
Hari ini adalah kepulangan Leo dari rumah sakit negara HK tersebut.
Black yang mengurus kepulangannya dari rumah sakit dan Red yang mengurus kepulangan mereka dari negara tersebut.
Blue yang telah kembali lebih dulu karena harus mengurus penarikan saham dari Rajasa dan kemudian membeli perusahaanmu itu ketika bank melelangnya.
Blue juga telah mendapatkan kabar bahwa Filma, ibunda dari Leo telah berjalan tanah. Wanita itu mengalami serangan jantung dan gagal napas ketika berada di rumah sakit.
Tak ada yang tau bahwa kematian Filma adalah sebuah pembunuhan berencana dari putranya sendiri.
Setelah memakamkan sang ibu, Dygta langsung menuju perusahaan asuransi dan mengurus uang tersebut yang mana jumlahnya cukup besar di saat keadaannya yang seperti ini.
Pria itu hanya butuh waktu tiga hari menunggu perusaan tersebut menangani pengajuannya.
"Persetan dengan perusahaan Rajasa. Aku tidak peduli! Ke depannya aku bisa membangun perusahaan kecil dari hasil uang asuransi Ibu. Oh terimakasih ibu, aku menyayangimu," gumam Dygta.
Tak sia-sia selama hidup Filma ia mendaftarkan wanita itu pada sebuah perusahaan asuransi hidup. Sekalipun angsurannya perbulan cukup mahal, setidaknya dia pula yang menikmati hasilnya.
Karena sang ibu, kini telah terbujur di dalam tanah maka tidak akan ada lagi yang merengek padanya untuk meminta uang. Sehingga terkadang Dygta harus menghalalkan segala cara demi mengabulkan gaya hedonisme Filma.
"Dua wanita yang menyusahkan hidupku sudah tidak ada. Saatnya aku mencari mainan baru untuk menghibur hati yang sedang berduka ini. Ah ya, aku adalah seorang anak yang baru saja kehilangan ibunya, perusahaan dan juga hartanya. Seharusnya aku sangatlah bersedih pada saat ini. Baiklah kalau begitu aku akan mencari hiburan," monolog Dygta macam orang gila baru.
Pria itu melajukan satu-satunya kendaraan yang tersisa. Pergi ke sebuah klab malam adalah pilihannya untuk menghibur hatinya yang sedang sedih bukan.
Dengan sisa uang yang ada di tabungnya, Dygta bersenang-senang malam itu hingga pagi.
Keesokan harinya, rombongan Leo dan Nadia telah sampai kembali menginjak tanah air.
Leo nampaknya kelelahan dan ingin segera sampai ke mansion untuk dapat beristirahat di kamar pribadinya.
"Istirahatlah, jangan paksa dirimu," ucap Nadia ketika ia telah mengantar sang suami ke atas peraduan mereka.
Efek obat dokter juga mungkin, sehingga Leo cepat sekali tertidur.
"Istirahatlah jagoanku," ucap Nadia seraya mengecup kening dan pipi berbulu suaminya itu.
Setelahnya ia membersihkan diri dan berganti pakaian. Nadia terlihat keluar kamar dan turun ke bawah lalu berbelok ke arah dapur.
__ADS_1
Nadia teringat jika Leo sangat merindukan masakannya.
"Maaf, Nyonya. Saya memang baru berniat belanja hari ini," jelas sang pelayan. Ketika Nadia menanyakan beberapa persediaan makanan.
"Ya sudah, ayo kita belanja sekarang," ajak Nadia kepada pelayannya itu.
"Nyonya." Black langsung berdiri tegap ketika sang istri tuannya berada di depan mansion.
"Aku ingin ke supermarket," ucap Nadia.
"Baiklah. Saya akan menyiapkannya mobil," jawab Black.
"Tak perlu, kau dan Red istirahatlah dulu. Biar aku pakai supir saja," ucap Nadia yang setelahnya melangkah melewati pengawal sekaligus asisten dan juga kaki tangan dari suaminya.
"Oh tidak, Nyonya. Saya tidak butuh istirahat. Biar saja yang menemani anda," sanggah Black seraya memotong langkah Nadia dengan cepat berdiri di depan majikanya itu.
"Baiklah, Black. Nanti kau tidur saja di mobil ya," titah Nadia lagi dan kali ini Black memutuskan untuk mengangguk saja.
Mereka pun pergi ke sebuah pusat perbelanjaan yang cukup besar dan terkenal di kota itu.
"Tempatnya sangat luas. Darimana kita mulai mencari?" gumam Nadia.
"Baiklah ayo!" kata Nadia bersemangat. Mereka akan berbelanja untuk stok satu pekan ke depan.
Dygta telah keluar dari klab dengan menggandeng seorang wanita muda sepantaran usia mahasiswi baru.
Dygta hendak mengantar wanita itu ke apartemennya. Dan mungkin mereka berdua akan mengulangi kejadian semalam.
Wajah, Dygta yang tampan tentu mempermudah baginya mendapatkan wanita yang kesepian.
"Oya Beib, kita mampir dulu ya ke supermarket. Ada yang ingin ku beli untuk stok kulkas di apartemen. Sebenarnya juga aku malas. Hanya saja aku harus makan sayur dan buah untuk menjaga kesehatan kulit dan keseimbangan berat badanku," mata wanita itu dengan gaya manja merajuk pada Dygta. Berharap pria di depan kemudi ini akan bersedia membelanjakan stok bulanannya.
Tentu saja Dygta yang selalu royal pada wanita yang ia suka takkan menolak. Sekalipun, pria itu sadar jika sisa tabungannya menipis. Sebelum asuransi kematian sang ibu cair, maka Dygta hanyalah sosok pria yang miskin.
"Sisa uang di ATM tinggal sekian juta saja. Tapi wanita ini mengajakku belanja. Pria seperti ku mana mungkin menolak," batin Dygta dengan segala gengsi yang masih menyelimuti kesombongannya.
Dygta pun mengiyakan dan langsung menepikan mobilnya ketika ia meminta syarat pada wanita itu.
__ADS_1
Tentu saja syarat untuk menyenangkan ubi berurat miliknya.
"Tenang saja Beib, aku bukan hanya akan menyenangkan ubi beruratmu tapi juga perutmu. Aku ini pandai masak, dan ku jamin kau pasti suka dengan masakan buatanmu nanti," ucap perempuan itu dengan mode merayu.
Mereka pun masuk ke pusat perbelanjaan dengan saling berangkulan satu sama lain.
Sementara itu, Nadia tengah berada di lantai atas memilih beberapa pakaian tidur bertali tipis dan menerawang. Ia memutuskan untuk kembali mengenakan baju haram ini untuk menyenangkan Leo suaminya.
Kebetulan sekali juga wanita yang tengah bergelayut manja pada lengan Dygta merajuk manja seraya menarik pria itu ke lantai atas.
"Belikan aku yang di atas juga ya, please Beib," rengeknya membuat Dygta pusing tujuh keliling.
"Aku akan sudah membelanjakanmu banyak tadi. Kalau yang itu nanti saja setelah uang asuransi ibuku cair," bujuk Dygta.
"Beib, barusan kau baru membelanjakan aku seharga tiga juta. Aku ingin sebuah kacamata, harganya paling satu juta, murah Beib, murah!" paksa wanita itu.
Dygta mendengus dan pasrah saja.
Ketikq sampai di atas kedua matanya pun membulat sempurna ketika penampakan sosok yang sangat ingin ia jumpai kini ada di depan hidungnya.
Sekalipin, hanya nampak dari belakang, tapi Dygta hafal jika wanita itu adalah mantan istrinya.
"Hei kau pergi sana pilih kacamatanya, biar aku menunggu di sini," bisik Dygta sensual pada wanita di sebelahnya ini.
"Ah, baiklah Beib!" Wanita itu pun amat senang dan pergi.
Nadia hanya sendiri karena sang asisten rumah tangga telah ia perintahkan untuk menunggu saja di mobil.
Dygta memutuskan untuk menghampiri Nadia. Ingin sekali ia dapat mendekap wanita itu dari belakang.
"Nyonya, ada pria yang sedang memperhatikan anda," kata sang pramuniaga pelan.
Sontak, Nadia pun langsung berbalik.
"Kau!!"
"Hai, mantan istriku! Kau semakin cantik saja," sapa Dygta seraya memasang senyum terbaiknya sekalipun dia cuma mandi pake Axe, hari ini.
__ADS_1
Iyuhhh.
...Bersambung...