
"Anterin gue ke rumah Mami" ucap Ceila ketus
Alva menoleh sekilas "Mau ngapain?"
"Kerumah orang tua harus ada alesannya apa?"
"Ya nggak sih"
Begitu mobil terparkir di halaman rumah Ceila langsung masuk tanpa mengucapkan salam "Mami!!!" teriaknya menghampiri wanita paruh baya yang sedang menonton televisi
"Eh anak Mami, tumben ke sini? Alva mana?" tanya Mona dengan membalas pelukan putri semata wayangnya itu
"Ish, Mami anaknya dateng bukannya di tanyain kabar, atau di tawarin makan, malah nanyain menantunya" sungut Ceila
Mona mengerutkan dahinya kemudian terkekeh "Kamu kenapa sih? berantem sama Alva?"
"Assalamualaikum, Mi" salam Alva mengulurkan tangan untuk mencium punggung tangan mertuanya itu
"Waalaikumsalam, gimana kabar kamu?"
"Nggak adil banget, tadi waktu Cei dateng nggak di tanyain kabar, giliran Alva yang dateng di tanyain" protes Ceila "Cei ke kamar aja, Cei kesel sama Mami" ia berdiri melirik tajam ke Alva kemudian berlalu pergi
"Kalian berantem ya?" tanya Mona pada Alva
Alva menggeleng "Nggak kok Mi, kita baik - baik aja, ini baru pulang dari mall belanja buat besok"
"Aneh banget, mungkin moodnya kurang bagus atau mungkin dia lagi PMS?" gumam Mona "Yaudah lah nanti juga baik sendiri, kamu udah makan?"
"Udah Mi, tadi di mall bareng Icel juga"
"Kamu bersih-bersih sana, istirahat, pasti capek kan"
"Iya Mi, Alva ke kamar dulu" pamit Alva di angguki Mona
******
Alva berdiri di depan pintu kamar istrinya, sebelum masuk ia menghela nafas terlebih dulu.
ceklek....
Di lihatnya sang istri sedang tengkurap di atas kasur berseprei merah sambil membaca novel. Ia mengedarkan pandangannya ke penjuru kamar, baru dua kali dirinya masuk ke kamar yang bernuansa biru laut, sangat sejuk di pandang mata.
Setelah metelakkan tasnya, ia mengambil baju kaos dan celana pendek kemudian berjalan menuju kamar mandi.
Alva merebahkan dirinya di samping Ceila yang masih fokus membaca novel, seperkian detik berikutnya
cup...!?
Sontak Ceila langsung menoleh kemudian memukul wajah Alva dengan novelnya
"Akh.... durhaka lo, mukul suami"
"Lagian lo, main cium - cium aja"
"Emang kenapa? cium istri sendiri nggak dosa"
"Tapi gue kaget, ege"
"Siapa suruh nyuekin gue"
__ADS_1
"Siapa yang nyuekin, orang biasa aja"
Alva mendekat dan memeluk Ceila dari samping "Gue tau lo masih kesel sama Gina"
"Apaan, ngapain juga kesel sama dia, lepas, gerah tau"
bukannya melepaskan Alva malah mengeratkan pelukannya "Diem atau gue cium di bibir"
ancaman itu membuat Ceila berhenti meronta "Sedekat apa sih lo sama dia?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya pada novel
"Dia siapa?"
"Cewek itu"
"Cewek yang mana?"
Ceila berdecak kesal "Au ah, pikir aja sendiri"
"Gina maksudnya?"
"Hmm"
"Diakan sepupunya Gio, gue sama yang lain sering main di rumah Gio, makanya kenal, terus deket deh" jelas Alva
"Mereka tinggal serumah gitu?"
"Orang tuanya Gina itu di luar negeri, jadi dia di titipin ke orang tuanya Gio, tapi sekarang dia udah tinggal sama orang tuanya, karna orang tuanya udah pindah ke indonesia"
"Tau banget"
"Kan gue sering main sama Gio"
"Trus nanya tentang cewek itu"
"Aww.... sakit, apaan sih?"
"Lo lucu kalo lagi cemburu, ngegemesin"
"Nggak usah ge-er lo, siapa juga yang cemburu, biasa aja tuh"
"Masa" goda Alva
"iya lah"
"trus kenapa nanyanya kayak gitu?"
"Pengen tau aja"
"Yakin!?"
"Yakin 1000%, udah ah, ganggu aja lo, orang lagi baca buku juga"
cup..!!
"Iya deh, nggak nganggu lagi"
"Mesum"
"Istri sendiri"
__ADS_1
Alva memejamkan matanya dengan masih memeluk tubuh istrinya itu.
Ceila dan Alva yang tampak sudah berada di dunia mimpi, bisa di lihat dari nafasnya yang teratur, ia menutup novelnya kemudian mengubah posisi untuk membalas pelukan Alva yang hangat dan nyaman.
Selesai makan malam Alva dan Ceila pamit pulang ke rumah mereka.
"Kenapa nggak nginep aja?" tanya Mona pada Ceila yang sedang memeluknya
"Besok itu berangkatnya sekitar jam 8 pagi, jadi malam ini mau packing baju" jawab Ceila
"Yaudah deh, hati-hati ya pulangnya, besok juga hati-hati berangkatnya"
"Iya Mi" Ceila melepas pelukannya
dengan sang Mami kemudian beralih ke tubuh kekar milik Papinya
"Padahal Papi masih kangen banget loh"
"Cei juga kangen sama Papi, Cei janji akan sering-sering main ke sini lagi"
"Iya sayang, inget kata Mami, hati-hati berangkatnya besok"
"Hmm, Papi sama Mami jangan capek - capek, Cei nggak mau kalian sakit"
"Kamu juga jaga kesehatan" ucap Mona
Ceila mengangguk kemudian mencium punggung tangan Braham dan Mona, di susul oleh Alva yang sedari tadi hanya menonton
"Alva titip Cei ya, jagain baik-baik, kalo nakal hukum aja, jangan kasih ampun" ucap Mona
"Ish... Mami gitu amat sama anaknya"
"Hahaha....!!!"
"Jaga kesehatan ya kalian" tambah Braham
"Iya Papi juga" balas Alva
"Kita pamit dulu"
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Braham dan Mona menatap mobil putri kesayangan mereka itu hilang di balik pagar. Mereka merasa ada yang kurang di rumah yang besar itu, semenjak sang putri menikah.
Braham merangkul pundak istrinya "Anak kita udah besar"
"Iya Pi, rumah ini jadi sepi" ucap Mona dengan sendu "Maafın Mami ya, nggak bisa ngasih keturunan lagi"
"Hey, usia kita udah nggak cocok punya anak, cocoknya punya cucu"
"Papi Cei masih sekolah" omel Mona
"Ya nggak sekarang, tapi nanti, ayok masuk kita ke kamar, Papi kangen sama Mami" goda Braham yang berhasil membiat pipi istrinya merona
"Ish... Papi udah mau jadi opa masih juga"
"Meskipun jadi opa, masih tetap perkasa"
__ADS_1
hhhhhh.. terserah papi aja deh,
...----------------...