Kebangkitan Istri Yang Dikhianati

Kebangkitan Istri Yang Dikhianati
Bab#41. KIYD.


__ADS_3

Leo berlari dari arah parkiran menuju resort sewaan dengan panik, baru sedetik lengah saja dirinya sudah kecolongan.


"Maaf, Tuan. Nyonya sepertinya di culik!"


"Mereka telah berada di bandara dan aku akan mencoba menahan mereka dengan mengecoh sistem," lapor Blue dari balik telepon seluler.


Leo kembali mempercepat larinya, setelah pria itu menghubungi orang-orangnya.


"Kenapa kalian begitu payah!!" Leo sangat marah ketika tau jika Black dan Blue mudah sekali di kalahkan oleh istrinya.


"Pengawal hebat seperti kalian bagaimana bisa di kalahkan hanya dengan alat itu!" hardiknya lagi.


Leo benar-benar tak habis pikir atas apa yang terjadi. Dia masih menunggu kabar dari Blue mengenai penculikan istrinya itu.


"Sial!!"


Leo terlihat melempar apapun. Kepanikan DNA ketakutan telah menguasai dirinya hingga otaknya seketika otaknya tak dapat berpikir.


"Cepat temukan istriku atau kalian semua akan mati dengan kepala berlubang!" ancam Leo dengan sebuah senjata api yang ia arahkan kedepan.


Sebuah senjata api yang memang di rakit khusus oleh Leo untuk menghabisi lawannya.


"Sial!" umpat Blue, karena sistem unlocknya tidak bisa ia buka.


"Ni bandara pake sistem apa sih, susah banget gue terabas!" maki pria berambut klimis itu. Keringatnya sudah mengucur deras.


CCTV di base man bandara mendadak error.


Blue terus mengutak-atik deretan angka dan alfabet pada layar komputernya, satu set komputer canggih dengan tiga layar sekaligus.


"No, no, no! Its crazy!"


Tek!


Bip!


Blue mematikan, sistem pada komputer pertama. Sepertinya aksinya sudah tercium pihak musuh.


"Kambing!" pekiknya pada layar, lalu melempar earphone nya, karena alat itu berdenging didalam telinganya.


Beberapa saat sebelumnya.


Setelah tubuh Nadia lunglai dan pingsan. Kedua wanita yang di perintah oleh Nick, itu membawa Nadia kedalam sebuah toilet kosong.


Salah satu wanita mengunci pintu, sedangkan wanita satunya lagi memakaikan wig serta kacamata, juga menganti warna lipstik pada bibir Nadia.


Mereka berdua pun keluar dari toilet tersebut. Dan, karena wanita pertama berbadan tegap maka ia bertugas memapah Nadia layaknya membawa orang mabuk saja. Sedangkan yang satu lagi memantau keadaan.


Kedua wanita misterius itu, terus membawa Nadia, dan memasukkan wanita itu ke mobil yang sudah menunggu mereka.


"Langsung bawa ke bandara. Tuan, akan berangkat ke Hongkong.


_________


Leo telah sampai di bandara. Pria itu terus berputar mencari keberadaan wanitanya.


"Shiit! Kemana mereka membawa istriku." Leo terus mengedarkan pandangannya dengan dada yang terus berdebar kencang. Ia tidak akan memaafkan dirinya, jika sesuatu yang buruk terjadi pada Nadia.


Bagaimanapun, dirinyalah yang telah menyeret Nadia kedalam masalah ini.


"Tuan mereka membawa Nyonya ke HK. Pesawat mereka sebentar lagi lepas landas," lapor Blue.


Hingga Leo tak mampu lagi menahan emosi yang membakar dirinya sejak tadi. Sementara mereka nyatanya telah kehabisan tiket pesawat apapun jenisnya.


Kenyataan itu membuat, Leo pun mengarahkan pukulannya dengan kencang ke wajah Blue.

__ADS_1


Bugh!


Shhh!


Blue hanya bisa meringis merasakan rahangnya sedikit bergeser.


"Maaf Tuan. Ini semua di luar kuasa kami. Sungguh di luar dugaan," kata Black mencoba menjelaskan keadaan mereka pada Leo.


Tapi, hasilnya justru ia pun mendapatkan satu pukulan juga.


Bugh!!


"Alasan!!"


"Sekarang cari istriku sampai dapat!!" teriak Leo mengancam kedua anak buahnya ini dengan sebuah pistol.


"Ya Tuhan! Turunkan Tuan!" pekik Black takut keamanan bandara melihatnya.


"Haih, bagaimana senjata itu bisa lolos dari alat pendeteksi logam?" batin Black heran.


"Tuan Leo, tenanglah. Saya mendapatkan tiket pesawat untuk kita berempat," tukas Red menetralisir keadaan.


Entah bagaimana wanita ini mendapatkannya.


"Jika ada sesuatu yang terjadi pada Nadia ku. Kalian bertiga yang akan menanggung akibatnya!" ancam Leo dengan sorot mata tajam dan wajah bengisnya.


Glek!


Ketiga orang ini pun menelan air liur mereka sendiri.


"Maaf tuan, tapi hanya ini tiket yang bisa saya dapatkan," ucap Red merasa tak enak hati ketika sang bos berada di kelas ekonomi.


Dimana bagian kelas ini penuh sesak dan berisik.


Leo tak menggubris ucapan, Red.


Belum lama, Dark mengabarkan padanya jika kedua wanita yang di sekap itu telah mati lemas.


Kemudian, Shine membakar tempat itu untuk menghilangkan barang bukti.


Leo tak mampu memikirkan apapun selain keselamatan istrinya saat ini.


Berbagai spekulasi hadir dengan kurang ajar ke dalam pikirannya.


"Nadia," gumam Leo seraya mengusap wajahnya kasar.


Mereka pun tiba di bandara negara yang di tuju tersebut.


Blue masih berkutat dengan sebuah tablet di tangannya untuk terus melacak keberadaan Nadia.


"Tuan, mereka juga belum lama sampai. Sepertinya kita masih ada kemungkinan untuk melakukan pengejaran," jelas Blue.


Mereka semua telah berada di base man.


Sampai ia melihat sebuah mobil tiba-tiba melesat.


Leo yang yakin jika di dalam kendaraan tersebut terdapat istrinya, maka pria itu pun berlari sekencang-kencangnya, melewati beberapa portal pembatas. Menikung arah, hendak menyalip lajur mobil tersebut namun nihil.


Sampai akhirnya ...


Tiiiiinnnn ...!


Tiba-tiba ada mobil yang membunyikan klakson dari belakang. Leo pun sontak menoleh dengan cepat.


"Masuk Tuan!"

__ADS_1


Leo pun masuk, setelah ia tahu siapa orang yang ada di dalam mobil.


Pletak!


"Kenapa kalian lama sekali!" maki Leo dengan sebuah pukulan dari telapak tangannya yang mendarat mulus di kepala Black.


"Maaf, Tuan. Kami menanti sistem gerbang terbuka." jawab Black, sambil tetap fokus mengemudi dengan mengabaikan rasa berdenyut pada pucuk kepalanya.


"Lalu dimana Blue dan Red?!" tukas Leo lagi.


" Di belakang Tuan." jelas Black masih tetap melihat kearah depan.


Memantau mobil yang dicurigai membawa Nadia di dalamnya, jangan sampai dirinya kehilangan jejak.


Atau, pria di sebelahnya ini akan langsung menelannya hidup-hidup.


"Lebih cepat Black! Pepet mereka!" titah Leo dengan berteriak tepat di telinga Black.


"Kejar Black, pepet mereka dari samping karena aku akan melubangi roda kendaraan mereka. Cepat!"


Black pun menjalankan perintah Leo.


Leo membuka kaca jendela mobil itu.


"Lebih dekat lagi!" Leo berteriak sambil mengeluarkan tangannya yang memegang senjata api.


Black membanting stir hingga posisi mereka berada di samping ban belakang mobil target.


Dorr!


"Sial! Tembakanku meleset!" umpat Leo.


Dor. Dor!


Blarr!


Satu ban terkena lesatan peluru yang di tembakkan oleh Leo. Sehingga, mobil itu pun agak oleng.


"Ke arah yang sebelahnya. Cepat Black!"


Black memepet dari arah satunya lagi hingga, Leo berhasil menembak ban belakang kedua cari mobil itu.


Black memundurkan sedikit mobil mereka, membiarkan kendaraan di depannya berdecit dan berhenti mendadak.


Mereka berdua pun kemudian turun di susul oleh mobil yang Red kendarai.


"Awas, ini jebakan!!" teriak Blue.


Benar saja, di dalam kendaraan tersebut tidak ada orang selain anak buah Draco.


Akan tetapi, Black dan Leo berhasil melumpuhkan mereka dengan beberapa peluru.


"Dimana Nadia!" teriak Leo frustrasi.


"Tuan Kita harus segera pergi dari sini, CEPATT!!" perintah Blue dengan wajah panik.


"Ada apa, Blue?"


"Mobil itu--"


"Ah ayo cepat pergi dari sini!!"


Dan ...


Blarrrrr ... boooaaamm!!

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2