
Sore harinya.
Devita baru saja keluar dari ruangan Operasi dan lansung menuju ruangannya setelah membersihkan tubuhnya.
Tidak lama ponselnya berdering dan lansung dia lihat suaminya yang menghubunginya saat itu.Devita mengambil ponselnya lalu mengangkatnya.
"Kami sudah di depan..!" Ucap Dafa.
"Tunggu sebentar.." Ucap Devita lalu mematikan telepon itu kemudian memasukan ponselnya kedalam tasnya. Devita mengemas meja kerjanya dan ruangannya lalu mengambil jas Dokternya dan juga Tasnya kemudian Devita keluar dari ruangannya menuju parkiran.tidak lama Devita sampai di dekat mobil suaminya kemudian lansung kedalam mobil itu.
"Kakak.." Ucap Dika tersenyum.
"Kenapa Dek..?" Tanya Devita.
"Aku nggak sabar aja pulang kerumah kita kak..aku kangen rumah kak" Ucap Dika yang lansung mendapatkan pelukan dari kakaknya.
"Kak..kita kerumah Bunda dulu kak.." mendengar itu Devita lansung memeluk tubuh Adiknya sembari mencium kepalanya.
"Iya kita kesana ya.." Ucap Devita sembari melihat kearah suaminya.
"Bisakan kita kemakam Bunda dulu..?" Ucap Devita.
__ADS_1
"Bisa.."Jawab Dafa.
Mobil mereka masih melaju lansung menuju pemakaman umum Kota itu. Tidak lama mereka sampai disana dan keluar dari mobil.Devita tertegun melihat suaminya membawa keranjang berisikan bunga dan juga Air.
"Kamu kok tau Bunda disini?" Tanya Devita karena sudah dari ingin menanyakan hal itu,karena suaminya tidak bertanya dengannya dimana letak pemakamannya.
"Sebelum aku menikahi kamu,Aku datang kemari meminta restu Bunda kalian untuk menikahimu.." Ucap Dafa membuat hati Devita tersentuh. Benarkah apa yang suaminya katakan, rasanya Devita tidak percaya ucapan suaminya namun melihat keanehan tadi, Devita mempercayai suaminya itu.
"Ayo Dika.." Dafa menarik pelan tangan Dika lalu berjalan menuju kedalam pemakaman,yang juga di ikuti Devita dari arah belakang mereka berdua.
"Bunda..." Dika lansung memeluk batu Nisan Bundanya sembari menciumnya
"Bund..kami datang lagi Bunda..Bunda apa kabar..Bunda pasti baik-baik saja disana..begitu juga kami Bunda,kami juga baik-baik saja.." Devita menciun batu Nisan Bundanya yang perlahan meneteskan Air matanya namun lansung Dia hapus.
"Ayuk kita taburin bunga Dulu Dek.." Ucap Devita.
"Iya kak.." Ucap Dika yang kemudian ikut dengan kakaknya menaburkan Bunga diatas pusaran Bunda mereka. Setelah selesai,Devita membawa Adiknya berdoa.setelab selesai Devita melihat kearah suaminya yang masih berdiri di sampingnya.
"Kamarilah.."Mendengar itu Dafa duduk berjongkok di samping istrinya dengan matanya melihat kearah istrinya.Dafa sedikit terkejut saat Devita mengambil tangannya.
"Bunda..Kakak sama Adek kemari nggak berdua saja Bunda,Bunda pasti sudah mengenal siapa yang di samping kakak sekarang..Dia pasti sudah memberitahu Bunda Sebelumnya kan.. Bunda..Dia suamiku sekarang Bunda.., Maafkan kakak tidak meminta restu Bunda sebelum kami menikah.." Ucap Devita Lalu mengalir air matanya yang lansung Dafa hapus.
__ADS_1
"Kenapa menangis..Kamu tidak iklas dengan pernikahan ini..?" Tanya Dafa yang lansung di gelengkan Devita kepala dengan air matanya terus keluar, Melihat itu,Dafa membawa Istrinya kedalam pelukannya.
"Kamu merasa bersalah karena tidak meminta restu dengan Bunda sebelum menikah..Maafkan aku,aku yang membuat kamu tidak melakukannya,tapi kamu harus tau bahwa aku sudah meminta restu Bunda mengenai pernikahan kita."Dafa memegang kedua pipi Devita dengan matanya melihat kearah istrinya.
"Di depan makam Bunda kamu saat itu dan sekarang ,aku tidak mau berjanji denganmu dan Bunda kamu tapi aku akan membuktikan kalau aku akan menjadikan kamu istriku satu-satunya sampai ahkir hidupku..itu adalah ucapan ku yang aku katakan saat aku kemari mengunjungi Bunda kamu sebelum kita menikah." Air mata Devita semakin keluar mendengar Ucapan suaminya.
"Aku memang pria pemaksa namun asal kamu tahu,semua yang aku lakukan akan aku perhitungkan sebelumnya mau itu baik dan buruknya.Di depan Bunda kamu,Aku akan mengatakan lagi padamu Devita permatasari,maukah kamu menjadi istriku selamanya..?" Devita semakin menjadi air matanya keluar yang kemudian lansung memeluk erat tubuh suaminya.
"Ya aku mau Suamiku..!" Ucap Devita membuat Dafa terdiam sejenak lalu tersenyum,Dafa sangat senang sekali istrinya memanggil dirinya dengan sebutan suamiku.
"Terimakasih Istriku.." Ucap Dafa perlahan membubuhkan kecupan lembut di kening Devita. Tersadar Dika berada disitu,Dafa menarik Dika kedalam pelukannya Juga.
"Sekarang kalian jangan perlu takut apapun lagi,kalian cukup mengandalkan aku.." Ucapnya.
"Terimakasih kak.." Ucap Dika.
"Ems..sebaiknya kita pulang,ini sudah malam,besok lagi kita kemari..!" Ucap Dafa.
"Baiklah.." Ucap Devita.
Mereka bertiga berpamitan dengan Bunda,setelah itu mereka pulang menuju kerumah yang Devita dan adiknya tempati.
__ADS_1