
" Senyummu manis sekali. Apakah itu untukku?" goda Black yang ternyata menyadari bibir red sedikit melengkung.
"Siapa yang senyum?" ketus Red, hendak berbelok menghindar tapi tangan Black menahan lengannya.
"Red, bolehkah aku memintamu untuk sering-sering tersenyum seperti ini?" pinta Black pada sosok wanita yang sejak beberapa tahun ini membuatnya tetap bertahan mengejar.
Pertanyaan Black seketika membuat wajah Red, tersipu malu dan memerah.
"Hei, kedua pipimu memerah. Apa kau sedang malu?" goda Black yang sungguh tidak tau situasi.
"T–tentu saja bukan! Kita kan berada di bawah sinar matahari sekarang! Asal kau tahu saja, aku ini kepanasan!" ketus Red yang mana membuat Black terkekeh geli.
" Semakin kau mengelak semakin membuktikan jika kau sudah mulai suka padaku, iya kan?" goda Black lagi.
"Pria ini kenapa bisa bicara dengan frontal seperti itu? Apa dia tidak punya malu, membuat orang kesal saja," batin Red, yang mana langsung menolehkan wajahnya dan menatap ke sembarang arah.
"Jangan marah, aku kan hanya menggodamu saja. Tolong pasang lagi wajahmu yang manis seperti tadi. Karena jika kau cemberut seperti ini, justru membuatku gemas dan tidak tahan." Black berkata sambil mengulurkan tangannya demi meraih dagu Red, agar wajah wanita itu kembali menghadapnya.
Sontak saja Red menangkis tangan Black. Memangnya apa yang pria itu pikirkan?
"Tidak tahan apa maksudmu?" ketus Red lagi.
" Tentu saja tidak tahan untuk menciummu," kata Black lagi seenaknya hingga membuat Red semakin salah tingkah.
" Apa kau tidak bisa menyaring kata-katamu sedikit! Kau itu menyebalkan dan perusak suasana!" pekik Red langsung pergi dan berjalan menjauh.
" Hei, Red! Kenapa kau marah? Aku kan hanya berkata jujur, apa itu salah? Kan tadi kau juga yang tanya!" kilah Black membela diri, sambil terus berjalan cepat mensejajarkan dirinya dengan Red.
"Berhenti mengikutiku, Black!" kecam Red dengan sorot mata tajam.
"Jangan galak-galak. Kamu itu cantik, manis lah sedikit agar pria berani mendekatimu," ucap Black yang justru semakin membuat Red, kesal padanya.
"Kau ini cari masalah hah!" Red pun maju dengan serangan tangannya.
Black yang sempat kaget tak seberapa siap, akan tetapi dia tetap dapat menangkis pukulan Red ke arah wajahnya.
Black berhasil mendapatkan tangan Red kemudian pria yang rambutnya di kuncir itu menarik tubuh Red itu hingga menempel paksa di tubuhnya.
"Hentikan, karena aku tak mungkin melukaimu," ucap Black pelan di samping telinga Red.
Wanita itu malah tersenyum menyeringai.
"Bilang, saja kalau saat ini takut kalah kan jika terus melawanku," bisik Red dengan seringai sinis di wajah cantiknya itu.
Red tak pedulikan teriakan Black yang mengatakan agar ia berhenti menyerang karena wanita itu sudah sangat kesal dan harus melepaskannya saat ini juga.
__ADS_1
Apalagi, Red sebenarnya masih marah soal kejadian beberapa hari lalu dimana Black dengan sengaja mencuri ciumannya.
"Hei, apa kau masih marah padaku atas kejadian di klab itu?" tanya Black di sela aksi menghindar dari setiap jurus yang Red lepaskan padanya.
"Rupanya kau paham!" seru Red dengan serangan terakhirnya di saat Black lengah dan hal itu menguntungkan bagi Red.
Karena dengan begitu Red dapat membuat Black tersungkur ke belakang berkat tendangannya.
Brugh!
Aw!
Black menjerit merasakan bokongnya yang nyeri karena sudah menghajar tanah.
Red mendekat dengan senyum remehnya.
"Dasar laki-laki payah! Sampai kapanpun aku tidak akan suka padamu!" teriak Red.
Black hanya tersenyum dan pria itu menendang pelan kaki Red, hingga wanita itu tersandung dan jatuh tepat di atas tubuh Black yang terlentang.
"Kau pasti sengaja hanya untuk mengambil keuntungan dariku kan?"
"Kalau iya kenapa? Daripada kau marah-marah gak jelas gitu ya mending kita pacaran aja kayak gini," goda Black lagi yang semakin membuat Red geram bukan main.
Plak!!
Sampai wanita yang menindih tubuhnya ini tak tau lagi harus berkata apa. Wajahnya semakin memerah bak udang rebus.
Dengan cepat Red berlalu dari atas tubuh Black. Pria yang selalu saja membuatnya kesal bukan main.
"Dasar pria gila! Semakin lama bersamanya maka keinginanmu untuk membunuhnya akan semakin besar!" maki Red dan berlalu pergi.
Ah yang benar saja, Red, kau ingin membunuhnya?
Yakin?
Black masih terus tertawa hingga punggung Red menghilang.
Memang kau gila Black.
Bercanda di taman rumah sakit.
"Semakin kau membenciku maka aku akan selalu berada di dalam pikiran dan hatimu, Red," gumam Black seorang diri.
________
__ADS_1
"Kenapa Nadia, biar saja mereka panas," ucap Leo setelah menghentikan aktivitasnya sejenak, kemudian melihat ke wajah cantik natural itu di depannya.
"Kau keterlaluan, Leo. Aku pasti tidak akan sanggup bertatap muka dengan mereka berdua." Nadia mendorong wajah Leo yang masih ingin mencumbunya.
Ini sudah jam pemeriksaan dari dokter. Bagaimana jika sekumpulan tim medis tiba-tiba muncul.
Leo hanya tertawa kecil menerima pengusiran dari istrinya. Cukup sudah main-mainnya. Ia mulai merasa tak enak pada lengan bagian atasnya.
Benar saja tak berapa lama kemudian para tenaga kesehatan masuk memeriksa keadaan Leo.
"Kemungkinan besar, besok anda sudah bisa pulang. Sebelum luka benar-benar kering jangan dulu mengangkat benda berat dan beraktivitas terlalu lelah," saran dokter tersebut kemudian kembali berlalu keluar.
Nadia bersiap menyuapi Leo.
"Aku bosan makanan rumah sakit," tolak Leo.
"Tapi ini aku sudah request, sehingga makananmu ini berbeda dan lebih mewah daripada menu pasien lainnya," kata Nadia seraya menunjukkan udang tempura dan tumis jamur kancing di atas pangkuannya.
"Aku rindu masakanmu," rengek Leo.
"Besok kan kita sudah pulang. Aku janji akan masak apapun yang kau suka," ucap Nadia berusaha membujuk suaminya ini agar makan.
"Baiklah, kau harus berjanji padaku ya."
Nadia mengangguk dan barulah Leo mau membuka mulutnya.
"Apa masakanku itu lezat sehingga sekarang lidahmu mengatakan makanan dari tempat lain itu tak sedap?" tanya Nadia ingin tau.
Leo mengangguk cepat sambil berusaha menelan setelah mengunyah makanan rumah sakit yang tidak ada rasanya ini.
"Setelah aku mencoba masakan buatanmu, bahkan menu restoran mahal sekalipun tak ada rasanya di lidahku," jawab Leo. Langsung menenggak air minum banyak-banyaklah.
Pria itu mendorong sendok yang sudah kembali berada di depan mulutnya dengan telapak tangan.
"Jangan memaksaku lagi. Lambungku bisa meledak," kata Leo mendramatisir.
Nadia pun tergelak mendengar ucapan suaminya. "Memangnya yang kau makan ini bubuk mesiu hingga mampu meledakkan perutmu?"
"Kurasa lebih baik makan mesiu."
"Apa?" Dan Nadia pun semakin tertawa.
"Atau, makan kamu saja."
Tiba-tiba Leo sudah berada tepat di depan wajah Nadia dengan senyum penuh arti.
__ADS_1
"Suamiku, apa kau lupa kalau kita masih di rumah sakit," ucap Nadia gemas.
...Bersambung...