
Hiks.. Hiks.. Hiks..
Rania menangis histeris." Kalian semua tega sama aku!" Teriak Rania." A-aku sampai berfikiran yang tidak-tidak. Dan kalian cuma nge-prank aku!" Sambung Rania kesal dengan sesegukan.
Bagaimana tidak kesal. Disaat ia sudah berfikir negatif dan membayangkan sesuatu yang buruk, justru ia malah kena prank. Padahal Rania sudah menyiapkan mental saat masuk kedalam ruang ugd. Namun saat pintu terbuka, sungguh sangat jauh dari apa yang ia fikirkan. Ia fikir pria yang ia cintai akan terbaring lemah dan tak berdaya diatas brankar, namun ia salah.
Pria yang ia cintai justru tengah berdiri dihadapannya dengan tersenyum dan sambil memegang sebuah buket bunga mawar. Dan Viona berdiri disebelahnya sambil memegang sebuah nampan berisi kue. Serta mama Nita, papa Agung, kakek Bram , Varun, Feby, Dave dan sitampan Darren berdiri dibelakangnya sambil memegang balon bertuliskan happy birthday.
" HAPPY BIRTHDAY TO YOU!"
Ucap semuanya bersamaan, membuat Rania semakin histeris dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Varel mendekat kearah Rania. Ia berjongkok didepan sang kekasih.
" Hei, kok nangis." Ujar Varel lembut sembari memeluk Rania yang masih menangis.
" Kak.." Rania membalas pelukan Varel erat. Seakan ia takkan membiarkan Varel pergi darinya.
" Udah ih! Sekarang harusnya berbahagia, bukan malah melow kayak gini!" Kesal Viona. Ia jadi ikutan menangis karena terbawa suasana.
Setelah Rania menghentikan tangisnya, Varel mengajaknya untuk duduk disofa. " Udahan dong melownya. Kamu nggak malu dilihatin sama Darren." Bujuk Varel agar Rania bisa menghentikan sesegukannya. Sambil melirik Darren yang terlihat terus memperhatikan auntynya dengan sesekali tertawa.
Rania ikut melirik Darren yang seperti tengah mengejeknya. " Kamu senang ya sekarang Darren! Masih kecil udah bisa ikut nge-prank orang!" Sewot Rania dibalas tepuk tangan oleh Darren dan semakin mengencangkan tawanya.
" Happy birthday adik kakak yang paling cantik!" Audi memeluk Rania.
" Kakak ngeselin ih! Aku dibikin sampai nangis gini!" Kesal Rania sembari membalas pelukan sang kakak.
" Tapi kamu bahagia kan?"
" Iya, makasih kak. Tapi akting kakak tadi bagus banget. Dan kakak cocok banget jadi artis." Puji Rania menunjukkan kedua jempolnya.
" Akting aku nggak dipuji nih?" Ujar Viona dengan nada cemburu.
" Akting kamu juga bagus banget tadi. Apalagi pas nangis, klop banget!" Puji Rania.
" Dek, kakak pulang dulu ya. Kasihan Darren udah ngantuk." Ucap Audi sambil mengambil alih putranya yang sedang menguap dari gendongan sang suami. " Melepas rindunya jangan berlebihan!" Imbuh Dave dengan tegas mengingatkan.
__ADS_1
" Iya kak." Sahut Rania." Tenang aja Dave, gue nggak akan ngelewatin batas. Paling cuma icip-icip doang." Sambung Varel dengan santainya. Dan sontak membuat Audi menatap tajam padanya. Tapi bukannya takut, Varel malah tertawa melihat calon kakak iparnya itu yang masih tetap saja galak.
" Ingat Varel! Lo harus nunggu lima bulan lagi!" Tegas Audi sebelum benar-benar pergi dari sana.
" Aku juga pulang ya kak. Besok ada kelas pagi." Viona ikut berpamitan setelah kepergian Audi dan Dave.
" Iya. Hati-hati bawa mobilnya."
" Siap!"
Semua orang kini telah pergi meninggalkan dua sejoli yang sedang dilanda kerinduan itu. Bagaimana tidak rindu, jika keduanya berpisah jarak dan waktu selama dua bulan lamanya.
" Happy birthday sayang." Ujar Varel setelah lama hanya berdiam diri saja dengan Rania. " Aku kangen!" Sambungnya dengan memeluk Rania.
" Gue nggak suka!" Sentak Rania dengan melepas pelukan Varel." Gue nggak suka sama cara lo ini kak! Memangnya nggak ada cara yang lain apa? " Imbuhnya dengan kesal sembari membelakangi Varel.
" Sorry Ran, ini bukan murni ide gue. Please lo jangan marah ya sama gue." Jawab Varel dengan memelas.
Rania berbalik, dan menunjuk wajah Varel dengan telunjuknya. " Lo dengan mudahnya nyuruh gue buat maafin lo! Sementara lo tau nggak apa yang gue rasain tadi? Rasanya nyesek banget kak! Gue nggak bisa ngebayangin gimana jadinya hidup gue tanpa lo!" Emosi Rania. " Kalau gue punya penyakit jantung, mungkin sekarang lo nggak akan lihat gue lagi. Gue hargai niat baik lo buat ngasih gue surprise. Tapi nggak gini caranya, gue nggak mau kehilangan lo. Gue mau kita terus bersama sampai maut memisahkan." Imbuh Rania dengan nada bergetar karena ia sudah tak dapat menahan tangisnya. Dan ia langaung memeluk tubuh Vaeel.
" Maaf sayang." Lirih Varel sambil mengusap- usap punggung Rania.
Setelah dirasa tenang, Rania melepas pelukannya. " Lo nggak modal banget. Masa orang ngasih surprise dirumah sakit!" Cibir Rania.
" Sorry, ini semua kerjaannya si Viona. Sebenarnya gue udah siapin tempat, tapi siViona kekeh banget pengen gue jalanin rencananya." Ujar Varel jujur. Sebenarnya ia sudah menyiapkan kejutan untuk Rania di restaurant western yang tadi sempat Rania singgahi.
Ya, Dave dan Audi tahu kalau ia menyiapkan kejutan untuk Rania. Jadi mereka setuju untuk mengukuti setiap rencana yang ia buat. Mulai dari tak memberi tahu Rania kapan ia sampai, dan membawa Rania ketempat yang sudah disiapkan Varel.
Namun semua rencananya berubah saat Viona kekeh ingin rencana kejutannyalah yang dilaksanakan. Mau tak mau Varelpun mengikuti keinginan sang adik. Ia memberipesan pada Dave jika ada perubahan skenario.
Viona bilang ingin memberikan kejutan pada calon kakak iparnya itu sebelum ia akan benar-benar menetap di Australia.
" Ya udah, kita ketempat yang aku siapin yuk!" Ajak Varel sambil mengandeng tangan Rania.
Tanpa banyak protes, Rania mengikuti kemanapun Varel menggajaknya. " Kak, I Love You." Ucap Rania saat keduanya sudah berada didalam mobil.
__ADS_1
Varel menatap dalam manik Rania, lalu ia memberukan kecupan dikening sang kekasih. " Love You More." Balas Varel lalu ia melajukan kendaraannya.
*
*
Varel dan Rania masuk kedalam resto yang hampir tutup itu. Namun atas negosiasi yang Varel berikan, akhirnya mereka mau untuk menunggu Varel menyelesaikan acaranya dulu.
Ia terus menggandeng tangan sang kekasih hingga sampai ditempatnya.
Rania tak bisa berkata-kata melihat kejutan yang Varel berikan. Ia terpaku melihat tulisan didepannya dan Varel yang tiba-tiba berjongkok sambil memperlihatkan sebuah cincin yang bertahtakan berlian.
" Will You Marry Me?" Tanya Varel masih dengan berjongkok dihadapan Rania.
Rania menatap Varel dengan senyum kebahagiaan dengan perasaan haru. " Yes, I Will." Jawabnya.
Varel langsung memasangkan cincin itu dijari manis sang kekasih, lalu mencium punggung tangannya. " Terima kasih sayang." Ujarnya dengan memeluk Rania.
" Tapi kakak masih harus nunggu dulu." Ucap Rania mengingatkan.
" Gue akan tunggu. Tapi bolehlah ngasih stempel kepemilikan dulu." Varel berujar dengan menaik turunkan alisnya.
" Apaan sih- mph."
Rania dibungkam oleh Varel yang tiba-tiba menempelkan bibir dibibirnya. Bahkan bukan hanya sekedar menempel saja. Tapi Varel telah mengubahnya menjadi sebuah ciuman kini.
" Udah distempel jadi milik Varel seorang!" Tegas Varel setelah ciumannya berakhir. Ia menguap bibi kekasinya yang basah dan sedikit bengkak karena ulahnya.
" Gue akan selalu buat lo bahagia. Itu janji gue!"
*
*
INGAT YA VAREL SAMA JANJINYA, AWAS KALAU DILANGGAR, NANTI AUTHOR BATAL JODOHIN KAMU SAMA RANIA!
__ADS_1
...----------------...