Kebangkitan Istri Yang Dikhianati

Kebangkitan Istri Yang Dikhianati
Bab#54. KIYD.


__ADS_3

Leo merasa sangat puas melihat bagaimana nasib Dygta saat ini. Sayangnya pria itu sama sekali tidak mau menyadari kesalahannya.


Sehingga semua kejadian yang menimpanya mengguncang jiwa Dygta.


Sebagai mantan istri, sekalipun Nadia pernah dikhianati dan tidak di anggap tetapi Nadia tetap menyesali kejadian dan nasib yang saat ini Dygta alami.


"Bahkan di dunia pun yang jahat akan menerima hukumannya," ucap Nadia sepulangnya mereka dari rumah sakit jiwa.


Karena tak ada sanak saudara lagi, maka pihak rumah sakit mencari Nadia selaku mantan istri dan juga untuk menerima sisa uang asuransi.


"Kau benar sayang. Karena itulah, perlahan aku akan meninggalkan usaha gelap dan juga ilegal itu. Aku ... ingin hidup tenang bersama denganmu dan juga anak-anak kita nanti. Jika, memang Tuhan mengijinkan," ucap Leo berusaha menegaskan pada Nadia bahwa apa yang menjadi harapannya bukanlah sebuah tuntutan.


Nadia sontak terdiam dan berpikir. Suatu saat Leo pasti akan menuntut kehadiran seorang anak padanya. Sama, seperti Dygta dulu. Hingga, pada akhirnya dia itu hampir menyerah dan memutuskan untuk mengkhianatinya dengan wanita lain.


Nadia, tidak ingin mengalami kejadian yang sama pada rumah tangganya. Ia sangat berharap Kak ini Tuhan dapat mempercayakan lagi kepadanya untuk menitipkan seorang janin di dalam rahimnya.


"Leo, kau mau kan menemaniku untuk pemeriksaan kesehatan kandungan?" tanya Nadia ragu.


"Hei sayang, tolong jangan terlalu kau pikirkan perkataanku tadi ya. Itu hanyalah sebatas mimpi dan harapan bukan tuntutan kepadamu. Aku tidak ingin kau memaksakan diri atau mengharuskan dirimu melahirkan keturunanku. Jika memang kita ditakdirkan hanya hidup berdua sampai nanti itu tak menjadi masalah besar untukku. Keinginan terbesarku adalah melihat kau selalu bahagia dan tersenyum bersamaku," tutur Leo panjang bin lebar.


Nadia tak dapat berkata-kata lagi dan ia pun langsung menghambur memeluk raga kelar Leo. "Terimakasih atas segala pengertian dan juga cintamu padaku, Leo," bisik Nadia yang kini tengah berjinjit karena ia memeluk leher suaminya itu.


Leo pun segera melingkarkan lengannya ke pinggang Nadia dan mengangkat tubuh itu karena kasihan melihat istrinya jinjit.


Mereka pun berpelukan tanpa menghiraukan pandangan dari orang sekitar.


Nadia lebih pendek guys dari Leo.


Apa Leo ya, yang ketinggian punya badan.😆


Leo, TB : 189 cm.


Nadia, TB: 162 cm.


__________


Sepulang dari rumah sakit jiwa. Leo memberi ultimatum pada Nadia bahwa hari itu adalah terakhir kali istrinya berhubungan dengan sang mantan suami.


Apapun yang terjadi kedepannya, Leo tak mau Nadia memiliki hubungan lagi dengan Dygta.


Pria itu telah menyisakan luka yang sedemikian besar bagi Nadia.


Bahkan, trauma dan tekanan mental masih tersisa sampai sekarang.

__ADS_1


Seorang psikiater mengatakan pada Leo bahwa yang benar-benar bisa menyembuhkan luka trauma pada Nadia hanyalah kehadiran seorang anak.


Karena itu, Leo menyetujui permohonan Nadia yang mana memintanya untuk menemui dokter spesialis kandungan.


Semua itu Leo lakukan bukan karena dirinya yang menginginkan keturunan tetapi lantaran ingin melihat Nadia bahagia dan sembuh seutuhnya.


Terutama pada mental dan juga luka hati wanita itu.


"Black, Red. Itu tugas kalian sekarang. Carikan dokter kandungan terbaik di negara ini. Jika tak ada cari sampai ke luar negeri!" titah Leo.


"Baik Tuan. Kami akan segera menemukannya," jawab Red.


Meskipun benci setengah mati tetapi jika menyangkut pekerjaan maka keduanya akan kompak, terutama Red. Wanita itu tidak akan menyinggung masalah pribadinya dengan Black.


"Aku sudah menemukannya Red. Harga konsultasi dengannya cukup mahal. Tetapi, rata-rata programnya berhasil. Chanelnya juga sampai ke luar negeri," jelas Black yang mana kini telah menemukan identitas dokter tersebut maupun tempat prakteknya.


"Hemm, salah satu rumah sakit internasional. Sepertinya, salah satu relasi dari tuan adalah pemegang saham di rumah sakit ini," timpal Red, yang kini berada di samping Black sambil melihat ke arah layar laptop.


Posisi keduanya yang cukup dekat hingga aroma parfum dari tubuh Red membuat Black hampir mabuk.


"Kau ini, pake parfum apa sih? Wanginya bikin melayang," celetuk Black.


Pada saat inilah Red sadar bahwa dirinya sudah terlalu dekat dengan pria itu. Bahkan, aroma shampo yang tadi pagi ia gunakan untuk membersihkan rambutnya pun sampai tercium ke hidung Black.


"Astaga! Bisa gak sih lembut dikit jadi cewek?" protes Black dengan suara selembut mungkin demi mencontohkan wanita idamannya ini.


"Kenapa? Masalah?" ketus Red lagi yang memilih menghindar dan berjalan menjauh.


Ini bukan saat yang tepat untuk berkelahi dengan Black, menurutnya. Karena hormonnya sedang tidak stabil dan bisa-bisa pria itu mati di tangannya nanti.


"Hey, Red. Pembahasan kita belum selesai!" teriak Black yang justru menghampiri Red.


"Pergilah jangan mengikutiku!" kecam Red dengan berjalan lebih cepat karena ia harus segera sampai ke kamarnya. Perasaannya sungguh tidak enak saat ini.


Black dengan cepat justru menarik pergelangan tangan Red.


"Tunggu sebentar!" seru Black yang sudah berhasil mencekal. Tinggal kini dirinya mendapat tatapan horor dari Red.


"Lepas atau kau akan menyesal!" ancam Red dengan sorot mata tajam mengancam.


"Kau ini kenapa? Aku kan hanya mengingatkan. Kau ini selalu saja ketus dan galak padaku. Oke aku minta maaf dan tidak akan mengganggumu lagi jika itu dapat merubah sikapmu padaku," ucap Black.


"Sudahlah aku tak perduli! Sebaiknya sekarang kau lepaskan aku atau..."

__ADS_1


Red membulatkan matanya ketika ia merasa sesuatu mengalir deras dari area pribadinya.


"Shitt!" umpat Red seraya menepis keras tangan Leo dan segera berbalik. Akan tetapi, tiba-tiba saja ia merasakan kram di bawah perutnya.


Selaku lagi, Red merasakan cairan hangat itu mengalir.


"Kenapa aku mengenakan celana berwarna krem," sesal Red dalam hati.


Sementara itu, Black yang berdiri di belakang Red sama sekali belum menyadari apa yang sedang di alami wanita ini.


"Red, apa kau sakit?" tanya Black heran karena raut wajah Red sangat aneh.


"Iya dan itu semua karena ulahmu!" pekik Red, yang benar-benar menahan segala macam rasa si perutnya. Bahkan tiba-tiba bibirnya menjadi kering dan kepalanya terasa pusing.


"Kenapa harus datang sekarang dan aku melupakan segala persiapannya," gumam Red pelan.


Black pun diam tak menyahut karena pria itu tangah menelisik apa yang terjadi pada rekannya ini.


Kedua mata Black pun melotot pada saat Red berbelok dan mulai berjalan pelan.


"Berhenti Red!" seru Black.


Red langsung menghela napasnya. Mau apa lagi pria ini, pikirnya.


"Apalagi Black! Aku tidak ada waktu untuk meladenimu jadi pergilah sana!" usir Red.


Black menelan ludahnya kasar saking kaget dan panik ketika dirinya melihat bercak darah di belakang tubuh Red.


"K–kau, berdarah, Red!" teriak Black. Seraya beralih ke depan rekannya yang nampak sedikit pucat itu.


Mendengar ucapan Black seketika Red pun kaget dan menyentuh belakang bagian tubuhnya.


"Oh Shitt!" umpatnya lagi pelan.


"Aku akan membawamu kerumah sakit." Black pun segera menyambar tubuh Red dan menggendongnya.


"Hey! Turunkan aku Black!" teriak Red.


"Bertahanlah, aku akan menolongmu," ucap Black yang ingin berlalu turun tapi Red kembali berteriak dan meronta.


"Iya, tapi tidak perlu kerumah sakit sambil meronta!" teriak Red.


"Lalu aku harus apa!" Black ikut berteriak karena panik.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2