Kebangkitan Istri Yang Dikhianati

Kebangkitan Istri Yang Dikhianati
Bab#53. KIYD.


__ADS_3

Black melihat ke arah Red yang tidak jauh darinya. Sebab ia memang sedang patroli ke sekeliling mansion.


Sementara Red baru saja menggunakan gym.


Black langsung menghampiri Red dan ia tau jika wanita ini juga sudah menyaksikan adegan romantis yang mengalahkan drama itu tadi.


"Red," panggil Black dari dekat. Bahkan sangat dekat.


Red memejamkan matanya seraya menghela napas. Karena jika Black berada dekat dengannya emosinya pasti nanti akan naik.


"Mau apa sih?" tanya Red malas.


"Kita coba yuk, apa yang tuan dan nyonya lakukan barusan. Sepertinya seru," ucap Black santai tanpa memikirkan bagaimana perasaan wanita maskulin di hadapannya ini.


"Kau, bilang apa?" Red masih berusaha mengontrol emosinya.


"Itu Loh, ciuman romantis. Aku tau kau melihatnya tadi kan? Apa kau tidak ingin mencobanya?" celetuk Black santai.


Sementara kdua pipi Red kini sudah memerah. "Apa-apaan sih!" Red sontak mendorong bahu Black hingga pria itu mundur ke belakang dan terjatuh dengan posisi duduk di atas lantai.


Dugh!


"Aww! Sakit Red! Kau ini kejam sekali sih?" pekik Black yang protes.


"Hei! Aku gak kejam ya! Lagipula yang terjadi padamu Itu merupakan hal yang pantas didapatkan bagi pria kurang ajar!" ujar Red dengan sorot mata tajam.


Black pun mendengus.


Selalu saja dirinya menjadi bulan-bulanan wanita itu.


Untung saja sayang, kalau tidak ...


"Jangan menatapku seperti itu!" Red semakin marah dan nampaknya emosinya akan terus naik jika Black masih ada di hadapannya.


"Kau tidak perlu malu, Red. Katakan saja jika kau juga sebenernya ingin dan iri melihat kemesraan tuan Leo dan nyonya Nadia. Jujur saja!" ucap Black sok tau sekali.

__ADS_1


"Sembarangan bicara kau!"


Takk!


Red menyapu pergelangan kaki, Black hingga pria yang baru saja tegak berdiri itu kembali jatuh.


Brugh!


"Keterlaluan kau, Red!"


"Rasakan!"


____________


"Kita pindah ke kamar, setelah itu aku ingin kau yang memimpin. Bagaimana?" Leo pun menatap Nadia dengan pandangan berkabutnya.


"Baiklah Yang Mulia Raja," jawab Nadia, kemudian menempelkan bibirnya, mencium Leo dengan gelora yang membara.


Nadia, merasa hanya dapat membalas segala kebaikan suaminya ini dengan cara menyenangkannya di atas peraduan mereka.


Tanpa, melepaskan tautan bibir yang basah dan manis dari keduanya. Bahkan Nadia melingkarkan kakinya di atas pinggang Leo.


Pasangan yang sejak di mabuk kepayang ini tak peduli mau di lihat siapa pun. Justru para pekerja lah yang pada akhirnya menunduk atau membuang pandangan mereka ketika sang majikan ini melewatinya.


Sesampainya di depan kamar, Leo memutar kenop dengan satu tangan lalu mendorong pintu dengan punggung dan kembali menutup menggunakan sebelah kakinya.


Mudah baginya, melakukan itu semua dengan kegiatan yang tengah ia lakukan saat ini. Karena posturnya yang tinggi besar sesuai postur tubuh orang Eropa, belum lagi otot-ototnya yang membentuk di beberapa bagian raga perkasanya.


Leo menurunkan raga aduhai itu di samping tempat tidur. Masih dengan tautan bibir mereka yang mengeluarkan suara menggugah jiwa.


Hingga para cicak-cicak di dinding kabur menyelinap ke sela-sela plafon. Di karenakan mereka kena mental, akan keromantisan serta kehangatan pasangan ini.


Keinginan yang sudah membuncah dari keduanya. Membuat mereka melucuti kain yang menempel pada tubuh masing-masing.


Namun, ketika Leo hendak membuka pakaian bawahnya. Nadia segera mengambil alih, ia telah berjanji akan memimpin permainan kali ini.

__ADS_1


Kedua matanya beralih pada sesuatu yang masih terbungkus kain segitiga biru. Sesuatu yang sudah bangun dan pasti akan menghajarnya sampai lemas.


Leo menarik napasnya, berusaha mengontrol gelora yang seketika baik ke ubun-ubun. Di saat Nadia berinisiatif menguasai permainan dengan bermain dahulu bersama serdadu perkasanya itu.


"Apa yang akan kau lakukan Nadia? Apa kau yakin?"cecar Leo dengan mata yang melotot.


Nadia yang pernah melakukannya justru tersenyum. "Tenang dan nikmati saja. Ku harap kau suka," ucap Nadia.


Merasa kelabakan dengan permainan Nadia, Leo pun tak tahan lagi. Hingga ia menarik istrinya agar berdiri dan segera merebahkannya.


"Sayang, kau luar biasa. Aku sangat puas dan menyukainya. Jangan lagi bingung kenapa aku selalu menginginkannya. Kau sangat hebat, dengan apa yang sudah kau kuasai saat ini." Leo terus saja mengungkapkan apa yang ia rasa sekaligus memberikan sugesti baik pada Nadia.


Berharap istrinya itu tak lagi merasa rendah diri.


Meskipun dirinya sendiri saat ini telah di selimuti kabut gairah. Ia tetap ingat bagaimana memberi kepercayaan diri pada Nadia.


"Semua yang kau miliki aku suka, dan aku tidak akan pernah bosan. Karena jujur aku sungguh menikmatinya." Leo terus berkata sembari menerjang pintu gerbang yang masih saja membuatnya kesulitan acap kali hendak masuk.


"Semua ini begitu indah, aku berharap di kehidupan selanjutnya takdir tetap mempertemukan kita." Leo terus mengatakan isi hatinya.


Memberi pujian dan pujaan kepada wanita di bawah kungkungannya ini. Dimana saat ini, Nadia bahkan tak mampu lagi berkata-kata. Hanya sepasang manik pekat indah miliknya, yang menjawab dengan lelehan kristal bening.


"Semua ini memang sangat indah dan aku tak ingin semua ini berlalu begitu saja. Apakah aku salah jika ingin menggenggamnya selamanya?" batin Nadia yang lepaskan tatapannya dari wajah tampan yang telah meneteskan keringatnya ini.


Cup!


Beberapa saat kemudian, Leo melabuhkan kecupan dalam di kening istrinya. Menutupi raga indah itu dengan selimut lalu mengucapkan terimakasih berkali-kali.


"Istirahatlah, biar aku yang membersihkanmu." Leo melakukan itu semua dengan santai. Karena ia tau bahwa Nadia sudah kelelahan karena permainan panas mereka.


Setelah membasuh, bagian kesukaannya itu. Leo pun berbaring di sebelah Nadia, merengkuh raga itu kedalam pelukannya.


Sosok, yang akan ia jaga dengan nyawanya sendiri.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2