
Anak buah Barca tergopoh-gopoh menghampirinya yang berada di sebuah ruangan rahasia para casino miliknya.
Barca yang mengenakan piyama tidur berbahan sutera itu terlihat tengah berjoget dengan segelas wine di tangannya.
Beberapa wanita cantik setengah telanjang tentu saja menemani pria itu berpesta sejak beberapa jam yang lalu.
Pria itu menoleh dengan muka masam ke arah anak buahnya yang menunduk takut.
"Ada kabar apa sehingga kalian berani menggangguku!" hardik Barca kesal.
"M–maaf Tuan, saya melaporkan keadaan sandera yang telah sadarkan diri," jelas sang anak buah.
Barca pun tersenyum lebar bak Joker, seraya melambaikan tangan tanda mengusir para wanita bayarannya ini.
Tanpa ia sadari jika komplotan Leo hampir sampai untuk menjemput wanitanya yang Barca bawa kabur hingga ke negara ini.
Ia pikir Leo hanya jagoan kandang. Nyatanya Barca salah besar. Leo memiliki sekutu di manapun ia menginjakkan kakinya.
Seperti saat ini, Leo telah berhasil mengajak geng Triad yang cukup menguasai daerah itulah agar rencana berjalan dengan mulus.
Leo bukan hanya akan mengambil kembali wanitanya tapi juga akan menghancurkan Barca dan klan mafianya untuk selamanya.
Sementara itu di dalam sebuah kamar mewah.
Kedua mata Nadia perlahan membuka.
Sebenarnya dia sudah sadar tapi, pura-pura pingsan karena Nadia perlu menstabilkan tenaganya lagi.
Kaki tangannya terikat tetapi lakban pada mulutnya telah di buka.
"Sebenarnya tempat apa ini?" batinnya bertanya.
Akan tetapi, sebuah kamar dengan penerangan temaram yang justru pertama kali nampak di penglihatannya.
Tak lama kemudian, suara derap langkah kaki terdengar. Barca dengan mulut yang meracau nampak bahagia.
"Akhirnya malam ini aku akan menikmati tubuh wanita milikmu, Leon. Hahaha!!" tawanya menggelegar di sepanjang koridor.
Sehingga Nadia pun dapat mendengarnya dari dalam kamar.
"Pria itu, apakah dia yang bernama Barca?" batin Nadia tegang. Bohong kalau dia tak merasakan takut. Tentu saja, karena seumur hidupnya orang jahat yang Nadia hadapi hanyalah Filma dan Dygta.
Derap langkah kaki Barca, semakin lama, semakin terdengar jelas dan mendekat.
Nadia seketika merasakan gemetar di seluruh tubuhnya. "Tidak. Jangan takut Nadia. Kamu tidak boleh takut. Jika Leo belum menemukanmu maka kau harus bisa menyelamatkan dirimu sendiri. Kau tidak boleh mati Nadia. Atau Leo akan mengejarmu ke alam baka," batin Nadia menyemangati dirinya sendiri agar berani.
Klek!
Pria gagah itu membuka pintu.
Kenop pintu berputar, lalu daun pintu terbuka seluruhnya. Menampilkan siluet tubuh pria tinggi.
Klik.
Cahaya menguar dari lampu kamar sehingga ruangan itu kini terang benderang.
Maka jelaslah semua, dimana Nadia kini tengah berbaring sambil berusaha menyesuaikan penglihatannya.
__ADS_1
Tepatnya di sebuah tempat tidur yang sangat mewah berukuran king size. Barca dengan seringai sinis yang
Kedua mata Susi mendelik ketika ia melihat penampakan langsung lelaki gagah yang berdiri di hadapannya kini.
"Akh!" jerit Nadia ketika pria itu mendaratkan sebuah tamparan di wajahnya. Hingga terdapat robekan kecil di pinggir bibirnya yang mengeluarkan darah.
Barca kembali menyeringai seram. Pandangannya tak lepas dari wajah cantik di hadapannya ini.
"Dasar pria gila! Lepaskan aku!" hardik Nadia dengan nada penuh amarah.
"Cih, melepasmu?" Barca mendekat dan langsung mencengkeram rahang Nadia dengan kencang.
"Kau ini, sudah tidak berdaya saja masih sok galak." Barca semakin mendekatkan wajahnya sehingga Nadia pun bergerak mundur karena jijik.
Nadia terkesiap menahan napas, dirinya tidak akan sanggup bila ada pria lain yang melecehkannya. Ia takkan sanggup menampakkan wajahnya di hadapan Leo.
Pria itu memundurkan tubuhnya, lalu menyentuh kaki Nadia.
"Hentikan, Pria berengsek!"
Seandainya saja kedua kakinya tidak terikat tentu Nadia sudah menendang wajah Barca yang kejam.
"Kalau kau memang jantan dan berani, maka lepaskan ikatan tangan dan kakiku dasar pria lemah!" teriak Nadia dengan gejolak amarah yang hampir meledak dari ubun-ubunnya.
"Lemah kau bilang!" Barca yang kesal karena di kata lemah, itu menekan paha Nadia dengan cengkeraman tangannya.
Nadia pun sontak mengeratkan giginya menahan linu, ia tidak akan berteriak, yang mana akan membuat pria gila di hadapannya ini kegirangan.
"Iya, kau kan memang lemah dan payah! Kau bahkan harus menghadapi wanita sepertiku saja harus dalam keadaan terikat. Apa kau tak malu hah!" tukas Nadia menyerang sisi egoisme pria di hadapannya ini.
"Menangkap ku yang seorang wanita ini saja kau harus menggunakan cara licik dengan tenaga orang lain. Apa namanya kalau bukan lemah," ucap Nadia dengan aksen lambat pada akhir kalimatnya demi merendahkan harga diri sang mafia di hadapannya ini.
"Kau, jangan memaksaku berbuat lebih kasar!" Sergah Barca dengan penuh emosi. Nadia kembali merasakan sakit di tubuhnya, karena Barca mencekik lehernya.
Akan tetapi Nadia tetap bertahan agar tidak terlihat lemah. "Lalu ... kalau bukan lemah apa dong?" tanya Nadia sengaja menyerang mental dari pria yang terkenal kejam dan penggila wanita ini.
"Wanita ini, bagaimana dia bisa mendiskriminasiku hanya dengan tatapan matanya itu," batin Barca, yang melihat aura berbeda dari Nadia. Dan hal itu seketika, membuat geloranya semakin menggebu.
"Kau memang wanita berbeda, kau spesial," batin Barca lagi tersenyum smirk.
"Kalau kau memang jantan, hadapi aku secara bebas. Tunjukkan apa yang kau miliki!" tantang Nadia, sengaja. Karena ia harus berani menghadapi pria yang nampak terobsesi padanya ini.
"Kau ini, bagaimana bisa menggilai diriku sampai seperti ini?" sarkas Nadia, ketika Barca tengah membuka ikatan pada tangannya.
Pria itu telah mabuk oleh wangi yang menguar dari tubuh Nadia. Sesekali, Barca terlihat mencium rambut Nadia.
"Menjijikkan, lihat saja apa yang akan ku lakukan padamu!" batin Nadia.
Pada akhirnya kedua tangan Nadia sudah terbebas dari tambang yang mengikatnya tadi, sementara itu mata pria di atasnya ini telah berkabut.
_________
Kembali keluar bangunan dimana komplotan Leo sudah menyerbu tanpa tercium oleh Barca dan anak buahnya.
"Berapa banyak penjaga di sana," bisik Leo.
"Menurut pantauan kami sekitar dua puluh orang dan mereka semua bersenjata," sahut Blue pelan.
__ADS_1
"Baiklah. Bawa orang-orang kita masuk dan serang mereka dengan cepat. Aku sendiri yang akan menghajar si Barca keparat itu," titah Leo seraya menyiapkan amunisi dengan mengisi ulang peluru pada pistolnya. Lalu menyematkan pisau berukuran sedang di kedua pinggangnya.
"Siap Tuan," ucap Black dengan pistol dan juga trisula yang terselip di pinggangnya.
"Kami akan melindungi mu." Black pun maju dengan pistol di dalam genggamannya.
Dor. Dor. Dor. Dorr!
Tembakan saling bersahutan melesatkan peluru, membuat Black dan Leo berguling lalu bersembunyi dibalik meja.
Keadaan yang ricuh semakin rusuh dengan para pengunjung casino yang seketika berlarian panik.
Blue memanfaatkan momen ini, sengaja untuk mengecoh mereka untuk menghabiskan amunisi musuh.
Dorr!
Bugh!
Seorang jatuh, terkena tembakan dari Leo. Dirinya segera lari semakin dalam mencari ruangan dimana Nadia di sekap.
Seorang pria menghadangnya, sementara pistolnya hanya tersisa satu peluru.
Pria yang menghadang segera menekan pelatuk. Tekk!
Ternyata pelurunya telah habis, ia pun berteriak hendak maju menyerang.
Dor!
Kepala musuh di hadapannya berlubang, lalu Leo bersembunyi dan kembali peluru pada senjatanya.
Leo, terus berlari menyusuri setiap ruangan mencari musuh utama juga wanitanya.
Sementara di dalam kamar Nadia berusaha menahan jijik dengan berpura-pura merayu Barca hingga pria itu mengeluarkan racauan dari mulutnya.
"Nah, begini kan lebih baik. Bahkan, kau bisa menikmati tubuhku ini. Bukankah, kau sangat menyukainya," ucap Nadia dengan tangan yang terus menggerayangi Barca.
Barca pun terhanyut dan lengah karena buaian yang Nadia lakukan padanya. Apalagi pria itu juga setengah mabuk.
Nadia mendorong Barca agar wanita ini dekat dengan barang-barang pribadinya.
Hingga mafia dapat meraih benda itu dari dalam tas.
Nadia pun akan mempraktekkan apa yang sempat Red ajarkan padanya, dalam jurus menyelamatkan diri dari lelaki hidung belang.
Pria mesum, pantas mati!
Itulah, slogan yang dikatakan Red padanya.
Jangan beri ampun pada laki-laki yang tak bisa menghargai perempuan hingga ia lupa darimana asal ia lahir ke dunia.
Hingga kesempatan itu pun tiba, dan Nadia mengerakkan tangannya cepat ke area bawah kepala Barca.
Jleb!
"Aaakkkhh!"
Barca memegangi lehernya yang terasa panas karena telah tertusuk sesuatu. Hingga tak lama kemudian tubuhnya tersungkur dan mengejang.
__ADS_1
Para akhirnya Barca pun meregang nyawa seperti saudaranya, Roberto.
...Bersambung...