Jingga Untuk Aratha

Jingga Untuk Aratha
Bab. 32 - Pidato Terakhir


__ADS_3

Sudah empat hari berlalu semenjak kematian Sonya sampai-sampai sekolah menunda acara perpisahan kelas 3. Ayahnya yang baru saja sampai di Tangerang merasa tertekan dan putus asa saat dia meringkuk di atas makamnya yang bersebelahan dengan Ibunya. Dia sangat menyesal karena sudah pergi meninggalkannya. Ini juga menjadi sesuatu yang paling menyakitkan bagi seorang Aretha yang menyaksikan bagaimana kematian itu terjadi di depan matanya.


Bibi Anieq yang sudah tahu betul seperti apa sifatnya, tidak mampu memperbaiki hati Aretha yang sudah terlanjur terluka. Begitu juga dengan Fahruz yang tak bisa mengontrol emosinya sendiri sampai-sampai dia mengurung diri di kamarnya karena tidak ingin melukai siapapun seperti yang dilakukannya pada ibunya sendiri.


Suasana berkabung seolah terjadi dimana-mana. Sonya telah berhasil mengambil hati semua orang di sekitarnya dan membuat mereka putus asa setelah mendengar kabar kepergiannya. Namun, acara perpisahan tetaplah harus diadakan.


Pada akhirnya acara itu tergelar tujuh hari setelah kematian Sonya.


Sebuah ruangan gedung serba guna memiliki panggung luas yang terpampang jelas. Semua siswa kelas 3 berkumpul di dalam ruangan dan duduk di kursinya masing-masing. Semua orang memakai pakaian rapi dan indah. Kebanyakan semua cowok di sini memakai jas hitam dan sepatu kulit.


Bagi Aretha semuanya terlihat sepi. Andai saja saat itu dia yang terluka, dia mungkin masih bisa melihat Sonya berdiri di depannya dengan pakaian terbaiknya. Namun, Sonya hanya meninggalkan bayangan dalam pikirannya dan luka di dalam hatinya. Dia bahkan belum mendengar pidato pertama dan terakhir yang akan dibacakan oleh Sonya di atas panggung padahal dia sangat ingin mendengarnya.


"Aratha, apa kamu sudah bertemu dengan Sonya di sana? Apakah dia baik-baik saja? Aku senang karena akhirnya takdir kembali mempertemukan kalian berdua meski di tempat yang berbeda."


Aretha duduk di barisan kursi ketiga paling belakang. Tak ada seorangpun yang duduk di samping kanan dan kirinya. Semuanya tampak kosong. Fahruz sejak tadi terus menyendiri di kursi pojok belakang dan dia tidak ingin ada seorangpun yang datang padanya termasuk Dea. Kinan dan Faiz juga berada di kursi yang berbeda. Semuanya berpencar seolah tali yang mengikat mereka sudah terlepas.


Kapan semuanya akan berakhir?

__ADS_1


Dua orang cewek yang memakai baju putih dan biru, berjalan menghampiri Aretha dan mereka berhenti tepat di depannya. Salah satu dari keduanya, memegang beberapa lembar kertas yang ditunjukkan pada Aretha.


"Kayaknya, Sonya ingin memberikan kertas ini padamu." ucap cewek itu sembari menyerahkannya.


"Kenapa memberikannya padaku? Kamu kasih aja kertas itu ke Fahruz."


"Baiknya kamu baca halaman awalnya. Jangan salahkan kami kalau Sonya sangat kecewa sama kamu. Sonya sengaja menaruhnya di laci mejanya." begitu selesai, kedua cewek ini berjalan pergi meninggalkannya bersama dengan lembaran kertas tadi.


Untuk siapapun yang menemukan ini, tolong berikan pada Aretha. Kita tidak tahu apakah aku bisa membacanya di depan kalian atau tidak. Jika aku tidak sempat mengambilnya sebelum hari perpisahan itu tiba, tolong berikan ini padanya.


Itulah yang tertulis pada halaman pertama. Sonya seperti sudah mendapatkan firasat sehingga dia sengaja meninggalkannya. Atau mungkin, dia memiliki alasan sendiri untuk melakukannya. Hanya ada tiga lembar kertas yang penuh dengan kata-kata yang ditulis langsung oleh Sonya. Sama seperti Aratha. Permintaan terakhir Sonya, dia ingin melihat Aretha membacakan pidatonya di depan semua orang.


”Penghargaan lulusan terbaik tahun ini, jatuh kepada Ananda Sonya Arsyana Athalia yang akan diwakilkan oleh Ananda Aretha Aarav.”


Setelah pembawa acara itu beranjak duduk kembali ke kursi, Aretha berjalan menaiki tangga panggung dan berjalan kembali menuju bagian tengah. Tampak dari atas sini, semua orang menatapnya. Beberapa orang ada yang menangis, berpelukan dan sedikit orang yang sempat bertepuk tangan. Kepala sekolah menyerahkan sebuah piala pada Aretha yang dipersembahkan untuk Sonya. Namun, piala itu terlalu besar sehingga Aretha harus meletakkannya dulu di meja.


Aretha menarik nafas, lalu membuka lembar pertama. "Ini pertama kalinya aku berbicara di depan semua orang. Aku sangat gugup berdiri di sini. Tetapi, aku akan berusaha untuk tetap tenang agar suaraku bisa terdengar."

__ADS_1


".... Lembar satu. Aku sangat berterima kasih pada semua orang yang sudah berada di sisiku sejak lama. Terutama untuk Ibuku. Dia wanita yang selalu mendukungku meski aku tidak melihat sosoknya lagi sejak enam tahun lalu. Dan juga tentang Ayahku yang sudah berjanji akan kembali jika aku berhasil menjadi lulusan terbaik tahun ini. Sekali lagi, terima kasih Ayah. Berkatmu, aku berhasil mendapatkan dorongan kuat untuk berjalan maju ke depan. Aku juga berterima kasih pada Bibi Ina. Karena sudah banyak menolongku dan membuatku merasa memiliki sosok Ibu di dekatku. Satu lagi untuk teman-temanku yang tak bisa ku sebut satu persatu karena batasan waktu. Aku memiliki banyak dorongan semenjak aku memiliki kalian. Berkat kalian, aku tidak lagi merasa kesepian. Terutama untuk Aratha. Aku harap kamu di sini dan melihatku meski aku tidak bisa melihatmu."


".... Lembar dua. Aku tak pernah menyangka bisa berdiri di sini. Aku tak pernah menyangka bisa hidup sampai selama ini. Bagi pasien penyakit jantung bawaan sepertiku, waktu adalah hal yang paling berharga dan bernafas adalah sesuatu yang sangat diperjuangkan. Meski begitu, aku harus memakluminya. Ibu meninggal karena penyakit yang sama denganku diusianya yang menginjak 33 tahun. Melihat perjuangan Ibu yang melawan penyakitnya selama itu, membuatku tak akan menyerah dan berharap bisa hidup melebihi usia yang dimiliki Ibu. Aku ingin memiliki lebih banyak waktu bersama dengan orang-orang yang ada di dekatku maupun orang yang baru saja dekat denganku. Fahruz, Kinan, Dea, Faiz dan Aretha. Tetapi, sebentar lagi kita akan dewasa dan memiliki urusan masing-masing."


Aretha terlihat tak sanggup lagi membaca halaman berikutnya. Dia terlihat sangat sedih begitu dia mendengar kebenaran dari seorang Sonya yang selama ini begitu kesepian namun, berusaha untuk tetap menghibur diri.


".... Lembar tiga. Aku mungkin sudah banyak bicara dan bercerita. Waktu untuk berbicara juga semakin sempit. Aku tidak pandai mengakhiri sebuah pidato. Masih banyak cerita yang ingin aku katakan. Kisah tentang seorang Sonya mungkin akan masih berlanjut selama aku tidak meninggalkan tubuh ini. Sama seperti yang pernah dikatakan Aratha. Aku ingin menjadikan diriku sebagai kenangan yang paling berarti bagi semua orang. Atau mungkin seseorang yang menjengkelkan dan hanya bisa melukai perasaan orang lain. Terima kasih pada semua orang yang sudah mendengar ceritaku. Sebagai akhir dari perpisahan kita, aku ingin memainkan piano yang pernah Aratha ajarkan padaku. Untuk kalian semua."


Pidato itu sudah selesai. Aretha tak bisa memainkan piano untuk semua orang yang berduka di sini. Dia menurunkan lembaran kertasnya, dan mendengarkan suara tepukan tangan dari orang-orang yang telah mendengarnya.


Pandangan Aretha tertuju pada semua orang. Tanpa sadar, perhatiannya terpaku pada pintu keluar ruangan. Awalnya dia tidak melihat seorangpun berdiri di sana. Bak bidadari yang jatuh dari langit, tiba-tiba Aretha disuguhkan dengan pemandangan seorang Sonya yang sedang berdiri di ambang pintu.


Saat itu Sonya sedang tersenyum, menatapnya dengan penuh kesenangan hati. Setelah itu, seseorang yang ada di belakang Sonya datang dan langsung menariknya pergi.


Tak ingin kehilangannya untuk yang kedua kalinya, dengan cepat Aretha langsung berlari menuruni tangga panggung dan berlari lagi menuju pintu keluar seperti orang yang sedang panik.


"Sonya, kumohon jangan pergi lagi!"

__ADS_1


Setelah beberapa saat terus berlari, akhirnya Aretha sampai di luar gedung. Langit cerah menyambutnya dengan penuh kehangatan. Sorot mata Aretha memburu, menatap pemandangan sekitar. Namun, dia tidak berhasil menemukan jejak Sonya di sana. Lalu, dia pun berdiri menghadap belakang dan melihat sebuah karangan bunga yang terpampang jelas foto wajah Sonya di tengah-tengahnya. Dan di atasnya terdapat sebuah tulisan, beristirahatlah dengan tenang. Kami akan selalu mengenang mu.


"Begitu, ya? Kamu datang untuk memberi laporan kalau kamu sudah berada bersama Aratha sekarang. Meski singkat, aku tetap senang berada di sampingmu. Terima kasih kamu telah datang kemari."


__ADS_2