
" Mira! jangan berlari!" Teriak Amara sembari terus mengejar suadara kembarnya.
" Ayo kejar aku kalau bisa Mara wlek." Ejek Amira melihat Amara yang jauh tertinggal dibelakannya. Ia berhenti sejenak untuk menunggu Amara. Dibawah pohon yang bergoyang karena kerasnya angin, Amira berdiri menunggu Amara.
"AMIRA AWAS!" Teriak Amara mengencangkan larinya.
Brukk.
" MARA!" Pekik Amira melihat saudara kembarnya tertimpa kayu dan pingsan.
Ya, saat Amara berlari menuju tempat Amira, tiba-tiba ia melihat dahan kayu yang hendak patah dan terjatuh tepat diatas Amira. Ia semakin mengencangkan larinya dan tinggal sedikit saja kagu itu hendak menimpa Amira, namu Amara sudah lebih dulu mendorong tubuh Amira. Dan akhirnya ia yang tertimpa karena belum sempat menghindar.
" Mara bangun!" Histeris Amira mencoba menganggkat dahan kayu yang menimpa tubuh Amara.
Didapur, Rania yang sedang membuat air panas tak sengaja menumpahkan air itu dan mengenai punggung kakinya. " Sshh," Desis Rania merasakan panas dikakinya.
Rania berusaha melangkah dan mencari kotak p3k. Untuk mencari salep untuk mengobati kakinya. Disaat ia tengah mengobati kakinya, tiba-tiba salah satu karyawan villa datang.
" Bu Rania! Amara tertimpa kayu!" Ujar wanita tersebut dengan panik.
" Apa! Bagaimana bisa?"
" Saya tidak tau bu, sebaiknya kita lihat langsung."
Rania dan karyawan villa tersebut langsung berlari menuju taman dibelakang villa. Rania tak menghiraukan rasa sakit dikakinya. Karena perasaannya kini tak karuan tengah memikirkan bagaimana keadaannya.
__ADS_1
" AMARA!" Teriak Rania melihat anaknya yang tergeletak diatas rerumputan dengan bersimbah darah. Disana sudah ada beberapa orang yang telah berhasil mengengangkat kayu dari tubuh Amara. Ia berlari mendekat, dan langsung mendekap tubuh anaknya.
Rania mengangkat tubuh anaknya, " Mira kamu tunggu disini dulu ya sama aunty Dewi." Ujarnya sebelum pergi pada Amira.
Amira tak menjawab dia terus menangis dan hanya menganggukkan kepalanya saja. Sampai Dewi datang dan memeluknya. " Se- selamatkan Mara mom." Lirih Amira sesegukan sebelum mommy benar-benar pergi.
Rania masuk kedalam mobil dikursi penumpang belakang. Ia duduk sambil memangku Mara. " Bertahanlah sayang, mommy akan membawamu kerumah sakit." Lirih Rania dengan perasaan sesak.
Baru beberapa menit yang lalu Amara minta dibuatkan susu. Dan Rania pergi kedapur untuk membuatkannya susu. Belum juga susunya jadi, ia sudah lebih dulu dikejutkan dengan kondisi Amara.
" Dokter, suster! Tolong anak saya!" Teriak Rania saat memasuki rumah sakit.
Beberapa suster pun menghampiri Rania, dan membawa Amara keruang ugd. Setelah melihat anaknya dibawa masuk, Rania tak henti-hentinya merapalkan doa agar Amara selamat.
Tak berselang lama, seorang dokter pun keluar. " Bagaimana kedaan anakku dok? Dia baik-baik saja kan? Tidak ada yang parah kan dok?" Tanya Rania merembet.
" Begini bu Rania, saat kejadian tadi Amara banyak mengeluarkan darah. Dan sekarang dia membutuhkan donor darah, namun stok darah yang sama dengan Amara saat ini tengah kosong." Jelas dokter.
Bagai tersambar petir, Rania terduduk lemas di kursi penunggu. Tatapannya kosong, " Apa yang harus aku lakukan. Golongan darahku dan Amara berbeda." Gumam Rania dan masih dapat didengar oleh dokter.
" Jika golongan darah ibu tak sama, mungkin ibu bisa minta tolong pada keluarga ibu yang lain. Atau pada suami ibu, ayah biologisnya Amara." Ucap dokter itu memberi saran.
" Jika dikeluargaku, tidak ada yang memiliki golongan darah sama dengan Amara. Dan jika aku memberitahu Varel, aku masih belum siap untuk bertemu dengannya. Dan dia juga tak tau tentang keberadaan sikembar." Batin Rania bimbang.
Ya, Rania dan Varel tak jadi menikah waktu itu. Karena orang dari masa lalu Varel datang dan mengaku hamil anak Varel. Dan dia meminta pertanggung jawaban Varel. Dan Varel pun tak mengelak waktu itu, karena memang benar jika ia pernah menyentuh wanita itu walau dalam keadaan tak sadar saat berada di Austrlia.
__ADS_1
Rania sangat syok saat itu, namu ia lebih memilih untuk mundur. Dan membiarkan Varel menikah dengan wanita tersebut. Tanpa memikirkan apa yang terjadi padanya setelah itu, karena ia sempat melakukannya dengan Varel saat satu minggu sebelum pernikannya digelar.
" Apa yang harus aku lakukan Tuhan. Hiks hiks." Lirih Rania dan sudah tak kuasa menahan tangisnya.
Rania mengambil ponselnya disaku celana, dan melihat ada beberapa panggilan yang sengaja ia abaikan dari nomor asing. Panggilan itu dilakukan beberapa minggu terakhir ini. Tanpa banyak pertimbangan lagi, Rania menekan tombol panggil di ponselnya. Dan tak perlu menunggu lama, panggilan pun tersambung.
" Halo Ran, akhirnya kamu mau telpon balik aku. Apa kabar Ran? Maafkan aku." Ucap Varel disebrang telpon.
" To-tolong aku kak. Datanglah kealamat yang aku kirim. Sekarang kak, jangan sampai kakak terlambat. Dan membuat putri kita tak tertolong." Ucap Rania lalu menutup sambungan telponnya. Ia sengaja mengatakan putri kita, agar Varel tak berfikir lama dan segera datang.
*
*
Dikantor Varel terlihat panik, karena ia mendengar Rania menangis saat menelpon tadi. Ia masih sangat mencintai Rania, tapi ia juga harus bertanggung jawab. Namun pertanggung jawabannya, disalah gunakan. Ternyata ia ditipu oleh wanita itu, saat anak itu lahir terlihat jelas perbedaan antara Varel dan anak itu. Varel memiliki rambut berwarna hitam legam, sedangkan anak itu berrambut pirang. Dan saat melakukan tes DNA, hasilnya juga mengatakan kalau anak itu bukan anaknya.
Varel langsung menceraikan wanita itu, dan kembali kenegara ini untuk bertemu dengan Rania. Namun saat ia menemui Rania dirumahnya, dia tak lagi tinggal disana. Dan saat ia datang kekediaman Audi dan Dave. Hasilnya pun sama, mereka tak mau memberitahu dimana keberadaan Rania.
Sampai akhirnya dengan susah payah, Varel bisa menemukan nomor telpon Rania. Dan ia langsung menghubungi Rania, namun tak mendapat jawaban dari Rania. Tapi ia tak menyerah, setiap harinya Varel akan menelpon tiga sampai empat kali walau tak mendapat jawaban dari Rania.
Tapi hari ini, saat ia tengah memeriksa pekerjaannya, tiba-tiba ponselnya berdering. Dan memeperlihatkan nomor Rania disana, Varel sangat senang karena akhirnya ia mendapat respon dari Rania.
Namun rasa senangnya tak berlangsung lama, saat Rania mengatakan ia minta tolong pada Varel untuk menyelamatkan putrinya sambil menangis.
Dan saat ini Varel sedang berada didalam mobil menuju alamat rumah sakit yang dikirim Rania. " Lambat sekali kau membawa mobil. Seperti siput!" Kesal Varel pada sopir pribadinya. Ia ingin cepat sampai, untuk memastikan apa yang terjadi pada Rania. Dan apa maksudnya Rania mengatakan kata "Putri kita."
__ADS_1