
Hari ini keluarga kecil Audi akan menghadiri pernikahan Varun dan Feby. Audi bersiap dengan dibantu seorang make over. Sedangkan Dave bersiap sendiri dan ia juga langsung membantu sang putra bersiap.
Setelah selesai, Dave dan baby Darren langsung menghampiri Audi. Yang kebetulan juga sudah selesai dwngan make upnya. " Wow, cantik banget Mommy Arr. Daddy jadi pangling," Puji Dave mendekat kearah Audi.
" Daddy juga tampan, apalagi ini nih, pangeran kecil Mommy. Tampan banget... Mirip banget kayak Daddy." Puji Audi memperhatikan Dave dan baby Darren bergantian. Mereka menggunakan pakaian yang sama, namun size yang berbeda. Apalagi wajah mereka, bak pinang dibelah dua tapi beda versi.
Audi mencium gemas putranya, hingga membuat baby Darren tertawa karena geli. " Berangkat sekarang yuk sayang, nanti telat."
" Ayo Daddy!"
Mereka bertiga pun melangkah keluar dari mansion. Mereka menaiki mobil sport milik Dave. Disepanjang perjalanan baby Darren terlihat sangat senang. Apalagi saat Dave menyalip mobil lain, ia terus bertepuk tangan sambil tertawa.
Setelah satu jam menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai ditempat acara. Acaranya diselenggarakan disebuah hotel berbintang. Mereka berjalan masuk beriringan. Dave memeluk mesra pinggang sang istri, dan tangannya yang lain menggendong sang putra.
" Akhirnya, yang ditunggu-tunggu datang juga." Ujar Varel menyapa keduanya. Varel mendekat kearah Dave, sambil menggandeng tangan sang kekasih.
" Sorry, ada sedikit kendala tadi dirumah."
" Heleh, pakek bilang kendala segala lo. Bilang aja kalau kalian sibuk bikin adek buat si Darren." Ejek Varel.
" Tau aja lo."
" Mendingan sekarang kak Dave sama kak Audi nemuin pengantinnya, udah ditunggu dari tadi." Titah Rania menyela obrolan Dave dan Varel.
Mereka berlima pun menuju ketempat Feby dan Varun berada. " Selamat ya Feb, akhirnya lo nyusul gue juga." Ujar Audi sembari mencium pipi kanan dan kiri Feby.
" Thanks my friend, aduh baby Darren tampan baget!" Seru Feby beralih pada sitampan Darren, ia mencubit gemas kedua pipinya. Sampai membuat baby Darren seperti hendak menangis.
" Udah, nanti anak gue nangis." Ucap Dave menepis tangan Feby dari pipi sang anak.
" Selamat ya kak Feby, semoga pernikahannya langgeng." Ucap Rania mendoakan menyalami kedua pengantin bergantian.
" Thanks ya Ran."
" Selamat brother, jaga istri dan calon anak lo dengan baik." Giliran Varel memeluk saudara kembarnya itu.
" Pasti Rel.
__ADS_1
" Selamat juga ya Feb, Run." Dave ikut memeluk sahabatnya itu.
" Udah yuk, entar lagi ngobrolnya. Tuh liat, antriannya panjang banget." Ajak Audi membuat Dave, Varel serta Rania menatap ke arah belakang mereka. Dan ternyata benar, antriannya sudah seperti gerbong kereta api.
Mereka pun akhirnya memutuskan untuk duduk di salah satu tempat yang sudah disediakan. " Kamu mau makan apa sayang?" Tanya Dave saat hendak pergi ke stand makanan.
" Cake aja By."
" Kak, kapan Darren punya adik?" Tanya Rania sambil menatap baby Darren yang ada dipangkuannya.
" Nggak tau, mungkin nunggu Darren biar agak besar. Biar dia paham, dan nggak ngerasa kekurangan kasih sayang." Sahut Audi menjelaskan. Rania hanya manggut- manggut paham. Ia juga setuju dengan ucapan kakaknya.
" Nih sayang cake nya." Ucap Dave baru datang dengan beberapa macam cake yang ia bawa.
" Kok banyak banget?"
" Kamu tadi nggak ngasih tau aku mau cake apa, jadi aku ambil beberapa aja."
" Rania, kesana yuk!" Ajak Varel ikut bergabung setelah datang dari toilet. Ia menunjuk tempat dimana orang -orang tengah berdiri.
" Ngapain?"
" Sayang, aku juga mau kesana ya." Ucap Dave sembari berdiri. Tapi tangannya sudah dicekal oleh Audi.
" Mau ngapain kesana? Ikut berebut bunga? Atau jangan-jangan kamu mau nikah lagi ya?!" Tanya Audi bertubi dengan kesal.
" Bukan gitu sayang, cuma mau lihat aja." Sahut Dave hati-hati.
" Ingat, Tuan Dave Mahendra. Kamu udah punya buntut, jadi jangan macam-macam." Ucap Audi menekankan sembari menyerahkan putranya pada sang suami.
" Iya deh, aku disini aja sama kamu." Dave mengalah, ia tak mau memancing kemarahan sang istri.
Det.. Det..
Celoteh baby Darren menunjuk-nunjuk sang Mommy yang sedang merajuk. Ia seakan paham dengan apa yang terjadi pada orang tuanya.
" Iya sayang, Mommy lagi ngambek sama Daddy. Tapi salah Daddy juga sih, udah tua masih kayak anak muda." Ujar Dave berbicara pada baby Darren menekankan kata tua dan muda.
__ADS_1
Audi menoleh pada keduanya, " Kamu itu nggak tua, tapi udah jadi orang tua. " Audi tak terima jika Dave mengatakan dirinya tua.
Dave sangat tau bagaimana cara merayu sang istri. Jika Audi sedang merajuk dengannya, ia akan membujuknya dengan merendahkan dirinya sendiri. Audi paling tidak bisa jika mendengar kata-kata yang akan menjatuhkan atau menjelekkan suaminya. Karena baginya, Dave adalah pria sempurna dalam hidupnya.
" Iya, iya. Udah nggak usah ngambek lagi." Dave mengelus kepala sang istri, lalu memberikan kecupan disana.
Audi langsung luluh dengan perlakuan suaminya. Ia memang tak bisa jika marahan terlalu lama dengan Dave. Dan Audi juga tak mau, karena masalah kecil hubungannya jadi renggang.
*
*
Di sisi lain, Rania dan Varel tengah ada perdebatan kecil. " Ngapain sih kak, pakek ikut acara begituan!" Kesal Rania
" Katanya, siapa yang dapat bunganya bakalan cepet nyusul merried !" Ujar Varel bersemangat.
" Yang kayak gitu lo percaya! Udah ah, gue mau balik ketempat kak Audi." Tolak Rania beranjak dari tempatnya.
" Please ya sayang, kali ini aja. " Mohon Varel menahan Rania dengan mencekal tangannya.
Rania menghela nafas panjang, ia memang tak percaya dengan semua mitos ini. Karena baginya, kalau sudah saatnya menikah, ya langsung nikah aja. Nggak harus ikut berebut bunga di nikahan orang lain. Tapi kali ini ia akan menuruti keinginan konyol kekasihnya.
" Ya udah, ayo." Ajak Rania dengan malas.
Varel mengajak Rania berdiri dibarisan paling depan. Dengan tangan keduanya saling bergandengan. Varel sudah menyiapkan kuda-kuda untuk dapat melompat tinggi dan dapat meraih buket bunganya.
Rania hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Varel." Untuk apa dia harus ikut acara seperti ini, jika nanti mereka harus menunggu kurang lebih dua tahun lagi untuk menikah. " Fikir Rania. Sebab ia dan Varel sepakat untuk melangsungkan pernikahan setelah Rania wisuda.
Setelah hitungan ketiga, sebuah buket bunga berwarna pink bercampur putih. Melayang diantara kerumunan orang. Semua orang sudah mengangkat tangannya dan bersiap untuk menangkap buket bunga tersebut. Dan....
Hap.
Dua pasang tangan mendapatkan buket bunga tersebut. Dan pada saat pemilik kedua pasang tangan itu menoleh, nampak keterkejutan diwajah keduanya.
" Elo!" Pekik keduanya.
*
__ADS_1
*
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...