
"Kenapa kalian diam saja? Tak ada yang perlu kalian pikirkan soal biayanya," jelas Nadia, seraya menoleh ke arah Leo meminta persetujuan dari ucapannya barusan.
"Black, Red. Jawab istriku!" titah Leo tegas yang mana hal itu langsung membuat kedua ajudannya itu terkejut dan mereka pun langsung menegakkan tubuhnya.
"Siap Tuan!" jawab mereka serempak.
Akan tetapi tak ada lagi ucapan yang keluar dari mulut keduanya.
Red, semakin panas dingin. Jika ia menjawab iya dah Black tidak setuju bagaimana? Begitulah pikirnya.
Sementara hal yang sama pun tengah terjadi jadi pada pria di sebelahnya. Black sesekali melirik ke arah Red, berharap dapat membaca eskpresi wanita itu.
Tetapi, tak ada sedikitpun petunjuk yang dapat Black temukan.
Apalagi, sikapnya selama beberapa bulan ini sama sekali tidak memperlihatkan perkembangan.
Wanita itu tetap bersikap acuh padanya. Meskipun segala tindakan dan perhatiannya tak lagi di tolak oleh Red.
Akan tetapi, Black tetap tak mampu meraba apa yang wanita itu rasakan pada setiap usaha dan perhatiannya. Bahkan Black telah berusaha untuk menjadi pria yang lebih serius dan tak lagi suka menggoda Red.
Black berusaha menjadi pria yang cool dan tak lagi slengean.
Tanpa Black tau justru Red sedang bingung setengah mati akan perubahan perilakunya.
Wanita itu bingung ingin mengambil sikap apa. Ia tak terbiasa di perlakukan seperti itu oleh Black. Pria yang selama ini selalu memancing emosinya dengan sikap nyeleneh dan rayuan gombalnya.
Red, justru kehilangan itu semua. Wanita itu seakan tak lagi muda lihat Black, pria yang selama dua tahun ini selalu mengganggu hari-harinya.
"Sayang, apa kau yakin dengan keinginanmu ini?" bisik Leo bertanya sekali lagi pada Nadia untuk memastikan.
"Tentu saja aku yakin, Leo. Apa kau tidak melihat keinginan dan harapan yang sama dari keduanya. Hanya saja mereka ini terlalu bodoh dan naif untuk dapat mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Mereka terlalu menjaga gengsinya masing-masing. Uh geramnya," kata Nadia seraya menahan gemas dengan mengeratkan gigi-giginya.
Leo bahkan sampai tertawa melihat reaksi sang istri terhadap kisah cinta kedua ajudannya itu.
Apapun akan ia turuti selama Nadia bahagia. Termasuk menikahkan kedua ajudan setianya ini.
"Aku beri waktu hingga jam dua siang nanti untuk menjawab tawaran istriku atau, kalian siap-siap angkat kaki dari sini!" ancam Leo. Tentu saja ucapannya itu bagaikan biji kedondong yang nyangkut seketika di tenggorokan.
Maju kena, mundur pun kena.
__ADS_1
Itulah nasib Red dab Black saat ini.
"Baik Tuan. Ijinkan saya dan Red membahas hal ini terlebih dulu," ucap Black pada akhirnya.
Leo pun mengangguk pelan dan tak lama kedua ajudannya itu keluar.
Selepas kepergian kedua ajudannya, Leo langsung menarik tubuh Nadia ke atas pangkuannya.
"Suamiku, apa aku tidak berat?" tanya Nadia yang sedikit risih karena perut besarnya menjadi jarak pemisah antara dia dan Leo.
Nadia tak bisa merengkuh tubuh Leo seperti sebelumnya. Ia hanya bisa mengalungkan kedua tangannya ke leher Leo, sehingga pria itu tersenyum dengan amat menawan.
"Bagiamana perasaanmu saat ini sayang? Apakah keadaanmu ini masih bisa kau tahan?" cecar Leo yang semakin khawatir akan keadaan istrinya.
"Aku baik-baik saja suamiku sayang. Tak ada hal yang perlu di khawatirkan. Baby twins juga sangat pengertian. Tapi, entah mengapa mereka menginginkan agar paman dan bibinya itu berhenti main kucing-kucingan," jelas Nadia dengan senyum manis yang sangat menggoda.
Hingga Leo pun memajukan wajahnya untuk meraup bibir merah delima itu dan menyesapnya pelan.
Lama kelamaan permainannya yang lembut semakin menuntut. Bahkan jemari Leo mulai menyingkap bawahan dress istrinya hingga menampakkan paha yang putih mulus.
Kita biarkan saja mereka melakukan apapun di dalam sana. Karena alangkah baiknya mengintip pasangan yang tadinya bagaikan tom end Jerry ini tiba-tiba kaku bagaikan kanebo kering dan kerupuk seblak yang di jemur di atas genteng.
"Menurutmu, apakah kita bisa menolak? Dan, haruskah aku menolak?" jawab Red dengan balik bertanya.
"Aku akan menolak jika memang kau tidak ingin menikah denganku. Karena aku tak ingin memaksa wanita yang membenciku untuk hidup bersama seumur hidup. Mungkin aku yang harus sadar diri dan mengakhiri saja semuanya," ucap Black yang nampak sekali keputusasaan dari nada suaranya.
"Siapa yang membencimu? Kenapa kau begitu sok tau dengan segala persepsi yang kau ciptakan sendiri!" tukas Red geram. Tetapi, ucapannya langsung membuat Black menoleh dan menatapnya dalam.
Bahkan pria itu terlihat mendekat dan memegang bahu Red. Entah kenapa tak ada dorongan untuk menolak sentuhan Black seperti yang selalu ia lakukan sebelumnya.
"Jelaskan padaku, Red. Apa yang kau rasakan daripada apa yang selama beberapa bulan ini aku lakukan padaku? Katakan kau menyukainya atau justru terganggu dan ingin aku enyah dari hadapanmu, hidupmu?" cecar Black dengan tatapannya yang tak bergeser pada manik mata Red yang berwarna almond itu.
"Aku--" Red tak mampu meneruskan kata-katanya. Semua yang ia rasakan dalam hatinya seakan Kelu dah tak mampu keluar dari pita suaranya. Hingga Red memutuskan untuk memajukan wajahnya.
Red menjawab segala keraguan dalam hati dan juga pikiran Black dengan tindakannya yang cukup berani.
Wanita cantik yang cukup galak pada Black itu dengan nekat merampas bibir pria di hadapannya dan menciumnya lembut.
Tentu saja reaksi mendadak dari Red membuat Black sontak membulatkan kedua matanya.
__ADS_1
Tak lama Red, melepas ciumannya dan menatap kedalam mata pria yang sebenarnya berarti dan tidak berpengaruh dalam hidupnya ini.
Black pria yang mencintainya dengan cara yang absurd dan lain daripada pria yang lain.
Sehingga, ketika pria itu merubah sikapnya sontak Red merasa gamang dan aneh.
Black, tak membiarkan Red lepas, karena itu ia gantian menyambar bibir seksi itu dan menyesapnya lembut.
"Jadi, kita akan menikah?" tanya Black seraya menatap wajah di hadapannya ini dengan senyum bahagia.
"Apa jawabanku kurang meyakinkan hingga kau terus bertanya," sungut Red, dengan wajah ketusnya seperti biasa.
"Oh tidak perlu sayang. Itu sudah lebih dari cukup," kata Black dan terus saja memasang seringai bodohnya.
"Stop memasang ekspresi itu atau rencana kita batal!" ancam Red yang telah berlalu dari hadapan Black hingga pria itu langsung mengejarnya.
"Maaf aku speechless," jujur Black.
Mereka berdua kembali ke ruang kerja Leo dan tangan Black yang hendak mengetuk pintu pun seketika berhenti di udara, pada saat keduanya mendengar suara-suara yang memancing gelora itu mengalir dari kaki hingga ke ubun-ubun.
"Mereka berdua, yang benar saja?" kata Black, seraya meringis pelan.
Sementara Red, hanya menggeleng dan tersenyum tipis. Pasangan majikannya ini memang luar biasa. Mereka bahkan dapat bersenang-senang dimanapun lokasinya.
"Kenapa kau tersenyum, Red? Jangan bilang kalau kau sedang membayangkan kita berdua yang sedang melakukan," kata Black asal.
Sontak saja Red menoleh dengan tatapan tajamnya dan ...
Bugh!
Sebuah tendangan mengenai tungkai kaki Black, hingga pria dengan rambut di kuncir itu mengaduh.
"Belom nikah aja udah kena kdrt," sungut Black.
"Kalau tak terima kita batalkan saja rencana pernikahan itu dan kau pergi saja dari sini!" ketus Red seraya berjalan menjauh dari depan ruangan yang membuatnya mendadak gerah itu.
"Hei jangan dong! Aku sudah sangat senang karena sebentar lagi akan melepaskan keperjakaanku denganmu," ucap Black yang memang selalu absurd.
"Huh, kenapa aku harus setuju menikah dengannya," gumam Red.
__ADS_1
...Bersambung ...