
"Bagaimana keadaan menantuku?" tanya Arta dengan raut khawatir
"Keadaannya baik-baik saja, tidak ada yang perlu di khawatirkan, menantumu hanya alergi dan itu tidak berbahaya, lagi pula dia sudah minum obat, besok juga baikan" jelas Irwan "Makan apa dia sebelumnya?"
"Udang, apa dia alergi udang?" tanya Arta
"Jika di lihat dari obat yang dia minum, sepertinya menantumu ini alergi seafood, apa kalian tidak mengetahuinya?" tanya Irwan
"Bunda!!" Alva menangkap Ana yang hampir ambruk
"Alva bawa Bunda ke kamar" suruh Arta di angguki Alva dan langsung mengiring Ana keluar dari kamar
"Tidak, kami tidak mengetahuinya, dia tidak mengatakan apapun" sambung Arta
"Tenanglah, sekarang sudah mengetahuinya kan, kalo begitu aku permisi dulu" ucap Irwan, ia mendekati Alva yang sedari tadi hanya menyimak "Jaga istrimu baik-baik, om pamit dulu"
"Baik, terima kasih om, hati-hati di jalan" balas Alva di angguki Irwan
"Alva jaga Cei, Ayah mau liat Bunda dulu" ucap Arta
"Iya Yah"
Setelah kepergian Arta dan Irwan, Alva menutup pintu kamarnya kemudian duduk di pinggir ranjang, menatap wajah pucat sang istri.
la meneliti setiap jengkal wajah Ceila, alis lebat dengan teratur, bantuk mata yang bulat memiliki buku mata lentik dan panjang, hidung mungil mancung, dan bibir yang mungil hanya saja tidak ada rona di sana.
Ceila menyerngit saat merasakan ada usapan lembut di kepalanya, ia melihat seorang pria yang sedang tersenyum ke arahnya dan ia pun membalas dengan senyuman kecut.
"Gimana keadaan lo?" tanya Alva dengan lembut
"Pusing" jawab Ceila pelan
"Gue pijitin?"
__ADS_1
"Hm"
Alva mulai memijit pelan kepala istrinya, Ceila menutup matanya menikmati setiap pijitan dari tangan sang suami.
"Gue olesin minyak angin mau?"
"Hm"
Alva langsung mengolesi kening, leher, tangan dan kaki Ceila dengan minyak angin. Ceila kembali membuka mata menatap Alva.
"Kenapa? Mau sesuatu?" tanya Alva
"Mau peluk boleh?" pinta Ceila dengan nada manja"
Alva terdiam sesaat kemudian tersenyum dan mengangguk, ia ikut masuk ke dalam selimut kemudian memeluk tubuh mungil istrinya, memberikan kehangatan.
Ceila menenggelamkan wajahnya pada dada bidang milik Alva, sesekali ia menggusalkan wajahnya, mencari kenyamanan dan kehangatan serta menghirup aroma khas suaminya itu.
Alva menuruti dengan mengelus kepala Ceila dengan lembut, detak jantungnya berpacu berkali-kali lipat lebih cepat. la merasakan Ceila sudah tidak menggusali dadanya dan bernafas dengan teratur, sepertinya sudah tidur. Alva mempererat pelukannya dan ikut tertidur.
......................
06:45
Ceila mengerjap beberapa kali menyesuaikan lensa mata dengan cahaya yang ada, melihat sesuatu di hadapannya dan merasakan ada yang beban di bagian pinggangnya.
la mendongak kemudian tersenyum saat melihat pria yang juga tersenyum kepadanya, ternyata dirinya masih dalam dekapan sang suami.
"Selamat pagi" sapa Alva dengan suara serak khas bangun tidur plus senyuman manis
Ceila kembali menunduk menyembunyikan wajah kepiting rebusnya "Pagi" balasnya malu
Alva terkekeh "Masih dingin?"
__ADS_1
Ceila melepaskan pelukannya dan merubah posisi menjadi duduk sambil bersandar di kepala ranjang di bantu oleh Alva.
la menggeleng "Udah nggak kok, makasih ya"
"Makasih buat apa?" tanya Alva yang kini duduk di hadapannya
"Yaa makasih aja"
Alva tersenyum sambil terus menatap sang istri membuat yang di tatap salah tingkah
"Lo kenapa sih ngeliatin gue kayak gitu?" tanya Ceila gugup
"Lo lucu kalo lagi sakit, jadi manja".
Wajah Ceila langsung memerah mengingat tingkahnya tadi malam
"Cie... Blushing" Alva menoel-noel pipi Ceila
"Apaan sih?" Ceila menepis tangan Alva "Mandi sana bau tau"
"Hm... Bau ya? Trus tadi malem yang minta di peluk, di elusin, sama ngendusel dada gue siapa ya?" ucap Alva sambil menggosok dagunya dengan jari telunjuk
Ceila membulatkan matanya "lihh... Sana - sana, mendingan sekarang lo mandi, ntar ke siangan lagi" ucapnya sambil mendorong bahu Alva "Satu lagi bikinin gue sarapan, gue laper"
"Iya-iya, lo mau sarapan apa?" tanya Alva
"Apa aja, asal jangan bubur"
Alva mengangguk kemudian berjalan menuju kamar mandi, ceila menghela nfas sambil berusaha menghilangkan rona merah di wajahnya.
...----------------...
...****************...
__ADS_1