Jodoh Pilihan Adikku

Jodoh Pilihan Adikku
bab 38


__ADS_3

Tak terasa usia baby Darren kini sudah menginjak sembilan bulan. Dan baby Darren sudah mulai belajar berdiri sendiri dan melangkah. Begitu banyak tingkah lucunya, yang selalu bisa membuat orang lain tertawa. Seperti saat ini, keluarga kecil Audi dan Dave tengah piknik di taman belakan rumahnya. Dan jangan lupakan pasangan Varel dan Rania, mereka selalu datang berkunjung kekediaman Mahendra. Karena mereka selalu rindu dengan tingkah lucu baby Darren.


" Yah," Seru semua orang. Saat melihat baby Darren baru dua langkah ia berjalan sudah kembali duduk.


Aakkhh, hik.. hik..


Baby Darren tertawa senang sambil bertepuk tangan. Ia mengira semua orang sedang memberikannya dukungan. Tidak taunya saja kalau mereka sedang kecewa. Karena berharap baby Daren bisa melangkah lebih banyak.


" Sudah, entar dilanjut lagi. Ayo sini sayang, kita makan buah dulu." Ucap Audi memanggil putranya dengan mengkode tangan.


Baby Darren mengerti dengan kode yang diberikan Mommynya. Ia langsung merangkak mendekat ke Audi.


" Aduh.. capek banget ya, sayangnya aunty." Ucap Rania mengelap keringat baby Darren dengan tisu.


" Det, det. " Ucap baby Darren memanggil Dave merentangkan tangan minta dipangku.


Dave paham dengan keinginan putranya, ia langsung memangku putra kebanggaannya. " Anak Daddy udah makin pinter ya.." Ucap Dave mencium pipi gembul baby Darren.


" Arr belajar dong bilang Mom, " Ujar Audi lesu menatap putranya. Karena sejak pertama kali putranya belajar bicara hanya bisa memanggil Daddynya.


Hahahaha...


Varel tertawa melihat Audi yang cemburu pada Dave. " Kayaknya lo harus bikin anak lagi deh, tapi harus yang mirip lo dan bisa panggil mom untuk pertama kalinya." Ucap Varel meledek dengan terus mentertawakan Audi.


Bugh.


Sebuah apel mendarat mulus di jidat Varel. Dan seketika Varel menghentikan tawanya, melihat kekesalan diwajah Audi.

__ADS_1


" Ketawa aja terus! Mau, gue lempar pakai apel lagi?!" Ketus Audi mengangkat sebuah apel seperti hendak melempar pada Varel.


" Sayang tolong," Ucap Varel menyembunyikan wajahnya di leher Rania. " Aw, aw." Ucapnya lagi saat merasakan telinganya ditarik paksa oleh Audi.


" Dasar modus!"


" Iya maaf Cakapar," Ujar Varel lesu sambil terus mengusap-usap twlinganya yang terasa panas.


" Cakapar?" Beo Rania menautkan alisnya.


" Iya, calon kakak ipar. Disingkat jadi cakapar killer."


" APA?!" Teriak Audi melototkan matanya.


" Sayang, Arr mau disuapin buahnya sama kamu." Ucap Dave mengalihkan emosi Audi. Semenjak Audi melahirkan, dia jadi sering menunjukkan taringnya.


" Ayo sini sayang, mau disuapin buah sama Mom ya." Ucap Audi langsung melupakan kekesalannya pada Varel dan beralih mendekati putranya.


Baby Darren merespon apa yang dilakukan Varel dengan tertawa senang dan tepuk tangan. Audi mengikuti tatapan putranya dan berhenti pada Varel yang tengah memberikan dua je.pol pada putranya. Ia langsung memberikan tatapan tajam pada Varel. Dan membuat Varel salah tingkah.


Rania dan Dave saling tatap dan menggeleng bersamaan melihat peperangan antara Audi dan Varel.


*


*


Malam harinya seorang ayah tengah merengek pada anaknya untuk segera tidur. " Arr kamu tidur dong sayang, udah segitu aja nyusunya." Rengek Dave

__ADS_1


Pasalnya sudah satu jam lamanya baby Darren menyusu pada Mommy nya. Dan ini juga sudah lewat dari jam biasanya baby Darren tidur. Entah putranya mengerjainya atau apa, karena saat ini bertepatan dengan tamu bulanan Audi yang sudah usai.


" Arr, bobok ya sayangnya Daddy. kasihan tuh Mommy, pasti capek." Ujar Dave


" Mommy yang capek, atau Daddy yang capek nunggu Arr tidur." Cibir Audi.


Mm.. Mm..


Baby Darren bersuara tanpa melepas put*ng sang Mommy.


" Sebaiknya kamu tidur duluan By, besok pagi kan kamu ada meeting. Dan ini juga kayaknya Arr masih lama ngantuknya." Ucap Audi walaupun sebenarnya ia juga sudah mengantuk. Akhir-akhir ini, Audi jadi sering dilanda mengantuk. Mungkin karena dia mengurus suami dan anaknya sendiri. Audi tak mau menggunakan jas baby sister, karena ia tak mau ketinggalan dari setiap pertumbuhan buah hatinya.


" Nggak, aku nggak mungkin ninggalin kamu tidur duluan. Kita bikin Arr sama-sama, jadi mengurusnya juga sama-sama. Ya , walaupun aku cuma bisa bantu kamu saat sore dan malam. Lelah aku sama lelah kamu itu beda, aku mungkin lelah dengan semua pekerjaan kantorku. Tapi lelah kamu itu harus mengurus anak kita sendiri. Apa lagi Arr sudah semakin aktif sekarang dan agak susah diberitahu. " Ucap Dave panjang lebar.


Audi tersentuh mendengar penituran suaminya, ia menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. " Aku beruntung banget bisa dapat suami sebaik dan sepengertian kamu. Tetaplah seperti ini my Hubby."


" Eh, sejak kapan Arr tidur?" Ucap Dave pelan, tak mau membuat putranya terbangun.


Audi mengendong tubuh putranya dan menaruhnya di box. " Selamat malam jagoan Mommy, buatlah hari esok Mommy dan Daddy jadi lebih berwarna dengan semua tingkah lucu kamu sayang." Bisik Audi mencium pelan kening baby Darren.


" Sayang kangen..." Rengek Dave merentangkan tangannya pada Audi. " Sekarang makin lama dapat jatahnya, gara-gara dia tuh!" Imbuhnya menunjuk box tempat baby Darren dengan dagu.


" Hei, kamu nggak boleh ngomong gitu. Darren itu masih kecil, dia belum ngerti apa-apa." Audi memeluk suaminya dan memberikannya kecupan.


Dan akhirnya terjadilah adegan panas diantara mereka. Setelah satu minggu Dave berpuasa. Eh, bukan satu minggu. Tapi bisa lebih dari satu minggu, itu semua karena mood baby Darren.


*

__ADS_1


*


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2