Kebangkitan Istri Yang Dikhianati

Kebangkitan Istri Yang Dikhianati
Bab#58. KIYD.


__ADS_3

Leo telah sampai ke mansion hanya dalam waktu singkat karena Black telah di perintahkan tuannya itu agar mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi.


Leo bahkan masuk ke mansion dengan berlari. Tentu saja Black terus mengekori tuannya itu dari belakang.


Red yang sudah berjaga-jaga di depan kamar sejak tadi langsung membukakan pintu ketika ia melihat Leo berlari mendekat.


Leo masuk kamar dan menghela napas lega ketika melihat sang istri sudah keluar dari kamar mandi.


"Nadia."


"Leo!" kagetnya Nadia karena melihat sosok suaminya itu kini ada di hadapannya.


"Leo!" Nadia pun langsung menghambur ke dalam pelukan Leo.


"Kau kenapa? Kata pelayan kau tadi terlalu lama di kamar mandi. Aku panik dan khawatir sehingga langsung meninggalkan rapat dan pulang," jelas Leo yang semakin bingung kenapa Nadia justru terisak.


Nadia justru terus menggelengkan kepalanya yang menelusup pada dada bidang suaminya itu.


Leo mendorong raga Nadia pelan agar ia dapat melihat raut wajah istrinya itu.


"Kenapa kau menangis? Apa yang saat ini sedang kau rasakan?" cecar Leo sangat khawatir.


Apalagi mata dan juga hidung Nadia sudah sangat merah, itulah artinya sang istri sudah menangis cukup lama.


Leo mendudukkan Nadia di samping tempat tidur, kemudian mengusap pipi yang basah itu perlahan. Perlakuan Leo sungguh sangat lembut dengan tatapannya yang hangat.


Sungguh menawan dan manis.


Kontras sekali dengan sikapnya ketika di kantor tadi. Dingin dan kaku dengan tatapan mata yang selalu tajam menusuk.


Sungguh menakutkan.


Nadia seakan tak mampu mengerakkan lidahnya sedikitpun untuk menjawab pertanyaan suaminya. Pada akhirnya ia mengambil alat tes kehamilan tadi dan menyerahkannya pada Leo.


"Kamu, tes kehamilan?" tanya Leo dengan kening berkerut.


Pikirannya langsung berkeliaran kemana-mana karena Nadia semakin kencang tangisnya.


Leo pun memperhatikan garis yang berada di tengah layar benda tersebut. Meskipun laki-laki tetapi Leo tak bodoh, sebab ia telah mencari tau sebelum membeli alat-alat ini.


Leo sempat mengecek alat itu berkali-kali. Apalagi Nadia sampai menunjukkan lima macam benda yang sama dengan hasil yang sama pula.

__ADS_1


Kedua manik mata Leo bergerak dengan cepat, seakan tengah mengumpulkan informasi dari apa yang ia lihat di hadapannya saat ini.


"Nadia, ini ... hasilnya sama semua. Itu berarti ... kamu?" ucap Leo terbata seraya menatap Nadia dengan tatapan bertanya-tanya.


Nadia masih tak bisa berkata apapun katena itu ia langsung mengangguk untuk mengiyakan.


"Kamu ... positif hamil, sayang? Ini artinya kamu sedang mengandung calon anak kita? Buah cinta kita!" seru Leo dengan tatapan penuh binar kebahagiaan.


Kali ini Leo langsung menyambar raga Nadia untuk kemudian memeluk tubuh itu dengan erat. Bahkan Leo terlihat berkali-kali melabuhkan kecupannya pada pucuk kepala istrinya itu.


"Dia pasti sangat bahagia sampai tidak mampu berkata-kata. Sebaiknya aku tidak perlu kembali ke kantor. Aku akan menemaninya seharian ini," batin Leo.


"Aku tidak kembali ke kantor dan akan menemanimu seharian. Kau mau kemana katakan saja, sayang," ucap Leo sambil menatap manik mata sang istri lekat dan mengusap lembut pipi basah itu dengan kedua ibu jarinya.


Nadia masih terlalu speechless. Sehingga tak ada satupun kata yang keluar dari bibirnya.


Wanita itu hanya kembali kedalam pelukan Leo dan terus begitu hingga tiga puluh menit lamanya.


Leo, mulai merasakan keram di kaki karena posisi yang tak bergerak selama itu.


"Sayang," Leo memanggil Nadia berkali-kali, hingga akhirnya ia tau bahwa sang istri ternyata tertidur.


Leo keluar kamar perlahan, dan mendapati kedua ajudannya masih setia menunggu.


"Tuan, Nyonya --"


"Istriku baik-baik saja. Dia mendapati dirinya hamil dan speechless," terang Leo, yang berupaya mati-matian untuk tetap mempertahankan ekspresinya yang datar, tapi nyatanya gagal total.


Pria itu, menekan pangkal hidungnya demi menahan air mata yang hendak menetes itu.


"Selamat, untuk anda dan Nyonya. Kalian akan menjadi sepasang mama dan papa," ucap Black yang juga ikut terharu.


Karena itu termasuk salah satu impiannya.


Hidup tenang dengan keluarga yang di ramaikan banyak celoteh anak-anak.


Leo berusaha menguasai emosinya agar tidak menangis di depan anak buahnya ini. Tetap saja harga diri dan image adalah nomer satu baginya. Padahal menangis bagi pria itu adalah hal yang wajar.


Lantas kenapa harus berpura-pura dan membohongi diri sendiri.


"Black, kau kembalilah ke kantor tanpa aku," titah Leo setelahnya.

__ADS_1


"Ah saya mengerti Tuan. Baiklah," jawab Black yang tak mau menanyakan apa alasannya. Karena satu hal yang ia mengerti terhadap perubahan tuannya semenjak menikah adalah menjadikan sang istri sebagai prioritas utamanya ketimbang apapun itu.


Setelahnya, Leo memerintahkan Red untuk memanggil pelayan agar membuatkan Nadia makanan yang manis seperti kue untuk camilan.


Setelahnya pria itu kembali ke dalam kamar untuk menemani istrinya tidur.


Bukankah ini adalah sesuatu hal yang sangat mendamaikan hati.


Tidak bekerja untuk menemani istri tidur.


Di luar kamar, Black terlihat mencoba tidak menggoda dan mengganggu Red seperti biasanya. Ia tak mau wanita itu semakin lama semakin membencinya.


Mungkin, Black akan mulai mencari cara untuk mendapatkan hati wanita itu dengan cara yang lebih baik dah berkelas.


Karena itu Black berpikir untuk bergegas kembali ke kantor agar pekerjaannya cepat selesai.


Tanpa ia sadari jika seharian ini bahkan dirinya belum menegur Red sama sekali.


Karena itulah Red merasa aneh dan tak biasa.


"Dia kenapa? Tumben sekali hati ini mulutnya diam?" bingung Red bertanya dalam hati.


Apalagi ketika Black berlalu begitu saja tanpa seringai menyebalkannya maupun lirikan mata menggoda yang biasa pria itu lemparkan kepalanya.


Hal yang sangat Red benci namun ternyata terasa aneh ketika itu semua hilang.


"Kenapa aku merasa sedih? Ah, ini pasti hanya karena efek hormonal saja," kilah Red berusaha menyangkal apa yang ia rasakan dalam hatinya.


Kedua manik matanya menatap nanar kearah Black, dimana pria itu menuruni tangga tanpa menoleh sedikitpun padanya.


"Apa kau sudah gila, Red? Bukankah bagus jika pria itu mulai acuh padamu. Sehingga kau bisa kembali menjalani hidup dengan tenang, setelah dua tahun ini selalu di bayang-bayangi tingkahnya," batin Red yang mencoba mengabaikan rasa yang menganggu suasana hatinya.


Red kembali berjaga di depan kamar Leo dan Nadia, setelah ia menemui sang pelayan untuk menyampaikan pesan dan perintah dari Leo.


Sementara itu di dalam kamar Leo telah mengganti pakaian kerjanya dengan piyama tidur dan mulai naik ke atas kasur untuk tidur sambil memeluk raga Nadia.


Leo terlihat mengusap pelan perut yang masih rata itu dengan senyum yang menggambarkan suasana hatinya saat ini.


Leo mendekatkan wajahnya dan mengecup perut itu. "Kalian anak-anak Daddy, baik-baiklah di dalam sana. Tumbuhlah dengan baik dan lahirlah dengan selamat," bisik Leo dengan air mata yang tak mampu lagi ia tahan lajunya.


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2