Jingga Untuk Aratha

Jingga Untuk Aratha
Bab. 13 - Memilih


__ADS_3

Sepanjang hari, Dea terus saja mengawasi Fahruz di setiap langkahnya bahkan saat Fahruz pergi ke toilet. Rupanya, Dea masih teringat dengan kejadian kemarin saat Fahruz dengan senang hati mau mengantarkannya pulang. Kali ini, dia akan terus mengawasinya sepanjang hari untuk menebak apakah Fahruz itu seorang playboy atau hanya mulutnya saja yang baik.


Saat ini mereka berdua telah berada di perpustakaan. Dea mengawasi Fahruz dari balik rak buku yang cukup besar. Fahruz yang sedang mengambil buku dari rak paling atas tidak tahu kalau di sebelahnya adalah Kinan yang juga sedang mengambil buku. Kinan mencoba meraih buku di rak paling atas namun, tangannya tidak sanggup mencapainya. Terjadi sedikit senggolan antara buku dengan siku tangan Kinan yang menyebabkan beberapa buku mulai berjatuhan dari atas kepalanya.


Beruntungnya, saat itu Fahruz berada di sebelahnya. Fahruz langsung menarik Kinan ke sisinya sehingga buku itu terjatuh ke lantai.


”Kinan, kamu nggak apa-apa?”


Kinan langsung menatap Fahruz dengan ekspresi terkejut. Dia menjawabnya dengan anggukan kepala lalu bergerak menjauh dari Fahruz beberapa langkah.


”Makasih.”


Kinan mengambil satu persatu buku yang berjatuhan di lantai lalu menatanya kembali ke dalam rak. Sementara itu, Dea yang melihatnya tampak terkejut dengan tindakan refleks yang dilakukan Fahruz tadi. Tak di sangka, Fahruz ternyata orang yang cukup baik. Pantas saja Sonya sangat betah berada di sebelahnya.


”Masih kurang! Aku harus melihatnya bersama dengan Sonya baru aku percaya.” batin Dea yang terus mengawasi mereka berdua termasuk mendengarkan pembicaraannya.


”Tumben hari ini kamu nggak sama Sonya. Biasanya kamu selalu beriringan dengannya.” Kinan menarik kursi lalu duduk di sana.


”Sonya nggak suka di perpustakaan karena terlalu sepi. Lagian, sejak pagi aku sudah melihatnya bersama dengan Alrez. Rika bilang kalau Alrez habis dihajar preman. Jadi, Sonya datang untuk mengobati lukanya.” Fahruz juga ikut menarik kursi di sebelah Kinan.


”Bukannya kamu paling nggak suka kalau Sonya dekat-dekat dengan Alrez? Kamu bilang Alrez pernah menamparnya sekali.”


”Kayaknya, Alrez sudah berubah. Saat pentas seni berakhir, mereka berdua pulang bareng dan aku mengikutinya diam-diam. Dari belakang, mereka berdua kayak masih pacaran seperti dulu.”


”Kamu nggak takut Sonya diambil Alrez lagi? Biasanya, semua cowok akan mempertahankan cewek yang disukainya kayak Alrez.”


Fahruz menjawab sesaat kemudian, ”Mencintai seseorang itu hak milik Sonya. Siapapun yang dia sukai, aku akan menghargainya. Karena, jika aku memaksanya untuk menyukaiku, hatinya pasti akan patah dan jika diperbaiki, bentuknya nggak akan seperti semula.”


”Oh, kadang-kadang kamu bisa bijak juga saat berbicara. Kalau kamu punya perasaan, baiknya katakan sekarang sebelum menyesal. Semua orang bilang, kesempatan tidak akan muncul dua kali. Meskipun iya, kesempatan itu nggak akan sempurna seperti kesempatan yang pertama.”

__ADS_1


”Kali ini nggak akan. Aku nggak mau membuat Sonya kepikiran lagi. Dia sudah melewati masa hidupnya dengan penuh kesulitan apalagi harus kehilangan Ibunya saat usianya 12 tahun. Masalah cinta, itu urusan belakangan. Karena, yang terpenting ketenangan jiwa masing-masing orang.”


Dea yang bersembunyi merasa terkejut mendengarkan kata-kata ini. Jawaban yang selama ini ditunggu-tunggu mengenai Alrez yang tidak pernah menyukainya meskipun dia adalah temannya saat SMP. Itu semua karena Dea tidak bisa memaksanya. Kesempatan untuk menyatakan perasaannya gagal saat Sonya muncul di kehidupan Alrez.


”Bagaimana kalau hari ini aku mengatakan yang sesungguhnya? Tapi, kalau aku melakukannya, Alrez pasti langsung menjawab tidak. Lagian, yang disukainya saat ini cuma Sonya. Dia memang cantik dan baik hati. Berbeda denganku yang terkadang menjadi gadis tomboi dan selalu berhasil bergaul dengan laki-laki.”


Mungkin itu yang membuat Alrez merasa tak nyaman.


...~o0o~...


Sonya yang baru saja keluar dari UKS langsung berlari secepat kilat meninggalkan ruangan itu. Wajahnya memerah seperti kepanasan. Degub jantungnya tidak bisa dikontrol dengan baik. Semuanya terasa luar biasa dan jauh dari dugaannya.


”Ahh! Kenapa semuanya jadi begini?! Aku nggak ada niat buat baikan sama Alrez sekarang!” teriak Sonya dalam benaknya sembari terus berlari, melewati kerumunan orang yang hampir memenuhi koridor.


Sonya berlari sambil memejamkan matanya. Secara tidak sengaja, dia menabrak sebuah tembok besar yang seharusnya tidak ada di sana. Tabrakannya begitu kuat sampai-sampai membuat langkah Sonya bergerak mundur.


”Aratha?”


Aratha terlihat suram. Dia tidak tersenyum sedikitpun. Meskipun memang seperti ini penampilan wajahnya ketika bertemu seseorang. Namun, wajahnya yang suram sangat berbeda dengan wajah dinginnya di hari-hari yang lain. Lebih pucat dari biasanya. Hm, pasti ada yang salah.


”Maaf Aratha, aku nggak lihat kamu padahal kamu sebesar ini. Lain kali, aku akan lihat-lihat jalan.”


”Kamu ikut aku!”


Belum selesai dia meminta maaf, Aratha langsung menarik tangan Sonya menuju suatu tempat. Mereka berdua berjalan cepat melewati koridor lalu menuruni satu persatu anak tangga. Semua orang melihat termasuk Alrez yang baru saja keluar dari UKS. Dan tepat di depan ruang lab fisika, mereka berdua langsung memasukinya selagi tidak ada yang melihat.


Sonya terlihat panik karena tidak ada satupun orang di lab ini selain dia dan Aratha. Apalagi, suasana hati Aratha sedang buruk seperti baru saja mendapatkan luka yang tidak ada obatnya. Sosoknya jauh berbeda dari Aratha yang biasanya.


”Hmm, Aratha! Kenapa kita di sini? Kamu mau bilang sesuatu yang sangat rahasia?”

__ADS_1


Aratha menghela nafasnya. Dengan satu gerakan cepat, Aratha langsung memojokkan Sonya dengan menabrakkannya di dinding sedangkan satu tangannya yang lain bersandar tepat di sebelah telinga Sonya.


Canggung, bingung dan heran. Itulah yang terlukis dalam pikiran Sonya saat ini. Dia pikir Aratha sudah tidak waras. Benar-benar seperti orang gila. Sosoknya yang dingin, seketika berubah menjadi tipe cowok cemburuan.


”K-kamu ngapain, Aratha?”


Untuk sesaat Aratha terus terdiam, menunduk, tak menunjukkan wajahnya di depan Sonya. Aratha terlihat kelelahan dan sangat berkeringat padahal, sejak pagi hujan terus mengguyur wilayah Tangerang. Kebanyakan orang memakai jaket karena kedinginan. Namun, hanya Aratha yang berkeringat di musim hujan ini.


”Aku merasa dipermainkan.”


Setelah diam selama sepuluh detik, akhirnya Aratha membuka mulut. Kalimat pertama yang diucapkannya, benar-benar membuat Sonya kebingungan seperti sedang mengikuti tes masuk perguruan tinggi.


”Kamu ngomong apa, Aratha? Aku nggak ngerti.”


”Sonya, aku yakin kamu masih punya perasaan sama Alrez. Aku yakin dari gerakan matamu dan caramu menatapnya tadi.”


Sonya sedikit terkejut. "Kamu dengar apa yang aku katakan sama Alrez di UKS tadi?”


Aratha mengangguk. ”Aku dengar, kamu pernah ditampar satu kali olehnya sampai kamu menaruh rasa takut padanya. Tapi, mengapa baru sekarang kamu berubah? Apa tujuan kamu dekat denganku sehingga kamu membuatku salah paham? Aku merasa malu pada diriku sendiri. Aku ini bukan orang yang pandai mengikat seseorang. Tapi, kamu mengikat diri kamu sendiri dalam kehidupanku.”


”Aratha, dengar aku sebentar. Sebelumnya kamu orang yang nggak pernah bisa aku raih.”


”Lalu kenapa kamu nggak menyerah dan malah mengikatku sekarang?! Kamu, anggap aku ini apa? Apakah hanya sebuah mainan yang bisa kamu buang setiap saat?”


”Kamu cuma teman dekat sama seperti Fahruz. Saat ini, aku hanya berharap bisa berbagi senang, susah dan sedih bersama. Ini semua bukan tentang perasaan yang dalam. Aku nggak pengin memutus ikatan apapun. Aku nggak lagi membawa cinta dalam hidupku.”


Aratha terdiam untuk mengambil nafas. Setelahnya, dia menurunkan tangannya dan mengalihkan perhatian dengan ekspresi tidak habis pikir.


”Katakan sesuatu padaku, antara aku dan Alrez siapa yang akan kamu pilih?”

__ADS_1


__ADS_2