Jodoh Pilihan Adikku

Jodoh Pilihan Adikku
bab 40


__ADS_3

Setelah surprise yang diberikan oleh Feby dan Varun. Kini Audi tengah membantu sahabatnya itu untuk memilih- milih gaun yang akan ia kenakan nanti. Pernikahan mereka akan segera dilaksanakan, mengingat Feby yang sudah mengandung.


" Lo sukanya yang mana Feb? " Tanya Audi memperlihatkan beberapa sketsa yang dikirim oleh Desainer butik.


" Gue mau lo aja yang pilihin," Sahut Feby masih asyik dengan cemilannya. Entah kenapa sejak beberapa hari ini nafsu makan Feby jadi bertambah ,bahkan berat badannya sudah naik dua kilo. Mungkin karena efek sedang mengandung fikirnya.


" Nih, udah gue pilihin, " Ucap Audi memperlihatkan sketsa gaun pilihannya.


" Bagus, pilihan lo memang selalu bagus." Puji Feby memperhatikan sketsa gaun yang dipilih Audi.


" Siang semuanya!" Ucap Rania baru datang dan langsung duduk disebelah Feby. " Selamat ya kak, selama ini akau kira kak Feby nggak punya pacar. Eh, tau-taunya sekali ngenalin malah langsung nikah. Plus bonus lagi," Imbuhnya menunjuk perut Feby dengan ekor matanya.


" Iya, makasih ya Ran."


" Berarti kalian calon ipar dong sekarang!" Ucap Audi menatap Feby dan Rania secara bergantian.


Hahahaha....


Ketiganya tertawa bersamaan, Feby memang menganggap Rania seperti adiknya sendiri. Dan begitipun sebaliknya Rania, ia sudah menganggap Feby seperti kakaknya. Namun siapa sangka, sekarang mereka akan benar benar- benar akan jadi kakak dan adik walaupun sebagai ipar nanti.


" Memangnya sejak kapan sih, kalian menjalin hubungan?" Tanya Audi kepo.


" Bulan ini kita resmi lima bulan pacaran." Sahut Feby santai.


" Wow! Gercep banget si Varun." Ucap Audi tak menyangka.


" Iya harus gercep, kalau nggak mau ditikung lagi." Varel ikut dalam pembicaraan. Ia baru datang bersama Dave dan Varun. Setelah mereka bersama mengajari baby Darren renang.

__ADS_1


" Nggak usah bawa -bawa yang dulu deh!" Ucap Varun sewot sembari duduk di samping calon istrinya.


" Lah, kan emang bener lo sering kena tikung." Dave mengejek Varun sambil memberikan baby Darren pada Audi.


" Iya gue tau, tapi ya nggak usah diomongin juga kali! Lagi pula sekarang gue nggak akan kena tikung lagi." Ujar Varun menatap intens Feby.


Ekhem.


Dave berdehem, " Ingat. Sekarang lo nggak cuma lagi berdua sama Feby. Jangan sampai bablas, kasihan Rania sama baby Darren masih kecil." Ucap Dave mengingatkan.


" Kak, aku bukan anak kecil lagi!" Ujar Rania tak terima.


" Kamu masih sekolah kan?" Tanya Dave dan langsung diangguki Rania. " Kalau kamu masih sekolah, berarti kamu masih kecil." Ucap Dave memperjelas.


" Aku emang masih sekolah, tapi umurku udah dua puluh tahun!" Sengit Rania masih tak terima dibilang anak kecil.


*


*


Setelah berkunjung kekediaman Dave, kini Varel mengajak Rania untuk lunch bersama. Varel memakirkan mobilnya disebuah restaurant western. Mereka berdua masuk sambil bergandengan tangan.


" Kak, gue ketoilet dulu ya. Makanannya samain aja sama punya lo." Ucap Rania lalu pergi meninggalkan Varel sendiri.


Setelah kepergian Rania, Varel dikejutkan dengan seseorang yang tiba-tiba saja langsung memeluknya dari belakang. "Aku kangen sama kamu Rel, udah lama kita udah nggak saling menghangatkan." Ucap Caca dengan nada menggoda.


" Lepas!" Bentak Varel, namun sama sekali tak dihiraukan Caca. " Lepasin Ca! Dan lo harus ingat, gue bukan Varel yang dulu lagi." Tegas Varel berhasil melepas pelukan Caca.

__ADS_1


" Aku nggak perduli, kamu berubah atau nggak. Tapi yang jelas aku cinta sama kamu." Ujar Caca hendak menyentuh tangan Varel. Namun tiba-tiba ada seseorang yang menghempaskan tangannya.


" Jangan menyentuh sesuatu yang bukan milik kamu!" Tegas Rania setelah berhasil menghempaskan tangan Caca dengan kasar. " Sebaiknya kamu pergi dari sini, apa tidak malu diperhatikan para pengunjung disini. Diperhatikan telah menggoda kekasih orang." Ujar Rania menekankan kata kelasih orang , sembari menatap sekeliling. Dimana mereka bertiga sekarang jadi tontonan semua orang disana.


Caca mengikuti pandangan Rania, dan memang benar saat ini dia sedang diperhatikan para pengunjung resto. Bahkan ia dapat dengan jelas mengdengar orang mengatakan kalau dia adalah seorang pelakor." Awas ya kamu, akan aku buat perhitungan." Ancam Caca menunjuk wajah Rania dan segera berlalu pergi dari sana.


Rania tersenyum penuh kemenangan, sebenarnya ia tadi tak jadi ketoilet karena penuh. Tapi saat ia hendak kembali menemui Varel, ia malah melihat pemandangan yang membuat hatinya panas. Tapi ia tak langsung mengambil kesimpulan seperti dulu, ia terus memperhatikan keduanya. Rania ingin tau bagaimana Varel akan menghadapi Caca. Dan hati Rania terasa lega saat Varel tak tergoda oleh Caca.


" Kenapa diam aja lo kak?" Tanya Rania yang melihat Varel hanya terdiam setelah kepergian Caca.


" Nggak pa-pa, gue cuma fikir tadi lo akan salah paham. Dan akan ngejauhin gue lagi," Sahut Varel jujur. Ia sangat takut jika Rania akan pergi lagi darinya. Sudah cukup saat itu saja Rania menjauhinya.


Rania menggenggam tangan Varel, " Gue nggak akan ngelakuin kesalah yang sama kak. Dulu gue nggak lihat kejadiannya sampai akhir. Hanya setengah kejadiannya saja, dan langsung ngambil kesimpulan. Dulu gue sangat tersiksa dengan kebodohan gue sendiri. Dan kali ini nggak akan lagi." Tutur Rania menyesali kebodohannya dulu.


" Makasih ya Ran, lo udah mau nerima gue yang nggak sempurna ini. Dan gue mohon sama lo, jangan pergi jika suatu saat nanti ada masa lalu gue yang datang kayak Caca tadi." Ucap Varel serius.


" Iya, gue nggak akan pergi jika bukan lo sendiri yang nyuruh gue pergi."


Varel sangat menyesali perbuatannya dulu, sering mempermainkan wanita, bahkan merusaknya. Dan kali ini ia takut, takut jika tiba-tiba masa lalunya datang dan akan memisahkannya dengan Rania. Rasa ingin tahunya dulu berubah jadi kenakalan remaja, hingga membuatnya menjadi seorang casanova. Walaupun Rania sudah mengatakan kalau ia tidak akan pergi dari Varel, tapi masih ada rasa takut yang menyelimuti hatinya.


*


*


*


Selamat Membaca Semua....

__ADS_1


__ADS_2