
...----------------...
...****************...
Pasutri muda itu sedang berdiri di depan cermin dan menatap diri mereka masing- masing.
Ceila terlihat anggun dan elegan dengan dress selutut tanpa lengan berwarna blue navy, kerlap - kerlip mutiara di bagian rok, rambut di sanggul dengan menyisakan sedikit di pinggir telinga, hils silver tidak terlalu tinggi senada dengan tas kecilnya, di tambah aksesoris cincin nikah, kalung dan gelang.
Tak kalah dengan sang istri, Alva juga terlihat sangat tampan, kemeja dalam putih tanpa dasi, jas dan celana dasar yang sewarna dengan dress Ceila, rambut tertata rapi sedikit berjambul, bunga mawar merah tersemat di kantong sebelah kiri serta sepatu hitam yang sangat kinclong, tak lupa jam yang melingkar indah di pergelangannya.
Sekarang mereka sedang berada di kamar hotel tempat di laksanakannya pertunangan Alva.
Alva melirik Ceila yang tampak melamun sambil menatap dirinya sendiri di cermin, ia langsung memeluk Ceila dari belakang membuat si empu tersentak namun diam saja.
"Mikirin apa sih?"
Ceila menggeleng "Nggak ada"
"Nggak boleh bohong sama suami, dosa"
Ceila menghela nafas, belum sempat ia berucap ketukan di pintu mengalihkan perhatian keduanya.
"Ceii!! Alva!! Kalian udah siap belum?" terdengar teriakan sang Mami di balik pintu
Ceila melepaskan tangan Alva yang melingkar di perutnya lalu berjalan ke arah pintu bersama sang suami.
Ceklek....
"Kita udah siap Mi" ucap Ceila
"Wah... Kalian serasi banget, ganteng sama cantik" puji Mona
"Mami juga cantik banget malem ini" puji Alva pada wanita yang mengenakan setelan kebaya modern
"Bener keliatan awet muda" timpal Ceila "Kalo kita jalan berdua, pasti di kira kakak adek"
"Ah kalian bisa aja mujinya, pipi Mami tambah merah nih, ntar di kira Mami kebanyakan pakek blus-on lagi" ucap Mona sambil memegang kedua pipinya, Ceila dan Alva tertawa pelan "Eh ayo kita turun, tamunya udah pada dateng"
Saat memasuki ballroom, Ceila mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan "Mami sama Alva duluan aja, Icel mau ambil minum dulu"
"Oh oke, jangan lama-lama ya sayang"
"Iya Mi"
Ceila menatap punggung Mona dan Alva yang menjauh, lalu tiba-tiba seorang pelayan membawa nampan yang berisi minuman menghampirinya.
"Gimana?" tanya Ceila sambil mengambil segelas minuman
"Sejauh ini aman, tidak ada yang
mencurigakan" jawab pelayan tersebut
"Pantau terus jangan sampai lengan"
__ADS_1
Pelayan itu mengangguk kemudian pergi
Ceila melangkahkan kakinya mendekati pelayan yang bertugas pengantar kue "Berapa?"
"5 satpam, 2 pintu utama, 2 pintu masuk, 6 pelayan, 4 tamu undangan, dan 5 di setiap sudut luar gedung"
Tanpa berkata Ceila langsung pergi dari hadapan pelayab itu dan menghampiri meja di mana keluarganya duduk dan mengobrol.
Suasana di pesta semakin ramai dengan tamu yang semakin banyak berdatangan. Mata ceila terus saja berkeliaran ke sana ke mari, sesekali ia ikut dalam obrolan keluarga itu agar tidak ada yang curiga.
Hingga inti dari acaranya tiba, Fajar Admaja Ayah dari Fina Admaja yang merupakan kekasih sekaligus calon tunangan Etgar, beserta Arta Kusuma naik ke atas panggung untuk menyampaikan maksud dari pesta malam ini.
Etgar menggandeng tangan kekasih untuk naik ke atas panggung saat nama mereka di panggil. Langkah keduanya di iringi tepukan tangan dari para tamu undangan yang mulai berdiri.
Bersamaan dengan Etgar yang menyematkan cincin di jari manis Fani, ponsel Ceila berbunyi, dengan cepat ia meraih benda itu yang ada di atas meja. Matanya membulat saat membaca satu pesan masuk.
'Terima hadiah dari gue'
Secara perlahan kakinya melangkah mundur agar tidak ada yang mengetahuinya. Ceila mengedarkan pandangannya meliahat para anak buah yang sudah berpencar.
Dengan tenang Ceila mengamati seluruh penjuru ruangan, mata bulatnya menangkap sosok pria yang memakai pakaian serba hitam, topi dan kaca mata hingga wajahnya tidak terlihat.
Pria itu berdiri di sudut ruangan sebelah kanan dekat dengan panggung sambil memegang satu buah pistol yang di arahkan ke Etgar.
Ceila ingin menghampiri itu namun ia lebih memilih naik ke atas panggung karna jaraknya lebih dekat.
Semua orang terdiam saat melihat Ceila mendorong tubuh Etgar hingga....
Duaarrr....
Mendengar suara tembakan semua tamu undangan menjerit histeris dan berusaha lari dari ruangan tersebut untuk menyelamatkannya diri.
Ceila memegang perutnya yang terasa nyeri sambil terus menatap pria misterius dengan senyuman miring di wajahnya, hingga semuanya gelap.
Alva duduk sendiri di kursi yang ada di depan ruang UGD dengan tatapan kosong, yang lainnya ada di ruangan Mona yang juga di bawa ke rumah sakit karna pingsan melihat sang putri tertembak.
Mengingat kejadian beberapa menit lalu, ia menyadari katakutan yang di rasakan oleh sang istri dan ucapannya beberapa hari yang lalu, tentang seberapa bahaya musuhnya itu.
Alva tersadar saat merasakan usapan di punggungnya, ia melirik sang abang yang entah sejak kapan sudah duduk di sebelahnya.
"Icel gadis hebat" ujar Etgar
"Gimana keadaan Mami?" tanya Alva
"Masih belom sadar, kata dokter dia masih syok" jelas Etgar
"Bunda?"
"Ada di sana"
Tak ada lagi obrolan di antara mereka sampai lampu di ruang UGD mati dan keluarnya dokter membuat Alva dan Etgar berdiri menghampirinya
"Gimana keadaan istri saya Dok?" tanya Alva dengan raut khawatir
__ADS_1
"Pasien sudah melewati masa kritisnya, peluru yang mengenai tubuh pasien tidak terlalu dalam, sehingga mudah untuk di keluarkan dan tidak merusak organ dalam pasien" jelas Dokter
"Alhamdulillah" ucap Alva dan Etgar bersamaan
"Pasien sudah bisa di pindahkan ke kamar inap, setelah biusnya habis pasien akan segera sadar"
"Terima kasih Dok, terima kasih banyak" ucap Alva
"Sama-sama itu sudah menjadi tugas kami, saya permisi"
Selepas kepergian Dokter, Alva menyandarkan tubuhnya ke tembok sambil bernafas lega.
"Lihat, dia gadis hebat kan"
Alva membalas ucapan sang abang dengan anggukan plus senyuman lega.
Di ruangan lain
Mona yang baru sadar langsung duduk dan menangis "Cei Pi, Cei" air mata terus mengalir di pipinya
Braham memeluk istrinya sambil mengelus punggungnya, memberikan ketenangan "Mami tenang ya, Cei pasti sembuh, putri kita itu kuat"
Ana yang ikut menangis di pelukan Arta ikut menimpali "Bener, Cei itu gadis yang kuat"
Ceklek....
"Alva, gimana keadaan Cei?" tanya Mona masih dengan tangisnya
Alva tersenyum "Keadaannya udah baik, pelurunya udah di keluarin, sebentar lagi di pindahkan ke kamar inap, nunggu obat biusnya hilang, dia akan sadar" jelasnya membuat semua bernafas lega
"Mami mau liat Cei Pi"
"Mami tenang dulu"
"Mami!!" panggil Alva, Mona menoleh "Bukan maksud Alva mau ngusir, sebaiknya Mami, Papi, Ayah, Bunda dan bang Etgar pulang aja, istirahat di rumah, biar Alva yang jagain Cei di sini"
"Tapi..."
"Mon, bener kata Alva, kita pulang aja, istirahat, besok kita ke sini lagi" potong Ana
"Ana bener Mi, Mami harus istirahat biar nggak sakit, kalo Mami sakit kasihan Ceinya" tambah Braham
Dan akhirnya Mona mengangguk, ia turun dari ranjang di bantu oleh sang suami dan menghampiri Alva "Alva, Mami titip Cei ya, jaga baik-baik"
"Iya Mi, pasti Alva jagain"
"Kamu juga jaga diri baik - baik, istirahat juga, jangan sampai kamu yang sakit" ucap Arta
"Iya Yah"
"Kita pamit dulu ya, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam, hati-hati di jalan"
__ADS_1
......................
...----------------...