Jodoh Ku Berawal Dari Tebing Romantis

Jodoh Ku Berawal Dari Tebing Romantis
bagian-10


__ADS_3

...----------------...


...****************...


Kegiatan belajar telah selesai, bel pulang pun berbunyi. Semua murid berhambur keluar kelas.


Ting....


Notivikasi ponsel Ceila berbunyi, di lihatnya pesan dari leo


Leo V: Tugas selesai


Ceila A: Kita ketemu di cafe pulang sekolah


Leo V: Sip


"Kalian duluan aja, gue mau nemuin Alva dulu" ucap Ceila di saat mereka jalan ke parkiran


"Hm.... Mentang - mentang udah punya suami" sahut Satya


"Makanya punya istri, biar di samperin" celetuk Fanya


"Lo mau jadi istri gue" goda Satya


"Ogah, walaupun di jodohin juga, gue nggak mau" ucap Fanya


"Nggak boleh gitu Fan, ntar jodoh loh" goda Caca


"Dih amit - amit" balas Fanya, Semua orang tertawa


Sampai di parkiran mereka memisahkan diri, Caca, Fanya dan Satya langsung pulang, Leo dan Elang menuju cafe. Sedangkan Ceila bersender di motor gede milik suaminya, sambil menunggu sang pemilik motor.


"Bini lo, tuh" ucap Randy sambil menunjuk


Ceila


"Enak ya punya istri, pulang sekolah, di tungguin, di samperin" timpal Hitto


"Cari istri sana, kalo mau di gituin" sahut


Gio


"Gue kan masih sekolah, bro" ucap Hitto


"Alva juga masih sekolah" sahut Randy


"Beda cerita itu mah" balas Hitto


"Berisik lo pada" ucap Alva langsung meninggalkan sahabatnya dan menghampiri sang istri "Lo kenapa pakek jaket? Sakit?" tanyanya sambil meletakkan punggung tangannya di jidat Ceila


Ceila menepis tangan Alva "Nggak papa kok, pengen aja, oh ya, gue mau ke cafe, lo mau ikut? Atau pulang?"


"Ikut lo aja, gue juga laper" jawab Alva, Ceila mengangguk


...----------------...


Sampai di cafe Ceila dan Alva langsung menuju ruangan kerja, di ruangan Leo dan Elang sudah duduk manis di sofa. Ceila menyuruh Alva ikut duduk di sofa.


"Siapkan makan siang untuk 4 orang, antar ke ruangan saya" ucap Ceila pada telepon


la menghampiri suami dan 2 sahabatnya "Kalian duduk di sana dulu, gue mau ganti baju"


Mereka mengangguk langsung manuju tempat yang di tunjuk Ceila, Ceila memasuki salah satu ruangan khusus untuk mengganti pakaian bisa di bilang seperti kamar. Tak lama Ceila ke luar dari ruangan itu, bersamaan dengan pelayan yang membawa makanan mereka.


Selesai mereka makan mereka duduk kembali ke sofa


"Jadi gimana?" tanya Ceila serius


"Nih, gue udah dapet data - data - perusahaan yang di pegang oleh Wiranto Admaja, beserta kalau dia melakukan penipuan" jawab Leo menyerahkan map


Ceila langsung memeriksanya "Trus rencannya apa?"


"Gue sama Elang akan nyamar jadi orang ini, untuk menjebloskan dia ke penjara" Leo menunjukkan 2 foto pria paruh baya


"Mereka siapa?"


"Hendrik Gunawan dan asistennya Juan, dia salah satu investor yang di tipu sama Wiranto" jelas Elang


"Jadi maksud kalian, yang menjebloskan Wiranto orang ini, bukan gue" ucap Ceila di angguki Leo dan Elang "Kira-kira orang ini aman nggak? Ntar mereka kenapa - kenapa lagi"


"Lo tenang aja, mereka nggak akan kenapa - kenapa, karna Hendrik Gunawan ini berada di rumah sakit jiwa Amerika Serikat, yang di jaga sama asistennya" jawab Leo


"Kok bisa?"


"Hendrik ini frustasi karna di tipu, hartanya habis dan akhirnya dia stres trus jadi gila" terang Elang


"Gila juga nih orang" ucap Ceila


"Itulah dunia bisnis, membuat orang lupa akan segalanya" ucap Leo sendu


Elang mengusap - ngusap punggung Leo memberikan ketenangan. Ceila menghela nafas, ia tau perasaan Leo yang korban dari anak broken home, orang tuanya selalu mementingkan bisnis dan melupakan dirinya.


Ceila mengusap lutut Leo "Lo nggak sendiri Le, ada kita"


"Iya, Cei bener, kita ini keluarga, ada Mami, Papi, anak-anak, semua sayang sama lo" ucap Elang


"Makasih" ucap Leo


"Keluarga nggak ada kata makasih" ucap Ceila dan Elang bersamaan


Leo tersenyum dan mengangguk, ia merentangkan ke dua tangannya ingin memeluk Ceila, tapi ia mematung sejenak kemudian berbalik memeluk Elang yang ada di sebelahnya.


Ceila dan Elang mengerutkan keningnya lalu melirik Alva dan tertawa


"Makanya jangan main sosor aja" ucap


Elang


"Lupa gue" balas Leo


"Udah - udah lepas, geli gue lama - lama pelukan sama lo, emang gue cowok apaan" ucap Elang melepas pelukannya


"Lo pikir gue mau pelukan lama-lama sama lo, gue masih suka melon"


"Itu tadi buktinya apa? Lo nyosor gue


duluan"


"Nggak ada pilihan lain, njir"


Alva yang sedari tadi menyaksikan interaksi mereka hanya menggelengkan kepala


Ceila tertawa "Udah - udah balik ke topik"


"Sampe di mana tadi?" tanya Leo


"Sampe tanah abang" jawab Elang asal


"Gue serius, kampret" kesal Leo


"Kalo dia udah di penjara, kalian gimana?" tanya Ceila


"Setelah dia di penjara, semua barang bukti kita bakar, mereka nggak akan tau" jawab


Leo


"Oke, gue percaya sama kalian, tapi kalian harus hati-hati, ini bahaya"


"Lo tenang aja, kita udah ahli dalam hal ini"


ujar Elang.


......................


Ceila duduk di bangku yang ada di pinggir lapangan dengan sebotol minuman dan handuk kecil di tangannya, ia memperhatikan para siswa laki-laki yang sedang bermain basket di lapangan.

__ADS_1


Dengan wajah kesal ia menunggu sang suami latihan basket. Jika saja bukan suaminya yang menyuruh untuk menunggu, ia tidak akan melakukannya.


"Huff...." Ceila mengehela nafas lelahnya


Alva berlari kecil mendekati Ceila dan duduk di sebelahnya dengan nafas ngos - ngosan. Ceila membuka tutup botol yang ia pegang dan memberikannya pada Alva yang langsung meminumnya hingga kandas, ia juga menyodorkan handuk kecil pada Alva.


"Lapin" ucap Alva masih dengan nafas ngos - ngosan


ceila menghela nafas dan menuruti permintaan Alva, ia mengelap keringat yang ada di wajah Alva dengan cemberut.


"Nggak usah cemberut gitu, ntar gue cium"


ceila langsung melempar handuk itu ke muka Alva, ia bersedekap dan memalingkan wajahnya yang memerah. Alva terkekeh melihat tingkah istrinya, ia mengelap sisa keringatnya sendiri.


"Ayok, gue ganti baju dulu" ucap Alva berdiri, Ceila mengangguk dan ikut berdiri


Alva mengerutkan keningnya, tidak biasanya Ceila diam dan menurut seperti ini. Biasanya istrinya itu akan mengomel jika ia lama saat latihan basket.


Alva mengerutkan keningnya, tidak biasanya Ceila diam dan menurut seperti ini. Biasanya istrinya itu akan mengomel jika ia lama saat latihan basket.


Ceila menghentikan langkahnya saat berada di depan ruang ganti khusus basket.


"Ayok masuk" ajak Alva


"Nggak mau, di dalam banyak cowok, trus kalo mereka lagi buka baju gimana? Gue nggak mau mata gue ternodai" akhirnya Ceila buka suara


"Nggak ada siapa-siapa, mereka langsung pulang, ayok masuk" Alva melangkah masuk di ikuti oleh Ceila


Ceila duduk di dalam ruangan tersebut, lagi-lagi ia menunggu Alva yang sedang bersih-bersih. 10 menit Alva keluar dari toilet hanya mengenakan boxer dan bertelanjang


....


Ceila menelan slavinanya dengan susah payah saat melihat perut Alva yang kotak-kotak (yang di sebut dengan roti sobek). la memalingkan wajahnya, lagi dan lagi wajahnya memerah.


Alva tersenyum jail, ia mendekati Ceila "Cei..!!" panggilnya


"Hmmm.." jawab Ceila tanpa menoleh


"Kalo orang manggil itu, di liat"


Ceila berdecak lalu menoleh ke Alva


"Aap-a"


la tertegun karna saat ini roti sobek milik Alva tepat di hadapannya, matanya membulat sempurna, dengan susah payah ia menelan slavinanya, wajahnya semakin merona.


"ihh.... Sana sana" Ceila mendorong Alva sekuat tenaga dan melihat ke sembarang arah


Alva tertawa renyah "Liat perut suami nggak dosa kali"


"Bukan dosanya yang gue takutin, tapi takut khilaf" ucap Ceila pelan tapi masih terdengar oleh Alva


"Apa? Lo bilang apa?" tanya Alva pura - pura tidak dengar


"Nggak ada, cepetan pakek baju, gue mau pulang" ucap Ceila ketus


Alva terkekeh dan langsung memakai baju kaosnya, ia mengambil tas sekolah dan menyampirnya ke pundak.


"Ayok pulang"


Ceila beranjak dari duduknya langsung melangkah mendahului Alva, Alva masih terkekeh dan mengikuti istrinya.


 


"Kenapa berenti?" tanya Ceila karna tiba-tiba Alva menghentikan mobilnya di pinggir jalan


"Nggak tau, mobil lo yang tiba-tiba berenti" jawab Alva


"Bensinnya habis?"


"Nggak masih ada"


"Trus mogok?"


Alva mengangkat bahunya kemudian ia keluar dari mobil membuka kap depan mobil Ceila dan memeriksanya. Ceila ikut turun menghampiri Alva yang sedang memeriksa mobilnya.


Alva mengangguk "Businya kotor"


"Trus gimana dong?"


"Telpon rumah sakit, ya telpon bengkel lah"


"Biasa aja dong"


Ceila mengambil ponsel di dalam mobil dan menelpon seseorang.


"Hallo Yan, lo di mana?"


"Kesini dong, mobil gue mogok nih"


(-----)


"Oke, gue shareloc ya"


(------)


"Cepetan"


Telpon terputus


"Gimana?" tanya Alva


"Lagi jalan ke sini"


Alva mengangguk "Lo tunggu di sini bentar


ya"


"Lo mau ke mana?"


"Tunggu aja, nggak lama kok"


Tanpa mendengar jawaban Ceila, Alva langsung pergi. Tak lama ia kembali dengan kantong kresek di tangannya.


"Nih, lo belom makan kan?" Alva menyodorkan sebungkus roti pada Ceila


Ceila menerima roti tersebut "Makasih" ia membuka bungkusnya dan memakan rotinya


Alva mengangguk, ia juga memakan roti bagiannya.


ceila melirik ke Alva yang sedang mengunyah rotinya, ia tersenyum kecil 'Ternyata dia perhatian juga' batinnya


...----------------...


2 motor metic berhenti di hadapan mereka, dan 2 pria itu turun dari motor dan mendekat ke Ceila dan Alva


"Apa yang salah?" tanya Ceila


"Harus di bawa ke bengkel nih, businya kotor, jadi harus di ganti" jawab Baim


"Nggak bisa di sini aja?"


"Busi mobil lo ini khusus, jadi harus di pesen dulu" timpal Riyan


"Berapa lama?"


"Kira - kira satu minggu" jawab Baim


"Lama banget satu minggu"


"Ya resiko lo, punya mobil kayak gini" balas


Baim


"Dia mulai muncul?" tanya Riyan

__ADS_1


Ceila melirik Alva "lyah"


"Gede dong" sahut Baim yang langsung mendapat toyoran


"Ya nggak lah, gila apa" ujar Ceila


Riyan mendekati Alva dan menepuk pundaknya "Jangan jauh-jauh dari Cei, bahaya mengancam"


Alva mengerutkan keningnya "Maksudnya?"


"Yan!!" tegur Ceila


"Apa? Emang bener kan?" ujar Riyan


"Nggak usah di tutupin, dia laki lo" sahut Baim


Ceila menatap Alva yang juga menatapnya seolah meminta penjelasan


"Nggak sekarang" ucap Ceila mengalihkan pandangannya


"Kapan? Nunggu kejadiaanya keulang lagi" ucap Riyan "Dia udah mulai muncul, jangan sampe terlambat"


"Nih, kalian pulang pakek motor gue aja" Baim menyodorkan kunci motornya yang langsung di terima oleh Alva


Mereka mengambil tas yang ada di dalam mobil


"Kita pulang dulu" ucap Ceila memakai tasnya "Titip mobil" tambahnya di ancungi jempol.👍


...****************...


Saat Ceila dan Alva sampai di rumah, mereka melihat 2 wanita paruh baya yang masih cantik duduk manis di depan rumahnya.


"Mami sama Bunda kok ada di sini?" tanya Ceila sambil menyalami Mona dan Ana, Alva melakukan hal yang sama


"Kalian dari mana aja sih? Kita nungguin dari tadi, sampe sakit pinggang Mami" omel Mona pada putri dan menantunya "Mobil kamu ke mana? Kenapa naik motor? Itu motornya Baim kan? Kok bisa kamu pakek motor Baim? Ketemu di mana?" tanya Mona bertubi-tubi


"Aduh Mami, tadi ngomel - ngomel, trus nanya - nanya, Cei pusing nih" keluh Ceila "Sekarang kita masuk dulu, Ceila jelasin di dalam, Mami sama Bunda pasti capek kan nunggu di luar"


Ceila langsung membuka pintu rumahnya dan mempersilahkan sang Mami dan mertuanya masuk, serta menyuruh mereka untuk duduk di sofa ruang keluarga.


"Kamu sama Alva bersih-bersih dulu aja, kalian pasti capek hampir seharian di luar" ucap Ana


"Iya, apalagi kamu, bau matahari, iih bau" Mona menjepit hidung dengan jari telunjuk dan ibu jari


"Dih Mami, ngatain anaknya bau, ngeselin banget sih" kesal Ceila


"Emang kamu bau, cepet mandi sana" suruh


Mona


Ceila berdiri dan berjalan menuju kamarnya dengan sedikit menghentakkan kaki. Alva dan Ana menggelengkan kepalanya melihat tingkah ibu dan anak itu.


"Alva juga ke kamar, mau mandi" pamit Alva


"Jangan mandi berdua ya" ucap Mona


Alva mengerutkan kening "Kenapa Mi?"


"Nanti kamu bonyok" ucap Mona mengundang gelak tawa, Alva ikut tertawa kemudian pergi menuju kamar


Alva dan Ceila kembali ke ruang keluarga dengan pakaian rumahnya. Mereka duduk bersebelahan.


"Oh ya, Mami sama Bunda udah makan?" tanya Ceila


"Udah kok tadi, sebelum ke sini" jawab Ana


Ceila mengangguk "Mau minum apa?"


"Nggak usah, nanti kalo haus, biar ambil sendiri" jawab Mona di balas dengan anggukan


"Kalian udah makan?" tanya Ana


"Nanti aja makannya" jawab Ceila


"Mami sama Bunda ada apa ke sini? Ada hal penting atau sekedar berkunjung?" tanya Alva


"Kamu tau kan abang kamu mau tunangan?" tanya Ana di angguki Alva "Acaranya minggu depan, jadi Bunda mau kalian mulai malam ini sampai acara pertunangan nginep di rumah Bunda" tambahnya


"Alva sih oke - oke aja, nggak tau kalo Cei" ucap Alva menoleh pada Ceila


"Cei, kamu mau kan nginep di rumah Bunda?" tanya Ana penuh harap


"Aduh, gimana ya?" Ceila menggaruk pelipisnya


"Kamu nggak mau nurutin permintaan mertua kamu? Hmmm? Mau jadi menantu durhaka?" tanya Mona sambil memberi tatapan tajam


"Nggak gitu Mi, maksud cei itu!! kan temen sekolah cei juga ada yang jadi tetangganya Bunda, kalo cei tinggal di sana, ntar mereka mikir yang macem-macem lagi, Cei nggak mau mereka tau kalo Cei sama Alva udah nikah, Cei nggak mau di keluarin dari sekolah" jelas Ceila


"Kan bisa bilang sepupunya Alva" ucap Ana lembut


"Tuh selesai kan, udah nggak ada alasan lagi, pokoknya kamu harus mau" tegas Mona


"Iya - iya, Cei mau" pasrah Ceila 'Gini amat mak gue' gumamnya dalam hati


"Nah gitu dong, nurut sama mertua" ucap Mona senang


"Makasih ya sayang" ucap Ana


"Iya Bunda" balas Ceila


Alva dan Ceila sedang mengemasi pakaiannya untuk di bawa ke rumah Kusuma. Selesai mengemasi barang - barang mereka keluar dari kamar dan turun ke lantai satu sambil membawa tas masing -masing.


"Udah Mi" jawab Ceila


"Yaudah, kita langsung berangkat" ujar Ana


Semua mengangguk dan berjalan keluar rumah. Alva memasukkan tas miliknya dan milik sang istri ke dalam bagasi mobil.


"Kalian hati-hati ya, Alva kamu jangan ngebut bawa motornya, jagain menantu Bunda" ucap Ana


"Iya Bun, Alva jagain" balas Alva langsung merangkul Ceila


Ceila memberikan tatapan tajam dan melepaskan rangkulan sang suami, ia kembali menoleh pada Mona dan Ana yang terkekeh.


"Bunda sama Mami juga hati - hati" ucap Ceila Anatasyah


"Iya sayang" balas Mona


Setelah bersalaman Mona dan Ana masuk ke dalam mobil dan pergi. ceila dan Alva menyusul menggunakan motor gede milik Alva.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam" jawaban dari dalam rumah


Mereka saling bersalaman


"Akhirnya, anak sama menantu Ayah nginep di sini juga" ucap Arta tersenyum lebar dan di balas senyuman.


"Siapa dulu dong, Bunda" ucap Ana dengan bangga


"Aku juga ya" sindir Mona


"Iya kamu juga" balas Ana, semua tertawa


"Papi nggak ke sini Mi?" tanya Ceila


"Papi lagi ke luar kota, besok baru pulang" jawab Mona "Jadi ke sininya besok" Ceila mengangguk


"Kalian ke kamar aja istirahat" ucap Arta di balas dengan anggukan


Ceila memasuki kamar Alva yang di dominasi warna abu-abu dan putih, beraroma mint dan menthol, sangat khas dengan seorang Alva.


"Kamar lo bagus juga" komentar Ceila "Tapi suram" tambahnya yang sudah duduk di pinggir ranjang king zise milik suaminya itu


Alva tak menghiraukan komentar sang istri, ia memasukkan pakaiannya ke dalam lemari.

__ADS_1


...----------------...


...****************...


__ADS_2