
Rania merasa sangat gugup,walaupun hanya pura-pura. Karena ini adalah pertama kalinya ada seorang pria yang akan memperkenalkannya pada keluarganya.
" Rilex aja, mereka semua baik kok." Ucap Varel mengusap tangan Rania lembut.
Rania menatap Varel sekilas, lalu menganggukkan kepalanya. Mereka memsuki rumah beriringan.
Nampak empat orang tengah berbincang, dan tak menyadari kedatangan keduanya.
" Aku pulang," Ucap Varel. Mengalihkan atensi semua orang.
Empat orang yang sedang asyik berbincang, seketika menoleh pada sumber suara. Mereka melihat sepasang kekasih yang berjalan mendekat.
Rania jadi semakin gugup saat dipandang semua orang. Ia berusaha untuk menyembunyikan kegugupannya dengan tersenyum.
Dan Varel terus mengusap lembut tangan Rania, agar Rania tenang. " Sesuai janjiku kemarin, sekarang aku datang memperkenalkan calon istriku." Ucap Varel
Rania terkejut mendengarkan ucapan Varel. " Apa, calon istri. Tapi kemarin dia bilang hanya kekasih." Batin Rania
Varel mengajak Rania duduk di sofa kosong, mereka duduk berdampingan tanpa melepas genggaman tangannya.
" Wah, calon mantu Mama cantik banget!" Ucap Mama Nita
Mama Nita menggampiri Rania dan memeluknya. "Siapa nama kamu sayang?" Tanya Mama Nita
" Rania tante," Sahut Rania tersenyum ramah.
" Jangan panggil tante dong, panggil Mama aja ya."
" Iya tan-, eh Ma" Rania gugup
" Kak Varel nggak mau ngenalin kita sama kak Rania?" Tanya Viona adik perempuan Varel.
__ADS_1
" Sayang, mereka semua keluarga aku. Mama,Papa, Kakek dan si cerewet ini adik aku." Ucap Varel memperkenalkan keluarganya.
Rania hanya bisa tersenyum ramah,menganggukkan kepalanya. Memandang satu persatu keluarga Varel.
" Rania, kamu nggak dipaksa kan sama Varel untuk jadi calon istrinya?"Tanya papa Agung
" Enggak kok Om,"
" Om kira kamu dipaksa, secara Varel kan casanova. Jadi pasti susah untuk mendapatkan wanita baik-baik," Ucap papa Agung meremehkan.
Varel mendelik mendengar perkataan papanya. " Kok papa ngomongnya gitu sih," Kesal Varel tak terima.
" Kan, memang benar kamu itu seorang casanova. Yang kamu tau hanya selan*kangan saja." Kakek Bram memojokkan Varel.
Varel hanya bisa mencebikkan bibirnya, karena memang benar apa yang papa dan kakeknya katakan.
" kak Rania belum di apa-apain kan sama kak Varel?" Tanya Viona heboh.
" Pa.. Kak Varel jahatin aku." adu Viona bergelayut manja pada papanya dengan wajah cemberut.
" Dasar anak manja,"cibir Varel.
" Rania kalau Varel ganggu kamu , kamu bilang aja sama mama ya. Kalau enggak, kamu pangkas aja burungnya Varel. Biar dia jera." Ucap mama Nita
Varel yang mendengar itu sontak menyentuh bagian pangkal pahanya. " Mama jahat banget sih!" Ujar Varel kesal
" Biarin, siapa suruh jadi anak suka celup sana celup sini. Perasaan dulu mama ngidamnya nggak aneh-aneh deh," Ucap mama Nita
" Udah ah ma," Ucap Varel merasa jengah dengan semua orang.
Varel berdiri sambil terus menggenggam tangan Rania. Hendak pergi dari ruang keluarga.
__ADS_1
" Eh, kamu mau kemana." Tanya kakek Bram
" Daripada aku ada disini dipojokkan terus, mending aku mojok sama Rania. Iya kan sayang," Ucap Varel mengedipkan sebelah matanya.
Rania melototkan matanya, tanpa sadar meremas tangan Varel.
Bugh.
Sebuah bantal mendarat mulus diwajah Varel." Dasar anak mesum, nggak menghargai orang tua yang ada disini." Omel mama Nita.
" Ayo sayang kita pergi dari sini!" Ucap Varel tak memperdulikan omelan mama Nita.
Ia menarik tangan Rania, tanpa menghiraukan Rania yang berjalan terseok-seok mengikuti langkahnya.
Sesampainya didepan mobil, Rania menghempaskan tangan Varel dengan kasar." Apa-apaan sih lo kak, main nyelonong pergi aja. Nggak enak tau sama orang-orang yang ada didalam." Ketus Rania
" Iya sorry, kayaknya tadi tuh waktunya nggak tepat." Ucap Varel santai.
" Lain kali gue nggak mau bantuin lo lagi kak, gue udah terlanjur malu sama keluarga lo." Kesal Rania
" Iya, iya. Ya udah yuk, gue antar pulang."
Mereka berdua memasuki mobil sport Varel, melajukan mobilnya menuju kediaman Rania. Tak sepatah kata pun yang terucap dari keduanya, terutama Rania. Ia lebih memilih memandang jalanan, karena masih kesal dengan kelakuan Varel.
Sedangkan Varel terus mencuri pandang dari Rania, samapi tak tersa mobil yang mereka kendarai sudah sampai di rumah Rania.
Brakk.
Rania menutup pintu dengan kasar, lalu pergi begitu saja tanpa memperdulikan Varel.
Varel hanya bisa menghela napas melihat kepergian Rania, dan melajukan mobilnya pergi dari rumah Rania
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...