apalagi soal makanan kesukaan. Mereka akan saling bertengkar meskipun semua orang sedang memperhatikannya.


Unik sih, tapi aneh.


Tak lama Sonya akhirnya keluar dari puluhan orang yang berkerumun. Dia terlihat mengambil nafas lebih dulu lalu, berjalan cepat mendekati Aretha dengan membawa sebuah kantong kertas.


"Kamu nggak beli juga? Donat ini jarang sekali dijual di sini. Jadi, jangan disia-siakan."


"Nggak! Aku udah kenyang!"


"Kamu yakin nggak mau? Kayaknya perutmu nagih ingin dikasih makan." Sonya mencoba meledek Aretha dengan menunjukkan donat coklatnya tepat di depan wajah Aretha.


"Maksa banget sih! Aku udah bilang nggak mau."


"SONYA! ITU DONATKU! AKU UDAH BAYAR TADI! teriak Fahruz, mencoba keluar dari himpitan kerumunan yang terus menjepitnya seperti jepitan jemuran.


"Apaan sih! Aku duluan yang bayar tadi!" balas Sonya langsung menatap jengkel Fahruz yang marah.


Aretha menunjukkan wajah senangnya ketika akhirnya dia bisa melihat Sonya telah kembali seperti semula. Rasanya dia tidak ingin kembali ke masa lalu dan mengingat kematian Aratha tahun lalu. Semuanya sudah kembali normal dan mereka sudah duduk di kursi kelas tiga. Ujian masuk perguruan tinggi akan dimulai sebentar lagi. Sudah seharusnya mereka menyiapkan semua pelajaran dari sekarang.


Aratha, aku harap kamu melihat wajah cerianya hari ini.

__ADS_1


"ARETHA!"


Dua orang yang bertengkar ini saling berteriak menyebutkan namanya. Padahal dia hanya mengalihkan perhatiannya selama beberapa detik. Tampak jelas wajah tak mau kalah dari kedua orang ini. Mereka menatap Aretha dengan serius.


"Kamu lihat nggak siapa yang bayar duluan tadi?!" tanya Sonya tak sabaran.


"Sudah jelas pasti aku yang membayarnya lebih dulu! Kamu aja yang merasa udah bayar!" paksa Fahruz.


"Jangan ngawur kamu! Jelas-jelas aku duluan yang bayar! Kamu jangan macam-macam!" omel Sonya, menatapnya dengan telinga berasap.


"Yaudah, donat ini sekarang milik siapa?!" ucap Fahruz lagi.


Aretha merasa telinga kirinya tertusuk pedang sampai menembus ke telinga kanan. Dia akhirnya sadar, perdebatan mereka berdua adalah sesuatu yang tak pernah diinginkan olehnya. Seperti sirine polisi dan sirine ambulans yang berada di tengah kemacetan perempatan ditambah lagi dengan rusaknya lampu lalu lintas karena kabelnya ditabrak sendal.


Hanya ada satu cara untuk mendiamkan mulut mereka berdua yang terus berkoar-koar sampai ke kutub selatan. Aretha mengambil bungkus makanan yang masih ada di tangan Sonya. Dan saat itu juga, mereka berdua langsung terdiam sambil memandanginya.


"Kalian tahu berisik nggak?! Aku tahu ini kantin, tempat paling enak menggosip. Tapi, kalian ini emang benar-benar ya!"


Aretha terlihat kesal sekali. Dia kemudian membuka bungkusan itu sedikit dan ketika adik kelasnya melintas di sebelahnya, dia menyapanya dengan memberikan bungkusan itu padanya. "Buat kamu. Kakak-kakak ini yang memberikannya." ucapnya lembut, rasanya berbeda sekali dengan yang tadi.


"Eh? Kok dikasih?" gumam keduanya, yang hanya bisa memberikan kesan heran.


Hening.


Sonya dan Fahruz memandang punggung cewek yang baru saja menerima donat itu. Tatapan mereka terkesan datar, tak menduga Aretha akan melakukan itu untuk memisahkan mereka. Rasanya seperti menjaga pasangan orang lain. Ujung-ujungnya juga nggak berakhir di pelaminan.


"Donatku,..."


"Donatmu?"


"Nah, udah selesai kan? Nggak ada masalah lagi." wajah Aretha terlihat tak bersalah sama sekali. Seolah dia telah memberikan keputusan yang mutlak yang tak akan pernah bisa dilawan oleh siapapun.


...~o0o~...


Buku-buku yang berantakan di atas meja seolah menjadi pemandangan biasa di perpustakaan. Meski bukan jadwalnya membersihkan perpustakaan, Kinan tak bisa membiarkan buku-buku itu terus menumpuk dan menghalangi jalan. Dia mengambilnya satu persatu dan menaruhnya kembali ke tempatnya.


Ketika akan menatanya, perhatian Kinan tertuju pada sebuah kertas koran yang baru saja didatangkan dengan tanggal rilis dua hari yang lalu. Pada koran itu, tertulis pelaku pembunuhan satu keluarga asal Manado diketahui kabur dari penjara dan masih dalam kejaran polisi. Untuk sementara, polisi masih menginterogasi beberapa saksi dan diketahui pelaku melarikan diri sampai ke Tangerang.

__ADS_1


"Pelakunya laki-laki berusia 50 tahun, ya. Cukup berbahaya kalau dia sampai menyamar sebagai orang lain."


Kinan kembali berjalan ke depan untuk menaruh beberapa buku yang menumpuk di kedua tangannya. Kakinya melangkah tanpa melihat-lihat sampai akhirnya dia tidak sengaja menabrak tumpukan buku hingga membuatnya terjatuh ke depan.


Buku yang menumpuk di atas kedua tangannya jatuh kecuali tubuhnya yang tak menyentuh lantai. Kinan bisa merasakan lengan seorang cowok sedang menahan kedua pundaknya agar tidak terjatuh. "Kinan, kamu nggak apa-apa?"


Saat cowok itu bertanya, Kinan langsung menegakkan tubuhnya lagi. Saat ini, matanya menyorot pada sosok Faiz yang sudah menolongnya. "Nggak apa-apa. Makasih." singkatnya kemudian Kinan kembali memungut buku-buku itu di tangannya.


Faiz menunjukkan senyum lebarnya pada Kinan yang sedang meringkuk di depannya. Dia juga ikut memungut buku-buku satu persatu dengan pandangan tak lepas dari Kinan. "Kalau kamu nggak minta, aku akan bantu di sini."


"Pergilah! Aku bisa sendiri."


"Aku udah bilang, akan aku lakukan meski kamu nggak minta."


"Kalau gitu, aku yang akan pergi!"


"Aku juga akan pergi."


"Bisa nggak sih biarin aku sendiri!"


"Nggak bisa. Soalnya kamu butuh pasti teman."


Kinan yang mudah marah, akhirnya pergi meninggalkan Faiz sendirian di sana. Tentu jawabannya sudah pasti. Sesuai dengan ucapannya, Faiz pasti akan berlari mengikutinya dari belakang meski harus diam-diam.


...~o0o~...


"Sonya, kamu ingat kan? Besok kita akan pergi ke perpustakaan untuk ujian perguruan tinggi?"


"Iya, aku ingat. Emang kenapa? Kayaknya besok kita berangkat ke sana hanya berdua saja. Katanya Fahruz dipaksa sama Dea buat berangkat bareng."


"Oke. Besok aku jemput kamu di rumah jam delapan nanti."


"Iya."


Sonya menghentikan langkahnya ketika dia sampai di depan sebuah toko bunga. Perhatian Sonya tertuju pada sebuah mawar merah muda yang terpajang di sana. Tiba-tiba saja dia teringat pada bunga pemberian Aratha yang sudah layu, bersamaan dengan hari kematiannya.


"Kamu mau bunga itu? Akan aku belikan." Aretha berdiri di sebelah Sonya.

__ADS_1


"Hmm, kayaknya nggak usah. Mungkin lain kali." Sonya berjalan kembali dengan senyum yang lagi-lagi terpajang di wajahnya. Melihatnya seperti itu, sudah cukup membuat Aretha merasa senang. Dia berjalan mengikutinya dari belakang.


Sonya orang yang sudah mengubahnya dan orang yang sudah mengubah Aratha. Karena itu, apapun yang terjadi dia tidak ingin kehilangannya.


__ADS_2