
Semenjak kejadian dua minggu yang lalu, kini hubungan Varel dan Rania jadi semakin dekat. Walaupun Rania pernah mengatakan kalau dia tidak ingin bertemu dengan Varel lagi. Tapi Vare malah semakin gencar mendekati Rania. Bahkan Varel secara terang-terangan mengatakan kalau dia mencintai Rania. Dan akan berubah untuk bisa memantaskan diri agar bisa bersanding dengan Rania.
Rania masih meragukan perubahan Varel, karena tidak mungkin orang akan berubah secepat itu. Walaupun Varel telah menunjukkan dengan tidak pernah memperdulikan wanita yang mendekatinya. Tapi itu, masih belum bisa untuk meyakinkan Rania, dan Varel harus berjuang lebih keras lagi.
" Nanti sore gue jemput ya," Ucap Varel sambil menyetir mobilnya.
Ya, Varel mengantar Rania kekampus. Walaupun Rania sudah menolak, tapi Varel tetap bersikeras untuk mengantar Rania.
" Nggak usah deh kak, nanti gue pulangnya bareng Nita aja sekalian buat tugas." Tolak Rania sesekali melirik Varel.
" Iya udah deh, tapi besok malam kita harus dinner ya sebagai gantinya." Ucap Varel tersenyum menatap Rania.
" Hem,"
Mobil yang dikendarai Varel akhirnya sampai di area kampus. Rania hendak turun, tapi tak bisa karena pintu dikunci oleh Varel." Kak kok di-,"
Rania berbalik menatap Varel hendak protes, tapi saat ia membalik wajahnya. Wajah Varel sudah ada tepat didepannya. Bahkan hidung mereka saling bersentuhan. Rania dapat merasakan hembusan napas beraroma mint dari Varel. Tatapannya keduanya terkunci.
Cup.
Varel mengecup bibir Rania, bahkan kini ciumannya berubah menjadi sebuah luma*tan. Tangannya terulur memegang tengkuk Rania.
Rania melototkan matanya, terkejut dengan perlakuan Varel. Sungguh ia merasakan sensasi aneh pada tubuhnya, karena ini adalah yang pertama untuk Rania. Ia memukul-mukul Varel saat merasakan kehabisan napas.
" Manis," Ucap Varel saat pangutannya terlepas. Mengusap lembut bibir Rani yang basah dan sedikit bengkak karena ulahnya.
Rania langsung tersadar dan memukul Varel, " Dasar pencuri, lo udah nyuri ciuman pertama gue." Ucap Rania kesal.
" Ampun Ran," Varel merasakan pukulan Rania yang lumayan keras.
Hap.
Varel menangkap kedua tangan Rania, dan membuat Rania tidak bisa memukulnya lagi. " Pantesan aja, kaku." Ucap Varel meledek Rania.
__ADS_1
" Ihh, dasar ya!" Kesal Rania berusaha memberontak. Tapi Varel semakin kuat memegang tangannya, dan mengungkung tubuh Rania.
" Lo mau ngapain kak? Jangan macem-macem ya. Entar gue laporin sama kak Audi dan kak Dave." Ancam Rania.
Pletak.
Varel menyentil jidat Rania, " Masih kecil tapi otaknya mesum banget."
Rania mengelus jidatnya yang terasa panas, " Heh, emang gue lo. Gue itu nggak mesum ya, cuma waspada!" Ketus Rania tak terima dikatakan mesum.
" Minggir, gue mau keluar!" Bentak Rania, lalu keluar dari mobil meninggalkan Varel.
" Kenapa coba, gue bisa suka sama cewek kayak dia. Mungkin ini yang namanya karma, karena gue dulu udah mempermainkan perasaan cewek. Dan sekarang giliran gue serius malah susah banget dapetinnya." Gumam Varel menatap kepergian Rania.
Rania berjalan cepat memasuki kampus, " Aduh , kenapa otak gue jadi mesum gini." Gumam Rania sambil terus melangkah.
Brukk.
" Makanya kalau jalan itu lihat-lihat, jangan melamun." Omel Sita memungut bukunya.
" Iya-iya deh gue salah, tapi kenapa lo bawa banyak buku?" Tanya Rania membantu sita membawa bukunya.
" Gue cuma disuruh bawa buku-buku ini ke perpus," Sahut Sita diangguki oleh Rania.
*
*
Di Mansion Mahendra.
" Please bantuin gue Audi, lo kan kakaknya. Jadi gue yakin lo lebih tau yentang dia." Ucap Varel.
" Maaf gue nggak bisa bantu lo, walaupun gue kakaknya Rania . Tapi gue nggak bisa maksain keinginannya. Kalau lo emang serius sama Rania, lo harus bisa menyakinkannya. " Ucap Audi lalu pergi meninggalkan Varel dan Dave.
__ADS_1
Ya, Varel datang ke Mansion Mahendra untuk bertemu dengan Audi. Ia ingin meminta bantuan pada Audi untuk meyakinkan Rania tentang cintanya.
Audi bukan tak bisa jika dia ingin membantu Varel, tapi dia ingin melihat sampai mana Varel bisa memperjuangkan cintanya pada Rania. Sebagai seorang kakak, Audi mengharapkan yang terbaik untuk Rania. Awalnya Audi sempat ragu dengan Varel, mengingat dia adalah seorang casanova. Tapi setelah melihat perjuangan Varel dan berani datang menemuinya. Dan akhirnya Audi meyakinkan dirinya untuk percaya kalau Varel sudah berubah. Dan membiarkan Varel mendekati Rania. Tapi Audi tetap tidak bisa membantunya.
Varel membuang napasnya kasar," Susah banget sih." Gumam Varel.
" Makanya, jangan suka mempermainkan hati perempuan. Sekarang jadinya susah kan dapetin yang lo bener-bener cinta." Ucap Dave tanpa mau membantunya.
" Ya udah deh gue pulang aja, niat kesini minta bantuan malah dapat omelan." Ucap Varel lesu, lalu pergi dari Mansion Mahendra.
*
*
Malam harinya Audi mampir kerumahnya yang dulu, yang kini ditempati oleh Rania.
" Gimana kabar keponakan aku?" Tanya Rania mwngelus perut buncit kakaknya.
" Baik Aunty," Sahut Audi menirukan suara anak kecil. " Kakak mau tanya sesuatu boleh?"
" Boleh," Sahut Rania.
" Kamu punya hubingan apa sama Varel?" Tanya Audi
Rania yang mengelus perut kakaknya sontak berhwnti mendengar pertanyaan Audi. " Aku sama kak Varel nggak ada hubungan apa-apa kok kak," Sahut Rania
" Kalau kamu emang suka sama Varel, kakak setuju kok. Kakak yakin kalau dia udah berubah, dan kakak akan selalu mendukung apapun keputusan kamu asalkan itu baik." Ucap Audi tak mau memaksa Rania. " Dan kalau kamu nggak ada perasaan apa-apa sama Varel, sebaiknya kamu bilang sama dia. Agar Varel nggak terus berharap sama kamu."
" Iya kak,akan aku pertimbangkan lagi." Ucap Rania.
Setelah kepergian kakaknya, Rania duduk dibalkon kamarnya. Dia bimbang apakah dia sudah mencintai Varel atau tidak. Tapi dia merasa nyaman saat bersamanya. Apalagi saat melihat ada wanita yang berusaha mendekati Varel, Rania jadi kesal melihatnya.
...****************...
__ADS_1