
malam ini pak Herry berniat mengakhiri hidupnya dia tidak sanggup membayangkan hujatan serta hinaan dari orang lain jika dirinya bebas ditambah lagi dia akan menjalin hubungan dengan keluarga Ferguson dia tidak ingin mereka terkena masalah gara gara dia
" Risa..yulia...Alex saya minta maaf sama kalian saya tidak ingin menyusahkan kalian..saya akan pergi dari kehidupan kalian.. saya ingin kalian berbahagia.." lirih pak Herry dalam keputusasaan
dia mencoba mengambil sebuah pisau Tampa pikir panjang dia langsung memotong pergelangan tangannya berkali kali kemudian tersungkur di lantai.
kebetulan ada seorang petugas yang berjaga malam itu dia berkeliling lalu Tampa sadar dia melihat seseorang tergeletak bersimbah darah di dalam sel tahanan dengan panik dia segera membuka pintu
" astaghfirullah..." kaget petugas begitu membalikkan tubuh pak Herry yang bersimbah darah dengan segera pak Herry dibawa kerumah sakit namun Tuhan berkata lain pak Herry sudah meninggal setelah sampai dirumah sakit karena kehabisan darah dan juga disebabkan oleh penyakit yang di deritanya
pak polisi menghubungi Risa untuk memberitahu kematian pak Herry
" hallo..ini dengan mbak Risa Santoso "?? tanya pak polisi
" iya pak ini saya...ada apa ya apa papa saya butuh sesuatu"!?? tanya Risa dengan tenang dia bahagia karena polisi menghubungi nya yang berarti papanya sedang menginginkan sesuatu menurutnya..
" saya ingin menyampaikan kalau..pak Herry..sudah meninggal dunia.?? tutur pak polisi yang berat hati menyampaikan berita duka
" a..a..apa....itu tidak mungkin pak.. papa saya baik baik saja kemarin bagaimana mungkin dia meninggal.." kaget Risa yang tidak percaya dengan hal itu
" bapak jangan bercanda dengan saya..hheh!! ujar Risa dengan sumringah
" saya tidak bercanda mbak..kalau mbak tidak percaya silahkan datang kerumah sakit tahanan..!! serius pak polisi dan Risa terduduk dilantai sambil menangis histeris
" itu tidak mungkin ...papa... bagaimana mungkin..hiks.. hiks" tangis Risa pecah dikamar mandi
" aku yakin ini tidak benar...aku...aku harus kesana.."!! gumam Risa kemudian keluar dari toilet dan berniat pergi kerumah sakit tahanan tapi baru beberapa langkah terdengar suara teriakan bik atum yang sepertinya berasal dari kamar buk Yulia dirawat
" dokter...dokter..tolong dokter "teriakan bik atum dari dalam kamar pasien dan terlihat dokter dan dua perawat masuk secara panik dengan segera Risa berlari masuk kedalam dia melihat mamanya ditangani oleh dokter
" bik..mama kenapa lagi ?? tanya Risa pada bik atum yang lagi gemetar karena takut terjadi sesuatu pada buk Yulia
" non..ibuk.."bik atum tidak tau harus berkata apa..
" sebaiknya mbak dan ibuk silahkan tunggu diluar" ucap perawat yang menyuruh mereka untuk menunggu diluar
" tapi sus...mama saya " kata Risa menolak diusir
" mbak..tenang ya kami akan berusaha menolong ibu mbak..tolong dibantu dengan doa permisi" ucap suster kepada Risa lalu pintu ditutup
__ADS_1
" hiks... hiks..bagaimana ini yaallah cobaan apalagi yang kau berikan kepada hamba..papa jangan tinggalin Risa hiks..tunggu Risa sama mama hiks.." Risa tidak berhenti menangis pikiran nya buntu papanya dikabarkan meninggal sedangkan mamanya lagi drop didalam hati siapa yang tidak akan hancur kalau dihadapkan dengan situasi sulit dan penuh kecemasan seperti ini
dokter keluar dari ruangan dengan ekspresi sedih
" dokter...bagaimana keadaan mama dok " ???tanya Risa dengan suara panik dokter Vera menatap wajah Risa dengan penuh perasaan bersalah
" buk Yulia ....maaf beliau sudah pergi menghadap Allah.."!! jawab dokter Vera
" maksud dokter...mama...saya " ucap Risa terbata bata
" iya...buk Yulia sudah meninggal " kata dokter dengan mantap seketika Risa jatuh pingsan dia tidak sanggup mendengar berita ini
" non...non bangun hiks..hiks..non " tangis bik atum melihat ketidak berdayaan Risa
setelah mendapat perawatan intensif Risa mulai sadar dia bangun dari tempat tidur pasien dan mencari mamanya
bik atum yang melihat itu langsung menghentikan nya
'" non..non masih lemah sebaiknya non istirahat dulu " cegah bik atum
" bik...aku nggak bisa diam aja disini mama...papa aku ingin ketemu mereka bik" tegas Risa yang ingin bertemu kedua orang tuanya yang telah dinyatakan meninggal
" nggak bibik bohong... papa sama Mama masih hidup mereka cuma tidur sebentar .....aku bahkan belum ketemu mereka...hiks..." ujar Risa tidak percaya
" pokoknya mereka nggak boleh ninggalin aku...aku harus ketemu sama mereka" ucap Risa tegas sambil mengusap air matanya dan pergi begitu saja Tampa menghiraukan bik atum yang mengejarnya
sementara jenazah pak Herry dan buk Yulia sudah sampai di rumah duka kediaman keluarga Santoso.
pak Doni yang bertugas sebagai penyelenggara kedua jenazah dan dibantu oleh warga setempat..Risa sampai disana dalam keadaan kacau mata lembab, penampilan berantakan dan kusam.
dia tertegun serta tertekan melihat pemandangan yang tidak ingin dia lihat dua sosok yang sangat dia cintai dan sayangi terbujur kaku tak bernyawa dihadapan nya yang telah dibalut dengan kain putih
Risa merosot ke lantai sambil merangkak dia mencoba mendekati dan merangkul kedua jenazah orang tuanya tangisannya bergema memenuhi seisi ruangan orang orang hanya bisa menyaksikan kepedihan itu Tampa ada satupun orang yang berani berkata
hari sudah siang dan pemakaman akan segera dilakukan
" hari sudah siang sebaiknya kita segera memakamkan kedua jenazah kita takut nanti kehujanan saat proses pemakaman karena cuaca tidak bisa ditebak bagaimana " ucap salah seorang warga memecahkan keheningan
" hmm..itu benar karena tidak baik jenazah terlalu lama dirumah duka
__ADS_1
sebaiknya kita berangkat sekarang " angguk pak ustadz
" nak Risa ...sudah waktunya kita memakamkan kedua jenazah orang tua mu tidak baik jika terkena air mata itu akan menjadi pukulan bagi mereka. " ucap pak ustadz pada Risa yang masih merangkul kedua orangtuanya dengan suara rendah
karena Risa tidak bergeming terpaksa pak ustadz menyuruh orang untuk memegangnya agar lepas dari jenazah lalu mereka berangkat menuju TPU
Risa histeris melihat orang tuanya dibawa menggunakan keranda
" lepas...lepaskan aku ...kalian tidak boleh membawa mereka ...papa...mama...jangan tinggalin Risa hiks... " berontak Risa ingin melepaskan diri dari pegangan warga bik atum tidak sanggup melihat penderitaan dan kesedihan Risa dia mengiringinya dari belakang
ditengah perjalanan Risa lepas dari genggaman warga dia berlari dan mencoba meraih keranda jenazah orang orang yang membawa keranda sempat oleng karena di raih oleh Risa.
mereka berhenti sejenak sambil berusaha melepaskan pelukan Risa dari kedua keranda Risa begitu kuat dia tidak ingin jauh dari kedua orangtuanya sekuat apapun orang melerai tidak akan bisa menarik nya dari keranda hingga akhirnya dokter Vera memberikan obat penenang .
" huh.. syukurlah dia kembali tenang yang lain silahkan lanjutkan perjalanan" nafas lega pak Doni dan menyuruh yang lainnya pergi
setelah acara pemakaman selesai semua orang meninggalkan tempat itu
" yang sabar...nak Risa ini semua sudah takdir dari Allah kamu harus bisa mengikhlaskan kepergian mereka dan ingat pesan Rasul bahwa ada tiga amalan yang tidak akan terputus sampai hari kiamat yaitu ilmu yang bermanfaat,sedekah jariyah dan doa anak yang Sholeha...kedua orang tua mu sangat membutuhkan doa darimu sebagai anak yang berbakti dan saya yakin kamu pasti tahu apa yang saya maksud " ucap pak ustadz memberi nasehat kepada Risa lalu pergi.
hanya Risa dan bik atum yang masih tinggal disana
Risa kembali meratap nasehat pak ustadz sama sekali tidak singgah dihatinya atau mungkin dia tidak mendengar sama sekali
" hiks...hiks.. papa..mama kenapa kalian tega meninggalkan Risa sendirian tidak ada lagi tempat untuk Risa mengadu... berlindung...bermanja..hiks..
papa...mama...hiks.." rintih Risa
" ma..pa..maafkan Risa kalau selama ini Risa selalu membuat kalian sedih dan menderita Risa belum bisa bikin kalian bahagia sedikitpun bisa nya cuma membuat kalian sedih karena melihat putrinya tidak bahagia ..
maafkan putri mu ini papa..mama " ratap Risa
" non ..bibik tahu kalau saat ini non hancur tapi sehancur apapun hati non sesakit apa perasaan non saat ini kenyataannya inilah takdir yang harus non terima.. siap tidak siap inilah kenyataan yang non terima non harus bisa merelakan dan mengikhlaskan kepergian bapak sama ibuk.." nasehat bik atum yang penuh makna mencoba menenangkan pikiran dan perasaan Risa
" non tidak lihat betapa bapak sama ibuk saling mencintai mereka hidup bersama,berduka bersama....terbujur bersama..terkubur bersama " sambung bik atum yang seperti tidak kuat juga menghadap kenyataan
Risa memandangi batu nisan keduanya dan seakan membenarkan ucapan bik atum kemudian dia mencium papan nisan kayu itu dengan penuh kasih sayang..
" selamat jalan mama..papa... semoga kalian bisa tenang disana Risa sayang kalian berdua..." rintih Risa dalam hati dan mencoba menguatkan hatinya.
__ADS_1