Jodoh Pilihan Adikku

Jodoh Pilihan Adikku
bab 44


__ADS_3

Drett.. Dret..


Ponsel Dave berdering. " Halo, apa!" Pekik Dave saat mengangkat panggilan telponnya. " Ayo kita kerumah sakit sekarang!" Ajak Dave sembari mengangkat Darren untuk digendongnya.


" Memangnya ada apa?" Tanya Audi ikut panik.


" Nanti aku jelaskan. Sekarang ikut saja dulu!"


Mereka berjalan tergesa menuju parkiran. Dave menghidupkan mobilnya dan melajukannya. Untung jalanan tak terlalu ramai, jadi Dave bisa menyalip beberapa mobil didepannya.


Dave, Audi, Rania dan sikecil Darren yang ada digendongan sang Daddy, melangkah memasuki rumah sakit. Dave berjalan didepan dan diikuti oleh sang istri dan adik iparnya. Sampai akhirnya mereka berhenti tepat dihadapan beberapa orang.


" Siapa yang sakit?" Tanya Rania yang sejak tadi hanya diam dan mengikuti langkah kakak iparnya itu.


" Aku tanya sekali lagi, siapa yang sakit?!" Tanya Rania lagi dengan tangis yang sudah pecah. Karena ia tak mendapatkan jawaban dari siapapun. Rania menatap orang yang ada disana satu persatu. Mama, Papa, adik, kakek, Varun dan Feby mereka ada disana. Kecuali satu orang yaitu, kekasihnya. Semakin besar keyakinan Rania kalau yang ada didalam ruangan ugd adalah kekasihnya.


" Dek, Viona! Jawab kakak siapa yang ada didalam?!" Tanya Rania sembari mengguncang tubuh Viona.


" Hiks hiks, kak. Le-lebih baik kakak lihat sendiri kedalam." Sahut Viona sesegukan.


Rania beralih pada Mama Nita," Ma, sekarang Mama jawab jujur. Siapa yang ada didalam?"


Mama Nita tak menjawab, dia langsung memeluk tubuh Rania dengan bergetar, karena ia juga ikut menangis. Melihat Rania yang menangis, Mama Nita jadi prihatin melihatnya.


" Ma! Ng-nggak mungkin kak Varel kan Ma?" Lirih Rania dalam pelukan Mama Nita.


Rania terduduk dilantai. Kakinya terasa lemas, tak kuat menopang bobot tubuhnya. Mama Nita tak melepas pelukannya sama sekali. Bahkan ia semakin memeluk erat Rania. Calon menantu, yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri.


Audi yang menyaksikan adiknya pun ikut menangis. Ia ikut duduk dilantai dan memeluk Rania. Audi mengusap punggung sang adik agar merasa lebih tenang. " Kamu harus kuat dek, entah siapapun yang ada didalam kita masih belum tau. Tapi kamu harus tetap berfikir positif." Ujar Audi menguatkan Rania.


" Sayang, aku ajak Darren keluar ya." Ucap Dave diangguki oleh sang istri. Lalu ia melangkah pergi dari sana. Ia akan menjauhkan Darren dari Mommynya yang sedang menangis. Karena jika ia sampai melihat Mommynya menangis, ia juga akan ikutan menangis. Bahkan akan susah untuk ditenangkan.


Kakek Bram dan Papa Agung yang tak kuat menyaksikan adegan didepannya pun memilih untuk pergi, dan mengikuti Dave yang sedang mengasuh putranya.

__ADS_1


" Ran, kamu harus tetap berfikir positif dan kuatkan diri kamu." Ujar Feby mengelus kepala Rania. Ia tak bisa ikut memeluk Rania yang sedang duduk dilantai. Karena mengingat perutnya yang sudah membuncit dan masih sangat rentan jika terkena tekanan yang berlebih.


Rania masih terus menangis dalam dekapan Mama Nita dan kakaknya. Bahkan bibirnya terasa kelu untuk sekedar mengucapkan sepatah kata.


Mama Nita dan Audi terus menenangkan Rania, agar ia bisa berhenti menangis. " Dek, kamu masuk kedalam?" Tanya Audi hati-hati setelah tangis sang adik reda.


Rania menggeleng, " Nggak kak aku belum siap." Sahit Rania lirih sambil bersandar pada tembok.


" Kak minum dulu." Titah Viona menyerahkan sebotol air minum pada Rania. " Kak kakak makan juga ya, aku udah beliin kakak makanan." Imbuh Viona setelah Rania menegak air minumnya.


" Nggak dek, kakak nggak lapar."


" Tapi.. Kak Dave bilang kalau kakak tadi sebelum kesini nggak sempat buat makan malam." Ucap Viona membujuk. Dan lagi-lagi Rania menolak.


Viona menghela nafasnya, memang benar kata kakaknya. Kalau Rania merupakan wanita yang agak keras kepala." Ya udah, aku taruh disini aja ya makanannya. Nanti kalau kakak udah lapar, langsung dimakan aja ya. Aku mau nemuin Mama diluar dulu."


" Kak, kak Varel nggak apa-apa kan? Dia akan baik-baik aja kan? Dia nggak akan tinggalin aku sendiri kan?" Tanya Rania bertubi dengan lirih.


Audi kembali memeluk Rania." Pokoknya saran kakak, apapun yang terjadi nanti kamu harus kuat. " Sahut Audi. " Kamu makan dulu ya, kasihan tadi Viona kamu cuekin gitu aja." Audi mencoba mengalihkan pwmbicaraan.


" Keluar, nemenin tante Nita. Ya udah yuk, kamu makan dulu." Titah Audi sembari membuka bungkusan makanan untuk Rania.


Rania pun akhirnya mau menuruti ucapan kakaknya untuk makan. Ia makan dengan lahap, karena memang perutnya sudah lapar sejak tadi. Namun karena ia terlalu larut dengan kesedihannya, ia sampai melupakan rasa laparnya.


Audi bernafas lega melihat sang adik makan dengan lahapnya. Ia tak mau jika Rania sampai sakit karena telat makan dan terlalu larut dalam kesedihan.


" Darren mana kak?" Tanya Rania setelah menyelesaikan acara makan malamnya yang terlambat.


" Udah pulang sama Daddynya, kasihan dia kalau terus diajak berada disini."


" Apa dia nggak akan rewel jika nggak ada kakak didekatnya?" Tanya Rania mulai khawatir dengan keponakannya. Pasalnya ia sangat tau bagaimana Darren. Dia tak bisa jauh dari Mommynya, dan jika Audi tak ada didekatnya, dia kan terus mencari keberadaan Mommynya.


" Enggak kok, dia udah jadi anak yang pengertian sekarang."

__ADS_1


Rania celingak- celinguk menatap kearah samping seperti sedang mencari seseorang. " Yang lain pada kemana kak?"


" Varun dan Feby pulang, karena tidak baik jika ibu hamil bergadang. Dan yang lainnya sedang berada diluar untuk sekedar mencari angin." Jelas Audi.


Rania mengangguk paham, " Kok lama banget ya dokternya meriksa? Apa keadaannya serius ya?" Gumam Rania bertanya-tanya.


" Pemeriksaannya harus dilakukan dengan teliti jadi agak lama."


" Kak, aku nggak mau sampai terjadi apa-apa dengan kak Varel." Ujar Rania kembali dilanda kekhawatiran.


 Audi tak menimpali ucapan Rania, ia lebih memilih untuk memeluknya dan mengusap punggungnya.


Selang beberapa lama keluar seorang dokter, dari dalam ruangan. Rania yang melihat itu langsung bergegas menghampiri dokter tersebut. " Dok, bagaimana kedaan pasien?" Tanya Rania tergesa.


" Pasien baik-baik saja, dan tidak ada yang serius. Hanya saja... Lebih baik anda masuk saja untuk bisa langsung melihat keadaannya."


" Pokoknya pasien harus baik-baik saja. Jika terjadi sesuatu terhadapnya, saya akan tuntut anda dan anda akan dipecat dari profesi anda sebagai dokter!" Tegas Rania penuh ancaman.


" Dek, udah dek. Lebih baik kita langsung masuk saja untuk memastikannya." Lerai Audi. Dan mengisyaratkan dokter itu untuk pergi.


Rania menatap nanar pintu ugd tersebut." Aku takut kak." Lirihnya dengan terus menggenggam tangan Audi.


" Ayo kita masuk, kakak temenin kamu."


Perlahan Rania membuka pintu itu, dan saat pintu sudah terbuka dengan sepenuhnya, ia tak dapat menyembunyikan keterkejutannya dan..


Brugh..


Rania terduduk dilantai, kakainya kembali terasa lemas. Bahkan lebih lemas dari saat ia berada diluar ruangan tadi.


*


*

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2