Jodoh Ku Berawal Dari Tebing Romantis

Jodoh Ku Berawal Dari Tebing Romantis
Bagian 27 - Siapa Dia


__ADS_3

Ceila duduk termenung di depan cermin sambil menyisir rambutnya dengan pelang, dirinya memang di depan cermin, namun pikirannya berlayar kemana-mana hingga Alva berdiri di belakangnya saja ia tak sadar.


Alva mengambil kursi dan mendudukinya kemudian memeluk istrinya dari belakang


"Astaga!! bikin kaget aja lo, kalo gue mati gimana? mau jadi duda muda" omel Ceila


"Tapi kan dudanya ganteng, keren, masih perjaka lagi, pasti banyak yang mau" Alva mengaduh saat Ceila menyikut perutnya kemudian terkekeh "Mikirin apa sih? hm?"


"Nggak mikirin apa - apa" jawab Ceila sambil meraih syal di atas meja lalu memakainya "Ayok pergi, ntar telat"


Alva ikut berdiri dan mengambil 2 tas di atas kasur kemudian berjalan keluar kamar bersama Ceila.


Setelah mendengar beberapa kalimat yang keluar dari pembimbing, semua masuk ke dalam bis yang akan mengantarkan mereka ke tempat tujuan.


"Ngapain lo di sini?"


Ceila mendongak menatap gadis yang berdiri di hadapannya, ia pernah melihat gadis ini kemarin, sepertinya dia menjabat sebagai wakil Osis "Duduk"


"Pendamping itu duduknya di belakang" ucap Sesil


Ceila mengedarkan pandangannya "Mana? nggak ada tuh tulisan 'Pendamping duduk di belakang' jadi bebas dong duduk di mana aja"


Belum sempat Sesil berucap, pembimbing sudah mengintruksi untuk duduk dan perjalanan akan di mulai, dengan kesal Sesil pergi mencari kursi yang lain.


"Ini kunci kamar kalian, silahkan beristirahat, saya permisi, terima kasih" ucap guru pembimbing yang di jawab terima kasih kembali dari para murid dan langsung pergi menuju kamar masing- masing.


Ceila berjalan santai menuju kamar, sekilas indra penglihatannya menangkap sosok yang tak asing lagi, ia mempercepat langkah untuk melihat lebih jelas namun sosok itu sudah hilang ntah kemana.


Ceila terus menyusuri lorong hotel "Mas, maaf"

__ADS_1


Seorang pelayan yang sedang melintas menghentikan langkahnya, menoleh pada Ceila "lya mbak, ada yang bisa saya bantu?"


"Saya mau tanya, mas liat nggak ada orang yang barusan lewat sini tadi?"


"Maaf mbak, saya nggak liat, setau saya belum ada yang kewat sebelum mbak datang"


"Mas yakin nggak ada ada yang lewat sini?"


"Yakin banget mbak, emangnya mbak cari siapa? ciri-cirinya seperti apa? biar saya bantu cari"


Nggak usah mas nggak usah, mungkin saya salah liat, kalo gitu saya duluan, makasih"


"Iya mbak, semoga nyaman di hotel kami"


Ceila meninggalkan pelayan tersebut setelah mengangguk kecil, baru beberapa langkah ia kembali menoleh ke belakang terlihat sang pelayan tersenyum dan ia pun membalasnya, lalu kembali menoleh ke depan melanjutkan jalannya.


"Apa gue salah liat ya? tapi mirip banget" gumam Ceila sambil memijit pelipisnya


Ceila terlonjak dan langsung menoleh "Ngagetin aja lo"


"Siapa suruh jalan sambil ngelamun, nabrak baru tau rasa lo" ucap Aldy "Mikirin apa?"


"Nggak mikirin apa-apa" jawab Ceila


Aldy mengangguk "Ngapain lo ke sini? bukannya kamar lo bawah ya, emm.... gue tau lo pasti mau ketemu gue kan"


"Dih, ge-er banget lo"


"Trus ngapain?"

__ADS_1


"Tadi gue ngeliat orang yang mirip sama temen lama gue, trua gue ikutin, tapi sekarang orangnya udah ngilang nggak tau ke mana"


"Setau gue nggak ada yang lewat dari tadi, lo yakin, atau perasaan lo aja kali"


"Iya kali, perasaan gue aja, yaudah gue duluan ya"


"Mau gue anter" tawar Aldy


"Nggak usah gue bisa sendiri, makasih, bye"


"Bye" Aldy melambaikan tangannya "Gue pastiin suatu saat nanti, lo jadi milik gue" gumamnya sambil terus memandang Ceila yang menjauh


Ntah sudah berapa berapa kali Alva mengetuk pintu kamar yang di tempati istrinya, namun sang penghuni tidak juga keluar


"Dia kemana sih?" gumamnya kemudian merogoh kantong celana, mengambil ponsel untuk menghubungi sang istri "Ck.. nggak di angkat"


Alva memutuskan untuk mencari saja, sebuah panggilan menghentikan langkahnya "Ada apa?"


"Di panggil pak Amar, katanya mau bahas tempat yang mau di kunjungi" jawab Sesil sang wakil


"Nggak bisa di wakilin? kan ada lo, Satria, Gio juga"


"Nggak bisa, lo kan ketuanya, jadi harus ikut"


Alva menghela nafas "Yaudah ayok"


Seorang gadis berdiri di antara gundukan tanah yang di tumbuhi rumput liar nan rapi, matanya tertuju pada nama yang tertulis pada nisan berkeramik hitam.


Gadis itu berjongkok "Hai, apa kabar? gue baik-baik aja di sini, gue kangen sama lo"

__ADS_1


Seketika air mata mengalir di pipi tanpa di minta "Lo lagi apa di sana? pasti lagi sedihkan ngeliat orang yang bikin lo kayak gini lagi bahagia, tapi lo tenang aja" sorot matanya menjadi tajam "Gue akan bikin dia ngerasain sakitnya kehilangan orang yang kita sayang, itu janji gue sama lo"


Gadis itu mengusap air yang ada di pipinya "Gue pergi dulu, gue akan sering - sering jenguk lo, baik-baik ya di sana, bye" Gadis tersebut meninggalkan pemakaman "Gue nggak akan bikin lo hidup tenang, lo udah ngehancurin kebahagiaan gue"


__ADS_2