
Varel yang baru keluar dari kamar mandi merasa heran. Kenapa kafe semewah ini bisa mati lampu. Varel mengambil ponselnya disaku celana, lalau ia menghidupkan senter diponsel sebagai penerang. Ia terus melangkah maju hendak mencari orang-orang yang bekerja disana.
Brukk.
Varel tak sengaja menabrak seseorang, " Maaf saya tidak sengaja."
" Iya tidak apa, bukankah anda orang yang menyewa kafe ini?" Tanya pelayan kafe memastikan. Karena ia tak dapat melihat sengan jelas wajah Varel, ia hanya mengingat jas yang Varel gunakan.
" Iya benar,"
" Saya kira tadi anda berada didalam, karena saya sudah mengantar nona Rania tadi." Ucap sang pelayan.
" APA!" Pekik Varel.
Varel langsung berlari menuju tempat dimana Rania berada saat ini. Ia sangat yakin, Rania pasti sangat ketakutan. Sebab Varel tau jika Rania takut kegelapan. Ia masih ingat betul saat mengajak Rania mampir keapartemen miliknya. Rania tiba-tiba menangis saat ia mengerjai dengan mematikan lampu disana.
Brakk.
__ADS_1
Varel membuka kasar pintu tersebut, lalu ia menyenter seluruh ruangan dengan senter ponselnya. Lalu ia menangkap sesosok orang yang terduduk dilantai sambil memeluk kedua lututnya. Ia mendekatinya dan langsung memeluk Rania, tubuh Rania bergetar hebat karena menangis.
" Ran lo nggak pa-pa kan?" Tanya Varel menusap punggung Rania.
Rania yang merasa kenal dengan sang pemilik suara, mengangkat kepalanya. Dan langsung memeluk erat tubuh Varel. " Gu-gue takut." Sahut Rania tersendat.
Varel langsung mengangkat tubuh Rania, dan mengajaknya keluar. Ia tak memperdulikan sakit dikakinya karena menabrak benda yang tak dapat ia lihat. Yang ia khawatirkan saat ini hanyalah Rania.
Varel mendudukkan Rania di kursi penumpang samping. Varel semakin panik saat melihat wajah pucat Rania serta tubuhnya terasa panas. Dan sudah beberapa kali Varel membangunkannya, Rania masih tak terbangun.
Varel melajukan mobilnya menuju apartemen. Dan akan menelpon dokter saja. Kenapa Varel tak mengajak Rania kerumah sakit? Karena jika ia mengajak Rania kerumah sakit, Audi dan Dave pasti akan tahu jika Rania jadi seperti ini karena bertemu dengannya. Varel tak mau jika Dave ataupun Audi akan melarangnya bertemu dengan Rania. Sudah cukup Rania saja yang menjauhinya selama ini.
Ada rasa bersalah dihati Varel, jika saja ia tak mengajak Rania untuk bertemu. Mungkin sekarang Rania masih baik-baik saja. " Maaf Ran, lo harus cepet sembuh. Gue yakin lo itu wanita yang kuat." Lirih Varel menggenggam erat tangan Rania.
Akhirnya dokter yang ditunggu Varel tiba, ia langsung memeriksa keadaan Rania. " Istri anda tidak pa-pa tuan Varel, hanya demam biasa saja." Ucap dokter menjelaskan.
Ya, Varel mengatakan jika Rania adalah istrinya, yang baru ia nikahi satu minggu lalu. Jika ia mengatakan kalau Rania hanya teman saja, dokter itu tidak akan percaya karena mengingat siapa dirinya dulu. Dan Varel juga tak mau Jika suatu saat Rania bertemu dengan dokter itu dan sang dokter akan mengira Rania wanita murahan karena pernah diajak kepartemen oleh Varel. Dan Varel juga mengatakan kalau mereka hanya melangsungkan pernikahan sederhana
__ADS_1
" Baik terima kasih dok."
" Akan saya tunggu undangan resepsinya dari anda tuan." Ucap sang dokter sebelum pergi meninggalkan apartemen Varel.
Varel kembali masuk kedalam kamar, ditatapnya wajah Rania yang pucat. Lalu ia menyadari jika Rania perlahan membuka matanya. Varel mendekati Rania dan memeluknya.
" Ha-haus " Lirih Rania terbata.
Varel segera melepas pelukannya, lalu mengambilkan Rania minum. " Sekarang gimana keadaan lo Ran?" Tanya Varel sembari mengambil gelas kosong dari tangan Rania.
Rania menatap bingung pada Varel. Seolah bertanya, memangnya apa yang terjadi padanya? Lalu Rania teringat akan kejadian beberapa jam lalu. Dimana ia sedang menemui Varel dan setelah sampai ia tak menemukan Varel. Tapi malah seluruh lampu ditempat itu mati.
Rania langsung memeluk erat Varel, " Lo jahat kak!" Ucap Rania memukul punggung Varel. Tanpa melepas pelukannya.
Varel hanya diam dan membiarkan Rania melakukan sesuatu semaunya. Hatinya juga sakit melihat wanita yang ia cintai terlihat tak berdaya tadi.
*
__ADS_1
*
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...