Jodoh Pilihan Adikku

Jodoh Pilihan Adikku
46 TAMAT


__ADS_3

Tak terasa tujuh tahun sudah Audi menikah dengan Dave. Dan sudah enam tahun usia Darren sekarang. Bahkan sudah ada anggota keluarga baru yang kini tepat berusia satu tahun. Dan kali ini dia dikaruniai seorang putri yang cantik. Namun sama seperti Darren, putrinya lebih mirip sang Daddy. Hal itu tentu membuat Audi jengkel. Gen suaminya begitu berpengaruh, sehingga kedua anaknya lebih mirip sang suami.


" Aku harap bukan hanya wajahnya saja yang mirip kamu hubby. Tapi juga sikap dan perilakunya nanti." Ujar Audi menatap kedua buah hatinya yang tengah terlelap dengan tenang.


" Iya sayang. Semoga mereka bisa tumbuhjadi anak yang berbakti dan bisa membuat kedua orangtuanya bangga. " Dave menyambung ucapan sang istri.


" Keluar yuk by. Menikmati udara segar disekitar, villa mumpung anak-anak lagi pada tidur." Ajak Audi lalu menggandeng tangan syaminya diajak keluar kamar.


Mereka kini tengah ada di villa milik Dave yang ada disebuah pedesaan. Mereka akan berada disini selama satu minggu. Dikota mereka sangat jarang mendapat udara segar seperti ini, karena penduduk disana begitu padat dan banyak polusi udara.


" Udaranya sejuk banget...!" Audi metentangkan kedua tangannya sembari memejamkan mata. Ia menghirup rakus udara disana.


" Iya, mungkin aku akan sering-sering ngajak kalian kesini."


" Ide yang bagus!"


Disaat mereka tengah menikmati suasana disana, tiba-tiba mereka mendengar suara anak kecil yang menangis. " Hubby, darimana ya suara tangis itu?" Tanya Audi menatap sekeliling.


" Mungkin dari tangan belakang sayang." Sahut Dave setelah ia menajamkan pendengarannya untuk memastikan sumber suara itu.


Audi pun bergegas menuju taman dibelakang villa dan disusul oleh sang suami. Saat sampai Audi membelalakkan matanya melihat anak kecil perempuan yang sedang menangis sambil memegangi siku tangannya yang berdarah.


" Apa yang terjadi Amira?" Tanya Audi mendekat lalu menggendong tubuh kecil itu untuk diajak duduk dikursi.


Hu..hu..hu..


" Sakit Mommy Au!" Adunya sambil menangis.


Audi langsung menyuruh suaminya untuk mengambil kotak p3k. Lalu ia beralih menenangkan Amira. " Cup,cup sayang. Tunggu sebentar ya Daddy Dave lagi ambil obat." Ujarnya sembari menghapus air mata Amira.

__ADS_1


" Apa yang Mira?!" Tanya Rania panik, ia datang sambil menggendong sesosok kecil lainnya yang sangat mirip dengan Amira.


" Sakit Mom." Sahut Amira memperlihatkan sikunya yang berdarah.


" Ya ampun sayang!" Rania mendekati putrinya dan duduk disebelahnya.


Tak berselang lama Dave datang sambil membawa kotak p3k. Ia memberikannya pada Rania, Rania dengan telaten membersihkan dan mengobati luka disiku tangan putrinya. " Nah, sekarang udah bersih. Nggak usah nagis lagi ya." Rania menenangkan Amira dengan menggendongnya.


" Dek, lebih baik kamu tidurin aja Amira. Kayaknya dia ngantuk." Titah Audi ketika melihat keponakannya itu beberapa kali menguap setelah menangis.


" Ya udah kak. Amara sama Mom Au dan Daddy Dave dulu ya, Mommy mau nidurin Mira dulu." Ucapnya dan diangguki oleh Amara.


Rania pun pergi masuk kedalam villa, sedang kan Audi mengajak suami dan keponakannya jalan-jalan disekitar villa. " Amara suka nggak suasana disini?" Tanya Audi menatap Amara yang sedang digandengnya.


" Suka Mom." Sahut Amara singkat." Kak Darren dan adek Dista dimana Mom?" Imbuhnya bertanya.


Amara langsung berlari meninggalkan Audi dan Dave. Ia akan kekamar mencari Darren dan Dista.


Audi hanya geleng-geleng kepala melihat Amara langsung pergi begitu saja. " Amara,Amara. Beda banget sifatnya sama Amira, padahal mereka kembar." Ujar Audi dengan terus memperhatikan tubuh mungil itu sampai menghilang dibalik pagar.


" Iya, Amara lebih itit bicara dan cuek. Sedangkan Amira dia manja dan cengeng." Dave menyambung ucapan istrinya.


*


*


Sore harinya suasana villa begitu riuh dengan suara keempat bocil. Bukan, bukan empat. Tapi hanya tiga, karena Amara tidak banyak bicara. Ia akan sibuk dengan mainannya sendiri.


" Kak Darren siniin! Itu punya Mira!" Kesal Amira saat mainannya direbut oleh Darren.

__ADS_1


" Biarin wlek!" Darren tak mau mengalah. Ia meledek Amira dengan menjulurkan lidahnya. Ia sangat suka mengganggu kesenangan adiknya yang satu ini. Karena Amira akan cepat menangis dan mengadu pada Mommynya.


" Kak Darren kan cowok! Masak cowok main boneka barbie!" Sengit Mira dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Darren tersadar, langsung menatap tangannya yang memegang boneka barbie. Posisi boneka itu menghadapnya sambil tersenyum. Seolah ia tengah menertawakan Darren. Ia langsung melempar boneka itu asal. Dan mengusap-usap kedua tangannya." Ihh, menyeramkan!" Ujar Darren bergidik ngeri. Tadi ia mengira jika itu adalah boneka kucing yang sering dibawa Amira.


" Mommy! Kak Darren jahat!" Teriak Amira mulai menangis.


" Darren. Jangan ganggu adikmu." Audi memperingati anaknya. " Mara kok diam aja?" Sambung Audi bertanya pada keponakannya yang lain.


" Gak pa-pa Mom." Sahut Amara singkat.


Audi dan Dave menemani keempat bocah itu bermain. Hingga malam pun tiba dan Audi memutuskan untuk mengajak semuanya tidur.


" Aku masih nggak nyangka, sakit Rania waktu itu bisa mempertemukan kita berdua. Aku berharap kita akan tetap bersama sampai maut memisahkan. Dan aku juga berharap Rania bisa segera menemukan kebahagiaannya." Ujar Audi merasa iba pada sang adik atas kejadian yang telah menimpanya.


" Iya, Aku juga berharap begitu." Dave memeluk tubuh istrinya dari belakang.


*


TAMAT


*


Hai semua Arti sudahi cerita Audi dan Dave sampai disini. Terima kasih untuk semua yang telah menyempatkan waktunya untuk membaca cerita receh ini.


Jangan lupa mampir juga ya dicerita Arti yang lain...


Bye.. Bye..

__ADS_1


__ADS_2