Jodoh Ku Berawal Dari Tebing Romantis

Jodoh Ku Berawal Dari Tebing Romantis
bagian-12


__ADS_3

......................


...****************...


Alva memasuki kelas dengan gaya cool seperti biasa dan duduk di bangkunya, ia menatap amplop yang di sodorkan Hitto lalu menoleh pada pria itu dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Tadi satpam ngasih ini sama gue, katanya buat lo" jelas Hitto


"Dari siapa?" tanya Alva sambil menerima amplop tersebut


Hitto mengangkat bahu di sertai gelengan kepala "Satpamnya nggak ngasih tau"


"Jaman sekarang masih kirim surat" celetuk


Gio


"Buka aja Va, gue jadi penasaran apa isinya, jarang banget Alva dapet surat" sahut Randy


Alva membuka perlahan lem pada amplop


"Sober aja sampingnya, lama banget" ucap Randy greget sendiri


Alva menuruti perkataan Randy dengan mensobek bagian pinggirnya, saat ingin mengeluarkan kertas di dalamnya, ia terlonjak kaget karena tiba-tiba amplop itu di rebut seseorang.


Alva menatap orang tersebut yang tak lain adalah istrinya


"Nggak boleh di buka" ucap Ceila dengan nafas ngos - ngosan


Alva mengerutkan keningnya begitu juga dengan ke tiga sahabatnya "Kanapa?" tanyanya datar


"I-ini bukan buat lo" jawab Ceila gugup


"Trus buat siapa?"


"Bu-buat.... Buat"


"Buat gue"

__ADS_1


Semua menoleh ke sumber suara, Ceila bernafas lega


Elang mengambil amplop yang ada di tangan Ceila "Sorry ngerepotin, dan makasih"


"Tapi satpamnya bilang, itu buat Alva, bukan buat lo" ucap Hitto


"Satpamnya salah orang kali" ujar Ceila, ia melihat sang suami yang tengah menatapnya dengat tatapan intimidasi "Ya-yaudah, kita ke kelas dulu, bye"


Ceila dan Elang berbalik langsung keluar dari kelas Alva, mereka bernafas lega begitu keluar dari kelas tersebut sambil berjalan di koridor.


"Hampir aja" ucap Ceila


"Gila, nekat banget dia" ucap Elang "Kemarin nabrak, sekarang surat, besok apa lagi?"


la menoleh pada Ceila yang sedang memijit pangkal hidungnya, lalu menepuk bahu gadis itu membuatnya menoleh.


"Lo harus cerita sama Alva, biar dia nggak salah paham, gue tau ini berat, tapi dia berhak tau"


Ceila menghela nafas "Gue belom siap"


"Nggak usah, biar gue aja, nunggu waktu yang tepat"


"Jangan lama-lama" Ceila mengangguk


....


Selama pelajaran berlangsung Alva tidak bisa fokus dengan apa yang di sampaikan oleh guru di depan papan tulis. Ia terus saja memikirkan surat yang tadi di dapatnya, sebenarnya apa isi surat itu sampai - sampai istrinya begitu gugup.


ia tau betul surat itu pasti ada hubungannya dengan obrolan mereka saat di kantin tempo hari dan omongan Riyan yang menyebutkan bahaya mengancam.


Alva menghela nafas panjang, ia memutuskan untuk keluar dari kelas dengan alasan sakit. Ya karna ketos ini anak baik jadi guru percaya saja, bahkan mengkhawatirkan keadaannya.


la berniat ke UKS untuk merebahkan diri di sana, namun langkahnya terhenti saat melewati kelas Ceila. Kelas itu sangat berisik karna sedang jam kosong, matanya tidak menemukan sang istri dan kelima sahabatnya. Alva kembali melanjutkan langkahnya menuju tujuan awal.


......................


"Alva sempet baca?" tanya Satya, sekarang mereka berada di rooftop

__ADS_1


"Alva sempet baca?" tanya Satya, sekarang mereka berada di rooftop


"Untungnya nggak" jawab Elang setelah memasukkan kacang ke dalam mulutnya "Tapi telat dikit aja, kelar semua"


"Mana suratnya? Sini gue liat" ucap Caca


Elang merogoh sakunya dan meletakkan sebuah kertas di atas meja, Fanya mendekat ke Caca yang mengambil kertas itu dan membacanya.


"Bener-bener gila sih ini, lebih ekstrim dari sebelumnya" ucap Fanya setelah isi suratnya, Caca merespon dengan anggukan


Satya yang penasaran langsung merebut kertas di tangan Caca lalu membacanya bersama Leo.


"Sakit jiwa nih orang" ucap Satya


"Trus sekarang gimana?" tanya Leo


Mereka mengangkat bahu, kemudian menoleh pada Ceila yang sedari tadi berdiri di pinggir atap rooftop sambil menatap barisan gedung yang menjulang dan jejeran atap rumah yang rapih. Ntah apa yang sedang ada di pikirannya saat ini.


Elang berdiri dan maju tiga langkah "Cei!! gue rasa lo harus bertindak" ucapnya


Leo ikut berdiri namun tidak beranjak "Pilihan lo dua, cerita sama Alva, atau...." ucapannya menggantung, ia tak sanggup untuk melanjutkannya


"Ada waktunya" ucap Ceila masih menatap ke depan


"Kapan?" tanya Fanya


"Jangan sampe telambat, hubungan lo sama Alva bukan main - main" ucap Satya


"Keputusan ada di tangan lo, kita dukung apapun itu" ujar Caca


Ceila menghela nafas kemudian berbalik menatap sahabatnya "Setelah pertunangan bang Etgar" ucapnya "Tapi gue minta tolong jaga semuanya, apapun yang di kirim ke Alva, harus melalui kita dulu, kasih tau juga anak-anak" semua mengangguk.


...----------------...


...****************...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2