
Rania memasuki lobby rumah sakit dengan perasaan senang. Ia terus tersenyum disepanjang jalannya. Tak terasa keponakan yang ia nantikan selama ini akhirnya terlahir. Rania menenteng beberapa paper bag berisi buah dan kue sebagai buah tangan untuk sang kakak.
Rania berhenti tepat diruangan sang kakak, ia membuka pintunya. Seketika senyuman diwajah Rania memudar, ketika netranya menangkap sosok orang yang ia hindari selama ini. Bersusah payah Rania selalu menghindarinya, namun sekarang mereka tak sengaja dipertemukan.
Ia berusaha untuk tetap tenang didepan kakaknya. Karena sang kakak tak tau apa yang terjadi antara ia dan Varel. Rania melangkah masuk mendekati ranjang Audi.
" Selamat ya kak," Ucap Rania memeluk Audi.
" Makasih dek."
" Uluh- uluh, gantengnya ponakan aunty." Gemas Rania menoel hidung keponakannya.
" Iya dong aunty, siapa dulu daddynya." Ujar Dave menepuk dadanya bangga.
Rania dan Audi saling pandang mendengar penuturan Dave. " Sejak kapan ya, kak Dave jadi narsis kayak gini?" Tanya Rania heran.
" Sejak dia tau kalau baby D sangat mirip dengannya." Sahut Audi sewot
Sudah cukup tadi Feby mengatakan kalau putranya lebih mirip sang suami. Dan ia tak mau jika sang adik juga ikut -ikutan mengatakan hal yang sama.
" Boleh aku gendong kak?" Tanya Rania mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
" Boleh dong,"
Rania menggendong baby D, dan sesekali menciumnya. Sampai membuat baby D menggeliat di dalam dekapannya.
" Siapa nama baby D kak?" Tanya Rania sambil terus memperhatikan baby D yang ada dalam dekapannya.
" Darren Putra Mahendra."
" Nama yang bagus untuk baby setampan dia." Varel buka suara, setelah sejak tadi ia diam. Berharap Rania akan menyapanya setelah sekian lama mereka tak bertemu. Bukan, lebih tepatnya Rania yang menghindari Varel. Tanpa ia tau kenapa Rania sampai menjauhinya.
Varel melangkah mendekati Rania yang sedang menggendong baby Darren. " Halo baby Darren," Ucap Varel mencubit pelan pipi baby Darren. Dan sesekali ia melirik Rania, gadis yang mampu membuatnya pusing tujuh keliling dengan sikapnya.
Rania berusaha tetap bersikap biasa saja, seolah tak terjadi apa-apa." Halo juga uncle, " Ujar Rania menirukan suara anak kecil.
Sudah cukup bagi Varel menunjukkan sisi sabarnya pada Rania. Dari nomornya di block, saat dicari kerumah atau kekampus selalu menghindar bahkan pernah tanpa sengaja mereka berpapasan di mall. Varel menyapanya ramah, tapi Rania malah mengatakan tidak mengenal Varel pada teman prianya waktu itu.
Dan kini kesabarannya sudah habis, ia akan menggunakan caranya yang lain untuk bisa berbicara pada Rania.
*
*
__ADS_1
Rania menatap beberapa gaun yang ia keluarkan dari dalam lemari. Ia akan datang menemui Varel, karena tak biasanya Varel mengancam Rania. Sampai Rania berfikir kalau ia sudah sangat kelewatan pada Varel. Tapi semua itu wajar ia lakukan karena mengingat Varel telah membohonginya dan tak pernah benar berubah.
Rania mengendarai mobilnya menuju tempat yang Varel katakan tadi sore. Setelah sampai, Rania memakirkan mobilnya di parkiran. Lalu ia berjalan masuk, Rania celingak - celinguk menatap sekitar. Karena suasana kafe sangat sepi, apa ia terlambat datang? Ataukah ia salah alamat? Batin Rania bertanya -tanya.
" Apa anda nona Rania?" Tanya seorang pelayan yang tiba-tiba saja menghampiri Rania.
" Iya saya."
" Anda sudah ditunggu, mari saya antar." Ucap pelayan itu, lalu berjalan mendahului Rania.
Rania teruselangkah mengikuti sang pelayan, hingga langkahnya terhenti disebuah ruangan khusus uang sudah disulap sedemikian rupa menjadi sebuah ruangan untuk dinner romantis.
" Lalu dimana orang-"
Ucapan Rania terhenti, saat ia hendak bertanya pada sang pelayan tapi ia sudah tidak ada disebelah Rania. Ia mulai merasa merinding dengan semuanya, dari keadaan kafe yang sepi sampai ia diantar oleh seorang pelayan yang tiba-tiba datang dan tiba-tiba hilang.
Secara mendadak lampu diruangan itu mati, tempat itu menjadi gelap gulita. Rania yang memang tidak berani akan kegelapan mulai panik. Ia mencoba meraba sekitar, namun nihil. Ia tak menemukan sesuatu yang dapat ia sentuh. Rania semakin takut bahkan sampai menangis. Saking ketakutannya, Rania bahkan sampai tak bisa mengeluarkan suara, ia hanya bisa berjongkok dan memeluk kedua lututnya sambil terus menangis tanpa suara.
*
*
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...