
Ceila meletakkan kotak p3k di atas meja, yang lainnya mulai mengambil kapas dan obat merah untuk mengobati lukanya masing-masing.
la menuangkan obat merah pada kapas di tangannya lalu mengolesi luka yang ada di muka Alva.
"Sshh.... Pelan-pelan" ringis Alva dan Ceila ikut meringis
"Iya ini juga pelan-pelan, makanya jangan sok jadi jagoan, pakek ngelawan-ngelawan segala lagi, untung aja temen gue dateng tepat waktu, kalo nggak udah jadi bubur lo" omel Ceila
"Gue kan kayak gini buat ngelindungin lo, bukannya makasih malah di omelin"
"Lo nggak denger mereka bilang apa? Mereka itu mau bunuh lo, jadi yang harus di lindungin itu lo bukan gue"
"Hah? Mereka mau bunuh Alva?" tanya
Elang
"Iya, Naufan sendiri yang bilang"
"Masalah Naufan sama lo kan beda, kenapa jadi bawa-bawa Alva?" Leo ikut bersuara
"Jeni" satu nama yang terlontar dari bibir Ceila menjawab semuanya
Hening sesaat hingga Alva bersuara "Jeni siapa?" semua menoleh
"Musuh gue juga" jawab Ceila sambil memalingkan wajahnya.
Alva ber-oh tanpa suara lalu mengambil kapas dan menuangkan obat merah, ia meraih wajah istri untuk mengolesi lukanya, Ceila meringis kecil saat merasakan perih pada lukanya.
Ting... Tong...
Ting... Tong...
"Gue aja" ujar Vero langsung beranjak ke sumber suara dan tak lama kembali lagi dengan 2 kantong kresek berisi box makanan
"Kalian makan duluan aja, gue mau ganti baju" ucap Ceila yang di jawab dengan anggukan, ia beranjak dan Alva ikut beranjak ke kamar
"Cei!!" panggil Alva begitu masuk ke dalam kamar
"Hm"
"Gue mau ngomong"
"Yaudah ngomong aja"
Alva menarik tangan Ceila untuk duduk di pinggir ranjang "Osis ada acara di luar beberapa hari, jadi harus nginep,
"Lo nggak boleh pergi" potong Ceila
"Nggak bisa gue ketuanya, harus pergi"
"Kalo gitu gue ikut"
"Tapi Ceii-"
"Gue ikut atau lo nggak pergi sama sekali?"
Alva menghela nafas "Gue tau kekhawatiran lo, tapi gue bisa jaga diri"
__ADS_1
"Lo nggak tau Naufan itu kayak apa, lo bareng gue aja dia nyerang lo bahkan bilang mau bunuh lo, apalagi lo sendiri" setelah mengucapkan itu Ceila berdiri dengan nafas terengah-rengah menahan emosi
Alva ikut berdiri memeluk Ceila dari belakang dan meletakkan kepalanya di pundak sang istri, ia sangat tau ketakutan yang di rasakan istri kecilnya ini.
Ceila melepaskan tangan Alva yang melingkar di perutnya kemudian berbalik memeluk tubuh Alva dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu "Gue nggak mau lo kenapa-kenapa"
"Iya gue ngerti, tapi ini tugas gue sebagai ketua Osis"
"Kalo gitu gue ikut"
"Ini bukan alesan lo bukan nggak sekolah kan?"
"Dosa lo fitnah istri"
Alva terkekeh "Oke lo boleh ikut, tapi ada syaratnya"
"Apa?"
"Lo nggak boleh bolos mapel Geografi lagi, dan semua nilai lo harus tinggi"
Ceila mendongak "Nggak ada persyaratan yang lebih ringan?"
"Nggak ada penawaran, deal"
"Oke deal, Geografi doang mah, gampang" Ceila kembali membenamkan wajahnya di dada bidang Alva
"Betah banget kayaknya meluk gue" sontak Ceila langsung melepaskan pelukannya dengan wajah yang sudah memerah "Cieee blushing" goda Alva mencolek pipi istrinya
"Apaan sih"
Ceila berjalan ke lemari untuk mengambil baju dan menggantinya di kamar mandi. Selesai ganti baju keduanya kembali turun menghampiri temannya dan ikut makan.
*****
Alva terlonjak kaget saat Ceila membanting beberapa buku paket ke atas meja "Pelan-pelan bisa kan, kalo mejanya pecah gimana?" omelnya
"Ya gantilah" jawab Ceila enteng setelah duduk bersila di atas karpet "Vin, ajarin gue dong, besok ada ulangan nih" pintanya sambil membolak-balikkan buku tebal di depannya
"Ulangan apa?"
"Biologi, lo kan anak IPA, pasti ngerti dong"
Alva turun dari sofa, ikut duduk di atas karpet "Lo kasih tau ke gue bagian mana yang nggak ngerti, ntar gue jelasin" ucapnya seraya meraih buku paket yang ada di hadapan Ceila
"Kalo di tanya gitu, gue jawab semuanya" jawab Ceila dengan menopang dagu
Karna kesal Alva menyentil jidat gadis yang ada di depannya sehingga di empu mengaduh "Sebenarnya isi otak lo ini apasih?" omelnya
"Gue kan bukan anak IPA, mana ngerti"
"Walaupun lo bukan anak IPA, tapi lo juga harus ngerti, ini juga berguna untuk sehari-hari"
"Sekarang intinya lo mau ngajarin atau mau ngomel?"
Alva menghela nafas panjang setelahnya mulai menerangkan pelajaran yang membahas tentang alam, organ tubuh dan makhluk hidup, gadis di hadapannya itu tampak memperhatikan dengan seksama.
2 jam lamanya pasutri muda itu dengan buku-buku yang tebal. Ceila menguap tanpa suara kemudian meletakkan kepalanya di atas kedua tangan yang terlipat di atas meja, lama-kelamaan ia memejamkan mata.
__ADS_1
Alva merasa aneh karna tak ada lagi sahutan dari istrinya, ia menoleh ternyata gadis itu tertidur.
Matanya menoleh pada jam yang tersangkut di dinding, pantas saja isrtinya itu tertidur, sudah hampir tengah malam ternyata, karna terlalu asik mengajari materi ia jadi lupa waktu.
Alva membereskan buku-buku yang berserakan di atas meja, kemudian menggendong Ceila ala bridal style menuju kamar.
Setelah merebahkan tubuh mungil istrinya, ia ikut merebahkan diri dan melingkarkan tangannya ke perut Ceila sambil memandangi wajah damainya, puas memandang wajah cantik di hadapannya, ia memejamkan mata.
******
Penuh semangat Ceila bangun pagi langsung bersih-bersih, menyiapkan buku pelajaran hingga masak sarapan, saking semangatnya mampu membuat pemuda yang tinggal satu rumah dengan dirinya terheran - heran.
Alva mengulurkan tangannya untuk menyentuh kening Ceila "Nggak panas" gumamnya
"Apaan sih? Gue sehat"
"Ya abis lo aneh"
"Dari bangun pagi sampe sekarang, lo keliatan semangat banget"
"Emangnya salah kalo gue semangat?"
"Nggak salah sih, emang seharusnya setiap hari itu semangat, tapi karna itu terjadi sama lo, jadinya aneh"
Ceila memukul baju Alva cukup keras membuat si empu mengaduh "Serba salah gue, semangat di tanyain, males di omelin, maunya apasih?"
Alva terkekeh, mengusap kepala gadis di sampingnya yang terus menggerutu
"Oh ya, besok lo jadi pergi?" tanya Ceila
"Jadi"
"Jam berapa?"
"Sekitar jam 8" Ceila mengangguk dan ber-oh tanpa suara "Lo jadi ikut?"
"Iyalah, gue juga udah izin sama Mami"
"Trus Mami jawab apa"
"Di izinin dong, kan perginya bareng lo, gue selesai"
Ceila berdiri membawa piring sarapannya dan milik Alva saat pemuda itu berkata juga selesai.
"Kok akhir-akhir ini gue jarang liat lo ngantar makanan ke anak-anak jalanan" ucap Alva sembari fokus menyetir
"Mang Bima yang anter, gue lagi males aja"
Alva mencibir "Eh, bukannya besok itu peluncuran menu baru di cafe lo ya"
"Di tunda sampe gue pulang"
"Kenapa di tunda?"
"Kan gue mau pergi, masa tetep di laksanain"
"Kasian tau karyawan-karyawan lo, udah nyiapin semuanya dan pelanggan-pelanggan lo udah nunggu lama, eh taunya nggak jadi"
__ADS_1
Ceila memicingkan matanya "Lo nggak lagi nyari alesan supaya gue nggak ikut kan?"
"Ng-nggak lah, suuzon aja lo" dalam hati Alva menggerutu kesal karna rencananya gagal untuk membuat atau Ceila tidak jadi ikut.