Kebangkitan Istri Yang Dikhianati

Kebangkitan Istri Yang Dikhianati
Bab#45. KIYD.


__ADS_3

Nadia terus saja tersedu sambil mendekap tubuh suaminya.


Teringat bagaimana beberapa saat yang lalu Leo bersimbah dalam kubangan darah.


"Kenapa kau terus saja menangis? Orang yang mati tertembak kan bukan aku," gemas Leo. Karena Nadia terus saja menangis sambil memeluk tubuhnya di atas hospital bad.


Kini mereka berada di rumah sakit pada ruang perawatan.


"Apa kau tidak lelah? Lihatlah kedua matamu ini," tunjuk Leo lagi pada sepasang mata indah yang kini sembab itu.


"Aku takut, aku menghawatirkan mu," jawab Nadia pelan dengan sedikit terisak.


Kan aku baik-baik saja. Apa yang membuat mu begitu takut, hemm?" Leo meraih dagu itu, hingga wajah sendu istrinya mendongak.


"Itu semua karena, Black datang tepat waktu, seandainya ia telat sedikit saja. Aku tidak akan sanggup membayangkannya." Nadia kembali menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu.


"Haish, Nona kenapa kau begitu bucin!" batin Black yang kini menepuk jidatnya. Menyaksikan adegan dramatis di depan kedua matanya.


Leo hanya menaikkan kedua bahunya acuh sambil melirik kearah Black dengan senyum tercipta setelahnya.


Tak lama Black yang sadar diri ini pun berlalu keluar. Sedangkan untuk mengurus masalah admistrasi semau Red yang melakukannya.


Black meregangkan otot tubuhnya di kursi tunggu rumah sakit, kemudian pria itu merebahkan kepalanya pada sandaran kursi.


Di dalam kamar perawatan VVVVIP, kemesraan terus berlanjut.


Leo beringsut pelan agar wajahnya mendekat pada Nadia, lalu dirinya meraih tubuh ramping itu untuk menariknya masuk kedalam rengkuhannya.


"Sudah sayang, kau jangan terlalu khawatir, karena aku baik-baik saja. Peluru itu tidak menembus lenganku tetapi hanya merobek kulit luarnya saja," jelas Leo berharap setelah ini sang istri akan tenang.


Leo pun mengecup dalam ujung kepala wanitanya.


Nadia semakin melingkarkan lengannya pada tubuh gagah perkasa itu. Menyusupkan wajahnya kini pada ceruk leher Leo.


Menghirup banyak-banyak aroma tubuh yang membuatnya selalu nyaman dan tenang itu.


"Jadi begitu ya. Kau tidak bohong padaku kan?" tanya Nadia yang berpikir justru Leo pura-pura terlihat baik agar ia tak khawatir.


"Kalau tak percaya tanyalah pada, Black atau suster. Black panggilkan suster cepat!"


"Ah tidak usah! Iya aku percaya padamu,"ucap Nadia tetap mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


"Harus, dong! Lagipula, aku tak pernah sekalipun berbohong padamu kan," pongah Leo.


Tapi benar sih.


" Iya, iya." Nadia pun mendongak dan tersenyum manis, membuat Leo justru tergoda untuk menundukkan wajahnya.


Dua pasang mata terkunci, napas mereka saling menyapu hangat. Wajah menawan dengan bulu halus di sekitar rahangnya itu, mendekat pada paras menggoda, yang masih berada di dalam pelukannya.


Hingga ujung hidung lancip Leo beradu dengan hidung mancung Nadia. Bibir mereka tak ayal pun bertabrakan dengan manis, menimbulkan suara merdu yang mengalirkan desiran hingga gelora itu terasa menggelitik.


Ciuman manis itu terjadi berkali-kali. Seiring tekanan pada tengkuk Nadia oleh telapak tangan kekar Leo.


Ciuman mereka sore itu di ruangan perawatan rumah sakit mewah kota tersebut, membuat


udara di sekeliling keduanya terasa hangat dan syahdu.


Waktu seakan berpihak pada mereka berdua, atau bahkan memang berhenti sejenak. Memberi kedua insan ini kesempatan, mereguk manisnya cinta sejati.


Akankah drama romantis ini akan bertahan lama tanpa gangguan?


Sepertinya tidak, karena di luar kamar terdengar derap langkah sepatu terdengar semakin dekat dengan pintu ruangan ini.


Klek!


"Tuan ...." Setelah pintu terbuka, kedua anak buah Leo pun menyesal setengah mati karena telah masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Haissh," decak Red, langsung memalingkan wajahnya.


Sementara pria disebelahnya justru membulatkan kedua matanya lebar-lebar.


"Asik siaran live!" pekiknya dengan pelan tapi gemas.


Nadia yang menyadari kehadiran orang lain di antara mereka, mencoba menghentikan permainan lidah serta bibir dari suaminya ini.


Tak peduli atau memang sengaja, justru Leo merubah posisi menjadi agak menyamping.


Hingga dua orang yang masuk tanpa permisi itu semakin melongo di buatnya.


Apa-apaan ini?"


Bukannya berhenti malah seperti sengaja. Hingga, dada Red berdesir menyaksikan adegan drama romantis secara langsung tersebut.

__ADS_1


"Apa Tuan sengaja memperlihatkannya pada kita," gumam Red dengan geraham yang mengetat.


"Sudahlah, nikmati saja anggap hiburan gratis," celetuk Black yang menelan liurnya susah payah.


"Kenapa jadi ingat rasa bibirnya, Red ya. Si wanita kaku bin beku ini," batin Black.


Akhirnya, Red kembali menutup pintu itu dan berjalan asal.


"Hei mau kemana?"


"Bos kita benar-benar gila, Black!"


"Berhenti!" Black menarik tangan Red agar gadis itu menghentikan langkahnya.


Kenapa caramu bicaramu seperti itu!" protes Black.


"Tidak ada, hanya saja aku yang malu melihatnya. Tapi kenapa mereka berdua biasa saja," heran Red.


"Kau tau, Red. Mereka benar-benar pasangan yang menggairahkan. Gue ... jadi pengen mencari wanita penghibur. Hahaha!" tawa Black menggema di koridor rumah sakit.


"Dasar gila! Kau itu seperti penjahat kelamin yang memiliki banyak penyakit!" sarkas Red dengan kesal.


"Dih, sembarangan nuduh! Gue gak kayak gitu ya, tidak pernah berhubungan **** bebas! Kamu jangan asal bicara," kilah Black membela dirinya yang tak terima di katakan penjahat kelamin.


"Lalu apa yang kau lakukan dengan wanita bayaran itu?" telisik Red mau tau.


"Hanya main-main saja. Gue lebih baik buang tuh kecebong di kamar mandi dah daripada di tempat yang kagak semestinya," jawab Black ketus.


Nyatanya keterangan itu membuat senyum tipis itu tercipta di wajah Red, akan tetapi hanya author yang menyadarinya.


"Kamu kenapa? Tiba-tiba kayak ayam makan karet!"


Plak!


"Sakit, Red!"


"Makanya jangan asal ngomong!"


"Sial, kenapa tiba-tiba mata ini malah fokus ke bibirnya?" batin Black.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2