
Ceila menundukkan kepalanya tak berani menatap pemuda di hadapannya yang sedang menatapnya dengan tangan menyilang di dada.
"Kemana aja?" suara bariton itu manusuk telinga Ceila yang terdengar sangat menyeramkan "Gue tanya sekali lagi, kalian ke mana?"
"Nggak kemana-mana, cuma keliling hotel" Ceila sedikit mendongak kemudian menunduk lagi
"Bener?"
Ceila mengangguk kemudian sedikit mendekatkan diri dengan suaminya itu dan memberanikan diri untuk menatap pemuda itu "Udah dong jangan marah, lo serem kalo marah, gue takut"
"Gue nggak ngelarang ke mana pun lo pergi, asal lo kasih tau gue"
"Iya"
"Sekali lagi lo kayak gini gue hukum"
"Apa hukumannya?"
"Rahasia, yang jelas lo harus di hukum"
Ceila menggela nafas "Yaudah iya, tapi janji jangan marah lagi ya, janji nggak ngulangin lagi" ia menganggakat jari telunjuk dan jari tengahnya
"Oke, gue pegang janji lo" Alva mengelus lembut pucuk kepala istrinya itu "Istirahat sana"
"Lo juga"
3 hari sudah SMA Jaya melaksanakan kegiatannya dan semua berjalan lancar. Hari ini semua siswa-siswi berkemas untuk pulang, begitupun dengan Ceila yang sedang sibuk memasukkan pakaiannya ke dalam koper.
Selesai mengemasi pakaiannya Alva keluar dari kamar dengan tas di punggungnya, ia menghampiri Ceila yang kebetulan juga keluar dari kamarnya "Udah?"
Ceila menoleh "Udah siap"
"Yakin nggak ada yang tinggal?" pertanyaan Alva di jawab dengan anggukan "Oke ayok" ia menggenggam tangan sang istri kemudian berjalan menuju Bus
"Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatu" ucap sang Bapak pembimbing mereka
"Waalaikumsalam Warohmatullahi Wabarokatu"
"Saya selaku pembimbing kalian mengucapkan banyak terima kasih, sudah membantu untuk melancarkan acara kita"
"Saya juga selaku Ketua Osis mengucapkan terima kasih atas kerja samanya" timpal Alva "Terutama untuk tim pendamping" tambahnya dengan menatap Ceila sambil tersenyum yang di tatap memalingkan wajahnya
__ADS_1
"Baiklah, ayok kita semua naik Bus, sebelum naik Bapak absen terlebih daluhu"
Satu persatu siswa-siswi memasuki Bus, begitu masuk Bus Sesil langsung menyerobot duduk di sebelah Alva saat Ceila hendak duduk.
Ceila menghela nafas dan mencari kursi lain, ia sangat malas berurusan dengan wanita yang ia beri julukan nenek sihir itu.
"Duduk bareng?"
Ceila menoleh dan terlihat Aldi tersenyum padanya, belum sempat Ceila mengangguk pemuda itu langsung menariknya untuk duduk di sebrang kursi yang di duduki Alva dan Sesil.
Setiba di rumah Ceila langsung merebahkan dirinya ke atas kasur yang ia tinggalkan selama 3 hari "Aah, capek banget" keluhnya
"Mandi dulu, baru tidur" ucap Alva yang sibuk mengeluarkan pakaian dari tasnya
"Lo aja dulu yang mandi, gue masih mau rebahan"
Alva tersenyum jail, ia perlahan menindih Ceila
Sontak saja Ceila langsung membuka mata "Ma-mau ngapain lo?"
"Gimana kalo kita mandi bareng? biar cepet" goda Alva
Ceila menelan salivanya, ia berusaha keras menghilangkan rasa gugupnya, dengan perlahan mengatur nafas kemudian mendorong Alva sekuat tenaga, ia menatap Alva dengan tajam tapi yang di tatap malah menampilkan senyum jailnya. Dengan kesal Ceila berjalan menuju kamar mandi
"Nggak gue bisa mandi sendiri" jawab Ceila
"Biar cepet"
"Nggak!!" teriak Ceila dari dalam kamar mandi
30 menit berlalu, Ceila keluar dari kamar mandi sudah memakai pakaian rumahnya, ia melihat Alva bermain game di atas kasur sambil tengkurap.
"Lo mandi di mana?" tanya Ceila saat melihat suaminya itu memakai pakaian yang berbeda
"Di rumah ini kamar mandinya banyak" jawab Alva "Masak sana, gue laper"
Ceila yang terdiam sejenak kemudian mengambil hoodie dan memakainya, pemuda yang menyuruhnya memasak tadi mengerutkan dahinya
"Gue nyuruh lo masak, bukan ngajak pergi"
"Kita makan di cafe aja, gue capek baru pulang di suruh masak, sekalian gue mau meeting tentang peluncuran menu baru" jelas Ceila
__ADS_1
"Lo mau meeting pakek ginian"
Ceila meneliti penampilannya yang terlalu santai "Baju kerja gue ada di cafe, ayok"
Alva mengiyakan saja, ia menyambar jaket kemudian menyusul Ceila.
Alva menoleh ke arah pintu saat benda persegi panjang itu terbuka dan memunculkan sang istri yang memakai pakaian formal dengan beberapa map di tangannya, plus wajah lelahnya.
Ceila mendudukan diri di kursi kebanggaannya kemudian merebahkan kepala ke atas tangan yang bertumpu di atas meja, setelah meletakkan mapnya.
"Kalo style lo kayak gini, lo nggak kayak anak SMA" Ceila mendongak menatap Alva yang berdiri di depan mejanya, menunggu kalimat selanjutnya "Tapi kayak ibu-ibu" Alva menangkap pena yang di lempar oleh istrinya itu
Alva mengelus kepala istrinya dengan lembut, setelah mendudukkan diri di sampingnya "Gue nggak nyangka, ternyata cewek bar-bar kayak lo bisa bangun cafe seterkenal ini"
"Makanya jangan ngeliat orang dari covernya" balas Ceila sambil menegakkan kepalanya "Nggak semua yang kita liat itu adalah kenyataannya"
Keduanya saling menatap dengan dalam, ntah dorongan dari mana secara perlahan Alva mendekati wajah Ceila yang tiba-tiba terdiam di tempat, Alva terus mendekati wajahnya hingga.
ceklek
"Eh.. maaf non, saya lancang"
Sontak keduanya langsung menjauhkan diri dengan debaran di jantung masing-masing.
"Saya permisi non" ucap mang Diman hendak pergi
"Mang Diman" panggil Ceila membuat pria paruh baya itu tidak jadi menutup pintu "Nggak papa mang, ada apa?"
"Maaf sebelumnya, ini saya ingin menyerahkan susunan acara untuk peluncuran menu baru besok, sekaligus daftar tamu yang akan di undang" jelas mang Diman sambil menyerahkan 2 buah map
Ceila menerima map tersebut dan memeriksanya "Ada lagi?"
Mang Diman menggeleng "Tidak ada non, saya permisi non, den" pamitnya yang di respons dengan anggukan
Sepeninggalan mang Diman keduanya menjadi canggung, Ceila berdehem untuk mencairkan suasanan "Em.. lo mau ngapain tadi?"
"Kapan?"
"Tadi sebelum mang Diman dateng"
"Emm.. itu.." Alva menggosok tengkuknya "Emm.. nggak ngapa-ngapain, kenapa? lo mau gue apa-apain" godanya
__ADS_1
Ceila menjadi "Ngaco lo.. ya nggak lah.. ayok pulang, gue capek"
"Ayok"