
Hubungan Varel Dan Rania kini sudah semakin membaik. Varel juga sudah tau apa penyebab Rania menjauhinya, dan itu semua karena salah paham. Sebab Rania hanya menyaksikan setengah kejadiannya saja. Bahkan keduanya kini sudah resmi menjadi pasangan kekasih.
Walaupun Rania telah menjadi kekasihnya, tapi Varel tak mau merusak Rania. Biarpun dulunya dia adalah seorang casanova. Karena ia sadar begitu sulit mendapatkan hati seseorang yang benar-benar dicintainya. Varel sangat mencintai Rania, ia bahkan rela menunggu dua tahun lagi untuk dapat menikahinya. Mengingat Rania masih menjadi seorang mahasiswa.
Seperti saat ini, mereka tengah berkunjung kekediaman Dave dan Audi. Mereka membawa banyak hadiah untuk baby Darren. Sampai membuat Audi bingung mau menyimpannya dimana. Pasalnya bukan hanya untuk mainan bayi saja yang dibawa, melainkan mainan sampai usia empat tahun keatas.
" Lo borong semua toko mainannya?" Tanya Dave memperhatikan satu persatu barang yang tadi dibawa Varel.
"Iya, itung-itung hadiah buat baby Darren." Ucap Varel mencubit gemas pipi anak sahabatnya itu yang ada dalam gendongan Rania. " Iya kan sayang?" Imbuh Varel bertanya pada Rania.
" Iya, karena baby Darren semuanya jadi terungkap. Dan dugaan aku selama ini ternyata terbukti salah." Sahut Rania tersenyum sambil menimang keponakannya itu.
" Mengungkap apa?" Tanya Audi baru datang sambil membawa nampan berisi beberapa minuman dan kue.
" Ada deh, pokoknya lo nggak boleh kepo. Ini urusan gue sama Rania." Sahut Varel
" Lo jangan macem-macem ya Rel sama adek gue. Inget, Rania masih kuliah!" Tegas menunjuk wajah Varel dengan aura tak bersahabat.
" Iya, iya."
__ADS_1
" Aduh ni calon kakak ipar galak banget, lebih galak dari Rania nih kayaknya." Batin Varel
" Kak, ini kayaknya baby Darren haus deh." Ucap Rania menyerahkan baby Darren pada mommy nya.
Audi menimang baby Darren dan memberikannya asi disana, karena Dave dan Varel sudah pergi entah kemana. Dan kini hanya tinggal dirinya dan Rania.
" Dek, kamu pacarannya yang sehat ya sama Varel. Kamu lanjutin dulu kuliah kamu sampai selesai, setelah itu baru deh kamu bisa nikah sama Varel." Tutur Audi menasehati sang adik.
Rani merapatkan duduknya disebelah sang kakak, lalu digenggamnya tangan Audi. " Kakak tenang aja, aku nggak akan melewati batas pacaran kok kak. " Ucap Rania meyakinkan kakaknya.
*
*
" Eleh, kayak orang susah aja lo! Mansion segede ini masak nggak cukup buat nampung beberapa mainan. " Ucap Varel santai.
Ya, mereka berdua sedang menata mainan disebuah kamar tamu yang sudah dikosongkan. Dave bisa saja menyuruh para pelayan dirumahnya, tapi ia lebih memilih melakukannya sendiri. Dan membiarkan pelayan dirumahnya melakukan kegiatan mereka masing-masing.
" Apa lo bilang, beberapa!" Sengit Dave. " Semua mainan ini bisa memenuhin satu truk!" Ujar Dave menatap mainan yang hampir memenuhi satu ruangan. Dan belum lagi masih ada di ruang tengah.
__ADS_1
" Udah, udah. Nggak usah marah- marah, nanti lo cepet tua. Apalagi sekarang udah ada buntutnya. " Ujar Varel setengah meledek.
" Dasar ya lo-"
" Sstt, gak usah debat. Ayo kita kembali keruang tengah." Ucap Varel berjalan hendak meninggalkan Dave.
" Tunggu Rel, " Panggil Dave menghentikan langkah Varel.
" Kenapa?"
" Gue cuma mau bilang, lo jangan rusak Rania. Tahan has*rat lo, biarkan dulu Rania menikmati masa mudanya. Setidaknya sampai dia menyelesaikan kuliahnya." Tutur Dave.
" Gue cinta sama Rania, memang benar gue dulu adalah seorang casanova. Tapi gue nggak akan ngerusak perempuan yang gue cintai , sampai gue sama dia sah dimata hukum dan agama." Ujar Varel jujur.
Dave mendekat kearah Varel dan menepuk bahunya." Gue percaya sama lo." Ucap Dave.
*
*
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...