
Akhirnya mobil yang ditumpangi Varel pun sampai di alamat yang Rania kirim. Ia pun langsung bergegas masuk. Dan tatapannya tertuju pada seorang wanita yang terduduk dilantai sambil memeluk tututnya dan menangis.
Rania mendongak, saat merasakan usapan dipunggungnya. Matanya berkaca-kaca menatap Varel. Ia berdiri dan berhambur memeluk Varel dengan tangis yang semakin kencang. " Ka-kak, to-tolong Mara kak." Lirih Rania sesegukan disela tangisnya.
Hati Varel tersa sesak melihat wanita yang dicintainya seperti ini." Ada apa hum." Ujar Varel lembut sembari menghapus air mata yang membasahi pipi Rania.
Rania menarik Nafas panjang dan membuangnya. " Amara perlu donor darah, dan golongan darahku dengan Mara berbeda. Karena golongan darahnya mengikuti genmu."
" Apa maksudnya mengikuti genku?" Tanya Varel bingung menatap Rania.
" Kak, tolong selamatkan Amara dulu. Nanti aku akan jelaskan padamu." Pinta Rania mengatupkan kedua tangannya dihadapan Varel.
" Baiklah, tapi jangan menangis lagi. Dia pasti akan selamat." Ucap Varel menuruti keinginan Rania. Walaupun masih ada yang mengganjal dibenaknya.
Setelah menemui dokter yang merawat Amara, Varel pun dibawa ke salah satu ruangan untuk pengecekan kondisi tubuh. Dan setelah melewati bebrapa tahap, dan Varel dinyatakan bisa melakukan tranfusi darah. Setelah selesai Varel menemui Rania yang tengah menemani Amara.
Deg.
Varel menatap bingung pada anak kecil yang sedang berbaring lemah diatas brankar. Wajahnya sangat mirip dengan Varel, tapi dalam Versi perempuan. " Apakah dia putriku? Apakah kejadian waktu itu menghadirkannya?" Batin Varel bertanya-tanya.
" Kak." Panggil Rania membuyarkan lamunan Varel.
" Eh, iya." Varel melangkah mendekati Rania. Disentuhnya tangan Rania," Maaf Ran. Aku mengingkari janjiku saat di Australia. Tapi jujur, hanya kamu wanita yang aku cintai. Dari dulu bahkan sampai saat ini."Lirih Varel tanpa berani menatap wajah Rania.
" Mungkin itu yang namanya ujian kak, aku sudah melupakannya."
" Ran, aku sudah tak bersamanya lagi. Dia telah menipuku."
" Ya, aku tau tentang itu kak. Kak Dave menceritakannya padaku."
" Ran." Panggil Varel lagi.
" Iya kak."
" Siapa gadis kecil ini? Apakah dia putriku? Apakah kejadian waktu itu menghadirkannya?" Tanya Varel menggebu. Ia berharap jika Amara adalah putrinya. Agar ia punya alasan untuk bisa bersama lagi dengan Rania. Biarlah jika dirinya dianggap egois, ia akan menebus kesalannya yang dulu.
Rania menghela nafas, ia sudah memprediksi jika Varel akan bertanya hal ini padanya. Mengingat kalau saat menelpon tadi dirinya mengatakan"Putri kita" pada Varel dan dari segi wajah keduanya yang sangat mirip.
__ADS_1
Rania menghela nafasnya panjang, dan membuangnya perlahan. "sebaiknya kita duduk disana dulu. Baru aku akan jelaskan siapa Amara." Ujar Rania menunjuk sofa dipojok ruangan dengan dagunya. Mereka berduapaun duduk disofa dengan berdampingan.
"Jadi bagaimana?" Tanya Varel tak sabaran.
" Aku minta maaf sebelumnya kak, telah merahasiakan ini dari kamu. Satu bulan setelah pernikahan kita batal, aku dinyatakan hamil. Karena aku masih kecewa denganmu, jadinya aku memutuskan untuk tak memberitahumu dan membesarkan mereka sendiri." Jelas Rania jujur. Ia sudah mementapkan hatinya untuk memebetitahu Vatel tentang semuanya. Walaupun masih ada rasa kecewa dihatinya. Tapi ia ingin jika anaknya memeiliki status yang jelas.
" Ja- jadi benar Amara adalah anakku?" Tanya Varel tak percaya.
" Iya kak, Amara adalah anakmu. Bukan hanya Amara saja, tapi Amira juga. Mereka kembar." Ucap Rania memperjelas.
" Apa? Kembar." Ujar Varel mendrkati brankar Amara dan memeluknya." Maafkan daddy sayang, daddy adalah daddy yang buruk." Lirih Varel sendu sambil terus memeluk tubuh mungil Amara. Tapi hal itu tak membuat Amara terusik sedikitpun, ia masih betah menutup matanya.
" Lalau dimana Amira?" Tanya Varel setelah melepas pelukannya dari Amara.
" Amira masih berada divilla, mungkin besok pagi ia akan datang kemari." Jawab Rania. Tadi ia sempat menelpon Dewi untuk menanyakan keadaan Amira. Karena terlalu khawatir dengan Amara, ia samapai melupakan anaknya yang lain. Dan ia baru ingat menghubunginya sore tadi.
" Baik, untuk sekarang aku akan menemani Amara dulu disini." Ujar Vatel duduk dikursi sebelah brankar Amara.
*
*
Ekhem.
Varel berdehem, membuat Rania menoleh padanya. " Apa kau sudah makan malam Rania?" Tanya Varel memulai pembicaraan.
" Aku tidak lapar kak, dan bagaimana juga aku bisa makan kalau anakku saja belum makan apa-apa sejak tadi siang." Sahut Rania sendu.
Vatel tak berbicara lagi, ia memilih keluar dari sana. Rania hanya menatap kepergian Varel tanpa hendak bertanya. " Mara, ayo buka matamu sayang. Daddy sudah pulang sayang. Sekarang kau dan Amira bisa bermain dengan daddy." Lirih Rania mengusap lembut kepela Amara.
Tak bersrlang lama, Varel datang dengan menenteng sebuah kantong plastik. " Ran, sebaiknya kamu makan dulu. Aku sudah memebeli makanan untukmu." Ucap Varel.
" Enggak kak, aku masih belum lapar." Tolak Rania tanpa menatap Varel.
Varel mendekat, ia mengusap pundak Rania." Kalau nggak makan, nanti kamu sakit. Lalu siapa yang akan menjaga Amara." Varel memeberi pengertian.
Rania akhirnya pun menuruti ucapan Varel, ia berusaha untuk mebelan makannya meski tak berselera.
__ADS_1
Varrl yang melihat itu, hatinya tersa berdenyut. Ingin Rasanya ia memeluk Rania dan memeberinya semangat. Tapi ia cukup sadar, dengan statusnya yang sekarang bukanlah bagian dari hidup Rania lagi.
" Kak, sekarang giliran kamu yang makan." Ucap Rania setelah menyelesaikan acara makannya.
" Iya , sebentar lagi."
Hingga malam semakin larut, masih tak ada tanda-tanda Amara akan membuka matanya. Rania sudah terlelap disofa, sebenarnya ia tak mau tidur disofa, tapi Varel memaksanya. Dan akhirnya pun ia menuruti ucapan Varel.
Dan jangan tanya dimana keberadaan daddy yang baru menemuoan anaknya itu. Ia masih terjaga dan duduk dikursi sebelah brankar anaknya. " Maafkan daddy sayang, daddy sama sekali tidak tau tentang kehadiranmu dan Amira. Daddy lebih memilih bertanggunga jawab atas kedalan yang tak daddy lakukan. Dan membiarkan kalian hidup hanya bersama mommy. Maafkan daddy Mara." Ujar Varel penuh penyesalan, disentuhnya jari-jari mungil milik Amara. Dan saat itu juga, ia merasakan jari Amara bergerak. Dan perlahan membuka matanya.
" Kau sudah bangun sayang." Ucap Varel menatap Amara berbinar.
" Haus." Lirih Amara, dan Varel dengan segera memberikannya air minum.
" Apa ada yang sakit sayang?" Tanya Varel penuh perhatian.
Amara menganggukkan kepalanya. " Kepala sam tangan aku sakit." Jawabnya sendu.
Hati Varel terenyuh, ditatapnya kepala dan tangan Amara yang diperban. " Sabar ya sayang, daddy akan usahakan agar kamu mendapat perawatan terbaik dan bisa cepat sembuh."
Amara menyeritkan alisnya, ia menatap Vatel dengan tatapan bingung." Dimana mommy."
" Disini sayang." Bukan Varel yang menjawab, tapi Rania. Ia terbangun saat mendengar sesuatu yang berisik. Dan saat ia membuka mata, ternyata Varel dan Amara tengah berbincang. " Bagaimana keadaanmu sayang?" Tanya Rania memeluk Amara yang kini tenfah dalam posisi duduk.
" Aku tak apa mom." Sahut Amara menampilkan senyumnya." Apakah benar uncle ini adalah dadddy-ku?" Tanya Amara sembari meleirik Varel yang berdiri di sampingnya.
" Iya sayang, uncle ini adalah daddy-nya Amara dan Amira." Jawab Rania, lalu melepaskan pelukannya. " Tunggu sebentar ya, mommy mau ketoilet dulu." Ucap Rania lalu melangkah menuju toilet.
" Apakah benar uncle adalah daddy-ku? Dan uncle juga yang bernama Varel?"
" Iya Mara, aku adalah daddy-mu. Maaf baru menemuimu sekarang."
" Berarti uncle juga yang telah membuat mommy sering menangis."
" Mommy sering menangis?"
" Iya mommy sering menangis sembunyi-sembunyi. Tapi aku tau hal itu, dia sering menangis dan mengatakan kau jahat, kau tega mengkhianatinya, kau penipu, kau brengsek!" Ucap Amara menggebu, ia sampai merasakan kepalanya agak berdenyut. Ya, Amara sering mengintip Rania menangis dikamarnya. Dan mengatakan semua hal itu. " Dan uncle juga yang membuat Amira selalu bersedih karena tidak memiliki daddy seperti temannya yang lain! Uncle juga yang telah membuat mommy dikatakan bukanperempuan baik-baik. Karena memiliki anak tanpa suami!" Teriak Amara emosi. Amara pernah berjanji pada dirinya sendiri. Jika ia dipertemukan dengan daddy-nya ia akan meluapkan segala emosinya.
__ADS_1
Hati Varel tercubit mendengar penuturan Amara, ia merasa sangat malu pada Rania dan anak-anaknya. " Maafkan daddy sayang." Varel hendak menyentuh Amara, namun tangannya ditepis.
" Aku tak mau punya daddy sepertimu! Aku membencimu!" Teriak Amara.