
Varel yang awalnya senang karena dapat menangkap buket bunganya, kini berubah jadi kesal saat tau dengan siapa ia berebut bunga tersebut. Ia sampai terkena amukan Rania dan wanita itu kini tengah merajuk padanya. Sebab yang ia ajak berebut buket bunga tersebut adalah sang mantan. Entah mantannya yang keberapa. Varel lupa akan hal itu, tapi bukan karena mantan yang membuat Rania merajuk padanya.
Tapi karena perlakuan wanita itu, yang tiba-tiba memeluk Varel bahkan menciumnya dihadapan Rania dan para tamu undangan disana. Dan bahkan Varel seperti menikmati ciuman itu, tidak ada penolakan darinya.
Dan tentu mereka menjadi perhatian orang-orang yang ada disana. Bukan hanya amukan dari Rania saja, tapi Varel juga kena omelan dari sang ibu anak satu yaitu Audi.
Bahkan sampai saat ini telinganya masih terasa panas, karena tadi ditarik begitu keras oleh Audi.
" Sayang udah dong ngambeknya." Ucap Varel membujuk Rania.
Kini mereka tengah berada didalam mobil, menuju perjalanan kerumah Rania. Walaupun acaranya belum selesai, tapi Rania ngotot ingin pulang.
Rania tak menggubris ucapan Varel, ia lebih memilih menatap jalan.
Varel menyentuh tangan Rania, namun ditepis oleh Rania. " Tadi itu cuma salah faham sayang, nggak seperti yang kamu fikirkan." Varel masih terus berusaha membujuk Rania.
Rania masih tak memperdulikan ucapan Varel. Ia masih tetap mempertahankan egonya, apalagi saat ini ia tengah kedatangan tamu bulanannya. Jadi sangat mudah membuat dirinya terpancing emosi.
Varel merasa jengah dengan Rania, ia menginjal pedal gas mobilnya. Sehingga mobil melaju dengan kecepatan tinggi.
Rania tersentak dengan kelakuan Varel. " Kalau lo mau mati, mati sendiri aja. Jangan ngajak gue!" Bentak Rania sembari menguatkan pegangannya pada sealbeth.
Varel mengurangi kecepatan mobilnya, bahkan ia menghentikan mobilnya dipinggir jalan. Ia membuka sealbeth yang ia kenakan. Lalu mendekat pada Rania. " Gitu dong, ngomong. Jangan diam aja, lebih baik kamu maki aku, pukul aku. Daripada diam aja, aku nggak ngerti kalau kamu diam aja." Ucap Varel mengeluarkan isi hatinya.
" Lo jahat! Lo jahat kak!" Teriak Rania memukul-mukul Varel. " Lo bahkan tadi nggak nolak saat dicium. Hiks hiks," Imbuhnya dengan tangis yang tak dapat ia tahan lagi.
" Gue nggak suka, apa yang gue punya disentuh orang lain." Tegas Rania disela tangisnya.
Varel tak melawan, ia membiarkan Rania mengeluarkan semua kekesalannya.
" Udah, marahnya?" Tanya Varel saat Rania sudah tak memukulnya lagi dan sudah berhenti menangis.
__ADS_1
Varel menyentuh tangan Rania dan menggenggamnya. " Gue bukannya nggak nolak, tapi tadi gue kaget saat tiba-tiba dicium." Jelas Varel. " Dan dengar Rania, disini cuma ada kamu. Nggak ada yang lainnya." Imbuh Varel sembari menunjuk dadanya.
" Tapi gue tetap nggak terima, apa yang udah jadi milik gue disentuh orang lain."
Varel tersenyum, lalu ia mengambil beberapa lembar tisu. Dan menyerahkannya pada Rania." Apa aja yang udah disentuh sama dia, sekarang kamu hapus. Biar nggak ada lagi bekasnya."
Rania mengambil tisu itu, dan ia segera menghapus setiap bagian wajah Varel yang disentuh wanita itu. Dan terakhir ia berhenti dibibir Varel." Bibir ini cuma punya gue!" Tegas Rania
Setelah selesai dengan kegiatannya, Rania membuang tisu itu keluar mobil.
" Kan udah dihapus, sekarang nggak usah ngambek lagi ya." Bujuk Varel, masih melihat raut kekesalan diwajah sang kekasih.
" Iya."
" Senyum dong." Pinta Varel, Rania pun menurutinya. " Nah, ini baru Rania Advani kekasih Varel Aditama yang memiliki sejuta pesona." Imbuhnya memuji diri.
Mendengar hal itu, seketika senyuman diwajah Rania memudar." Iya, memiliki sejuta pesona! Bahkan bisa memikat kembali mantan yang sudah pergi." Rania menyambung ucapan Varel.
Tadi ia sudah bersusah payah membujuk Rania, giliran Rania sudah tak merajuk lagi. Kini ia malah salah bicara.
" Ini semua gara-gara bunga! Bukannya membawa bahagia, malah membawa sengsara!" Gerutu Varel.
*
*
Ditempat Lain, Audi dan keluarga kecilnya baru sampai di kediamannya. Bahkan sikecil Darren sampai tertidur karena lelah. Dave menggendong putranya memasuki kamar. Dan ia menidurkannya dibox baby.
" Darren semakin berat saja." Gumam Dave sembari meregangkan otot-otot tangannya.
" Ya iya lah makin berat, orang nyemilnya aja kuat banget. Kalau dia ngerasa kurang pasti ngamuk," Ujar Audi mendekati sang suami.
__ADS_1
" Bukan cuma itu aja, ini karena Mommy nya yang pinter ngerawatnya." Ujar Dave memuji sang istri.
" Iya lah, Mommy gitu lho!"
" Iya, Mommy emang paling pinter," Ujar Dave membenarkan ucapan sang istri dan menarik gemas hidungnya. Lalu Dave pergi kekamar mandi untuk membersihkan diri. Tubuhnya terasa lelah dan lengket. Setelah seharian menghadiri acara pernikahan Feby dan Varun. Sebenarnya bisa saja ia pulang lebih awal, tapi karena rengekan Feby yang ingin Audi menemaninya hingga acaranya berakhir. Bahkan ia sampai membawa-bawa calon anaknya agar Audi mau menemaninya.
Audi yang merasa tubuhnya lelah, ia hanya mengganti pakaiannya saja dan langsung merebahkan tubuhnya. Bahkan ia tak sadar, jika sang suami sudah selesai dengan acara mandinya.
Dave mendekat keranjang, ditatapnya wajah lelah sang istri. Dielusnya wajah cantik Audi, " Kamu adalah satu-satunya wanita yang akan selalu menemaniku, hingga sampai aku menghembuskan nafas terakhirku nanti." Ucap Dave sembari mengecup bibir sang istri.
Lalu ia ikut berbaring disebelah Audi, dan dipeluknya tubuh Audi yang agak berisi dari sebelum mereka menikah dulu. Dan akhirnya, ia ikut memejamkan matanya.
Ia baru sehari menjaga Darren dengan segala gerak aktifnya, tapi ia sangat merasakan lelahnya. Lalu bagaimana dengan Audi, dia bahkan menjaga sang putra setiap hari. Meladeni setiap kelakuannya yang akan membuat siapapun yang menjaganya merasa kewalahan. Bahkan akhir-akhir ini dia agak susah diberitahu. Jika tidak diizinkan dia akan mengamuk, bahkan tak segan-segan melempar objek yang ada didekatnya.
Dave sungguh bangga dengan sang istri, ia begitu sabar meladeni putranya. Bahkan Audi tak pernah sekalipun bermain tangan pada Darren ataupun mengeluh. Dia hanya akan mengomel saja, dan Darren hanya menanggapinya dengan tertawa.
Malam harinya Dave terbangun karena mendengar tangis sang putra. Ia ingin membangunkan Audi, namun ia urungkan niatnya, setelah ia melihat wajah lelah istrinya. Dan alhasil ia memilih mengganti popok sang putra sendiri.
Baby Darren menangis karena popoknya sudah penuh, dan mungkin ia merasa tak nyaman dengan hal itu. Dave mengganti popok sang putra dengan telaten. Ia memang sudah diajarkan oleh sang istri dan sudah mulai terbiasa dengan hal ini.
" Akhirnya siap!" Ucap Dave setelah selesai mengganti popok sang putra.
Hoam.
Baby Darren menguap sambil mengucek- ngucek mata, ia kembali merasakan kantuknya. Dave yang sudah faham tentu langsung menimang sang putra dan sesekali menepuk bokongnya. Agar baby Darren lekas tertidur.
*
*
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1