
...----------------...
......................
Alva dan ke tiga sahabatnya mematung di ambang pintu kamar inap Ceila saat melihat kamar tersebut di penuhi dengan pria yang berpenampilan urak - urakan, lebih kurang seperti preman di tambah lagi mukanya yang seram, hanya dua orang yang Alva kenal, Riyan dan Baim.
la menelan saliva dengan susah payah, bukan karna takut melainkan berfikir siapa mereka? Apa mereka temennya Ceila? Jika iya, mengapa istrinya itu bisa punya temen seperti ini?
Alva tersentak saat seseorang menepuk pundaknya, ia menoleh dan mendapati sahabat istrinya "Biasa aja, ini belum seberapa, masih sepertiga" jelas Elang yang mengerti keterkejutannya
"Ini beneran temennya Cei?" tanya Hitto dengan berbisik dan di iyakan oleh Elang
"Gila!! Serem banget temen bini lo" sahut Randy juga berbisik
Dan Gio ikut menimpali dengan berbisik juga "Kok bisa bini lo temenan sama mereka?"
"Mau jadi satpam berdiri di situ?" tanya Ceila membuat ke 4 pria itu tersentak
Mereka berjalan mendekat ke ranjang Ceila
Gio meletakkan parsel buah yang di bawanya "Dari kita bertiga, buat lo"
"Cepet sembuh ya" tambah Randy sambil melirik takut ke arah pria - pria yang duduk di sofa
"Nggak usah di parselin kali, gue bukan orang penting" ucap Ceila
"Biar keliatan cantik" balas Hitto dan di tanggapi dengan anggukan kecil
"Sumpah demi apa pun, ini serem banget, gue serasa di eksekusi mati" bisik Randy
"Lebay lo" balas Hitto
"Apanya yang lebay, lo nggak liat tatapan mereka, kayak mau nerkam mangsanya"
"Kak Randy kenapa? Lututnya gemeter gitu" tanya Caca
"Eh... Nggak papa kok" jawab Randy gugup
"Dia takut sama temen lo" ucap Hitto langsung dapat sikutan dari Randy yang
Pffftt..
"Ssstt... Nggak usah di kasih tau, ngejatohin harga diri gue banget lo"
"Nggak usah takut" celetuk Satya
Mereka baik kok, tampangnya aja yang sangar" timpal Fanya
"Lo pada mukanya biasa aja, temen gue jadi takut" ucap Ceila
"Ng - nggak kok, gu - gue nggak takut" elak Randy
"Cemen" ledek Devon
"Makanya punya muka jangan serem amat" ucap Leo
"Ya gimana? Muka gue emang gini dari sananya, masa gue harus oplas biar imut" jawab Vero
"Walaupun di oplas 20X, muka lo itu nggak bakal jadi imut" ujar Sem
"Apa lo bil-"
"Udah, ini rumah sakit, jagan bikin keributan" lerai Riyan
"Tau nih di mana-mana berantem mulu" timpal Baim
__ADS_1
Ceila dan yang lainnya tertawa, berbeda dengan Randy yang masih menahan rasa takutnya.
Alva menoleh sampai dua kali ke arah Ceila yang berusaha turun dari ranjang sambil sesekali meringis, kemudian ia mendekat.
...----------------...
"Bisa diem nggak sih? Mau cepet sembuh kan?" omel Alva sambil manahan Ceila turun dari ranjang
"Gue kebelet pipis, masa harus pipis di sini" ucap Ceila
"Kenapa nggak panggil gue?"
"Ck, eh Samsul, gue udah panggil lo berkali - kali ya, tuh gue juga udah lempar sendok sama garpu, lo nya aja yang nggak nyaut - nyaut, dasar budek" kesal Ceila
Alva menoleh ke arah sofa dan benar saja sudah ada sendok dan garpu yang tergeletak di lantai, ia kembali menoleh ke Ceila sambil menyeringai "Sorry, nggak kedengeran"
Ceila melengos "udahlah, sekarang lo mau bantuin gue atau nggak? Udah nggak tahan nih"
Alva Pi langsung menyelipkan tangan kanan ke bawah lutut dan tangan kirinya ke punggung Ceila lalu mengangkatnya
"Eh, di papah aja nggak usah di gendong" protes Ceila
"Biar cepet" balas Alva "Kalo udah selesai panggil gue" sambil menurunkan Ceila di kamar mandi
"Iyah"
Ceklek...
Begitu kamar mandi terbuka, Alva langsung menghampiri Ceila dan mengendongnya kembali ke ranjang.
Ceila mengehela nafas nafas saat tubuhnya mendarat ke atas kasur, ia mencari tempat ternyaman untuk berbaring.
"Udah nyaman?" tanya Alva
Ceila mengangguk "Hmm"
"Boleh"
Ceila melihat Alva yang langsung mengupas buah apel secara perlahan hingga selesai
"Aaaa...." Alva menyodorkan sepotong apel
"Gue bisa makan sendiri" tolak Ceila
"Gue suapin"
"Yang sakit itu perut gue bukan tangan"
Alva menggeleng "Buka mulut, aaaa"
Ceila menghela nafas, percuma jika menolak, lalu membuka mukut dan mengunyah apel itu saat masuk ke mulutnya.
"Enak nggak?"
"Enak manis" jawab Ceila, ia mengambil sepotong apel dan menyodorkannya pada Alva "Lo juga biar sehat"
Alva tersenyum sambil mengunyah apelnya
"Pulang sana, mandi, bau tau seharian di sini"
"Nggak mau, gue di sini aja, jagain lo, lagian lo juga belom mandi, bararti lo juga bau" balas Alva
"Tapi kan gue nggak keluar dari kamar ini, sedangkan lo dari sekolahan, jadi lo lebih bau, bau matahari"
"Lo lebih bau"
__ADS_1
"Elo"
"Elo"
"Elo"
Kring... Kring...
Keduanya menoleh, Alva meraih ponsel Ceila yang ada di atas nakas, melihat nama yang tertera 'Devon'. Menggeser tombol hijau dan menlospekernya
"Dia kabur"
Ceila mengerutkan keningnya "Kok bisa?"
"Ada yang nyerang markas"
"Siapa?"
"Naufan"
Muka Ceila berubah serius "Apa hubungan mereka?"
"Gue juga nggak tau"
"Cari tau"
"Oke"
"Ada korban?"
"Lecet dikit, nggak masalah"
"Hm"
Telfon terputus
"Naufan siapa?" tanya Alva yang sedari tadi menyimak
"Nggak perlu gue jelasin, lo udah tau" jawab Ceila
Mendengar obrolan sang istri dengan temannya tadi, Alva jadi penasaran sendiri
"Musuh lo berapa banyak sih?"
"gue Nggak pernah itung "
Pletak
"Aww..." ringis Ceila "Kenapa sih?" sambil mengusap jidatnya
"Biang rusuh dasar" omel Alva
"Merekanya aja yang iri sama kehidupan gue" bela Ceila "Eh gue kapan pulangnya sih? Udah 3 hari nih, nggak betah"
Belum sempat Alva bersuara, pintu kamar lebih dulu terbuka memunculkan seorang pria memakai jas berwarna putih, di ikuti seorang wanita yang memakai baju warna putih juga.
"Selamat siang" sapa sang dokter
"Siang Dok" balas Ceila dan Alva hanya tersenyum "Dok saya kapan sih pulangnya? Saya udah nggak papa, udah baik-baik aja"
"Saya periksa dulu ya" ucap dokter lalu mulai memeriksa keadaan Ceila
Selesai memeriksa sang dokter menjelaskan keadaan Ceila yang masih harus beristirahat di rumah sakit. Namun Ceila bersih keras untuk pulang dengan mengatakan dirinya sudah baik-baik saja.
Sedikit terjadi perdebatan antara sang dokter, Ceila dan Alva, yang di menangkan oleh Ceila dengan berbagai alasan dan rayuan, hingga akhirnya pria ber jas putih itu terpaksa memperbolehkan pasiennya pulang dengan beberapa syarat.
__ADS_1
...----------------...
...****************...