
Ceila kembali menapakkan kakinya ke gedung tempat semua orang menggunakan seragam putih abu-abu, yang menandakan jika mereka seorang pelajar.
"Nggak usah lebay deh, gue nggak papa" protes Ceila saat Alva hendak memapahnya "Lagian malu tau di liatin orang"
Alva hanya merespon dengan deheman dan ikut belajar di samping Ceila
"Hai Ceii...!!" sapa Satya yang langsung merangkul Ceila tapi di lepas lagi saat mendapat sebuah tabokan dari Alva "Yaelah posesif amat"
"Tumben baru dateng" ucap Ceila
"Gue dateng dari tadi kok, biasa" jawab Satya, Ceila mengangguk
Tidak sampai 10 menit guru yang mengajar berada di dalam kelas, Ceila sudah meminta izin keluar dengan alasan tidak enak badan. Yang biasanya guru tersebut tidak percaya berbeda dengan kali ini, mengingat murid bar - barnya itu baru keluar dari rumah sakit, jadi ya di izinkan.
Ceila berniat pergi ke rooftop untuk bersantai namun kakinya terhenti saat akan melewati kelas 12 IPA 1, lebih tepatnya kelas Alva.
"Gimana nih? Kalo gue lewat pasti Alva liat, bisa di omeli habis-habisan gue, kalo nggak lewat, gue mau kemana? Masa ke UKS sih, baru aja keluar dari rumah sakit, udah hirup aroma obat-obatan lagi, aduh" gumam Ceila
Dan tak sengaja indra penglihatannya mengarah ke pintu kelas yang harus di lewatinya tertutup, hal tersebut membuat Ceila reflek menghela nafas lega. Tanpa beban ia kembali melangkah dengan tenang melewati kelas tersebut.
"Mau kemana?"
Suara ngebass itu menghentikan langkah Ceila yang ingin menaiki tangga, ia menelan saliva dengan susah payah 'Mati gue' batinnya
Ceila berbalik secara perlahan dan jantungnya semakin berdetak cepat melihat wajah Alva yang terlihat tidak bersahabat.
Alva berjalan mendekati Ceila yang reflek memundurkan diri hingga punggungnya menabrak dinding, dan ia terus saja mendekat mengikis jarak di antara mereka.
"Gu-gue mau ke UKS" jawab Ceila dengan terbata-bata
Alva menaikkan sebelah alisnya "Sejak kapan UKS pindah ke lantai 2?"
"Stop!!" Ceila menahan dada Alva yang semakin mendekat "Oke, gue kasih tau lo" ia menghela nafas terlebih dahulu "Lo tau kan otak gue ini nggak pernah mau berdamai sama yang namanya Geografi, gue udah coba buat ngajak otak gue untuk berdamai sama dia, gue udah ngelakuin semua yang lo bilang, gue juga udah coba seneng dan suka sama gurunya yang kayak lo bilang, tapi tetep aja nggak bisa" jelasnya panjang lebar tanpa jeda
"Nggak harus bolos kan?"
"Kalo itu gue minta maaf, tapi please jangan suruh gue masuk kelas ya, kali ini aja" Ceila menangkup kedua tangannya memohon sambil memasang wajah imutnya
Sekuat tenaga Alva menahan diri untuk tidak menerkam gadis yang amat sangat menggemaskan di hadapannya ini. la menghembuskan nafas kemudian menarik Ceila untuk ikut dengannya.
Ceila menahan tangannya yang di tarik Alva saat hendak masuk ke kelas suaminya itu "Mau ngapain?"
"Masuk!!"
"Nggak mau"
"Masuk atau nyiu-"
__ADS_1
"Masuk" potong Ceila
Dengan pasrah Ceila mengikuti Alva yang menariknya, semua mata yang ada di dalam kelas berpusat pada mereka yang tentunya tidak terlalu di perdulikan, toh sudah biasa.
"Hai Cei" sapa Randy
"Ngapain di sini?" tanya Hitto
Ceila menunjuk Alva dengan dagunya sebagai jawaban
"Lo bolos lagi ya?" tanya Gio
"Bisa di bilang gitu"
"Tapi kali ini hukumannya beda deh" goda
Hitto
"Apaan?" tanya Randy
Hitto mengusap kedua pipinya sambil tersenyum manis
"Yhaaa" sorak Randy dan Gio kemudian mereka tertawa
Alva ikut tertawa sementara Ceila memalingkan wajahnya lalu duduk di sebelah Alva setelah di suruh
"Lo liat jam di sana" Alvin menunjuk jam yang tersangkut di dinding dekat pintu dan Ceila ikut melihat jam itu "Udah jam 8 lewat, itu artinya guru nggak akan masuk"
"Terus lo ngapain bawa gue ke sini?"
"Dari pada lo ke rooftop, ketangkep sama guru jaga, mau masuk BK?"
"Yang sering nagkep gue itu lo"
"Makanya diem di sini"
Ceila mendengus "Gue butuh ketenangan, di sini berisik"
Braak....
Sontak semua penghuni kelas menoleh ke Alva yang baru saja mengebrak meja
"Jangan ada yang berisik, selesaikan tugasnya" ucap Alva dengan tegas
Ya karna mereka anak IPA, jadi menurut
saja
__ADS_1
"Ketos mah bebas" cibir Ceila
Belum sampai 5 menit kelas itu tenang, pintu yang di terbuka membuat semua menoleh ke 3 orang gadis dengan pakaian yang ketat, memperlihatkan lekuk tubuhnya, ketiga gadis itu masuk dan berjalan mendekati meja yang di duduki Alva dan Ceila.
"Alva, nih gue bawain lo sarapan, gue sendiri loh yang masak" ucap Naya dengan nada manjanya
"Oh ya" respon Alva
"Iya, khusus buat lo"
Alva mengambil kotak nasi itu dan memberikannya pada pemuda berkacamata di bangku sebelah "Buat lo"
Tentu dengan senang hati pemuda berkacamata itu memerima dan memakannya
"Kok di kasih ke dia sih?" protes Naya "Gue bawain itu buat lo"
"Gue udah sarapan, di masakin sama Ceila, PACAR GUE" ucap Alva dengan penekanan
Kalimat itu sontak membuat Ceila langsung menoleh ke Alva yang sudah berdiri
"Apa? .... Pacar?"
"lya pacar, kenapa?"
"Lo tega ya? Selama ini gue itu suka sama lo, dan sekarang dengan gampangnya lo bilang kalo kalian pacaran"
"Apanya yang salah? Sekarang lo pergi dari kelas gue, jangan ke sini lagi, dan jangan ganggu gue lagi" tegas Alva
Wajah Naya memerah menahan amarah, dengan tajam ia menatap Ceila yang duduk manis dan memasang wajah remeh kemudian melangkah pergi di ikuti kedua dayangnya.
Alva kembali duduk
"Heran gue, nggak ada bosen - bosennya dia ngejar lo" ucap Hitto
"Dia sering ke sini?" tanya Ceila
"Setiap hari, sampe sepet gue liatnya" jawab Randy
"Nggak usah cemburu" ucap Alva
"Dih, siapa yang cemburu? Orang cuma nanya, lagi pula oke-an juga gue" balas Ceila
iya deh..
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...****************...