
"Kalau begitu pesankan aku tiket ke Raja Ampat sekarang juga! Dan untuk keberangkatan malam ini!!" pinta Clara pada Dygta.
"Sudahlah, Clara. Jangan berbuat sesuatu hal yang ujungnya akan semakin merugikan posisiku. Kau tau, hanya perlu waktu hingga mereka mengetahui siapa dalang yang menyerang Nadia dan Leo kala itu. Aku tidak ingin kau menyeretku ke dalam masalah yang kau buat itu!" tolak Dygta tegas.
Itulah alasan mengapa dirinya belum mau memiliki hubungan serius dengan Clara.
Dygta tau seberapa besar kekuatan yang di miliki oleh Leo. Dan Nadia kini bukanlah seseorang akan mudah dia permainkan lagi.
Dygta memilih jalur untuk mengamankan dahulu harta kekayaannya.
Dia tidak akan bergerak terburu-buru ketika posisinya kini sedang lemah.
"Kau payah Dygta!"
"Sampai kapanpun aku takkan terima karena wanita itu telah membuatku tak bisa bekerja dimanapun!" pekik Clara kesal.
" Di manapun kau berada Nadia, akan kupastikan jika diriku pun berada di sana," gumam Clara dengan senyum liciknya.
Clara menghentak kakinya dan melangkah keluar dari apartemen Dygta.
Ia akan mencari cara sendiri dengan kemampuan yang ia miliki. Bagaimanapun Roberto sempat memberikannya banyak uang, sebelum Clara tau jika tambang uangnya itu telah meregang nyawa.
___________
"Halo, Beb! Aku ingin mengajakmu liburan. tentunya dengan satu misi. Jika rencanaku ini berhasil, maka aku akan membiarkanmu meniduriku selama sebulan lebih," bujuknya pada seseorang yang hendak didaulatnya untuk masuk ke dalam teamnya.
Sebuah team untuk mengikuti Nadia dan Leo tentunya.
"Wah, Clara. Akhirnya kau menghubungiku juga," sahut pria di balik telepon dengan senyum semringahnya.
"Ya, kau bisa kan siapkan tiket ke raja ampat?"
"Itu adalah hal mudah darling!" ucap pria itu antusias.
"Beb. Aku ingin kamar hotel di depan kamar mereka! Kenapa begitu jauh!" teriak Clara marah. Bahkan ia melempar sepatunya hingga mengenai tubuh pria yang bertugas sebagai pesuruh hotel itu.
"Maaf Nona. Kebetulan
kamar yang Anda inginkan telah di booking seluruhnya." Pria tersebut menjelaskan seraya menunduk takut.
Dirinya tau tabiat dari tamu yang egois dan arogan. Setiap yang diinginkannya harus terlaksana.
"Dasar bodoh!" Clara kembali melempar sepatunya lagi kepada pria itu. Sungguh kasar sekali sebagai wanita yang berkelas.
__ADS_1
"Dasar orang kaya gak ada akhlak. Kalau saja bukan tamu sudah kulempar balik sepatu ini sampai menancap di kepalamu."
________
Sore ini Leo memutuskan untuk mengajak sang istri keluar dari hotel. Agendanya pada hari ini mereka hanya akan jalan-jalan saja menyusuri pantai di kepulauan Raja Ampat yang terkenal bagaikan surga dunia itu.
Alam yang begitu indah dengan hamparan langit yang biru serta beralaskan pasir yang putih. sungguh memanjakan mata dan juga pori-pori kakimu.
Nadia pasrah membiarkan rambut basahnya kering secara alami.
Siapa lagi yang mampu membuatnya keramas sore-sore.
Semenjak datang ke hotel ini, tanpa menunggu malam, Leo terus saja menikmati tubuhnya kapanpun pria itu mau.
Nadia, nyatanya tidak mampu menolak.
Secara dia pun belum pernah merasakan nikmat dan kebahagiaan yang Leo berikan untuknya.
Bersama pria tampan itu, Nadia nyatanya dapat merasakan nikmat dan sensasi lain dari bercinta.
Karena, ketika bersama Dygta ia tak pernah di berikan kesempatan untuk menikmati momen itu. Dygta hanya memikirkan kebutuhannya saja tanpa memikirkan kebutuhan biologis Nadia.
Angin yang berhembus tidak terlalu kencang serta udara yang menyusup hangat. Membuat rambutnya yang hampir saja kering itu melambai terbawa angin.
Satu tangannya menenteng sepatu dan satu tangannya lagi menyibak surai yang menutupi wajahnya. Kacamata hitam bertengger dengan cantik di sana.
Menurut pandangan Leo, istrinya saat ini terlihat begitu cantik dan berseri. Aura kebahagiaan nampak menguar dari raut wajah Nadia.
"Sini." Leo mengulurkan tangannya hendak mengambil sepatu yang ditenteng oleh Nadia. membuat wanita di hadapannya yang mana telah sah menjadi istrinya itu mengerutkan keningnya.
"Biar aku saja, tak apa," tolak Nadia halus. Akan tetapi Leo tetap mengambil alih benda yang berada dalam tentengannya itu.
Perlakuan manis Leo yang sederhana itu nyatanya mampu menciptakan senyum di bibir Nadia.
"Santai sayang, dengan begini kamu bisa merentangkan kedua tanganmu. Rasakan hembusan angin yang akan menerbangkan segala penat serta risau dalam hati. Cobalah." Leo berkata dengan seulas senyum di wajahnya.
"Kamu, sekarang jadi mudah sekali menebar senyum. Sebahagia itukah kau bersamaku, Leo?" batin Nadia. Tanpa di sadari bibirnya juga mengulas senyum yang begitu manis.
"Jangan khawatir. Anak buahku telah memastikan jika pantai ini aman untuk kita berdua," jelas Leo yang mengerti arti sedikit gusar yang ia tangkap pada mata Nadia.
Nadia mengangguk. Ia percaya akan ucapan pria yang kini telah menjadi suaminya itu dan yang telah berjanji dengan sungguh-sungguh untuk selalu menjaganya. Hingga, kini Nadia tak lagi memiliki alasan untuk takut dan khawatir.
Leo meletakkan sepatu miliknya dan juga Nadia di bawah batu karang yang terletak tak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini. Keduanya kini berada di atas batu karang tertinggi.
__ADS_1
Kemudian, Leo menghampiri Nadia untuk berdiri dibelakangnya. Nadia tersenyum dan membiarkan Leo melakukan apa pun yang diinginkan pria itu padanya.
"Rentangkan tanganmu lalu pejamkan kedua matamu dan percayalah jika pada saat ini aku bisa membawamu terbang," ucap Leo yang saat ini merangkul pinggang ramping istrinya itu.
"Ck. Kalau mau kayak terbang, ajak aku naik Flyboarding," kata Nadia.
"Itu bisa kita lakukan nanti. Untuk saat ini aku akan membuatmu merasakan sensasi di film Titanic. Hal romantis yang pernah Jack lakukan pada Rose," jelas Leo.
"Membahas film itu, kentara sekali berapa usiamu saat ini, suamiku," ledek Nadia.
Hingga pada akhirnya ia mendapat gigitan dibahunya.
"Aw, kau menggigitku!" rajuk Nadia hampir menangis ketika ia merasa jika Leo bersungguh-sungguh melakukan itu padanya.
"Karena itu, menurut saja! Dan jangan banyak protes," bisik Leo. Membuat Nadia terkesiap seketika. Bau mint dari napas pria itu membuatnya merinding seketika.
Leo pun menarik tangan Nadia dan merentangkannya hingga sejajar bahu. Angin laut berhembus dengan lembut. Menyibak rambut panjang Nadia berikut bawahan dress-nya.
Setelah Leo meyakini bahwa istrinya Itu telah menghayati sapuan angin serta debur ombak yang menggelitik telinga mereka. Tanpa bermaksud untuk membuang kesempatan, Leo pun segera melingkarkan kedua lengannya pada pinggang ramping Nadia.
"Bagaimana, apa kau merasakannya?" bisik Leo.
"Hemm ... aku merasakannya suamiku. Ternyata ini sangat nyaman dan menyenangkan," jawab Nadia pelan.
Leo tersenyum, karena sang istri mudah bahagia dengan hal-hal kecil.
Setelah ini sesuatu yang besar akan ia berikan pada Nadia. Kebahagiaan yang takkan pernah wanita itu lupakan seumur hidupnya.
Tanpa sepengetahuan mereka. Nampak raut wajah kesal dengan tatapan mata memerah.
"Sialan kalian berdua. Bisa-bisanya kalian tebar kemesraan! Nikmatilah. Aku pastikan ini adalah momen terakhir kalian bersama!"
Pria itu menekan ujung batang rokoknya yang membara menggunakan ujung jarinya.
Menyaksikan keadaan sasaran yang akan ia musnahkan melalui drone kecil yang ia sebar di sekitar pantai itu.
__________
"Brengsekk. Gue nemuin sinyal drone di sekitar tempat ini. Ada yang sedang memata-matai, tuan Leo dan istrinya!" panik Blue yang menemukan sesuatu di layar komputernya.
"Kau bilang semua area ini sudah bersih!"
Tanpa banyak bicara lagi, Red segera turun dari kamar yang mereka gunakan untuk mengawasi keadaan.
__ADS_1
...Bersambung...