
......................
...****************...
...Kelas 11 IPS 1 berkumpul di lapangan karena mata pelajaran olahraga, sudah 20 menit mereka menunggu guru olahraga yang tak datang - datang....
"Ini sebenarnya kita olahraga nggak sih?" ucap Caca dengan kesal
"Tau nih, lama banget, dehidrasi gue" timpal
Fanya
"Sambil nunggu, gimana kalo kita pemasan dulu?" usul Aldo selaku ketua kelas
"Oke, biar gue yang pimpin" tambah Rizal langsung berdiri "Ayok baris" instruksinya
Murid yang lainnya mulai berdiri, membentuk barisan dan mengikuti instruksi dari Rizal untuk melakukan pemanasan.
20 menit lamanya mereka pemanasan mulai dari meregangkan otot-otot, lompat - lompat di tempat, hingga lari mengelilingi lapangan.
Setelah lari 5 putaran mereka semua terdampar di tengah lapangan dengan nafas terengah - rengah.
"Kampret lo Zal.... Ini bukan pemanasan.... Tapi penyiksaan..." protes Boby dengan nafas terputus-putus
"Tau nih.... Semuanya di pukul rata.... Liat - liat dong.... Gue kan cewek" sahut Sandra
"Ah... Itu lo pada aja yang lemah" balas Rizal
"Rizal kok tega banget sih sama Sandra" ucap Amel
"Tega kenapa?" tanya Boby
"Tadi Sandra bilang Rizal pukul dia" jawab
Amel
"Bukan pukul itu Markonah, hadeh punya temen gini amat ya" Sandra memijit pangkal hidungnya
"Trus pukul apa?" tanya Amel
"Udah lah nggak usah di bahas lagi, dasar lemot" sahut Rizal "Eh, Do lo mau kemana?"
"Panggil Pak Indra lah" jawab Aldo berlalu pergi
Beberapa menit kemudian
"Ceiii!!" Ceila yang sedang memainkan tali sepatunya menoleh pada Leo "Tuh liat" ia mengikuti arah tunjuk Leo, yang lain juga ikut menoleh
Ceila mengerutkan keningnya melihat seorang pria yang berjalan mendekat
"Dia ngapain kesini? Pakek baju olahraga lagi" ucap Rania
"Jangan bilang dia yang gantiin Pak Indra" timpal Caca
"Yaudah sih, biarin aja" sahut Elang
"Selamat pagi semua" sapa seorang pria yang datang bersama Aldo yang tak lain adalah Alva
Mereka semua langsung berdiri
"Pagi kak" sapa beberapa sisiwi lainnya dengan senyum merekah
Ceila memutar bola matanya, ia menatap Alva yang berdiri di hadapannya yang juga menatap dirinya.
"Saya di sini sebagai pengganti Pak Indra untuk mengajarkan kalian pelajaran olahraga" ucap Alva
"Wah... Mimpi apa gue semalem, bisa di ajarin sama senior ganteng"
"Semangat 45 ini mah"
"Untung aja gue sekolah, kalo nggak bisa rugi gue"
"Berisik lo pada"
"Sirik aja lo"
"Baik kita mulai saja pelajarannya" instruksi Alva menghentikan perdebatan antar mereka
__ADS_1
"Kalian sudah pemanasan?"
"Sudah kak!!"
"Sekarang ambil posisi kalian, saya akan mengajarkan materi tentang basket"
Alva mulai menerangkan materi tentang basket, mulai dari cara memegang, melempar, mendribling dan peraturan - peraturan dalam permainan bola basket. Semua murid memperhatikan dengan seksama contoh gerakan yang di praktikan oleh sang senior.
Alva menyuruh mereka untuk berbaris secara memanjang ke belakang menghadap ke ring bola basket dan melempar bola ke dalam ring dari jarak yang telah di tentukan, secara bergiliran.
Hampir 2 jam lamanya mereka melaksanakan pelajaran olahraga, hingga akhirnya mereka bernafas lega saat mendengar bel pertanda istirahat berbunyi.
"Karna bel sudah berbunyi, kita akhiri pelajaran hari ini, silahkan kembali ke kelas, terima kasih" ucap Alva
"Makasih ya kak, udah ajarin kita"
"Dah kakak ganteng"
"Besok - besok di ajarin lagi ya"
Alva hanya menanggapi dengan senyuman kecil, ia berlalu pergi dari para siswi itu dan menghampiri seorang gadis yang duduk di pinggir lapangan sambil selonjoran. Alva ikut duduk di sebelahnya kemudian memberikan botol berisi air setelah membuka tutupnya.
"Makasih" balas Ceila dan langsung meminumnya
"Permainan basket lo oke juga"
"Gue nggak minat untuk masuk tim basket"
"Gue nggak nyuruh lo buat masuk tim basket"
"Yaa... Wanti-wanti aja, sebelum lo nyuruh"
"Ceila, nih buat lo" ucap Aldo yang tiba - tiba datang sambil menyodorkan sebuah amplop
Ceila mendongak dan pria di sebelahnya ikut mendongak "Dari siapa?" sambil menerima amplop itu
"Dari satpam, katanya tadi ada cowok ke sini kasih itu, buat Ceila Anastasya" jelas Aldo
"Yaudah makasih ya"
Ceila dan Alva saling tatap
"Nggak kok" jawab Ceila
"Ngaku aja kali, nggak usah malu gitu, gue nggak ember kok" Aldo menaik turunkan alisnya
"Lo pergi sekarang, atau gue timpuk pakek sepatu" ancam Ceila
"Jangan galak - galak Cei.!?, ntar kak Alva nya jadi ilfil"
"Wah lo nantangin gue" Ceila melepas sebelah sepatunya, belum sempat melempar Aldo sudah lebih dulu melarikan diri "Kampret sialan" umpatnya sambil kembali memasang sepatu
Alva meraih kaki Ceila dan mengikat tali sepatunya "Bener kata Aldo jangan galak - galak, cepet tua"
"Biarin"
"Eh, ngomong-ngomong itu surat apa?"
Ceila melirik amplop yang ada di tangannya "Bukan apa - apa, nggak penting"
"Dari orang yang sama dengan yang kasih surat ke gue?"
"Mungkin"
"Kenapa nggak di baca?"
"Kan gue bilang nggak penting"
"Yaudah, biar gue aja yang baca" Alva merampas amplop itu
Dengan cepat Ceila kembali merampasnya "Nggak usah"
Alva tak menyerah, ia kembali merampas amplop itu namun di tahan oleh Ceila, dan akhirnya mereka tarik - tarikan amplop hingga....
Ceila menubruk tubuh Alva dan menindihnya.
Manik hitam pekat bulat bertemu dengan manik coklat tajam, saling mencari sesuatu di dalamnya. Jantung dari kedua insan itu berdetak lebih cepat berkali-kali lipat, cukup lama mereka di posisi ini sampai keduanya tersadar.
__ADS_1
*****
Ceila bangkit dari atas tubuh Alva kemudian melihat sekitar untuk memastikan tidak ada orang yang melihat.
Keduanya berdiri dan saling memalingkan wajahnya. Alva menggaruk kepala bagian belakangnya untuk menghilangkan rasa gugup begitu pun dengan Ceila yang menggaruk pelipisnya.
"Gue ke kelas dulu" ucap Ceila
"Emh... Gue juga mau ke kelas" balas Alva
Keduanya saling tatap kemudian memalingkan lagi
"Bye"
"Bye"
Ceila lebih dulu meninggalkan lapangan sambil memegang kedua pipinya yang memerah
"Alva mengelus dadanya "Huh!!"
Setelah mengganti seragam, Ceila menghampiri sahabat-sahabatnya di kantin
"Dari mana aja lo?" tanya Leo
Ceila meletakkan sebuah amplop ke atas meja, setelahnya meminum jus jeruk yang ada di hadapannya, ntah punya siapa.
Semua pandangan mengarah pada benda itu, hening sesaat sampai Satya berkomentar lebih dulu "Nekat banget nih orang"
Ceila menggeleng, setelah memelan jus jeruknya, ia menjawab "Surat itu buat gue"
Fanya mengambil dan membuka amplop itu "Gue tunggu lo di area balap"
Sekarang semua pandangan beralih ke Ceila "Gimana?" tanya Elang
"Sesuai permintaan"
Ceila menatap pria yang sedang bersandar di mobilnya "Kenapa?" tanyanya begitu berhadapan dengan Alva
"Gue nggak ngizinin lo pergi" Alva menunjukkan kertas yang ada di tangannya
Ceila melirik kertas itu sambil mengerutkan keningnya "Kok bisa ada di
lo?"
"Nggak penting, yang jelas gue nggak ngizinin lo pergi" tegas Alva
"Lo itu nggak tau, musuh gue kayak apa, kalo gue nolak permintaan mereka, gue nggak tau apa yang akan terjadi nanti, ntah itu ke gue, ke elo, atau yang lainnya" jelas Ceila
"Siapa suruh punya musuh"
"Lo pikir gue mau"
"Pokoknya lo nggak boleh pergi, apapun yang terjadi gue akan ngelindungin lo" ucap Alva mantap.
Mendengar ucapan yang terakhir Ceila mendongak, menatap mata Alva dengan lekat. Ada yang aneh dari dalam dirinya saat mendengar kalimat itu, ntah apa itu ia pun tidak tau.
"Gue nggak akan pergi" Ceila mengambil kertas di tangan Alva, meremasnya kemudian membuangnya ke tong sampah "Gue nggak pulang, mau ke cafe"
"Gue ikut"
"Motor lo?"
"Gampang"
"Terserah"
...----------------...
...****************...
Maaf yah baru Up kembali
soalnya admin lagi sibuk
komen dan like yang banyak gaes
Selamat Membaca😊🙏
__ADS_1