
Kebahagiaan keluarga Dave setiap harinya terus bertambah. Ada saja tingkah lucu dan menggemaskan Darren. Apalagi kini ia sudah lancar berjalan. Ia akan kesana-kemari membuat Audi kewalahan mengurusnya. " Darren, udah dong sayang. Mommy capek ngejarnya." Pinta Audi, sudah sejak tadi ia mengejar sang putra
Mom, Mom. Hahaha..
Celoteh Darren, semakin mempercepat larinya. Ya begitulah Darren. Jika dia disuruh berhenti atau dilarang melakukan sesuatu, bukannya menurut dia akan semakin menjadi.
" Kalau kayak gini terus, lama-lama Mommy bisa kurus Derren." Batin Audi
Dug..
Darren terjatuh, karena kakinya tersandung mainannya. " Mom, tit tit. Huu huu.." Adu Derren sambil menangis, dan menunjuk lututnya yang memerah.
Audi yang melihat sang putra terjatuh, langsung berlari kearah sang putra. Ia mengusap lutut Darren lalu menggendongnya. " Cup, cup sayang." Ujar Audi menenangkan Darren. "Makanya kalau Mommy bilangin itu didengar jangan bandel." Imbuhnya mengomel.
Audi langsung menyuruh pelayan untuk mengambilkan salep pereda nyeri. Dan ia mengoleskannya di lutut Darren yang memerah. " Nah, udah Mommy obatin. Pasti nanti akan cepat sembuh."
" Ada apa ini?"
" Ty, tit tit. Huhuhu.." Adu Darren pada Rania sambil menunjuk lututnya yang berisi salep dengan menangis.
" Ya ampun kasihan banget gantengnya aunty, sini biar aunty tiup ya, biar cepet sembuh." Rania berjongkok didepan Darren dan meniup-niup lututnya.
" Kamu habis dari mana dek? Rapi banget pakaiannya." Tanya Audi menelisik penampilan sang adik.
" Ada deh!"
" Ck, Dasar!" Audi berdecak kesal.
" Kok bisa jatuh sih kak?" Tanya Rania sambil menggendong Darren.
" Biasa, kalau nggak bisa dibilangin ya gitu jadinya." Sahut Audi santai.
" Ohh, jadi Darren nakal ya. Udah ah, aunty nggak mau sama Darren yang nakal ini." Ucap Rania pura-pura merajuk dan menurunkan Darren dari pangkuannya.
__ADS_1
" No.. Alen dak akan ty, Alen aik." Darren membujuk Rania dengan memeluk lehernya.
" Kalau Darren nggak nakal dan baik. Kok bisa jatuh?" Ujar Rania masih pura-pura merajuk.
" Ati Alen lali lus tatuh."
" Cuma lari trus jatuh?" Tanya Rania memastikan. Karena ia belum faham betul apa yang dikatakan Darren dengan bahasanya itu.
" Na, ty." Sahut Darren menganggukkan kepalanya. " Ty tatik deh." Rayu Darren sembari mencium pipi Rania.
Rania tersentak dengan kelakuan ponakan kecilnya itu." Wow, Darren udah bisa ngerayu ya sekarang. Bahkan udah tau yang cantik."
" Iya, dia udah tau yang cantik sekarang. Bahkan dua hari yang lalu saat kakak dan kak Dave ngajak di jalan-jalan ketaman, dia caper banget sama gadis-gadis remaja disana." Ucap Audi mengingat kejadian dua hari yang lalu ditaman. Dimana Darren pura-pura jatuh dan menangis didepan para gadis remaja yang sedang berkumpul. Dan alhasil ia jadi rebutan para gadis yang ingin menolongnya. Tapi bukannya merasa risih, Darren malah sangat senang jadi bahan tebutan.
Audi dan Dave sungguh tak faham saat itu dengan tingkah putranya. Entah siapa yang mengajarkannya seperti itu, mereka sungguh dibuat bingung oleh Darren.
Setelah acara rayu merayu Rania, kini sicaper Darren tengah berkelana dialam mimpinya. Bahkan saat tidurpun ia masih caper dengan senyum-senyum.
" Dia emang selalu bikin gemesh." Audi menimpali ucapan sang adik. " Duduk disana yuk!" Ajaknya sambil menunjuk sofa dipojok kamarnya.
" Kakak nggak ada niatan buat cari baby sister?" Tanya Rania.
" Nggak, kakak mau urus Darren sendiri. Kakak masih sanggup kok." Sahut Audi yakin. " Kapan Varel pulang dari Australia?" Sambung Audi bertanya.
Bukannya menjawab pertanyaan sang kakak, Rania malah senyum-senyum sendiri.
" Bukannya jawab, malah senyum-senyum."
" Tadi kan kakak nanya kenapa aku berpakaian rapi, karena hari ini kepulangan Varel dari Australia." Ujar Rania senang.
" Pasti kangennya udah menumpuk ya?" Tanya Audi. " Makanya kalau orangnya lagi dekat jangan dikit-dikit ngambek, terus Varelnya dicuekin. Giliran udah jauh aja, malah sampai nangis-nangis bilang kangen." Tutur Audi mengejek Rania.
" Kakak tau dari mana?"
__ADS_1
" Entah kakak tau darimana itu nggak penting, tapi kakak tau semuanya. Dari kamu nangis-nangis saat nelpon Varel, terus tidurnya sambil meluk foto Varel dan yang lebih parahnya lagi, kamu sarapan sambil nangis. Kayak si Varel lagi pelatihan militer aja kamu tangisin kayak gitu." Tutur Audi.
" Ya kan, biasanya dia setiap hari ada buat aku. Biar aku usir sekalipun dia tetap sama pendiriannya. Dan untuk soal sarapan, biasanya dia setiap pagi datang kerumah. Dan kita sarapan bareng, setelah nggak ada dia rasanya nggak enak sarapan sendiri. Kemana-mana sendiri, biasanya setiap beberapa jam dia nelpon nanya ngapain, sama siapa dan udah makan atau belum. tapi msekarang semenjak dia pergi ke Australia, dia jarang banget ngasih aku kabar. Bahkan selalu aku yang ngabarin dia duluan." Tutur Rania sendu mengingat dua bulan ini ditinggal oleh sang kekasih.
Ia sekarang sangat menyesal, dulu saat Varel ada didekatnya, Rania selalu bicara ketus, semaunya sendiri. Dan Varel tak pernah sekalipun marah dengannya. Dia hanya akan selalu mengatakan aku mencintai kamu apa adanya Rania. Aku terima semua kekurangan dan kelebihan kamu. Kata-kata yang sering ia dengar dari bibir Varel hingga membuatnya bosan. Tapi kini ia sangat ingin mendengar kata-kata itu setiap hari, setiap jam, bahkan setiap menit.
Rania jadi sedih setiap mengingat saat-saat kebersamaannya dulu bersama Varel. Hingga tanpa ia sadari air matanya sudah jatuh menetes.
Prutt...
Suara aneh itu menyadarkan Rania dan Audi. Lalu keduanya melirik ke box bayi yang terlihat bergoyang. Dan akhirnya mereka berdua tertawa. " Ya ampun Darren, orang lagi melow kamu malah kentutin!" Geram Rania sambil mengikuti Audi yang mendekat ke box bayi.
" Mom." Panggil Darren dengan merentangkan kedua tangannya minta digendong. Dan Audi menuruti keinginan sang putra. Ketiganya keluar dari kamar dan memilih duduk di karpet bulu. Sambil menemani Darren bermain.
Hari sudah semakin gelap, bahkan sudah bulan sudah menampakkan dirinya. Namun Rania tak kunjung mendapatkan kabar kapan pesawat yang ditumpangi sang kekasih akan landing.
" Memangnya kamu nggak tau kapan pesawat yang ditumpangi Varel take off?" Tanya Dave.
" Nggak kak, kalau aku tau, aku bisa hitung sendiri berapa jam lamanya. Kemarin kak Varel cuma bilang, besok sore pasti pesawatnya akan landing disini. Dan dia juga bilang kalau akan ngabarin setelah udah landing." Jawab Rania dengan perasaan resah.
" Ya udah, kita tunggu aja dulu kabarnya. Sambil kita nunggu, gimana kalau kita makan malam diluar aja." Usul Audi.
" Ide yang bagus, ayo!" Dave menyetujui usul sang istri.
Mereka berempat memilih restauran western, dan keempatnya memilih tempat yang ada dipojok. Dan mereka memesan makannan sesuai dengan selera masing-masing.
Tanpa mereka sadari, sejak baru mereka datang, ada sepasang mata yang terus mengawasi keempatnya. Dari pancaran mata tersebut ada rasa tak suka dan benci yang terpancar. " Dulu kamu bisa menyingkirkan aku, tapi kali ini aku akan buat kamu sendiri yang datang padaku dan memohon-mohon." Geram orang tersebut, tanpa mengalihkan tatapannya dari mereka berempat.
*
*
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1