
"Kenapa aku harus bertemu dengannya di waktu yang tidak tepat," batin Nadia seraya menyembunyikan lingerie yang ia pilih di belakang tubuhnya.
"Apa yang kau sembunyikan? Kau pikir aku tidak melihatnya tadi?" goda Dygta dengan tatapannya yang nyalang.
"Diamlah! itu bukan urusanmu!" sergah Nadia seraya berjalan melewati Dygta.
Akan tetapi tanpa dugaannya pria itu yang merupakan masa lalu buruk dalam hidupnya itu, menarik tangannya dengan kencang, hingga Nadia jatuh ke dalam pelukannya.
"Lepaskan aku brengsek!!" maki Nadia seraya menginjak kaki Dygta dengan ujung sepatu hak tingginya.
"Oh, astaga!"
Dygta langsung mengeluarkan kakinya dari sepatu, dan rahangnya langsung mengeras ketika melihat jarinya terluka karena perbuatan Nadia sang mantan istrinya itu.
"Rasakan! Itu belum seberapa yang kau dapatkan dariku Dygta!" ancam Nadia seraya merogoh kedalam tas demi mengambil senjata andalannya.
Karena Red telah memberikannya beberapa jarum kematian itu untuk menjaga diri. Akan tetapi, Nadia hanya bermaksud mengambil lipstik yang bisa menyetrum.
Tanpa bisa mengelak ternyata Dygta juga bergerak cepat menarik tali tas Nadia.
"Apa maumu, Dygta!" teriak Nadia yang tak terima perlakuan mantan suaminya itu padanya.
"Aku hanya ingin menyapa mantan istriku, apa itu salah? Kenapa kau ini sombong sekali?" cecar Dygta dengan seringai sinis di wajahnya.
Nadia berusaha melepaskan diri dari cekalan Dygta, akan tetapi Nadia tak mungkin menyerahkan tas berisi barang-barang berharganya itu.
Kepala Nadia menoleh kanan-kiri, namun tak ada satupun penjaga maupun pelayan yang tertangkap pandangannya.
"Kenapa kau terlihat takut dan tidak bisa tenang jika melihatku hah!" bentak Dygta, semakin berani.
Nampaknya masih ada sisa-sisa minuman beralkohol lagi yang menutupi akal pikiran sehatnya. Atau, memang Dygta tak mampu menahan emosi dan napsunya jika melihat sang mantan yang nampak begitu menawan di matanya saat ini.
"Apa katamu? Aku takut?" cibir Nadia remeh. Rasanya ingin tertawa ketika dirinya yang sekarang takut pada sosok yang ia tau kini tak lagi memiliki apapun. Perusahaan, jabatan serta harta bahkan orang tua, semua telah hilang diambil dari tangannya.
Ingin rasanya Nadia mengungkit itu semua namun ia tak mau membuang waktunya.
"Sebaiknya kau tidak mencari masalah denganku. Atau hidupmu yang sudah kalah ini akan semakin menyedihkan," kecam Nadia dengan nada tegas yang keluar lancar dari bibirnya.
"Sombong sekali kau, Nadia!" Dygta justru malah hendak menarik kembali tangan Nadia tetapi, sebuah tangan kekar dan besar tiba-tiba menarik bahu Dygta hingga pria itu berbalik cepat dan ...
Bugh!
Dygta langsung tersungkur keras setelah mendapat bogeman menatap dari sosok yang membuat Nadia membulatkan matanya.
"Leo?"
"Kau, bagaimana bisa tau kalau--"
"Lain kali, jangan pernah pergi tanpa diriku," ucap Leo seraya memeluk istrinya erat.
__ADS_1
"Maaf, aku hanya ingin berbelanja agar bisa masak makanan kesukaanmu," kilah Nadia memberi alasan. Dia agak keluar dari rencana setelah melihat promo lingerie keluaran terbaru.
Setelah itu Nadia berniat ingin membahagiakan Leo pada saat mereka bercinta nanti.
Siapa sangka ia akan bertemu dengan si pengganggu Dygta.
"Lain kali, tunggu aku bangun. Aku tidak akan marah jika kau belum bisa masak untukku. Kau tau betapa gilanya diriku ketika mendapati kau tak ada di kamar dan di sekeliling mansion?" tegas Leo lagi dengan emosi yang nampak sekali tengah ia tahan saat ini.
"Ah, ya maaf suamiku. Lain kali aku--"
"Hentikan bermesraan di depanku sialan!" teriak Dygta yang sedang berusaha bangun dan terlihat menyeka ujung bibirnya yang berdarah.
"Cih! Kau yang sialan!" Leo kembali maju dan menyerang Dygta dengan pukulan demi pukulan. Akan tetapi pria itu mampu berkelit dari setiap serangannya.
"Beraninya kau menganggu istriku! Nampaknya kali ini aku tidak akan bermain-main lagi denganmu!" Leo menunjuk wajah Dygta, dengan jarinya yang kaku.
"Istrimu. Hahaha, bangga sekali kau mendapatkan barang bekasku!" gelak Dygta tertawa remeh dengan hinaannya pada Nadia.
Rahang Leo seketika mengeras. Tanpa berkata apapun lagi, pria itu maju dan kini mengarahkan tendangannya bertubi-tubi hingga, Dygta kewalahan.
Dygta yang yang tak mampu menandingi kemampuan Leo, pada akhirnya harus pasrah menerima tendangan itu mengenai kepalanya.
Tubuh Dygta seketika memutar di udara lalu kemudian jatuh dengan keras ke atas tanah.
Brugh!
Terdengar suara erangan keras dari Dygta yang mendapatkan rahangnya bergeser setelah tendangan itu.
Dygta memegangi wajahnya.
Leo tak tinggal diam sekalipun Nadia meneriakinya agar berhenti dan pergi.
Akan tetapi, pria itu tak bisa diam saja ketika Dygta ternyata masih memiliki nyali untuk menantang dirinya.
Bahkan, para penjaga dari tempat tersebut kini sengaja di tahan oleh Blue dan Black.
Karena keduanya tau jika saat ini, adalah waktu yang tepat bagi Leo untuk menghajar habis Dygta yang sombong dan tak tau diri itu.
Leo berjalan mendekat dan dengan cepat kembali menyerang Dygta dengan jurus tendangan berputarnya hingga raga Leo juga juga ikut berputar dan ambruk dengan erangan lebih kencang.
"Aarrgghh. Sialan kau Leo!" teriak Dygta yang kini merasakan tukang rusuknya seakan patah.
Leo mendekati raga Dygta yang tergeletak dan dengan kejam pria itu langsung menginjak kepala Dygta dengan sepatunya.
"Akh, bangsatt ... kau Leo!" maki Dygta sekalipun suara yang keluar dari bibirnya agak tak jelas karena mulut Dygta sudah penuh darah.
Uhukk!
Dygta batuk dan memuntahkan segumpal darah kental dan hitam dari mulutnya. Karena cairan pekat dengan bau anyir itu berasal dari dalam tubuhnya.
__ADS_1
"Masih bisa memaki rupanya!"
Krekk!
Leo menginjak keras kepala Dygta dengan sepatunya hingga Nadia berteriak kencang.
"Hentikan Leo! Jangan kotori kaki dan tanganmu!" teriak Nadia.
Leo sontak menoleh pada saat mendengar ucapan Nadia dan paham artinya.
Leo langsung menjauhkan kakinya dari tubuh Dygta yang merintih lemah itu, lalu ia memanggil Black dengan kode.
Black tentu saja paham dan langsung mengangguk, seraya memberi lirikan perintah kepada Blue.
Black pun maju dengan membawa sebuah pemukul kasti yang terbuat dari besi.
Tempat tersebut telah di sterilisasi dari para pengunjung dan kebetulan Leo adalah sahabat dari salah satu pemegang saham di pusat perbelanjaan ini.
"Aku akan membawa Nadia pulang, kau tau apa yang jadi kau lakukan padanya, Black," ucap Leo pelan ketika pengawalnya itu melewatinya dan berhenti sesaat.
"Serahkan pada saya, Tuan," jawab Black dengan seringai yang terlihat bak heyna.
"Ayo pulang sayang. Aku lapar," bisik Leo di telinga Nadia.
"Lalu bagaimana dengan --"
"Apa kau saat ini sedang menghawatirkannya?" sinis Leo seraya menatap penuh curiga lebaran Nadia.
"Sama sekali tidak! Kau jangan salah paham. Aku hanya mau tau apa yang ingin Black lakukan dengan pemukul kasti itu?" jelas Nadia.
"Yang pasti membuatnya tak bisa berlagak sombong lagi," jawab Leo.
______
"Arrggh!!"
"Kakiku!!"
Dygta berteriak kencang dan setelahnya pria itu tak sadarkan diri.
Mendapati kedua kakinya remuk karena pukulan demi pukulan keras dari Black.
"Oh tidak apa yang terjadi pada pacarku!" teriak mahasiswi itu ketika ia melihat Dygta di bawa menggunakan tandu menuju lantai bawah.
"Harusnya di lempar saja tadi dari atas," kata Blue.
"Kau kejam sekali, Bung!" gelak Black.
...Bersambung ...
__ADS_1